Hai, selamat bertemu (lagi).
Akhirnya aku memutuskan untuk
lupa. Masa bodoh dengan jarak kita yang hanya lima langkah. Akhirnya aku
memutuskan untuk berhenti berharap.
Tidak akan sesimpel ini sih,
pastinya. Aku cuma memastikan bahwa tidak akan ada pesan-pesan penggemar dariku
lagi di ponselmu. Aku belajar untuk cuek. Belajar untuk menjadi lebih pintar. Nah,
sekarang kamu bebas.
Meskipun yah... waktu mengetik
ini rasanya paru-paruku mengalami asma seketika. Aku sesak nafas. Berbagai
kenangan sayup-sayup mengganggu pendengaranku. Tuh kan, setiap aku punya
pemikira untuk berhenti pasti adaaa saja
hal yang mengganggu. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri, berjanji padamu,
berjanji pada semua yang membaca ini bahwa aku akan menghalau semua pemikiran
itu. Aku akan lupa. Aku harus lupa.
Aku sudah cukup melihatmu dari jauh. Diam sajalah, seharusnya memang begitu.
Kita memang tidak pernah manis dari awalnya. Kita—lebih tepatnya aku—harus mengakhiri
ini sebagaimana mestinya. Jarak kita harus semakin diperlebar. Harus!
Kenapa?
Karena aku lelah. Lelah atas
semua perasaan sakit tanpa sebab. Aku tahu, kamu tidak pernah sengaja. Tapi aku
malah menangis diam-diam tanpa ingin semua tahu. Aku malu menangisi orang yang
bahkan tidak pernah menganggapku ada. Aku malu setiap melihatmu dengan
santainya tertawa dengan wanita lain, padahal aku tepat di depanmu. Aku malu setiap orang menganggapku bodoh karena mempertahankanmu
berbulan-bulan. Ini mulai tidak sehat. Aku mulai tidak wajar. Sepertinya tinggal
menghitung hari saja aku menempel fotomu besar-besar di kamarku dan menangisinya
setiap bangun tidur.
Karena itu, cukup. Cukup
bulan-bulan yang kusiakan selama menjadi paparazzimu. Semoga kali ini kamu
bahagia ya. Sepertinya jalan kita memang berbeda.
Bye, selamat berpisah (lagi).