Sunday, 22 December 2013

High School Diaries Special; Ibuk

Selamat hari ibuk! Dan selamat untuk kalian yang telah lolos semester I! We made it, guys!
Lama sekali aku tidak menyentuh blog ini. I’m as busy as hell, but what can I do? I’m in my 12th grade right now!
By the way...
Karena hari ini hari ibuk, aku akan bahas ibukku. Little bit mainstream, LOL. Tetapi aku menyimpan banyak hal tentang emak yang ibukku sendiri (?) tidak akan mengerti.
1.       Bahasa Asing Ibuk
Iya, emakku punya bahasa asing sendiri yang hanya bisa anaknya pahami setelah sekian tahun tinggal bersama. Contohnya, ketika aku selesai makan ibuku akan berkata “Mbak, habis makan piringmu dicuci ya.” Aku yang dulu belum paham bahasa ibuk hanya akan mencuci piring bekas makanku. Lalu kemudian ibuk mengecek wastafel—atau apa sih, tempat cuci piring itu?—kemudian berseru, “Mbaak!” aku dipanggil ‘mbak’ karena anak tertua, “Piring yang lain dicuci sekaliaaan!”
Jadi kesimpulannya, ketika ibuk berkata ‘habis makan cuci piringmu’ itu bukan ‘cuci piring bekas makan’, tetapi cuci semua alat makan kotor yang ada di rumah.

2.       Lebih suka gorengan 600 rupiah daripada Solaria, bahkan jika itu gratis
Awalnya aku mengira, ibuk tidak suka makan di restoran karena mahal. Tetapi suatu hari ayahku mendapat voucher makan dari kantornya sebesar hampir 500 ribu, tetapi ibuk malah bilang, “beli gorengan aja.”
Lidah ibuk alergi terhadap makanan enak.

3.       Sering nonton sinetron meskipun ayah melarang
Sejak kecil, ayahku selalu mendoktrinku untuk tidak menonton sinetron dan film India. Kata ayahku ada efek ketagihan di sana. Demi menjalankan peraturan ini, itu artinya seisi rumah tidak boleh menonton sinetron. Nah, sifat ini terbawa hingga aku sebesar sekarang. Aku lebih memilih mematikan televisi jika di semua saluran hanya ada sinetron.
Tapi tidak dengan ibuk. Kurasa sejak kecil ibuk sudah terbiasa menonton sesuatu yang berseri. Jadi, ketika sore hari ibuk akan menunda bersih-bersih rumah untuk menonton drama korea. Lalu malamnya ibuk akan menonton sinetron-pak-haji-yang-judul-dan-jalan-cerita-sudah-tidak-sinkron-lagi.
Bukannya sombong ya, ini hanya untuk kepentingan jalan cerita. Jadi, di rumahku ada 3 televisi; di kamar adikku, ibuk dan ayah, dan di ruang tengah. Sialnya, hanya kamarku yang tidak bertelevisi. Ketika ayah pulang kerja dan masuk kamar kemudian sadar ibuk sedang menonton sinetron, ayah langsung keluar dan menggangguku yang sedang menonton acara musik di ruang tengah. Kemudian aku dan ayah akan berebut remote TV. Ibuk datang melerai dan menyuruh ayah untuk mengalah. Tetapi ibuk sendiri tidak mau mengalah soal sinetronnya. Poor you, ayah.

4.       Kadang-kadang, terlalu polos
Jadi suatu malam, di jam belajar, aku membaca komik online berbahasa Inggris—biasanya sih Kuroshitsuji karya Yana Toboso. Ibuk datang dan bertanya, “ngapain, Mbak?”
Dengan polos kujawab, “belajar bahasa Inggris.”
“Oh.” Respon beliau, kemudian pergi. Mudah sekali.

5.       Semua hal yang ada kaitannya dengan ponsel selalu dikatakan ‘sms-an’
Kurasa ini tidak hanya terjadi pada ibuk saja. Orangtua kalian juga, kan? Contohnya:
a.       Aku sedang tweeting dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”
b.      Aku sedang googling jawaban PR-ku, dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”
c.       Aku sedang menggunakan kalkulator di ponsel untuk jawaban PR kimia, dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”
d.      Aku sedang menghapalkan pelajaran sejarah untuk ulangan, dan ponselku kuletakkan di lemari agar tidak mengganggu konsentrasi. Tanpa tahu apa-apa tiba-tiba ponselku—yang lupa kujadikan mode getar—berbunyi nyaring. Dan ibuku langsung menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”

6.       Suka fangirling
Iya, sifat fangirl-ku jelas menurun dari ibuk. Ibuk sangat menyukai Pasha ‘Ungu’ dan setiap aku menyetel acara musik dan intro lagu-lagu ‘Ungu’ dimulai, secepat kilat ibuk keluar dari dapur dan duduk manis di depan televisi.
Sebenarnya ini sama sekali tidak masalah jika ibuk tidak lupa mematikan kompor. Hanya saja itu tidak terlalu sering terjadi.

7.       Mudah bangga
Kurasa kata itu lebih sopan dibandingkan sombong, kurasa. Karena ibuk tidak sombong. Hanya mudah bangga dengan hal-hal kecil.
Dan baru-baru ini hal kecil yang beliau banggakan adalah, “aku bisa menyalakan laptop, membuka browser, dan mematikan laptop tanpa minta bantuan.”
Sebenarnya itu tidak masalah jika... jika tidak ada kenyataan bahwa teman-teman ibuk yang lain sudah punya facebook sendiri-sendiri dan online setiap saat.

8.       Mood tergantung tanggal
Kurasa ini tidak hanya terjadi pada ibuk, tetapi pada hampir semua ibu rumah tangga. Tanggal 31 muka ibuk sangat ceria. Di atas tanggal 25, jangan berani cari gara-gara!

Sebenarnya masih banyak sih, Ibuk’s fact yang lain. Tetapi jika kutulis semua setahun takkan cukup.
***
Di balik semua fakta-fakta itu, ibuk benar-benar wanita hebat. Ada beberapa saat dimana ibuk dan ayah memiliki masalah, dan ibuk lah yang selalu mengalah. Ibuk juga pendengar yang baik—meskipun tidak semua masalahku kutumpahkan pada ibuk. Ibuk juga sangat pengertian. Dan ibuk selalu baik pada segala jenis temanku. Bahkan meskipun aku banyak bercerita soal... uhm... hal-hal yang tidak kusukai soal temanku itu, ibuk selalu bersikap fair dan tidak pernah membeda-bedakan temanku.
Ibuk juga fair soal masalah anak-anaknya. Jadi misalnya, ketika suatu hari adikku bertengkar dengan temannya, ibuk tidak semerta-merta membela adikku dan melabrak temannya seperti orangtua kebanyakan. Bukan, bukan karena ibuk tidak sayang dengan adikku. Tetapi karena ibuk sadar bahwa kami—anak-anaknya—tidak selamanya benar. Ketika kami ada masalah, pertama-tama kami dituntut untuk menyelesaikan sendiri kemudian beliau memberi saran. Beliau tidak suka mengadili orang lain selama belum tahu perkara jelasnya. Aku benar-benar kagum pada sifat ibuk yang satu ini.
Dan ibukku juga orangtua gaul. Ibuk mengijinkan kami pacaran, asal kami tahu batas. Ibuk tahu trend jaman sekarang, ibuk tahu banyak soal pakaian mana yang kusuka dan tidak kusuka. Ibuk tahu tongkrongan makan yang bagus—dan murah, pastinya. Selama ada modal, ibuk pasti mengajakku mencoba warung bakso baru, atau belanja baju bersama, atau membeli es krim family pack rasa cokelat yang sangat aku dan adikku suka.
Banyak hal bagus lain tentang ibuk yang tidak akan selesai kuceritakan di sini.
***
Dear, Ibuk
Aku bukan anak baik, kan? Aku susah dibangunkan, aku sering pulang terlambat tanpa bilang, aku juga malas belajar.
Ini perasaanku saja, atau kita semakin jarang berbicara berdua?
Ini semua karena televisi menyebalkan di kamar ibuk, sehingga ibuk jarang keluar kamar.
Dan... well, aku juga jarang di rumah sih.
Maaf, ya.
Aku terlalu sibuk menjadi dewasa, hingga aku lupa ibuk juga bertambah tua.
Aku terlalu sibuk mengejar cita-cita, hingga kadang aku lupa rumah.
Tetapi percaya, deh, aku akan berusaha keras membuat ibuk bangga.
Aku akan bayar semua uang yang sudah ibuk keluarkan untukku—tapi bayarnya nyicil, oke?
Aku akan membangun musholla kecil di rumah kita, seperti yang ibuk mau.
Aku akan membantu ibuk dan ayah menyicil untuk naik haji.
Dan aku akan bawa ibuk naik pesawat ke luar negeri. Ayah tidak usah ikut. Salah sendiri ke luar negeri dan tidak pernah mengajak kita. Ya, kan? Biarkan saja ayah jaga rumah. Sekali-sekali ayah perlu merasakan apa yang terjadi jika dua tukang bersih-bersih rumah—ibuk dan aku—tidak ada.
Aku yang sekarang belum bisa apa-apa, tapi aku akan berusaha menjadi anak yang bisa ibuk banggakan. Suatu hari ibuk akan membanggakanku, bukan membanggakan bisa-menyalakan-laptop.
Ibuk,
Maaf ya, aku memang susah diatur. Maaf kalau aku egois. Maaf kalau aku membuat tagihan Wifi di rumah jadi bengkak. Maaf kalau aku selalu menunda-nunda melaksanakan apa yang ibuk suruh. Maaf kalau aku punya dunia sendiri. Maaf kalau aku susah senyum di rumah. Maaf kalau aku jarang mengisi bensin motor. Maaf kalau aku suka mengeluh soal uang jajan yang kurang.
Di balik itu semua, aku sayang ibuk. Agak canggung ketika ingin berkata ini langsung, jadi aku hanya akan mengatakannya di blog. Aku tahu ibuk tidak akan membaca blogku. Tapi Allah tahu. Ibuk akan tahu. Tanpa kata-kata, ibuk dan aku sama-sama tahu kan?
Kita saling menyayangi.
Terimakasih untuk 17 tahunnya, semoga ada puluhan tahun lagi untuk kita berempat—ibuk, ayah, aku, dan si nakal yang mulai punya pacar di kamar sebelah itu.
Terimakasih karena telah menyayangiku tanpa batas. Terimakasih atas semuanya.

Dari anakmu yang paling cantik—karena memang satu-satunya anak perempuanmu

El



Secangkir Cappuccino; It Hurts (sequel of That XX)

Aku benci rumah sakit, dan segala tentangnya.
Oke, tunanganku memang calon dokter dan terkadang baunya seperti rumah sakit, tetapi itu beda. Aku mencintainya. Tidak masalah ia berbau rumah sakit selama aku mencintainya.
Dan sekarang aku sedang terduduk khawatir di depan IGD. Sahabatku mendadak pingsan setelah kuberi tahu tentang rencana pernikahanku. Dan lagi... sikapnya sangat aneh. Ia bersikeras menentang rencana pernikahanku padahal ia tidak pernah berbicara dengan lelakiku. Aku memang sering menunjukkan fotonya tetapi aku tidak pernah mengenalkan mereka secara resmi. Setiap aku mengajaknya bertemu lelakiku, ia berkali-kali menolak karena tidak mau mengganggu kencanku. Karena ia memang agak antisosial—di luar tugasnya sebagai penyanyi cafe—aku tidak pernah heran dengan sikapnya itu.
Tetapi tadi sangat berbeda. Aku bisa melihat ekspresi kerasnya dan emosi yang amat sangat dari matanya. Bahkan aku melihat tangannya mengepal dan gemetar. Kemudian ia mendadak pucat dan pingsan.
Aku bodoh sekali. Harusnya aku bertanya dari awal soal kabarnya karena akhir-akhir ini ia terlihat kurang sehat. Aku selalu ingin di dengar dan tidak pernah menjadi pendengar yang baik. Padahal ia adalah sahabat terbaikku. Kami berteman sejak SMA, hampir sepuluh tahun. Orangtuaku selalu memarahiku karena aku bergaul dengan wanita macam itu—perokok, pengamen, tidak naik kelas dua tahun, dan langganan detensi. Tapi hanya dengannya lah aku bisa benar-benar bersenang-senang. Aku lelah ditekan dengan berbagai macam pelajaran dan les di sana-sini. Ia selalu mengenalkanku dengan berbagai jenis orang dan tempat-tempat yang orangtuaku bisa jantungan jika tahu aku ke sana. Tetapi ia penuh tanggungjawab. Ia rela ikut dimarahi bila kami pulang terlambat. Ia selalu melindungiku dari orang-orang ‘salah’ yang kami temui di tempat main kami.
Ketika suatu hari ia menghajar dua preman yang menggodaku dan ikut babak belur, aku berkata padanya sambil mengompres bengkak di matanya, “kau tahu? Kalau kamu cowok, kamu benar-benar pacar yang sempurna.”
“Oh ya?”
“Iya. Hanya saja kau cantik.” Aku tertawa, “aku selalu iri denganmu. Sifatmu seperti lelaki tetapi Tuhan memberimu kecantikan alami.”
“Jangan bilang aku cantik. Telingaku rasanya jadi ingin keluar nanah.” Balasnya cuek.
Aku hanya tersenyum maklum. Ia cantik, kalau bisa merawat dirinya lebih baik lagi. Rambutnya selalu dipotong tak lebih dari bahunya. Tulang pipinya sangat jelas, membuatnya terlihat tegas. Tapi dari matanya yang sendu kau akan bisa paham betapa rapuhnya ia. 
By the way,” akhirnya aku memecah keheningan karena ku tahu ia takkan pernah melakukan itu, “sudah ada rencana kuliah dimana?”
“Aku? Kuliah? You should be crazy,” ia tertawa garing, “tidak. Aku di sini saja. Sana, kau kuliah yang rajin.”
“Heei!” aku menggerutu, “kau harus merencanakan masa depanmu. Memangnya kau tidak mau sukses apa?”
The future is not to see, Que sera sera.” Balasnya dengan lagu. Suaranya begitu merdu, “Aku akan membiarkan hidupku berlalu seperti angin.
“Mulai deh, melankolisnya,” aku memutar bola mataku, “tapi suaramu bagus, kan? Kau akan jadi penyanyi hebat.”
“Lupakan soal aku. Bagaimana denganmu? Tidak akan selamanya tinggal kan, anak jenius?”
“Tentu saja aku akan kuliah,” aku tersenyum bangga, “Hubungan Internasional, is that great?”
Kemudian ia tersenyum tulus, “kamu akan jadi orang hebat. Aku tahu.”
“Tapi tenang saja,” aku mengelus pipinya yang tidak terluka, “kita akan tetap jadi sahabat. Selamanya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Aku sudah berjanji.
***

Saturday, 21 December 2013

Secangkir Cappuccino; That XX

Bintang tak pernah sebanyak ini.
Apalagi ini kota besar, man, dengan begitu banyak gedung pencakar langit dan lampunya berkelap-kelip yang seakan berlomba siapa-yang-paling-terang.
Tapi malam ini aku berbaring di  atap tertinggi gedung yang mungkin alamatnya tak akan tersebut di Google Maps saking unknown­-nya. Rokokku mulai terasa kering, hambar. Jadi begini rasanya menunggu, bahkan hal terenak di dunia pun menjadi mati rasa.
“Sudah kubilang berapa kali,” tiba-tiba tangan mungil dari belakang mencabut rokok di mulutku, menyisakan rasa manis tanggung, “cewek tidak baik merokok. Masih ingin kawin, kan?”
Aku menoleh kaget. Ini dia yang kutunggu “Hei!” aku berusaha merebut rokokku. Namun terlambat, ia sudah menjatuhkannya dari ketinggian hampir 5 meter ini.
“Mari kita ganti yang lebih enak—dan sehat,” tiba-tiba ia menyodokkan lolipop ke mulutku, “rasa cappuccino. Lucu kan?”
“Bisa berhenti melakukan yang seperti itu?” aku menggerutu, “anak mama sepertimu mana tahu betapa mahalnya rokok sekarang—“
“—Dan permen ini juga lebih murah. Hasil ngamenmu bisa bertahan lebih lama,” ia tertawa garing. Sejujurnya, agak pedas juga mengatakan aku ‘ngamen’.  Aku tidak sehina itu, aku bernyanyi di tempat yang lebih berkelas, “aku juga membawa kebab. Kelihatannya kamu belum makan.”
“Nah!” aku langsung merebut kantong plastik dari genggamannya lalu mengambil kebab yang ia janjikan, “pedas?”
“Super.”
You know me so well!” aku mengacak rambutnya penuh sayang. Kemudian dengan beringas kumakan kebab darinya, “enak!”
“Hei,” akhirnya ia duduk di sebelahku, “kamu benar-benar harus berhenti merokok.”
“Hmm...”
“Jangan ‘hmm’ ‘hmm’ saja!” ia mengetuk kepalaku, “batuk parahmu terdengar dari bawah, paham? Harusnya kamu ke dokter, lalu—“
“Tidak usah berlagak bodoh,” aku masih mengunyah kebabku, “kamu yang paling tahu—selain Tuhan—betapa keringnya dompetku, kan?” lalu aku tertawa.
“Tidak lucu.”
“Oh, terimakasih.”
“Aku tidak bercanda.”
“Selera humormu memang buruk.”
“Terserah!” akhirnya ia kesal sendiri, “by the way, aku mau cerita sesuatu.”
“Ng?”
“Dengar,” akhirnya ia memaksa kepalaku agar benar-benar menghadapnya, “si dia, hari ini menembakku!”
Dunia berhenti. Kebabku rasanya tak enak lagi.
“Resmi, kami jadian!”
Bumi pun runtuh.
***

Thursday, 28 November 2013

Di Ujung Hujan

DI ujung hujan, kita berpapasan di sekat
Di ujung hujan, kita saling menatap, padat
Di ujung hujan, kita tak mengucap salam
***
Di ujung hujan, aku memandang kejauhan
Gemericik air penyapu rindu yang bertetesan di atas dahan
Lalu siapa yang kuintip dari sudut pincing mataku?
Kamu
Dan senyummu yang lucu
Dan telapak basahmu
Siapa yang kamu tunggu?
Siapa yang kamu beri senyum?
Bolehkah aku berharap itu aku?
***
Di ujung hujan, kamu berjalan pulang
‘Hai’-ku hanya tersisa di tenggorokan
Ayolah, lima detik kupunya sebelum kamu hilang (lagi)
Tapi tidak!
Biarlah awan menggantikan
Bisakah kau dengar gema aneh dari lelautan?
***
Kamu,
Tahukah kamu mengapa aku suka hujan?
Karena hanya ketika hujan  aku bisa memilikimu...
Eh, bukan kamu
Hanya siluetmu
Tapi biarlah,
Intinya kan kamu



Monday, 25 November 2013

Ada bintang kecil di dua matamu
Bersinar biru merengkuh mendung
Ungkap lembayung malu-malu
Ada kasih sendu terpaut dalam dekap hangatmu
Merindu rindu yang telah lama tak kau jemput

Beralas  salju cair beratap awan kelabu
***
Ada satu hal yang ingin sekali kudengar tentangmu
Bagaimana di sana apa kabarmu atau apakah aku
Kau usap lagi dengan tanganmu yang semu
Ini jarak, sayang, bukan hal tabu
***
Ini cinta, sayang, dengarkan aku

Saturday, 19 October 2013

High School Diaries #6; Jadi Dewasa



3 minggu tanpa menulis. Hebat aku bisa bertahan hidup selama itu...
Jadi, ada kejadian apa saja 3 minggu ini? Oh, banyak sekali. Yang paling membuatku stress adalah kenyataan kalau Senin besok adalah pekan UTS.
Pekan UTS.
Pekan UTS.
*Ceritanya si ‘Pekan UTS’ ini bergema di otakku*
Entah aku yang memang makin malas, atau aku merasa sudah terlalu pintar, tapi sepertinya kenyataan bahwa dua hari lagi UTS sama sekali tidak merubah gaya belajarku. Aku tetap belajar HANYA kalau ada PR. Seluruh kegiatan belajar kusubtitusikan dengan les. Tidurku makin malam karena sore dan malam termakan kursus, kemudian aku makin gemuk karena...

12 September; Analogi Pagi



12 September 2012
Aku suka pagi sejuk
Dan kemudian aku suka kamu
Lembut menyesap dalam otakku
Dan kemudian aku teringat kamu
Kabut tipis membersihkan pandanganku
Dan kemudian kubayangkan kamu
Bisik halus terdengar di telingaku
Dan kemudian kudengar kamu
Pagi sejuk selalu meretas memoriku tentangmu
Jadi aku suka kamu.
***
12 September 2013
Aku benci pagi sejuk
Dan kemudian aku benci kamu
Dingin menyesap dalam otakku
Dan kemudian bekulah kenanganmu
Kabut tipis menghalangi pandanganku
Dan kemudian kau butakanku
Bisik halus membising telingaku
Dan kemudian kuhindari suaramu
Pagi sejuk mengacaukan fantasiku tentangmu
Jadi aku benci kamu.

Sunday, 6 October 2013

Bukan Barbie

Dulu ketika aku masih kecil, ada bendera kuning berkibar di depan rumahku. Kemudian aku bertanya pada ibuku apa yang terjadi, dan beliau menjawab bahwa ada orang dipanggil Tuhan.
“Kenapa dia dipanggil Tuhan?” tanyaku lagi.
“Karena Tuhan sudah merindukannya.” Jawab beliau, “ia orang baik.”
“Jadi, orang meninggal karena Tuhan merindukannya?”
“Tentu.”
Tapi berpuluh tahun kemudian, aku tahu jawaban ibuku tidak sepenuhnya benar.  Karena suatu hari aku terbangun tanpa raga padahal semalam baru saja kutampar ibuku keras-keras, kudorong wanita tua itu hingga menabrak tembok, lalu kutinggalkan tanpa peduli keadaan dan perasaannya.
Tuhan tidak akan merindukan gadis seperti itu, bukan?
Jadi ketika tanahku terasa lebih sempit dari seharusnya, saat liangku terasa lebih gelap dari pejaman mataku, aku tahu bahwa ini janji Tuhan.
***
Manusia merencanakan banyak hal. Sejak kecil guru TK sudah mengajariku untuk mengenal cita-cita. Guru TK bermuka sok ramah itu pernah menanyaiku apa yang ingin kulakukan saat nanti sudah dewasa.
Dengan bangga kujawab aku ingin menjadi Barbie dan menikah dengan pangeran tampan.
Lalu guruku memberi pengertian bahwa aku tidak bisa menjadi Barbie, karena Barbie tidak nyata. Guruku memberi gambaran tentang banyak hal yang bisa kulakukan saat aku dewasa; menjadi dokter, menjadi presiden, menjadi pramugari, menjadi guru...
Tetapi aku tetap bersikeras menjadi Barbie.
Kemudian di rumah ibuku bertanya aku ingin menjadi apa, dan kujawab aku ingin menjadi Barbie.
Dengan lembut beliau mengusap rambutku dan berkata, “kamu tidak perlu menjadi Barbie. Kamu bahkan lebih cantik daripada Barbie. Barbie-lah yang ingin menjadi kamu.”
“Terus aku harus jadi apa?”
“Terserah kamu. Apa yang kamu sukai?”
“Aku suka lihat Barbie! Mereka cantik-cantik. Aku suka Barbie.”
“Hmm...” ibuku tersenyum welas asih, “Barbie mana yang kamu suka?”
“Yang bisa nyanyi.”
Oke. Hampir semua Barbie bisa bernyanyi. Aku bodoh sekali.
“Kalau begitu...” ibuku sok berpikir, “jadi penyanyi saja!”
“Ah, iya!” aku ikut girang, “saat dewasa nanti, aku mau jadi penyanyi!”
Ibuku hanya tersenyum.
“Kalau ibu? Ibu mau jadi apa?” tanyaku balik.
“Ah? Ibu sudah dewasa. Sudah tidak pantas lagi memikirkan hal itu.”
“Kalau begitu... dulu ibu mau jadi apa?”
“Apa ya? Dulu ibu mau jadi dokter.”
“Tapi kenapa sekarang ibu bukan dokter? Kenapa ibu jadi ibuku? Jadi aku bukan rencana ibu?”
Ibuku menghela nafas, “manusia selalu punya rencana, sayang. Tapi pada akhirnya Tuhan yang menentukan.”
“Apa ibu berencana membuatku ada tanpa ayah?”
Mata ibu melebar sebentar, kemudian dengan hati-hati beliau menjawab, “tentu saja tidak.”
“Kalau begitu... itu keputusan Tuhan?”
Sepertinya aku mengatakan hal yang sangat salah. Karena di detik itu juga air mata ibuku langsung menetes hingga deras
***
Ibuku banyak berbohong.
Ketika aku SD, aku pernah pulang sekolah dan menangis karena teman-teman mengejek rambut keriting dan kulitku yang hitam. Kata mereka aku jelek.
 “Tentu saja tidak. Kamu sangat cantik.” Bela ibuku setelah aku bercerita.
“Tapi mereka bilang aku jelek, tidak seperti Barbie. Mana ada Barbie berkulit hitam dan berambut keriting? Padahal aku ingin jadi Barbie!”
 Ibuku menghela nafas sabar, lalu beranjak pergi. Tak lama kemudian, beliau membawakan gambar Barbie berkulit hitam dan berambut keriting. Barbie itu menggunakan headband dan kalung aneh di lehernya, serta anting besar yang aneh juga.
“Tuh, siapa bilang tidak ada? Ada kok, yang berambut keriting dan berkulit hitam.” Kata ibuku.
“Tapi... kok aku tidak pernah lihat? Kok tidak pernah ada di TV?”
“Soalnya ini Barbie paling mahal di dunia. Ini kan Barbie paling bagus.” Jawab ibuku. Aku hanya mengangguk takjub, kemudian menyeka air mataku.
Yang waktu itu tidak kuketahui adalah, Barbie itu adalah Barbie versi Afrika Selatan. Pantas saja susah mendapatkannya di sini.
Ibuku berbohong.
***
Dan aku ingat, malam itu ibuku juga berbohong.
Ketika beliau menolak keras keinginanku untuk menjadi penyanyi.
“Tapi ibu sendiri yang menyarankanku untuk menjadi penyanyi!” bentakku penuh amarah, “sekarang ibu melarangku? Maksud ibu apa?!”
“Ibu tidak mau kamu berhenti sekolah hanya untuk menjadi penyanyi! Keliling cafe sana sini, padahal belum tentu kamu berhasil? Memang kamu merasa suaramu begitu bagus? Sejak kecil semua orang juga tahu kamu tidak bisa menyanyi!”
“Tapi ibu selalu mengiyakan semua cita-citaku! Ibu bilang aku bisa menjadi penyanyi seperti Barbie!”
“Kamu terlalu lama menjadi anak kecil! Hidup ini bukan dunia Barbie, kapan kamu bisa mengerti?! Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu bukan Bar—“
Entah dorongan darimana, kutampar ibuku dan kudorong hingga jatuh menatap tembok. Tanpa peduli lagi, aku langsung pergi sejauh mungkin meninggalkan rumah. Meninggalkan orang tua yang tak berhasil menjadikanku wanita dewasa.
Lalu tanpa tahu detilnya, tubuhku tertabrak keras oleh sesuatu.
***
Aku bukan Barbie, akhirnya aku tahu.
Tetapi terlambat. Aku tidur sendiri di tanah basah, kesakitan, dan tak berhasil memanggil-manggil ibuku.
Ibu, aku bukan Barbie...

Monday, 30 September 2013

High School Diaries #5: Dilema (?)



Minggu berat. Cepat berlalu, tapi berat.
Serius deh, kalau sampai seorang El dua minggu tidak mengetik apapun itu artinya ia sudah mengalami hal buruk. Dan hal buruk yang bisa diterima seorang El adalah kenyataan bahwa menjadi anak kelas dua belas itu:
1.       Sibuk dengan tugas
2.       Penuh ulangan (dan itu artinya juga penuh remidi. Hidup.)
3.       Pulang malam
4.       Cinta yang kandas (?)
5.       Joki.
Jadi detilnya, Selasa aku ulangan fisika. Rabu lalu guru bahasa Indonesia kesayangan sejuta umat memberikan tugas yang tidak tanggung-tanggung banyaknya. Ditambah guru bahasa Inggris yang selalu sok asyik memberi tugas berlembar-lembar, dan guru bahasa Jepangku yang rada’ pervert menyatakan bahwa aku harus remidi. Kamis ulangan kimia. Jepang free, dan sabtunya hari deadline tugas integral luas dan volume yang sulitnya setengah mati.
Minggu berat.
Ditambah PMS, minggu ini menjadi jauh lebih berat lagi. Rasanya aku ingin marah pada semua orang. Bahkan minggu ini sudah tidak terhitung berapa kali aku jahat pada Atha. Tapi dia juga jahat sih.  Saat aku sedang pusing-pusingnya dengan tugas kelompok dia malah... berencana nonton Insidious 2 dengan teman-lain-kelas-nya.
Jelas waktu dia bertanya, “El, tugasku apa?”
Dengan jutek aku menjawab, “cari video.”
“Oh, oke. Aku pulang ya.”
Terserah.” Bisikku tajam, mengancam, dan tidak mau beralih dari powerpoint yang sedang kususun.
Sayangnya Atha kurang peka, atau mungkin Atha berpikir lebih baik dia menjauh daripada aku meledak,
Atau mungkin dia sebegitu inginnya nonton Insidious 2. Aku juga, sebenarnya. Tapi aku tidak punya uang. Pengeluaran sialan...
Ambil sisi baiknya. Pulang sekolah kemarin aku dan Ganesha keluar berdua meskipun cuma 10 menit. Dan meskipun kami tak ‘sama’ lagi. Well, cerita itu lain kali saja.
Karena malam ini aku sedang geram-geramnya dengan joki.
***

Sunday, 15 September 2013

Secangkir Cappuccino - Won't You Say You Love Me Too



Aku membuka mata perlahan dan menatap sungai deras jauh di bawah sana.  Hydrophobia mulai menyergap dan mengantarku pada sebuah ketakutan.
Atau mungkin bukan sepenuhnya hydrophobia.
Mungkin lebih pada ketakutan yang sulit kusingkirkan—mengenai apa yang akan terjadi setelah ini.
Tapi aku sudah memutuskan. Aku tidak akan membiarkannya jatuh lebih dalam lagi hanya karena kesalahanku. Aku tidak siap bertemu mata dengannya. Aku tidak siap mengetahui kalau selama ini aku salah paham. Cukup begini saja. Terkadang tidak tahu itu lebih baik. Aku siap mati penasaran.
Walau aku tidak pernah siap berpisah dengannya, barista kesukaanku itu, malaikatku.
Dengan menggigit bibir kukirim e-mail singkat untuknya:
Maaf, terimakasih, dan selamat tinggal, kamu.
***

Wednesday, 11 September 2013

Ingat?

Ada kisah semi nyata di antara kita
Pesona yang menarikku sampai palung tanpa ujung
Kemudian hanya mengembalikanmu tanpa peluh

Ada kisah fiksi fiktif di antara kita
Mata kita pernah saling mengelabui perasaan
Pembicaraan ikuti arah angin tak beraturan

Seingatku kitalah penikmatnya
Mencandui urusan bukan urusan
Tertawa ironis di tengah hiruk pikuk tawa buatan

Seingatku kitalah sejolinya
Bergandengan tangan ratusan meter tanah terpisah
Tak gentar pula aku mempertahankan yang tak ada

Seingatku kamulah tokoh utama
Seingatku kamulah berjuta warna
Seingatku kamulah yang selalu terpatri di dada

Sampai akhirnya aku mulai berpikir

Bahwa mungkin aku amnesia

Monday, 9 September 2013

About High School Diaries :D



Hi!
I’m so excited about this! I really want to share this as soon as possible since I open the new tab on my blog :p Well, I just wanna tell you all about my new project—or maybe no—“High School Diaries”! Yippie! :)
Firstly I was inspired by Orizuka’s novel “High School Paradise”, than I changed the title lil bit :p I have many reason to post this diaries.
1.       Sometimes I have many thing to think but I can tell it to anyone. This is so damn annoying! -_-
2.       Sometimes I hate the fact that every teenlit  have a perfect character inside. But in reality? NO! For example, I’m not that perfect. I’m not beauty, I’m not smart, and I’m not the kind of calm girl. So, I can’t be the main character of teenlit? WHO SAYS?
3.       Well, I’m 12th grade right now and my mom always forbid me to read manga—I’m so depressed about this—and any kind of fun book—except if you think that physic is FUN! Well physic is fun but it still can’t defeat manga at all ways. So I decide to divert my mind to other fun things. Include writing a diary.
4.       I have many task so I can’t think more reason next. Lol.
I never assume that I will make a good post. I just enjoy the quality time I have with my Acer, modem, and blog. I really like the moment when my mind just like fly away to the intersection of imagination and reality. I love to think what will El do with Acha, Atha, and his adorable guy, Ganesha. And I don’t hide the probability that there will be more character here :p
I really enjoy High School Diaries. Hope you enjoy it too :)


Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com