Keesokan
harinya…
Aku masih
memainkan gulungan itu dengan jari-jariku, melamun.
“Jatuh cinta,
Nona?”
Eh??!!!! Refleks
aku menoleh. Ternyata Rani yang sedang membersihkan kamarku mengamati sedari
tadi.
“Tidak,” jawabku
kalem, “biasa saja.”
“Aku tahu penyanyi
kemarin itu tampannya dunia akhirat,” Rani melanjutkan merapikan meja rias,
“tapi… kupikir Nona tidak semudah itu beralih ke lain hati.”
“Entahlah,
Rani,” aku masih memainkan gulungan itu, “senyumnya terlalu menghipnotis.”
“Lalu bagaimana
dengan lelaki Nona yang koma?”
Tanganku
berhenti. Tiba-tiba saja aku teringat Deden. Dia sudah bangun atau belum? Apa
yang dia lakukan sekarang? Rindukah ia padaku? Berniatkah ia mencariku? Aku
melamun lagi. Jadi, kalau aku suka Deden, lalu Rama?
“Mungkin aku
hanya sekedar kagum pada Rama karena suara dan senyumnya,” putusku akhirnya.
Aku tidak tahu belahan otakku yang mana yang mencetuskan pikiran begitu.
“Jadi?”
“Perasaannya
berbeda,” aku mengamati gulungan itu kembali, “dag-dig-dug-nya berbeda. Kalau
Rama… kurasa hanya seperti fans yang bertemu idolanya.”
“Kalau lelaki
anda?”
“Aku sangat
takut kehilangan dia,” kusangga kepalaku dengan tangan, “tapi di saat seperti
ini, mungkin aku memang sudah kehilangan dia.”
“Lhooo jangan
galau lagiiii!” Rani berkacak pinggang, cemberut, “ah, begini saja. Datang saja
ke pesta itu. Rama mengundangmu ikut kan?”
“Mmm?” aku
mengibaskan undangan itu di depan mataku, “pesta ini?”
“Iya.” Rani
girang, “nanti malam, biar saya yang mendandani Nona.”
Aku mengangkat
sebelah alis.
***
