Wednesday, 10 October 2012

Kamu, Aku Merindu


Hai kamu. Ya, kamu. Apa kabarmu? Oh, tentu saja baik. Aku tahu kamu mungkin lebih dari siapapun di dunia ini. Tentu saja aku tahu, aku memata-mataimu setiap hari tanpa kamu ketahui. Aku seperti orang bodoh yang melongok ke jendela lima menit sekali hanya untuk melihatmu sosokmu yang berbicara dan tertawa dari balik tembok, dengan orang lain.
Rasanya sudah seabad ya semenjak kejadian itu. Kejadian miris yang membuat kita berhenti bermain kucing-kucingan dan menghadapi kenyataan; kamu punya orang lain dan aku sendirian. Semenjak itu aku tak bisa melupakanmu, kau tahu? Meskipun setiap hari kuteriakkan pada dunia bahwa kau munafik, pembohong, dan lainnya. Tapi hati kecilku berkata lain. Hati kecilku berkata aku masih bisa memilikimu. Entah dari dasar apa, akupun tak tahu. Namun kebohongan publik yang kuumbar-umbar malah berbalik menyerangku dan membuatku selalu sakit hati.
Sampai sekarang aku masih sakit hati. Tapi aku tak tahu siapa yang salah. Aku kah yang salah karena mengharapkanmu berlebihan? Kamu kah yang salah karena memperhatikanku berlebihan?
Apa iya harus kutanyakan pada rumput yang bergoyang?
Namun aku menyalahkan diriku sendiri. Entah aku bodoh atau aku benar. Tapi aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya dari awal aku berpikir, “masa iya kamu menyukaimu? Dari sejarah semua wanita yang pernah kamu suka, kamu malah menyukaiku? Turun sekali derajatmu!”
Pikiran itu lagi-lagi kembali menerjangku. Pikiran yang selama ini selalu ku halau. Pikiran bahwa aku... begitu buruk.
Aku berusaha berbaik sangka lho pada Tuhan. Tetapi kelakuanmu membuat semua jadi berantakan. Aku bisa mati. Aku bisa gila!
Demi langit dan bumi, aku merindu. Kamu.
Rindu yang dilarang. Rindu yang tanpa alasan. Rindu yang menyesakkan.

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com