Ditinggalkan, meninggalkan. Kalau
boleh memilih, saya lebih suka meninggalkan.
Kelihatannya enteng sekali. Hanya
membawa koper besar, mengepak baju, dan pergi. Tidak berbalik ke belakang untuk
melihat keadaan orang yang ditinggalkan. Lagipula toh, belum tentu juga ada
yang merasa saya tinggalkan. Saya bukan orang jahat yang pantas mendapat air
liur di makam saya nanti sih (pede sekali), tetapi saya rasa saya bukan orang
yang sangat baik sehingga ada
sekelompok manusia yang akan meraung-raung berharap saya dengan datang kembali.
Daripada ditinggalkan? Oh,
percayalah. Dengan muka kejam seperti ini pun saya sanggup menyayangi banyak
orang (di luar keluarga saya tentunya) lebih dari yang bisa hati saya tampung.
Dan... saya tidak siap ditinggalkan—tidak akan pernah siap sih. Saya tidak mau
ditinggalkan dan saya tidak suka ada orang yang mengerjakan sesuatu lebih dulu
ketimbang saya. Termasuk pergi jauh dan tak kembali.
Tetapi pertanyaannya, apakah ‘ditinggalkan’
butuh persiapan?
Entahlah, hanya saja... guru
biologi saya pernah bilang bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan manusia
tanpa belajar adalah menyusu ke ibunya.
Itu artinya, beradaptasi setelah
kehilangan pun juga perlu belajar.
Dan artinya, semakin banyak kita
ditinggalkan, semakin banyak kita kehilangan, semakin terlatihlah mental kita.
Karena pada dasarnya, setiap ada
pertemuan pasti ada perpisahan bukan?
Jadi, sebenarnya saya
menginginkan satu hal; kalau toh nanti memang sayalah yang ditinggalkan,
bisakah siapapun-si-tukang-tinggal itu mengucapkan selamat tinggal? Memberikan kekuatan
untuk saya bahwa—meskipun ditinggalkan—sebenarnya saya masih dianggap ada?
Sebenarnya saya masih dilihat?
Sebenarnya saya tidak menyayangi
sendirian seperti orang bodoh mendongak inginkan bulan?
Setiap orang ingin menjadi kuat
di atas kerapuhan mereka. Tetapi kamu tahu? Saya rasa yang membuat seseorang
menjadi kuat adalah... beban sakit yang harus mereka panggul sendirian.
Saya ingin menjadi kuat, tetapi
saya tidak mau sendirian. Kalau bisa sih, saya menjadi kuat bersama orang lain,
ketika kami berusaha menahan beban yang sama.
Duh, sudah malam. Saya mulai
meracau. Oke, bye.