Aku benci rumah
sakit, dan segala tentangnya.
Oke, tunanganku
memang calon dokter dan terkadang baunya seperti rumah sakit, tetapi itu beda.
Aku mencintainya. Tidak masalah ia berbau rumah sakit selama aku mencintainya.
Dan sekarang
aku sedang terduduk khawatir di depan IGD. Sahabatku mendadak pingsan setelah
kuberi tahu tentang rencana pernikahanku. Dan lagi... sikapnya sangat aneh. Ia
bersikeras menentang rencana pernikahanku padahal ia tidak pernah berbicara
dengan lelakiku. Aku memang sering menunjukkan fotonya tetapi aku tidak pernah
mengenalkan mereka secara resmi. Setiap aku mengajaknya bertemu lelakiku, ia
berkali-kali menolak karena tidak mau mengganggu kencanku. Karena ia memang
agak antisosial—di luar tugasnya sebagai penyanyi cafe—aku tidak pernah heran
dengan sikapnya itu.
Tetapi tadi
sangat berbeda. Aku bisa melihat ekspresi kerasnya dan emosi yang amat sangat
dari matanya. Bahkan aku melihat tangannya mengepal dan gemetar. Kemudian ia
mendadak pucat dan pingsan.
Aku bodoh
sekali. Harusnya aku bertanya dari awal soal kabarnya karena akhir-akhir ini ia
terlihat kurang sehat. Aku selalu ingin di dengar dan tidak pernah menjadi
pendengar yang baik. Padahal ia adalah sahabat terbaikku. Kami berteman sejak
SMA, hampir sepuluh tahun. Orangtuaku selalu memarahiku karena aku bergaul
dengan wanita macam itu—perokok, pengamen, tidak naik kelas dua tahun, dan
langganan detensi. Tapi hanya dengannya lah aku bisa benar-benar
bersenang-senang. Aku lelah ditekan dengan berbagai macam pelajaran dan les di
sana-sini. Ia selalu mengenalkanku dengan berbagai jenis orang dan
tempat-tempat yang orangtuaku bisa jantungan jika tahu aku ke sana. Tetapi ia
penuh tanggungjawab. Ia rela ikut dimarahi bila kami pulang terlambat. Ia
selalu melindungiku dari orang-orang ‘salah’ yang kami temui di tempat main
kami.
Ketika suatu
hari ia menghajar dua preman yang menggodaku dan ikut babak belur, aku berkata
padanya sambil mengompres bengkak di matanya, “kau tahu? Kalau kamu cowok, kamu
benar-benar pacar yang sempurna.”
“Oh ya?”
“Iya. Hanya
saja kau cantik.” Aku tertawa, “aku selalu iri denganmu. Sifatmu seperti lelaki
tetapi Tuhan memberimu kecantikan alami.”
“Jangan bilang
aku cantik. Telingaku rasanya jadi ingin keluar nanah.” Balasnya cuek.
Aku hanya
tersenyum maklum. Ia cantik, kalau
bisa merawat dirinya lebih baik lagi. Rambutnya selalu dipotong tak lebih dari
bahunya. Tulang pipinya sangat jelas, membuatnya terlihat tegas. Tapi dari
matanya yang sendu kau akan bisa paham betapa rapuhnya ia.
“By the way,” akhirnya aku memecah
keheningan karena ku tahu ia takkan pernah melakukan itu, “sudah ada rencana
kuliah dimana?”
“Aku? Kuliah? You should be crazy,” ia tertawa garing,
“tidak. Aku di sini saja. Sana, kau kuliah yang rajin.”
“Heei!” aku
menggerutu, “kau harus merencanakan masa depanmu. Memangnya kau tidak mau
sukses apa?”
“The future is not to see, Que sera sera.”
Balasnya dengan lagu. Suaranya begitu merdu, “Aku akan membiarkan hidupku
berlalu seperti angin.”
“Mulai deh,
melankolisnya,” aku memutar bola mataku, “tapi suaramu bagus, kan? Kau akan
jadi penyanyi hebat.”
“Lupakan soal
aku. Bagaimana denganmu? Tidak akan selamanya tinggal kan, anak jenius?”
“Tentu saja aku
akan kuliah,” aku tersenyum bangga, “Hubungan Internasional, is that great?”
Kemudian ia
tersenyum tulus, “kamu akan jadi orang hebat. Aku tahu.”
“Tapi tenang
saja,” aku mengelus pipinya yang tidak terluka, “kita akan tetap jadi sahabat.
Selamanya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Aku sudah
berjanji.
***
“Kanker
paru-paru stadium tiga.” Akhirnya dokter tua itu memberi kesimpulan mengerikan
saat aku menanyakannya, “sepertinya sudah cukup lama.”
Aku terdiam,
kaku. Kanker... itu serius kan? Dan sudah cukup lama?
Aku merasakan
air mata mengalir dari sudut mataku. Ia
bahkan merahasiakannya dariku. Selama ini. Lalu ia anggap aku apa?
“Tidak
bisakah... ia... maksudku...” aku kehilangan kata-kata. Gejolak putus asa
menyerangku. Aku sering melihat adegan seperti ini di film tetapi aku tidak
bisa percaya akan merasakannya di
hidupku juga.
“Kami akan
berusaha sebaik mungkin. Tetapi saya rasa,” dokter itu menghela nafas, “ini
agak susah.”
“Berapa lama?”
aku bertanya pasrah. Berapa lama ia di
sini? Berapa lama waktu yang kupunya untuk tetap bersamanya? Berapa lama
waktunya untuk tersenyum? Berapa lama?
Dokter itu menatapku
dengan muka sedikit kasihan.
Aku tidak
mendengar jawabannya. Telingaku rasanya disumbat sesuatu. Aku terlalu terpuruk
untuk mengoperasikan panca inderaku.
Mendadak
ponselku bergetar. Lelakiku menelpon. Sambil menyeka air mata yang tumpah lagi kuangkat teleponnya, “halo?”
“Halo—suaramu
parau sekali. Ada apa?”
“Dia...
kanker...” aku bahkan tidak bisa berbicara dengan benar, “dia...”
“Siapa—ah,”
akhirnya ia mengerti, “temanmu itu? Kau pernah bercerita akhir-akhir ini ia
sering batuk dan segalanya?”
Cara bicaranya
yang enteng malah membuatku makin ingin menangis.
“Ti, tidak.
Jangan menangis,” ia terdengar panik, “Aku akan menyusulmu ke sana. Rumah sakit
apa?”
Setelah
kuberitahu posisiku, ia langsung menutup telpon.
***
Lelakiku
langsung memelukku begitu aku selesai bercerita. Aku menikmati bau parfumnya
yang ringan menyenangkan. Dekapannya selalu kokoh membuatku merasa dilindungi.
Hanya dengan lelaki ini aku berani menunjukkan sifat lemahku, rapuhku, cacatku,
dan ia selalu menerimanya tanpa protes. Ia membuatku tenang secepat tangisanku.
Seluruhnya dari dia selalu berhasil aku jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.
“Jangan
terlihat sedih di depannya,” sarannya dengan lembut sambil membelai rambutku,
“dia sudah menerima pukulan berat. Ia bahkan sampai merahasiakannya darimu. Ia
telah menjalani saat-saat berat.”
“Dan aku bahkan
tidak pernah ada untuknya.” Aku menggigit bibir, “aku sahabat yang jahat—“
“Tidak. Kau
sahabat yang baik. Oke?” ia melepaskan pelukannya, “ayo masuk ke dalam. Kau
sudah meninggalkannya cukup lama kan?”
Aku menggeleng,
“aku belum bisa. Kau saja, temani dia. Pastikan dia butuh semua yang ia perlu.
Aku... aku tidak bisa menatap wajahnya...”
“Eh? Aku?”
“Dia sahabatku.
Dia berarti sahabatmu juga, kan?”
“Oke oke.” ia
mengalah dan masuk ke kamar. Ia selalu mengalah atas kekerasan kepalaku. Ia
selalu mengalah selama menurutnya tidak berlebihan. Tapi ia juga berani
mengatakan aku salah jika aku memang salah.
Satu poin yang kusuka darinya.
Tak berapa lama
setelah ia masuk, aku langsung mendengar suara benda pecah di dalam.
“Keluar!” aku
mendengar suara sahabatku berteriak penuh emosi, “keluar kau, brengsek!”
Aku langsung
bangun dan akan masuk ke kamar ketika mendengar suara lelakiku berkata dengan
sinis, “oh, kau. Sudah cukup lama juga, ya. Bagaimana kabarmu?”
Aku tercekat. Brengsek? Mereka ini... apa-apaan?
Bukankah mereka baru bertemu hari ini? Tapi... sudah cukup lama?
“Keluar!” suara
sahabatku makin tinggi. Aku bisa mendengar nafasnya mulai tereja satu-satu,
“keluar kau, brengsek! Aku... aku tidak akan membiarkanmu... memperdaya...”
Cukup! Aku
langsung masuk ke kamar, “apa ini? Ada apa?”
Semua langsung
hening. Lelakiku sedang berdiri dengan tangan terkepal di sampingnya, dan
sahabatku duduk di ranjangnya, matanya sarat amarah. Aku benar-benar tidak
mengerti.
“Sayang,” suara
lelakiku menjadi sangat kaku dan dingin, “diakah sahabatmu?”
Aku mengangguk,
“memangnya kenapa? Kalian saling kenal—tunggu,” aku mengingat kejadian di
cafe...
“Kau tidak boleh menikah dengannya.”
“Ia bukan lelaki baik.”
“Ini serius. Ia bukan lelaki baik.
Tinggalkan dia.”
Dan...
“Aku tahu lebih daripadamu!”
Bibirku kaku.
Jangan-jangan... jangan bilang...
“Kamu paham
sekarang?” sahabatku tersenyum getir, “aku yang salah. Bukan hanya dia yang
brengsek. Aku juga sahabat jahat karena tidak pernah bercerita soal ini. Aku
jahat karena tidak bisa melindungimu. Aku jahat, kan?” ia tertawa getir, “aku
pelacur. Aku tahu. Tapi aku... aku telah berubah. Aku berhenti. Karena aku...”
Aku langsung
mendekatinya, dan menamparnya. Sekuat tenaga. Aku tidak peduli jika ia sekarat
dan sedetik lagi akan mati. Aku tidak percaya... ia tega. Ia tega membohongiku
soal ini. Ia berbohong soal penyakitnya, soal bisnis sialannya dengan lelaki yang kusayang, kebohongan apa lagi?
Aku tidak
percaya pernah menganggapnya sahabat.
“Iya. Aku
pantas mendapatkan ini,” ia menyeka darah di sudut bibirnya—tamparanku hebat
juga, “aku pantas kau benci. Aku pantas. Aku bodoh,” ia tertawa makin getir,
“aku sangat bodoh.”
Amarahku belum
surut. Aku akan menamparnya sekali lagi... tetapi ia langsung mencengkram
tanganku dengan sisa kekuatannya.
“Kau tidak
berminat bertanya mengapa aku melakukan
ini?” tanyanya dingin sambil tetap mencengkram tanganku, “kau tidak ingin
tahu kenapa?”
Aku terdiam.
Ada sesuatu di balik matanya. Sesuatu yang gelap. Yang tidak bisa kuprediksi.
“Aku takut...
kehilanganmu,” bisiknya parau, “aku takut kau akan meninggalkanku. Aku takut
tidak bisa melihatmu lagi. Kau tahu kenapa?”
“Tidak perlu
sok su—“ kata-kataku terputus ketika tiba-tiba... ia menarikku. Dan... di detik
itu juga bibir kami bertemu. Lama... Jantungku seakan mencelos
Aku jelas sudah
gila.
“Lepaskan!” aku
langsung mendorongnya sekuat mungkin dan akhirnya ia melepaskanku. Aku tidak
bisa berhenti kaget. Aku tidak bisa mencerna ini semua. Duniaku mulai sinting.
“Aku
mencintaimu, sejak sepuluh tahun yang lalu. Aku mencintaimu bahkan lebih lama
daripada lelaki brengsek itu,” ia menunjuk lelakiku di belakang, “bisa
mencintaimu. Aku tidak bisa melepaskanmu. Apalagi membiarkan iblis itu
memilikimu. Kau harus menjadi milikku.
Tidak bisakah kau bayangkan rasa sakitku selama sepuluh tahun? Tidak bisakah
kau membayangkan perasaan berat yang selalu kubawa kemanapun selama sepuluh
tahun? Sepuluh tahun...”
Dan untuk
pertama kalinya sepanjang persahabatan kami, aku melihat air mata menetes di
sudut matanya.
“Ah,” ia
kembali berbaring, “akhirnya aku berani jujur padamu. Rasanya lega sekali.”
Siapa yang tiba-tiba meniupkan rasa
sakit ini di hatiku? Siapa yang
tiba-tiba memancing air mata ini—untuk keseribu kalinya—keluar? Siapa yang bertanggung jawab atas
seluruh sedihku?
“Tapi sekarang
aku bisa melepaskanmu,” ia memejamkan matanya sambil melanjutkan, “kau berhak
bahagia.”
Hening. Lama
sekali. Sampai salah satu dari kami tak mampu bernafas lagi.
Now playing: It Hurts - 2NE1
No comments:
Post a Comment