Saturday, 26 January 2013

Aku, Kamu yang Jatuh, dan Dia


Hari #13, 26 Januari 2013
Dear daun,
Padamu kulabuhkan sesuatu yang kusebut harapan. Menatap sendu kamu yang bergelayut halus pada pohon-pohon yang kini mulai jarang. Mengingatkanku  dua tahun lalu saat aku dan dia melempar topi almamater kami bersamaan.
Itu namanya kenangan.
Adalah dia, yang sering mengamatimu dengan mimik ingin tahu. Adalah dia, yang mengajakku memberimu air setiap sabtu. Adalah dia, yang begitu jatuh cinta padamu.
Saat aku dan dia berdiri di bawah naunganmu siang itu, perlahan kamu meniupkan oksigen untuk pernafasanku. Kamu tahu? Adalah dia, yang dengan gerak-gerik ekspresifnya mengatakan bahwa ia begitu jatuh cinta dengan warnamu.
Adalah dia, yang selalu kuingat setiap melihatmu.
Mungkin yang paling aku sesali adalah waktu—mengendap perlahan lalu menepuk bahuku dan menyadarkan sudah seberapa tuanya aku. Dan seberapa tuanya kamu. Dan seberapa tuanya dia.
Dan seberapa jauh ia melupakan itu semua.
Sesekali aku ingin kamu hidup, berjalan ke rumahnya, mengajak ia mengobrol, kemudian kalian bisa bernostalgia bersama mengingatku. Entahlah, mungkin aku bukan sosok yang pantas untuk diingat. Tapi kok aku bisa mengingat kalian? Mungkin kalian memang dua sosok yang pantas diingat. Mungkin ada satu bagian di otakku yang mencoba bangkit dengan mengingat-ingat memori menyenangkan.
Pertanyaanku; apakah dua tahun begitu lama?
Dua tahun lalu imajinasi menjembatani kami. Menghubungkan satu hati dengan hati yang lain; hati kami. Menatapmu yang berjatuhan tertiup angin dan mengangankan hal yang dulu bagi kita pasti.
“Aku akan jadi arsitek!”
Aku menatapnya yang dengan bangganya menyebutkan cita-citanya. Senyumnya menular padaku.
“Aku akan jadi seniman. Kamu tahu? Membuat novel, menulis lagu, bermain gitar... it will be fun!”
“Well, itu cocok untukmu.”
Kami sama-sama diam. Menatapmu lagi yang mulai goyah karena angin. Kamu arsitek, aku seniman. Ya, it will be really fun.
“Hei, kalau kamu sukses jadi seniman nanti, aku akan merancangkan rumah untukmu.”
“Kalau kamu sukses jadi arsitek nanti, aku akan membuat biografimu.”
Lalu kami tertawa. Saat itu kamu melihat kami? Aku tidak bisa melihat tawaku sendiri, tapi aku tahu dia sangat bahagia.
“Saat kita sukses nanti, ya.”
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Aku mengambil sehelai daun dan menyodorkannya padamu.
“Daun ini kan dengar semuanya. Dia yang membantu Tuhan mencatat janji kita.”
***
Jadi, daun, kamu tahu sekarang mengapa aku menulis ini untukmu?
Asal kamu tahu, tolong jangan laporkan pada Tuhan janji kami itu. Tidak, sepertinya kami tidak bisa memenuhinya. Mendadak kami terpisah di dua jalan yang berbeda. Mendadak semua kosong, hampa.
Mulai detik ini kami harus membedakan mana mimpi, mana cita-cita, mana rencana. Karena waktu mengingatkan kami bahwa kami sudah dewasa; suatu saat kami akan menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Tetaplah hijau dan catat janji-janji lain yang lebih masuk akal. Janji yang kedua belah pihak takkan pernah lupa.
Salam cinta,
Yang selalu duduk dan memandangmu berjatuhan

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com