Monday, 30 September 2013

High School Diaries #5: Dilema (?)



Minggu berat. Cepat berlalu, tapi berat.
Serius deh, kalau sampai seorang El dua minggu tidak mengetik apapun itu artinya ia sudah mengalami hal buruk. Dan hal buruk yang bisa diterima seorang El adalah kenyataan bahwa menjadi anak kelas dua belas itu:
1.       Sibuk dengan tugas
2.       Penuh ulangan (dan itu artinya juga penuh remidi. Hidup.)
3.       Pulang malam
4.       Cinta yang kandas (?)
5.       Joki.
Jadi detilnya, Selasa aku ulangan fisika. Rabu lalu guru bahasa Indonesia kesayangan sejuta umat memberikan tugas yang tidak tanggung-tanggung banyaknya. Ditambah guru bahasa Inggris yang selalu sok asyik memberi tugas berlembar-lembar, dan guru bahasa Jepangku yang rada’ pervert menyatakan bahwa aku harus remidi. Kamis ulangan kimia. Jepang free, dan sabtunya hari deadline tugas integral luas dan volume yang sulitnya setengah mati.
Minggu berat.
Ditambah PMS, minggu ini menjadi jauh lebih berat lagi. Rasanya aku ingin marah pada semua orang. Bahkan minggu ini sudah tidak terhitung berapa kali aku jahat pada Atha. Tapi dia juga jahat sih.  Saat aku sedang pusing-pusingnya dengan tugas kelompok dia malah... berencana nonton Insidious 2 dengan teman-lain-kelas-nya.
Jelas waktu dia bertanya, “El, tugasku apa?”
Dengan jutek aku menjawab, “cari video.”
“Oh, oke. Aku pulang ya.”
Terserah.” Bisikku tajam, mengancam, dan tidak mau beralih dari powerpoint yang sedang kususun.
Sayangnya Atha kurang peka, atau mungkin Atha berpikir lebih baik dia menjauh daripada aku meledak,
Atau mungkin dia sebegitu inginnya nonton Insidious 2. Aku juga, sebenarnya. Tapi aku tidak punya uang. Pengeluaran sialan...
Ambil sisi baiknya. Pulang sekolah kemarin aku dan Ganesha keluar berdua meskipun cuma 10 menit. Dan meskipun kami tak ‘sama’ lagi. Well, cerita itu lain kali saja.
Karena malam ini aku sedang geram-geramnya dengan joki.
***
Aku lupa tepatnya hari apa, ketua kelasku melarang kami pulang karena katanya ada ‘rapat’ mendadak. Dan ternyata dengan lantang ia berkata,
“Besok bayar DP joki UNAS, bawa 3000 aja.”
Aku mendelik. Atha mendelik. Seluruh anak alim di kelasku mendelik.
Ketua kelasku yang melihat ekspresi protes kami akhirnya bertanya, “ada yang nggak setuju?”
Aku mengacung pertama, kurasa. Kemudian beberapa anak lain ikut mengacung. Saat dihitung, ternyata tidak lebih dari 10 anak.
Dan aku mendadak merasa deja vu. Aku pernah mengalami ini dua tahun yang lalu. Kelas 9 SMP. Saat aku sok menolak kunci jawaban dan hella? Akhirnya aku terperangkap di sekolah busuk ini selama hampir tiga tahun. Terperangkap bersama Ganesha dan terus-terusan disakiti, terperangkap bersama orang-orang yang memutuskan untuk menggunakan joki UNAS seperti sekerang.
What the hell!
Lalu aku meralat pemikiranku lagi. Bagaimana kalau aku juga menggunakan joki? Bagaimana kalau aku balas dendam saja atas masa laluku yang buruk? Bagaimana kalau aku...
Ah, gawat. Aku masuk lingkaran setan.
***
Namaku El, dan gagal bukan gaya hidupku.
Sejak TK aku sangat pede soal otakku. Aku selalu mendapat peringkat atas. Bukannya sombong sih... oh oke, niatku memang menyombongkan diri. Puas? Aku selalu menjadi kesayangan guru. Aku rasa bukan karena aku pintar sih, lebih sifatku yang sok tahu dan sok akrab dengan guru di kelas. Nilaiku hampir selalu cukup oke di eksak—hampir. Aku tidak sehebat itu. Tapi keberuntungan inilah yang aku banggakan selama 9 tahun, sebelum akhirnya joki UNAS datang dan menghancurkan hidupku.
Paling tidak joki memberiku tamparan keras bahwa pedeku sudah keterlaluan. Sekarang, El adalah anak biasa. El bukan anak pintar. El tidak pernah menduduki peringkat atas lagi. El sudah jatuh terlalu dalam berkat trauma buruk yang ia alami.
Poor El.
Dan kemudian El yang malang sudah duduk di kelas 12 lagi. Dan ia mendapat dilema akan menggunakan joki atau tidak.
Aku, El, sedang membuat keputusan sulit.
***
Hai, El. Maaf balasnya lama. Baru pulang les. Eh guess what! Aku mau ikut lomba mading!
Aku membaca pesan Acha dan tertawa nyaris kasihan. Murid-murid sekolah kesehatan jarang sekali bisa ikut event-event menarik tahunan seperti itu. Please, otak mereka sudah begitu penuh dengan resep-resep obat dan mereka sudah terlalu lelah untuk mengurus lomba-lomba yang ‘tidak penting’ seperti itu. Dan kelihatannya itu agak menyiksa batin Acha yang pure seniman. Jelas saja dia bahagia sekali bisa ikut lomba mading.
Aku dan sekolahku sampai bosan dengan event itu. Aku bahkan tidak pernah datang ke acara puncaknya. Aku jelas bukan seniman karena tidak pernah tertarik dengan acara seperti itu. Lagipula butuh tiket untuk masuk dan harganya... mahal.
Tapi aku senang kalau akhirnya Acha bisa menemukan jati dirinya kembali sebagai seniman setelah dua tahun ia berkutat dengan obat. Baguslah kalau begitu.
Aku jadi penasaran; apa sekolah elit seperti sekolah kesehatan juga pakai joki UNAS?
Halo, Cha. Sori nih, baru pulang les juga. Btw... kejadian SMP terulang kembali...
Tak berapa lama ia membalas,
Kejadian apa?
Aku tercenung sebentar. Tidak, El! Jangan sedikit-sedikit curhat pada Acha! Dia lebih capek daripada kamu dan ia tidak punya waktu untuk masalahmu. Oke, kuputuskan menjawab,
Lupakan. Good luck buat madingmu.
***
Semalaman di balik selimut aku berpikir. Berpikir. Berpikir. Ingin minta saran pada ibu dan ayah, tapi jawabannya jelas tidak. Please deh. Ibuku agamisnya keterlaluan dan ayahku benci segala bentuk kecurangan, bahkan curang saat main dakon sekalipun.
Tiba-tiba ponselku bergetar pelan. Ganesha.
El.
Iya, dia mah begitu. Kalau mengirim pesan hanya dua kata dan satu titik, “El.” Resek.
Apa, nesh?
Kemudian ia menjawab,
Bocoran ulangan fisika dong.
Uuuurgh! Lagi-lagi bocoran!
Gampang kok. Kamu pinter, pasti bisa ngerjain.
Dan dia malah membalas,
Amin. Tapi aku tetep butuh bocoran.
Hih! Ini menyebalkan! Kenapa sih semua orang butuh bocoran ujian? Kenapa mereka tidak bisa percaya diri dengan kemampuan mereka? Kenapa mereka menggunakan cara kotor untuk ‘menang’? Kenapa seluruh Indonesia tidak bisa fair saja dan mengerjakan ujian berkat kemampuan sendiri? SMA itu 3 tahun, dan anak SMA malah menggantungkan nasibnya kepada joki UNAS? Apa gunanya dia belajar 3 tahun kalau begitu?
Kenapa sih joki unas harus ada? Kenapa mereka tidak mengambil pekerjaan halal saja kalau mereka memang sepintar itu. Guru kek, tentor les kek, atau dosen barangkali. Kenapa harus menjadi joki UNAS?
Kenapa Indonesia sekotor ini sih?
Oke, ini fix. Aku akan bertanya pada Ganesha apa dia menggunakan joki atau tidak. Kalau ia menggunakan joki, aku benar-benar akan berhenti mengejarnya segila ini. Dengan UNAS saja dia mudah menyerah, apalagi dengan wanita. Apalagi kalau wanita itu aku.
Nesh, aku mau tanya.
Agak lama ia baru menjawab,
Tanya apa?
Aku menggigit bibir, grogi,
Kamu pake joki UN nggak?
Kemudian dengan mantap ia menjawab,
Enggak lah. Katamu aku pinter kan. Aku pede sama otakku.
Dan ada satu enter saat dia menulis,
Harusnya kamu juga pede, El.
***
Keesokan harinya, pulang sekolah. Ketua kelasku melancarkan misi rahasia perjokian haram itu.
“Yang mau ikut ‘itu’ sekarang bayar uangnya sebelum pulang.” Katanya berwibawa. Huft.
Aku menggenggam erat dompet di tanganku. Ini kesempatan terakhir, El.
Aku El, dan aku takut gagal.
Tapi...
Harusnya kamu juga pede, El.
Aku mau sukses karena usahaku sendiri, bukan joki.
Kumasukkan lagi dompetku dalam tas dan langsung bergegas pulang tanpa memperdulikan gerombolan anak yang menginginkan joki.
Kalau kejadian dua tahun yang lalu terulang lagi, aku rasa aku tetap bisa bangga. Ujian ini kukerjakan sendiri. Lagipula aku pernah mengalami hal yang sama kan. Kurasa mentalku jauh lebih siap. Kan masih ada Tuhan.
Mungkin aku, El, bukan anak pintar. Aku jarang belajar. Aku jarang mengerjakan tugas guru. Kerjaku setiap hari hanya memandang laptop dan mengetik hal random.
Tapi aku percaya diri. Di saat gagal nanti, aku akan berusaha meyakinkan diriku.
Bahwa aku sudah bekerja dengan baik.
Dan Tuhan jelas punya rencana yang lebih baik lagi.

No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com