Saturday, 19 October 2013

High School Diaries #6; Jadi Dewasa



3 minggu tanpa menulis. Hebat aku bisa bertahan hidup selama itu...
Jadi, ada kejadian apa saja 3 minggu ini? Oh, banyak sekali. Yang paling membuatku stress adalah kenyataan kalau Senin besok adalah pekan UTS.
Pekan UTS.
Pekan UTS.
*Ceritanya si ‘Pekan UTS’ ini bergema di otakku*
Entah aku yang memang makin malas, atau aku merasa sudah terlalu pintar, tapi sepertinya kenyataan bahwa dua hari lagi UTS sama sekali tidak merubah gaya belajarku. Aku tetap belajar HANYA kalau ada PR. Seluruh kegiatan belajar kusubtitusikan dengan les. Tidurku makin malam karena sore dan malam termakan kursus, kemudian aku makin gemuk karena...
Karena Idul Adha. Yey! Selamat Idul Adha dan turut berduka cita untuk sapi dan kambing yang kemarin jatah hidupnya di bumi habis! Serius deh, ibuku sukses membuat bakso dari daging-daging sumbangan itu dan sampai detik ini si bakso masih meratap minta dimakan di kulkasku. Okelah, berat badanku naik tiga kilo—atau mungkin lebih—karena tumpukan bakso itu. Terus El harus apa?
Dan akhir-akhir ini aku makin jengah dengan selebtweet galau yang entah mengapa tweet-nya makin menyesatkan umat. Jadi begini, menurut kesimpulanku sendiri, cara mudah menjadi selebtweet adalah:
1.       Beli akun yang sudah punya banyak followers. Ini sudah jelas sih...
2.       Pasanglah ava ganteng. Perbandingan cowok dengan cewek bisa sampai 1:8 (apalagi di Twitter) dan banyak cewek yang mencari cowok oke di Twitter. Kalau kamu merasa wajahmu jelek, coba gunakan Camera360. Belum memberi efek maksimal? Pinjam SLR teman dan gunakan efek Aquamarine. Belum puas? Belajarlah menggunakan Photoshop. Belum puas juga? Itu artinya jelekmu sudah tidak bisa ditolong. Menabunglah mulai sekarang untuk operasi plastik. Ini sekedar saran sih.
3.       Mulailah menulis tweet galau berupa PHP, kangen, dan sejenisnya. Usahakan kamu membela pihak wanita. Usahakan si pihak wanita yang terlihat paling tersakiti. Contohnya, seperti tweet yang aku baca beberapa hari yang lalu dari selebtweet baru ini. Intinya:

“Ketika cewek mengatakan ‘putus’, itu berarti ia ingin dipertahankan. Bukan malah mendengar cowok mengatakan ‘yaudah, terserah kamu.’”

Kotoran sapi! Ini malah mengajarkan cewek untuk bertindak tidak rasional dan meminta cowok untuk mengerti dia tanpa ia perlu berusaha mengerti si cowok. Cowoknya jelas kasihan sekali...

Jujur ya, aku bukan haters atau apa. Tapi please, tweeps. Jangan ajarkan cewek untuk menjadi makhluk kekanakan. Semua masalah seakan-akan menjadikan cewek korban. Itu membuat cewek tidak mau mengoreksi dirinya sendiri dan selalu menyalahkan pihak cowok. Kan kasihan cowoknya.
Dan satu lagi quotes yang selama ini agak menggangguku:
“Pembencimu adalah penggemarmu nomor satu.”
KOK PEDE! :”””))))) Iya kalau dia membencimu karena iri. Kalau dia membencimu karena tingkahmu sengak dan menyebalkan? Kalau dia membencimu karena kamu tukang intip pakaian dalam? Kalau dia membencimu karena kamu merebut pacarnya? Itu masih bisa disebut penggemar nomor satu? Please...
Semua orang punya kekurangan dan kelebihan. Aku tahu bahwa tidak semua orang bisa menyukaimu. Ayahku hatersnya Beatles, padahal aku cinta mati dengan George Harrison. Ibuku tidak suka Raisa, padahal aku sangat mengagumi suara dan wajah cantiknya. Adikku suka JKT48, padahal aku lebih suka BIGBANG (?). Perbedaan membuat kehidupan berwarna, begitu.
Jadi, ketika kamu merasa ada seseorang yang membencimu, think again why. Mengapa dia membencimu? Tingkahmu mana yang kurang bisa diterima lingkungan sosialmu? Kepribadianmu yang mana yang membuat orang lain kesal padamu? Pikirkan baik-baik sambil berdoa pada Tuhan. Dan teruslah berpikir postif pada semua orang. Pokoknya, jaga tingkahmu karena kamu tidak hidup sendirian.
Contoh mudahnya, aku. Di kelasku yang berisi 36 anak itu, aku yakin ada beberapa yang pernah membicarakanku di belakang. Daripada aku berpikir mereka iri padaku, aku coba berpikir mana yang salah dari tingkahku. Aku tahu aku tinggi hati, sok, sengak, tukang cari perhatian, lebay, gendut (?), dan lain-lain. Jadi wajar kalau ada yang tidak menyukaiku. Pokoknya aku tidak menjauhinya atau makin bersikap buruk terhadapnya, itu saja. Dan minta maaf, ini yang penting. Paling tidak kamu berusaha membuatnya tidak membencimu lagi. Dan juga perbaikan sikap—jujur, aku belum berhasil di sini.
Lalu sekarang, bagaimana kalau kamu yang membenci orang?
Pikirkan baik-baik dengan hati dingin; kenapa kamu membencinya? Jangan berusaha mencari-cari alasan. Karena iri? Atau karena tingkahnya? Lalu bandingkan dengan dirimu? Apa kamu merasa begitu benar? Lalu pikirkan lagi, apa dia begitu jahat kepadamu? Lalu pikirkan juga, bagaimana sikapmu kepadanya?
Jujur lagi ya, aku juga punya banyak orang yang kurang kusukai. Tapi kalau aku malah menjauhinya, aku jadi tidak punya teman.  Daripada aku menggerutu sebal karena tingkahnya, lebih baik aku melihat sisi baiknya. Orang yang aku kurang suka pasti punya hal baik di diri mereka, dan aku memilih untuk think positively. Membenci orang hanya menambah beban di hidup, kan? Oh, please, Integral susah, Elektrokimia susah, menghapal kepanjangan dari DNA saja susah, apa masih sempat otakmu untuk menyimpan memori bahwa kamu membenci seseorang.
Kalian, dewasalah.
Ngomong-ngomong...
***
“Ada pertanyaan?” guru Agama Islamku menatap kami satu persatu.
Aku menggerakkan kakiku bimbang. Ada satu pertanyaan yang beberapa hari ini menggangguku. Sepertinya Atha tahu perasaanku karena dia menyikutku pelan dan berkata, “nggak mau nanya?”
“Malu.” Bisikku pelan.
“Halah, biasanya kamu juga sering tanya-tanya ke guru kan.” Atha mengangkat bahu sambil diam-diam melanjutkan PR kimianya, “malu bertanya sesat di jalan, lho.”
Aku hanya mengerucutkan bibir. Atha tidak tahu sih, pertanyaan ini begitu memalukan. Tapi aku benar-benar penasaran. Duh, gawat...
“Kalau tidak ada pertanyaan—“
“Saya!” refleks aku langsung mengacungkan tangan.
“Iya?”
“Engg... anu,” dengan gugup aku membolak-balik halaman bukuku, “di awal bab Bapak bilang, bahwa ketika masih di alam arwah, Allah sudah menentukan hidup manusia; rizkinya, jodohnya, dan lain-lain.”
“Iya?”
“Lalu kemudian, ada tanda-tanda kiamat kubra kecil yaitu sedikit laki-laki dan banyak perempuan. Perbandingannya 1:50. Padahal di Al-Quran dijelaskan bahwa seorang lelaki hanya boleh poligami dengan maksimal 4 orang istri. Itu artinya,” aku menelan ludah, “ada 46 wanita yang tidak mendapat jodoh?”
Dan gemparlah kelasku dengan tawa. Atha yang awalnya sibuk dengan PR-nya langsung menatapku tak percaya seakan berkata, “kamu gila?”
“Aku cuma penasaraan!” bantahku sebal. Apa 22 wanita di kelasku tidak terbesit sedikitpun ketakutan bahwa mereka tidak akan mendapat jodoh? Masa cuma aku yang khawatir sih? Oh, okelah. Aku hanya ngeri membayangkan bahwa Ganesha akan diperebutkan 50 cewek—aku salah satunya.
Guruku memberi isyarat kami untuk diam, kemudian beliau berkata, “yaa... kurang lebih seperti itu.”
Aku melongo. Sepertinya Atha juga shock karena tidak kudengar gesekan pena dan kertas lagi.
“Memang, suatu hari  nanti ada masa susah. Dimana satu laki-laki diperebutkan oleh 50 wanita. Tetapi di situ juga menguji iman kita. Di Al-Quran sudah dijelaskan, bahwa laki-laki maksimal memiliki 4 istri. Lalu bagaimana dengan yang lain? Bila wanita itu beriman, ia akan ikhlas menerima takdir bahwa ia tidak mendapat suami. Ia lebih memilih tidak menikah dan tidak mendapat jodoh daripada melanggar hukum Islam.”
Seketika aku merinding. Aku rasa mataku mulai panas. Wanita mana yang bisa setegar itu?
“Karena itu,” guruku melanjutkan, “ketika bumi sudah tidak bisa lagi dilihat baiknya, maka Allah akan mengakhirinya dengan kiamat.”
Aku tercenung. Iya, kiamat. Wanita-wanita yang tidak akan menikah sampai kiamat. Bagaimana rasanya mati sendirian?
“Tapi kamu nggak perlu khawatir.” Guruku beralih ke bukunya lagi dan melanjutkan pelajaran. Cewek-cewek di kelasku mulai ribut sendiri tentang hal itu dan aku tetap takut.
Bagaimana kalau aku mengalami masa sulit itu?
Dan, mungkin agak ‘tabu’, tapi aku ingin melanjutkan pertanyaan, “apakah itu adil?”
Sebelum aku sadar bahwa Tuhan memang Maha Adil. Pasti ada alasan yang tidak bisa kujangkau sebagai manusian yang bahkan imannya masih abal-abal. Pokoknya Tuhan Maha Adil, that’s the point.
Bagus! Sekarang ketakutanku bertambah satu. Aku takut nilai UNAS-ku jeblok, aku takut tidak diterima di PTN, aku takut tidak bisa membahagiakan orangtuaku dan membantu mereka, sekarang aku takut tidak dapat jodoh.
Jadi dewasa itu susah, ya.



No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com