Sunday, 22 December 2013

Secangkir Cappuccino; It Hurts (sequel of That XX)

Aku benci rumah sakit, dan segala tentangnya.
Oke, tunanganku memang calon dokter dan terkadang baunya seperti rumah sakit, tetapi itu beda. Aku mencintainya. Tidak masalah ia berbau rumah sakit selama aku mencintainya.
Dan sekarang aku sedang terduduk khawatir di depan IGD. Sahabatku mendadak pingsan setelah kuberi tahu tentang rencana pernikahanku. Dan lagi... sikapnya sangat aneh. Ia bersikeras menentang rencana pernikahanku padahal ia tidak pernah berbicara dengan lelakiku. Aku memang sering menunjukkan fotonya tetapi aku tidak pernah mengenalkan mereka secara resmi. Setiap aku mengajaknya bertemu lelakiku, ia berkali-kali menolak karena tidak mau mengganggu kencanku. Karena ia memang agak antisosial—di luar tugasnya sebagai penyanyi cafe—aku tidak pernah heran dengan sikapnya itu.
Tetapi tadi sangat berbeda. Aku bisa melihat ekspresi kerasnya dan emosi yang amat sangat dari matanya. Bahkan aku melihat tangannya mengepal dan gemetar. Kemudian ia mendadak pucat dan pingsan.
Aku bodoh sekali. Harusnya aku bertanya dari awal soal kabarnya karena akhir-akhir ini ia terlihat kurang sehat. Aku selalu ingin di dengar dan tidak pernah menjadi pendengar yang baik. Padahal ia adalah sahabat terbaikku. Kami berteman sejak SMA, hampir sepuluh tahun. Orangtuaku selalu memarahiku karena aku bergaul dengan wanita macam itu—perokok, pengamen, tidak naik kelas dua tahun, dan langganan detensi. Tapi hanya dengannya lah aku bisa benar-benar bersenang-senang. Aku lelah ditekan dengan berbagai macam pelajaran dan les di sana-sini. Ia selalu mengenalkanku dengan berbagai jenis orang dan tempat-tempat yang orangtuaku bisa jantungan jika tahu aku ke sana. Tetapi ia penuh tanggungjawab. Ia rela ikut dimarahi bila kami pulang terlambat. Ia selalu melindungiku dari orang-orang ‘salah’ yang kami temui di tempat main kami.
Ketika suatu hari ia menghajar dua preman yang menggodaku dan ikut babak belur, aku berkata padanya sambil mengompres bengkak di matanya, “kau tahu? Kalau kamu cowok, kamu benar-benar pacar yang sempurna.”
“Oh ya?”
“Iya. Hanya saja kau cantik.” Aku tertawa, “aku selalu iri denganmu. Sifatmu seperti lelaki tetapi Tuhan memberimu kecantikan alami.”
“Jangan bilang aku cantik. Telingaku rasanya jadi ingin keluar nanah.” Balasnya cuek.
Aku hanya tersenyum maklum. Ia cantik, kalau bisa merawat dirinya lebih baik lagi. Rambutnya selalu dipotong tak lebih dari bahunya. Tulang pipinya sangat jelas, membuatnya terlihat tegas. Tapi dari matanya yang sendu kau akan bisa paham betapa rapuhnya ia. 
By the way,” akhirnya aku memecah keheningan karena ku tahu ia takkan pernah melakukan itu, “sudah ada rencana kuliah dimana?”
“Aku? Kuliah? You should be crazy,” ia tertawa garing, “tidak. Aku di sini saja. Sana, kau kuliah yang rajin.”
“Heei!” aku menggerutu, “kau harus merencanakan masa depanmu. Memangnya kau tidak mau sukses apa?”
The future is not to see, Que sera sera.” Balasnya dengan lagu. Suaranya begitu merdu, “Aku akan membiarkan hidupku berlalu seperti angin.
“Mulai deh, melankolisnya,” aku memutar bola mataku, “tapi suaramu bagus, kan? Kau akan jadi penyanyi hebat.”
“Lupakan soal aku. Bagaimana denganmu? Tidak akan selamanya tinggal kan, anak jenius?”
“Tentu saja aku akan kuliah,” aku tersenyum bangga, “Hubungan Internasional, is that great?”
Kemudian ia tersenyum tulus, “kamu akan jadi orang hebat. Aku tahu.”
“Tapi tenang saja,” aku mengelus pipinya yang tidak terluka, “kita akan tetap jadi sahabat. Selamanya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Aku sudah berjanji.
***

“Kanker paru-paru stadium tiga.” Akhirnya dokter tua itu memberi kesimpulan mengerikan saat aku menanyakannya, “sepertinya sudah cukup lama.”
Aku terdiam, kaku. Kanker... itu serius kan? Dan sudah cukup lama?
Aku merasakan air mata mengalir dari sudut mataku. Ia bahkan merahasiakannya dariku. Selama ini. Lalu ia anggap aku apa?
“Tidak bisakah... ia... maksudku...” aku kehilangan kata-kata. Gejolak putus asa menyerangku. Aku sering melihat adegan seperti ini di film tetapi aku tidak bisa percaya akan merasakannya di hidupku juga.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin. Tetapi saya rasa,” dokter itu menghela nafas, “ini agak susah.”
“Berapa lama?” aku bertanya pasrah. Berapa lama ia di sini? Berapa lama waktu yang kupunya untuk tetap bersamanya? Berapa lama waktunya untuk tersenyum? Berapa lama?
Dokter itu menatapku dengan muka sedikit kasihan.
Aku tidak mendengar jawabannya. Telingaku rasanya disumbat sesuatu. Aku terlalu terpuruk untuk mengoperasikan panca inderaku.
Mendadak ponselku bergetar. Lelakiku menelpon. Sambil menyeka air mata yang tumpah lagi kuangkat teleponnya, “halo?”
“Halo—suaramu parau sekali. Ada apa?”
“Dia... kanker...” aku bahkan tidak bisa berbicara dengan benar, “dia...”
“Siapa—ah,” akhirnya ia mengerti, “temanmu itu? Kau pernah bercerita akhir-akhir ini ia sering batuk dan segalanya?”
Cara bicaranya yang enteng malah membuatku makin ingin menangis.
“Ti, tidak. Jangan menangis,” ia terdengar panik, “Aku akan menyusulmu ke sana. Rumah sakit apa?”
Setelah kuberitahu posisiku, ia langsung menutup telpon.
***
Lelakiku langsung memelukku begitu aku selesai bercerita. Aku menikmati bau parfumnya yang ringan menyenangkan. Dekapannya selalu kokoh membuatku merasa dilindungi. Hanya dengan lelaki ini aku berani menunjukkan sifat lemahku, rapuhku, cacatku, dan ia selalu menerimanya tanpa protes. Ia membuatku tenang secepat tangisanku. Seluruhnya dari dia selalu berhasil aku jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.
“Jangan terlihat sedih di depannya,” sarannya dengan lembut sambil membelai rambutku, “dia sudah menerima pukulan berat. Ia bahkan sampai merahasiakannya darimu. Ia telah menjalani saat-saat berat.”
“Dan aku bahkan tidak pernah ada untuknya.” Aku menggigit bibir, “aku sahabat yang jahat—“
“Tidak. Kau sahabat yang baik. Oke?” ia melepaskan pelukannya, “ayo masuk ke dalam. Kau sudah meninggalkannya cukup lama kan?”
Aku menggeleng, “aku belum bisa. Kau saja, temani dia. Pastikan dia butuh semua yang ia perlu. Aku... aku tidak bisa menatap wajahnya...”
“Eh? Aku?”
“Dia sahabatku. Dia berarti sahabatmu juga, kan?”
“Oke oke.” ia mengalah dan masuk ke kamar. Ia selalu mengalah atas kekerasan kepalaku. Ia selalu mengalah selama menurutnya tidak berlebihan. Tapi ia juga berani mengatakan aku salah jika aku memang salah. Satu poin yang kusuka darinya.
Tak berapa lama setelah ia masuk, aku langsung mendengar suara benda pecah di dalam.
“Keluar!” aku mendengar suara sahabatku berteriak penuh emosi, “keluar kau, brengsek!”
Aku langsung bangun dan akan masuk ke kamar ketika mendengar suara lelakiku berkata dengan sinis, “oh, kau. Sudah cukup lama juga, ya. Bagaimana kabarmu?”
Aku tercekat. Brengsek? Mereka ini... apa-apaan? Bukankah mereka baru bertemu hari ini? Tapi... sudah cukup lama?
“Keluar!” suara sahabatku makin tinggi. Aku bisa mendengar nafasnya mulai tereja satu-satu, “keluar kau, brengsek! Aku... aku tidak akan membiarkanmu... memperdaya...”
Cukup! Aku langsung masuk ke kamar, “apa ini? Ada apa?”
Semua langsung hening. Lelakiku sedang berdiri dengan tangan terkepal di sampingnya, dan sahabatku duduk di ranjangnya, matanya sarat amarah. Aku benar-benar tidak mengerti.
“Sayang,” suara lelakiku menjadi sangat kaku dan dingin, “diakah sahabatmu?”
Aku mengangguk, “memangnya kenapa? Kalian saling kenal—tunggu,” aku mengingat kejadian di cafe...
“Kau tidak boleh menikah dengannya.”
“Ia bukan lelaki baik.”
“Ini serius. Ia bukan lelaki baik. Tinggalkan dia.”
Dan...
“Aku tahu lebih daripadamu!”
Bibirku kaku. Jangan-jangan... jangan bilang...
“Kamu paham sekarang?” sahabatku tersenyum getir, “aku yang salah. Bukan hanya dia yang brengsek. Aku juga sahabat jahat karena tidak pernah bercerita soal ini. Aku jahat karena tidak bisa melindungimu. Aku jahat, kan?” ia tertawa getir, “aku pelacur. Aku tahu. Tapi aku... aku telah berubah. Aku berhenti. Karena aku...”
Aku langsung mendekatinya, dan menamparnya. Sekuat tenaga. Aku tidak peduli jika ia sekarat dan sedetik lagi akan mati. Aku tidak percaya... ia tega. Ia tega membohongiku soal ini. Ia berbohong soal penyakitnya, soal bisnis sialannya dengan lelaki yang kusayang, kebohongan apa lagi?
Aku tidak percaya pernah menganggapnya sahabat.
“Iya. Aku pantas mendapatkan ini,” ia menyeka darah di sudut bibirnya—tamparanku hebat juga, “aku pantas kau benci. Aku pantas. Aku bodoh,” ia tertawa makin getir, “aku sangat bodoh.”
Amarahku belum surut. Aku akan menamparnya sekali lagi... tetapi ia langsung mencengkram tanganku dengan sisa kekuatannya.
“Kau tidak berminat bertanya mengapa aku melakukan ini?” tanyanya dingin sambil tetap mencengkram tanganku, “kau tidak ingin tahu kenapa?”
Aku terdiam. Ada sesuatu di balik matanya. Sesuatu yang gelap. Yang tidak bisa kuprediksi.
“Aku takut... kehilanganmu,” bisiknya parau, “aku takut kau akan meninggalkanku. Aku takut tidak bisa melihatmu lagi. Kau tahu kenapa?”
“Tidak perlu sok su—“ kata-kataku terputus ketika tiba-tiba... ia menarikku. Dan... di detik itu juga bibir kami bertemu. Lama... Jantungku seakan mencelos
Aku jelas sudah gila.
“Lepaskan!” aku langsung mendorongnya sekuat mungkin dan akhirnya ia melepaskanku. Aku tidak bisa berhenti kaget. Aku tidak bisa mencerna ini semua. Duniaku mulai sinting.
“Aku mencintaimu, sejak sepuluh tahun yang lalu. Aku mencintaimu bahkan lebih lama daripada lelaki brengsek itu,” ia menunjuk lelakiku di belakang, “bisa mencintaimu. Aku tidak bisa melepaskanmu. Apalagi membiarkan iblis itu memilikimu. Kau harus menjadi milikku. Tidak bisakah kau bayangkan rasa sakitku selama sepuluh tahun? Tidak bisakah kau membayangkan perasaan berat yang selalu kubawa kemanapun selama sepuluh tahun? Sepuluh tahun...”
Dan untuk pertama kalinya sepanjang persahabatan kami, aku melihat air mata menetes di sudut matanya.
“Ah,” ia kembali berbaring, “akhirnya aku berani jujur padamu. Rasanya lega sekali.”
Siapa yang tiba-tiba meniupkan rasa sakit ini di hatiku? Siapa yang tiba-tiba memancing air mata ini—untuk keseribu kalinya—keluar? Siapa yang bertanggung jawab atas seluruh sedihku?
“Tapi sekarang aku bisa melepaskanmu,” ia memejamkan matanya sambil melanjutkan, “kau berhak bahagia.”

Hening. Lama sekali. Sampai salah satu dari kami tak mampu bernafas lagi.

Now playing: It Hurts - 2NE1

No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com