Hari #8, 21 Januari
2013
Dear yangkung,
Yangkung pasti
sibuk mengobrol dengan yangti dan malaikat ya sekarang. Yangkung tidak akan
sempat membaca surat cinta dariku. Dari dulu aku selalu penasaran loh.
Bagaimana sih kehidupan kedua? Yangkung pasti bahagia ya. Yangkung orang baik.
Suara yangkung saat menjadi muadzin dulu merdu sekali. Yangkung begitu
mencintai aku dan cucu yangkung yang lain. Yangkung tidak pernah berkata
‘tidak’ pada semua permintaan kami. Yangkung berhasil mendidik semua anak
yangkung sehingga mereka semua menjadi sukses setelah melalui jalan yang keras.
Yangkung benar-benar orang hebat. Aku bangga pernah menjadi salah satu bayi
yang pernah yangkung elus dengan tangan yangkung yang penuh kelembutan itu. Aku
bangga pernah membuat yangkung bahagia dengan kelahiranku—yah, aku cucu pertama
yangkung sih.
Sudah setahun
kalian pergi. Aku masih ingat saat jenazah yangti sampai di Magelang, bersiap
di kuburkan. Aku takut melihat jenazahnya. Aku takut menerima kenyataan kalau
tangan-tangan yang dulu pernah menggendongku kini sudah takkan pernah bisa
bergerak lagi. Aku takut menerima kenyataan kalau wajah yang dulu sering
tertawa padaku kini takkan pernah menarik senyum lagi. Namun di tengah
ketakutanku kulihat wajah yangkung yang sedang membaca yasin. Wajah tegar itu
penuh ironi. Aku tahu kalau yangkung sedih. Aku menerka-nerka benang kusut apa
yang sedang melilit otak yangkung. Pasti begitu banyak praduga, begitu banyak
kenangan, begitu banyak penyesalan. Tetapi wajah yangkung tetap tersenyum.
Tetap meladeni setiap cucu-cucu kecil yangkung yang minta digendong. Well,
kalau aku jadi yangkung sudah kubuang mereka satu persatu.
Lalu kenyataan
pahit datang. Yangti sudah pergi, anak-anak yangkung sudah pulang ke rumahnya
masing-masing, itu artinya yangkung tinggal di rumah kecil itu sendirian.
Benar-benar sendirian. Tidak ada yangti yang biasanya memasak, mencuci, atau
apalah.
Lalu yangkung
mendadak nomaden—pindah dari satu rumah anak ke rumah anak yangkung yang lain.
Dan yangkung
cukup lama tinggal di rumahku.
Maaf yangkung.
Maaaaaaf sekali. Saat itu aku hanya ABG yang sok ingin punya kehidupan sendiri.
Dulu aku kesal sekali saat yangkung selalu tidur di kamarku. Apalagi waktu itu
aku berpikir kalau yangkung pasti akan tinggal sangat lama. Dulu itu terasa sangat
menyebalkan.
Ya Allah, aku
jahat sekali...
Yangkung ingat?
Setiap sehabis sholat yangkung selalu membaca Qur’an. Setiap pagi dan sore
yangkung selalu menyapu pekarangan—mengurangi tugas rumahku. Dan setiap malam,
di jam belajarku, yangkung selalu memainkan keyboard murahan milikku.
Keyboard itu
sekarang ada di kamarku. Tepat di sebelah kasurku. Membuatku selalu ingat
yangkung setiap mau tidur.
Suara keyboard murahan
itu tidak terlalu bagus—maaf yangkung. Anak pertamamu nyatanya tidak sekaya
anak-anakmu yang lain—dan selalu sumbang di satu nada.
Tapi yangkung
tetap memainkannya. Menyanyikan lagu-lagu lama berbahasa Jawa. Oh ya, ada satu
lagu berbahasa Indonesia. Sekarang aku suka sekali lagunya:
“Entah dimana kini kau berada. Sudah kucoba
untuk mencari. Di malam yang sunyi dan sesepi ini. Ku sendiri...”
Yangkung merasa
sendiri kah? Aku minta maaf. Aku bukan cucu yang baik. Padahal waktu kecil aku
selalu minta dimanja oleh yangkung. Tapi... aku sayang yangkung. Yangkung
menyayangiku dengan kelembutan yang tidak bisa aku dapat dari ayah—padahal
kalian sedarah kan?
Kepergian
yangkung yang begitu mendadak waktu itu membuatku menyadari sesuatu. Saat
mendengar berita itu aku merasa dihujani paku-paku rasa bersalah bertubi-tubi.
Aku merasa gagal menjadi seorang cucu. Aku merasa gagal berterimakasih pada
orang yang selalu melihatku bertumbuh selama 16 tahun. Aku merasa gagal
membalas kebaikan orang yang selalu melakukan apa saja asal tidak berkata
‘tidak’ pada keinginanku. Aku merasa gagal merawat orang yang pernah jauh-jauh
datang hanya untuk ikut merawatku yang dirawat di rumah sakit dulu.
Mungkin ini
terlambat. Sangat terlambat. Tetapi terimakasih untuk semua kebaikan yangkung.
Berbahagialah dengan yangti dan bidadari-bidadari surga yang dijanjikan Allah
untuk orang beriman seperti yangkung. Di sini, aku mengirimkan fatihah lembut
melalui malaikat yang mendengar doaku. Bergantung pada D minor sumbang yang
menjadi harmoni indah setiap aku mengenang waktu-waktuku bersama yangkung.
Salam
cinta,
Cucu
pertamamu