3 minggu tanpa
menulis. Hebat aku bisa bertahan hidup selama itu...
Jadi, ada
kejadian apa saja 3 minggu ini? Oh, banyak sekali. Yang paling membuatku stress
adalah kenyataan kalau Senin besok adalah pekan UTS.
Pekan UTS.
Pekan UTS.
*Ceritanya si ‘Pekan
UTS’ ini bergema di otakku*
Entah aku yang
memang makin malas, atau aku merasa sudah terlalu pintar, tapi sepertinya
kenyataan bahwa dua hari lagi UTS sama sekali tidak merubah gaya belajarku. Aku
tetap belajar HANYA kalau ada PR. Seluruh kegiatan belajar kusubtitusikan
dengan les. Tidurku makin malam karena sore dan malam termakan kursus, kemudian
aku makin gemuk karena...
Dan akhir-akhir
ini aku makin jengah dengan selebtweet galau yang entah mengapa tweet-nya makin
menyesatkan umat. Jadi begini, menurut kesimpulanku sendiri, cara mudah menjadi
selebtweet adalah:
1.
Beli akun yang sudah punya banyak followers. Ini sudah jelas sih...
2.
Pasanglah ava ganteng. Perbandingan cowok dengan
cewek bisa sampai 1:8 (apalagi di Twitter) dan banyak cewek yang mencari cowok
oke di Twitter. Kalau kamu merasa wajahmu jelek, coba gunakan Camera360. Belum
memberi efek maksimal? Pinjam SLR teman dan gunakan efek Aquamarine. Belum puas?
Belajarlah menggunakan Photoshop. Belum puas juga? Itu artinya jelekmu sudah
tidak bisa ditolong. Menabunglah mulai sekarang untuk operasi plastik. Ini
sekedar saran sih.
3.
Mulailah menulis tweet galau berupa PHP, kangen,
dan sejenisnya. Usahakan kamu membela pihak wanita. Usahakan si pihak wanita
yang terlihat paling tersakiti. Contohnya, seperti tweet yang aku baca beberapa
hari yang lalu dari selebtweet baru ini. Intinya:
“Ketika cewek
mengatakan ‘putus’, itu berarti ia ingin dipertahankan. Bukan malah mendengar
cowok mengatakan ‘yaudah, terserah kamu.’”
Kotoran sapi! Ini malah mengajarkan cewek untuk
bertindak tidak rasional dan meminta cowok untuk mengerti dia tanpa ia perlu berusaha mengerti si cowok. Cowoknya
jelas kasihan sekali...
Jujur ya, aku bukan haters atau apa. Tapi please,
tweeps. Jangan ajarkan cewek untuk menjadi makhluk kekanakan. Semua masalah
seakan-akan menjadikan cewek korban. Itu membuat cewek tidak mau mengoreksi
dirinya sendiri dan selalu menyalahkan pihak cowok. Kan kasihan cowoknya.
Dan satu lagi quotes yang selama ini agak
menggangguku:
“Pembencimu adalah penggemarmu nomor satu.”
KOK PEDE! :”””)))))
Iya kalau dia membencimu karena iri. Kalau dia membencimu karena tingkahmu
sengak dan menyebalkan? Kalau dia membencimu karena kamu tukang intip pakaian
dalam? Kalau dia membencimu karena kamu merebut pacarnya? Itu masih bisa
disebut penggemar nomor satu? Please...
Semua orang
punya kekurangan dan kelebihan. Aku tahu bahwa tidak semua orang bisa
menyukaimu. Ayahku hatersnya Beatles,
padahal aku cinta mati dengan George Harrison. Ibuku tidak suka Raisa, padahal
aku sangat mengagumi suara dan wajah cantiknya. Adikku suka JKT48, padahal aku
lebih suka BIGBANG (?). Perbedaan membuat kehidupan berwarna, begitu.
Jadi, ketika
kamu merasa ada seseorang yang membencimu, think
again why. Mengapa dia membencimu? Tingkahmu mana yang kurang bisa diterima
lingkungan sosialmu? Kepribadianmu yang mana yang membuat orang lain kesal
padamu? Pikirkan baik-baik sambil berdoa pada Tuhan. Dan teruslah berpikir
postif pada semua orang. Pokoknya, jaga tingkahmu karena kamu tidak hidup
sendirian.
Contoh
mudahnya, aku. Di kelasku yang berisi 36 anak itu, aku yakin ada beberapa yang
pernah membicarakanku di belakang. Daripada aku berpikir mereka iri padaku, aku
coba berpikir mana yang salah dari
tingkahku. Aku tahu aku tinggi hati, sok, sengak, tukang cari perhatian, lebay,
gendut (?), dan lain-lain. Jadi wajar kalau ada yang tidak menyukaiku. Pokoknya
aku tidak menjauhinya atau makin bersikap buruk terhadapnya, itu saja. Dan
minta maaf, ini yang penting. Paling tidak kamu berusaha membuatnya tidak
membencimu lagi. Dan juga perbaikan sikap—jujur, aku belum berhasil di sini.
Lalu sekarang,
bagaimana kalau kamu yang membenci
orang?
Pikirkan
baik-baik dengan hati dingin; kenapa kamu membencinya? Jangan berusaha
mencari-cari alasan. Karena iri? Atau karena tingkahnya? Lalu bandingkan dengan
dirimu? Apa kamu merasa begitu benar? Lalu pikirkan lagi, apa dia begitu jahat
kepadamu? Lalu pikirkan juga, bagaimana sikapmu kepadanya?
Jujur lagi ya,
aku juga punya banyak orang yang kurang kusukai. Tapi kalau aku malah
menjauhinya, aku jadi tidak punya teman. Daripada aku menggerutu sebal karena tingkahnya,
lebih baik aku melihat sisi baiknya. Orang yang aku kurang suka pasti punya hal
baik di diri mereka, dan aku memilih untuk think
positively. Membenci orang hanya menambah beban di hidup, kan? Oh, please, Integral susah, Elektrokimia
susah, menghapal kepanjangan dari DNA saja susah, apa masih sempat otakmu untuk
menyimpan memori bahwa kamu membenci seseorang.
Kalian,
dewasalah.
Ngomong-ngomong...
***
“Ada
pertanyaan?” guru Agama Islamku menatap kami satu persatu.
Aku
menggerakkan kakiku bimbang. Ada satu pertanyaan yang beberapa hari ini
menggangguku. Sepertinya Atha tahu perasaanku karena dia menyikutku pelan dan
berkata, “nggak mau nanya?”
“Malu.” Bisikku
pelan.
“Halah,
biasanya kamu juga sering tanya-tanya ke guru kan.” Atha mengangkat bahu sambil
diam-diam melanjutkan PR kimianya, “malu bertanya sesat di jalan, lho.”
Aku hanya
mengerucutkan bibir. Atha tidak tahu sih, pertanyaan ini begitu memalukan. Tapi
aku benar-benar penasaran. Duh, gawat...
“Kalau tidak
ada pertanyaan—“
“Saya!” refleks
aku langsung mengacungkan tangan.
“Iya?”
“Engg... anu,”
dengan gugup aku membolak-balik halaman bukuku, “di awal bab Bapak bilang,
bahwa ketika masih di alam arwah, Allah sudah menentukan hidup manusia; rizkinya,
jodohnya, dan lain-lain.”
“Iya?”
“Lalu kemudian,
ada tanda-tanda kiamat kubra kecil yaitu sedikit laki-laki dan banyak
perempuan. Perbandingannya 1:50. Padahal di Al-Quran dijelaskan bahwa seorang
lelaki hanya boleh poligami dengan maksimal 4 orang istri. Itu artinya,” aku
menelan ludah, “ada 46 wanita yang tidak mendapat jodoh?”
Dan gemparlah
kelasku dengan tawa. Atha yang awalnya sibuk dengan PR-nya langsung menatapku
tak percaya seakan berkata, “kamu gila?”
“Aku cuma
penasaraan!” bantahku sebal. Apa 22 wanita di kelasku tidak terbesit sedikitpun
ketakutan bahwa mereka tidak akan mendapat jodoh? Masa cuma aku yang khawatir
sih? Oh, okelah. Aku hanya ngeri membayangkan bahwa Ganesha akan diperebutkan
50 cewek—aku salah satunya.
Guruku memberi
isyarat kami untuk diam, kemudian beliau berkata, “yaa... kurang lebih seperti
itu.”
Aku melongo.
Sepertinya Atha juga shock karena
tidak kudengar gesekan pena dan kertas lagi.
“Memang, suatu
hari nanti ada masa susah. Dimana satu
laki-laki diperebutkan oleh 50 wanita. Tetapi di situ juga menguji iman kita.
Di Al-Quran sudah dijelaskan, bahwa laki-laki maksimal memiliki 4 istri. Lalu
bagaimana dengan yang lain? Bila wanita itu beriman, ia akan ikhlas menerima
takdir bahwa ia tidak mendapat suami. Ia lebih memilih tidak menikah dan tidak
mendapat jodoh daripada melanggar hukum Islam.”
Seketika aku
merinding. Aku rasa mataku mulai panas. Wanita mana yang bisa setegar itu?
“Karena itu,”
guruku melanjutkan, “ketika bumi sudah tidak bisa lagi dilihat baiknya, maka
Allah akan mengakhirinya dengan kiamat.”
Aku tercenung.
Iya, kiamat. Wanita-wanita yang tidak akan menikah sampai kiamat. Bagaimana
rasanya mati sendirian?
“Tapi kamu
nggak perlu khawatir.” Guruku beralih ke bukunya lagi dan melanjutkan
pelajaran. Cewek-cewek di kelasku mulai ribut sendiri tentang hal itu dan aku
tetap takut.
Bagaimana kalau
aku mengalami masa sulit itu?
Dan, mungkin
agak ‘tabu’, tapi aku ingin melanjutkan pertanyaan, “apakah itu adil?”
Sebelum aku
sadar bahwa Tuhan memang Maha Adil. Pasti ada alasan yang tidak bisa kujangkau
sebagai manusian yang bahkan imannya masih abal-abal. Pokoknya Tuhan Maha Adil,
that’s the point.
Bagus! Sekarang
ketakutanku bertambah satu. Aku takut nilai UNAS-ku jeblok, aku takut tidak
diterima di PTN, aku takut tidak bisa membahagiakan orangtuaku dan membantu
mereka, sekarang aku takut tidak dapat jodoh.
Jadi dewasa itu
susah, ya.
No comments:
Post a Comment