Hai kamu. Ya, kamu. Apa kabarmu? Oh, tentu saja baik. Aku
tahu kamu mungkin lebih dari siapapun di dunia ini. Tentu saja aku tahu, aku
memata-mataimu setiap hari tanpa kamu ketahui. Aku seperti orang bodoh yang
melongok ke jendela lima menit sekali hanya untuk melihatmu sosokmu yang
berbicara dan tertawa dari balik tembok, dengan orang lain.
Rasanya sudah seabad ya semenjak kejadian itu. Kejadian
miris yang membuat kita berhenti bermain kucing-kucingan dan menghadapi
kenyataan; kamu punya orang lain dan aku sendirian. Semenjak itu aku tak bisa
melupakanmu, kau tahu? Meskipun setiap hari kuteriakkan pada dunia bahwa kau
munafik, pembohong, dan lainnya. Tapi hati kecilku berkata lain. Hati kecilku
berkata aku masih bisa memilikimu.
Entah dari dasar apa, akupun tak tahu. Namun kebohongan publik yang
kuumbar-umbar malah berbalik menyerangku dan membuatku selalu sakit hati.
Sampai sekarang aku masih sakit hati. Tapi aku tak tahu
siapa yang salah. Aku kah yang salah karena mengharapkanmu berlebihan? Kamu kah
yang salah karena memperhatikanku berlebihan?
Apa iya harus kutanyakan pada rumput yang bergoyang?
Namun aku menyalahkan diriku sendiri. Entah aku bodoh atau
aku benar. Tapi aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya dari awal aku
berpikir, “masa iya kamu menyukaimu? Dari sejarah semua wanita yang pernah kamu
suka, kamu malah menyukaiku? Turun sekali derajatmu!”
Pikiran itu lagi-lagi kembali menerjangku. Pikiran yang
selama ini selalu ku halau. Pikiran bahwa aku... begitu buruk.
Aku berusaha berbaik sangka lho pada Tuhan. Tetapi
kelakuanmu membuat semua jadi berantakan. Aku bisa mati. Aku bisa gila!
Demi langit dan bumi, aku merindu. Kamu.
Rindu yang dilarang. Rindu yang tanpa alasan. Rindu yang
menyesakkan.