Sunday, 26 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 10. It Hasn't Been Possiblity, Then...


Keesokan harinya…
Aku masih memainkan gulungan itu dengan jari-jariku, melamun.
“Jatuh cinta, Nona?”
Eh??!!!! Refleks aku menoleh. Ternyata Rani yang sedang membersihkan kamarku mengamati sedari tadi.
“Tidak,” jawabku kalem, “biasa saja.”
“Aku tahu penyanyi kemarin itu tampannya dunia akhirat,” Rani melanjutkan merapikan meja rias, “tapi… kupikir Nona tidak semudah itu beralih ke lain hati.”
“Entahlah, Rani,” aku masih memainkan gulungan itu, “senyumnya terlalu menghipnotis.”
“Lalu bagaimana dengan lelaki Nona yang koma?”
Tanganku berhenti. Tiba-tiba saja aku teringat Deden. Dia sudah bangun atau belum? Apa yang dia lakukan sekarang? Rindukah ia padaku? Berniatkah ia mencariku? Aku melamun lagi. Jadi, kalau aku suka Deden, lalu Rama?
“Mungkin aku hanya sekedar kagum pada Rama karena suara dan senyumnya,” putusku akhirnya. Aku tidak tahu belahan otakku yang mana yang mencetuskan pikiran begitu.
“Jadi?”
“Perasaannya berbeda,” aku mengamati gulungan itu kembali, “dag-dig-dug-nya berbeda. Kalau Rama… kurasa hanya seperti fans yang bertemu idolanya.”
“Kalau lelaki anda?”
“Aku sangat takut kehilangan dia,” kusangga kepalaku dengan tangan, “tapi di saat seperti ini, mungkin aku memang sudah kehilangan dia.”
“Lhooo jangan galau lagiiii!” Rani berkacak pinggang, cemberut, “ah, begini saja. Datang saja ke pesta itu. Rama mengundangmu ikut kan?”
“Mmm?” aku mengibaskan undangan itu di depan mataku, “pesta ini?”
“Iya.” Rani girang, “nanti malam, biar saya yang mendandani Nona.”
Aku mengangkat sebelah alis.
***

Well,


I think it has been a long tiiiiime I didn’t update my blog -_- many things has happened; I lost my modem, I went to Magelang, and another blaablaa… oh yes, my phone has broken too. Good job for meee -_______-
Because I get a suit time so…
HAPPY EID MUBARAK
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, I BEG FOR FORGIVENESS
Hahaha
Then, I got this picture from @triaaak. Interesting!



That’s all. Next I’ll continue that serial. Hope you like it =))

Wednesday, 15 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 9. That Angel's Voice


Messy meringkik berkali-kali. Aku menghela nafas berkali-kali pula.
“Aku juga benci berjalan sendirian, Messy,” tanggapku, “lagipula sebentar lagi kita sampai di Kerajaan Salju. Kita bisa cari penginapan di sana.”
Ya, aku tidak basa-basi soal sebentar lagi kami sampai. Aku bahkan sudah memakai mantel tebal karena kedinginan.
Kerajaan itu dinamai Kerajaan Salju bukan tanpa alasan ternyata.
Tidak berapa lama, ada sebuah benteng yang begitu besar melingkar. Lalu ada penjaga-penjaga di sisinya.
“Tunggu sebentar, Nona,” dua diantara mereka memeriksa bawaanku, “Anda berasal dari mana?”
“Kerajaan Hoam.”
Para pengawal itu saling pandang. Aku sempat takut sendiri sebelum akhirnya pengawal selesai memeriksa bawaanku, “silakan, Nona.”
Aku mengangguk berterimakasih, lalu masuk ke Kerajaan Salju. Dan sukses aku melongo.
Kerajaan itu begitu indah, seperti yang aku baca di buku-buku dongeng bergambar. Setiap orang-orang yang aku temui selalu tersenyum, memaksaku ikut tersenyum juga. Semacam Negara bahagia.
Tak berapa lama berselang, aku melihat sebuah penginapan mewah. Sudah kuputuskan, aku akan berhenti menyamar. Toh, tujuanku memang datang kesini. Aku langsung menuju penginapan mewah itu dan memesan satu kamar. Messy beristirahat dengan tenang di ‘kamar’nya, begitupun aku.
Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku mengintip dari lubang pintu.
“Layanan kamar, Nona,” seorang wanita berseragam pelayan yang membawa nampan tersenyum kepadaku. Aku membukakan pintu untuknya dan dia masuk ke kamarku sembari meletakkan nampannya.
“Tunggu,” cegahku saat dia bergegas keluar dari kamarku. Aku lalu melihat badge nama di bajunya. Ternyata namanya Rani.
“Iya, Nona?”
“Temani aku di sini, sebentar saja.” Nadaku lebih ke memohon daripada memerintah.
“Ah?”
“Aku baru saja patah hati. Coba saja bayangkan.”
Rani menatapku agak lama, lalu ia menghela nafas penuh pengertian, “saya bisa mendengarkan cerita Anda kapan saja, Nona.”
Aku tersenyum padanya. Mencari teman tidak pernah semudah ini!
***

Sunday, 12 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 8. Goodbye is The Real Pain


Malam harinya, di puing-puing penginapan Pioneer.
Aku meringkuk terdiam, menghindari sorotan cahaya. Samar-samar kudengar langkah seseorang.
Sasaranku datang.
“O, orang itu kan…”
“Sssh!” aku member Noor isyarat untuk tenang. Tanpa peneranganpun aku tahu Noor sekaget apa.
“Apa benar dia pelakunya?” bisik Noor pelan.
“Kalau dugaanku benar bahwa dia mencari itu, berarti memang dia pelakunya.”
Noor tidak berkomentar lagi. Aku memicingkan mata untuk melihat lebih jelas apa yang orang itu lakukan.
Orang itu mengambil sesuatu. Sesuatu yang sesuai dugaanku. Ampul.
“Well, kita selesaikan saja sekarang.” Aku keluar dari tempat persembunyianku, “sepertinya kau salah ambil ampul, Tuan Tabib.”
Garis wajah tabib itu langsung kaku, “apa yang kau lakukan di sini?”
“Mencari bukti bahwa kau pelakunya,” tiba-tiba saja amarahku bergejolak, “kau yang membakar penginapan ini kan?
***

The Tale of Hoam Kingdom - 7. Detecting


Aku mencium bau sesuatu yang tajam. Semacam minyak. Mataku meragu untuk kembali terbuka.
“Kezia?” aku mengenali suara ini. Noor, “kau baik-baik saja?”
“Hmm?” pandanganku mulai jelas. Noor, Laras, si Kembar Tiga…
Deden mana?
“Deden selamat kok.” Noor menjawab pertanyaan yang bermunculan di otakku.
Mataku melebar.
***

Saturday, 11 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 6. Disaster


Aku masih tegang. Mengapa dia begitu jujur dengan hal ini? Apa dia tahu kalau aku….
“Pesek!” wanita telur itu mendorongku begitu kuat sampai aku nyaris terjengkang, “kau melamun? Bodoh.”
Aku menggerutu, “aku lebih suka dipanggil bodoh daripada pesek.”
Wanita telur itu mengangkat bahu, “ya sudah. Coba saja baju itu. Kalau terlalu besar, akan kupermak untukmu.”
“Eh?” aku menatap gaun yang sedang kupegang, “ini serius buat aku?”
“Jangan sampai pertanyaan tololmu itu membuatku berubah pikir—“
“Eh iya iya!” aku tertawa renyah, “terimakasih wanita telur. Aku sangat menyukainya!”
“Mana ada orang yang tidak menyukai jahitanku.” Jawab wanita telur, datar, penuh nada kesombongan. Hhh… sabar Kezia, kamu harus sabar…
“Bagaimana caraku agar bisa berterimakasih?” nadaku sedikit—camkan ya, sedikit!—mencoba bersahabat.
Wanita telur itu menghela nafas super panjang, “dengan pergi dari sini. Bisa?”
“BUKAN YANG ITUUUUUU!” sepertinya batas kesabaranku mulai terkikis, “begini saja. Ajari aku menjahit, akan kubuatkan sesuatu untukmu. Ya?”
Wanita telur itu mengelus dadanya. Sepertinya kali ini giliran dia yang harus bersabar denganku.
***
Di luar mulai gelap saat aku menutup jahitanku.
“Selesaaaaaaai!” aku girang sekali melihat dua boneka kecil hasil jahitan tanganku—yang juga menyebabkan tiga luka tusukan jarum di tanganku.
“Hmm.” Respon menyebalkan dari wanita telur, seperti biasa. Aku sampai terbiasa karenanya.
“Ini untukmu.” Aku tertawa sembari menyerahkan satu boneka buatanku yang berbentuk seperti wajah wanita telur; sebuah telur yang kuberi mata dan bibir merengut. Mirip sekali!
Ia melihat boneka telur itu, “ini pemberian atau sindiran sih?”
“Dua-duanyaaaaa.” Tawaku makin keras. Wanita telur hanya melengos.
“Lalu boneka satunya itu untuk siapa?” wanita telur melirik boneka buatanku yang lain; cengir Noir ala Deden.
“Emm… ini anu—“
“Buat lelaki yang bersamamu itu ya.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan, “kalian pacaran memang?”
“Eh tidaaaak!”
“Atau…” wanita telur menatapku dengan tatapan serius untuk pertama kalinya, “kau menyukainya ya?”
“TIDAAAAAK!” duuuh kalo responku sampai sealay ini…
“Aku tahu matamu berbohong.” Wanita telur mengangkat bahu dan melanjutkan jahitannya sendiri. Aku merasakan pipiku panas sekali.
“Coba saja katakan padanya dengan jujur,” lanjut wanita telur itu kalem, “sebelum kau tidak memiliki kesempatan untuk berbicara jujur lagi.”
Aku tercenung. Aku sendiri bahkan belum tahu perasaanku seperti apa.
“Hei, wanita telur,” aku mengamatinya lagi, “namaku Kezia. Kamu?”
Ia mendongak menatapku juga, lalu kembali melanjutkan jahitannya, “Noor.”
***
Aku sedang dalam perjalanan kembali ke kamar saat berpapasan dengan Deden.
“Kemana saja kau?” selidik Deden, “aku mencarimu daritadi. Tidak berminat untuk melanjutkan perjalanan?”
“Oh, tadi aku sedang bersama wanita tel—maksudku Noor.” Jawabku, “ayo kita melanjutkan perjalanan.”
Deden menghela nafas, “belum melihat ke luar jendela? Sudah malam. Di luar pasti gelap. Malah berbahaya.”
“Oh,” aku tertunduk, “maafkan aku.”
“Ah, tidak perlu.” Deden tersenyum, “kelihatannya kau banyak bersenang-senang di sini. Aku melihat orang-orang berlalu lalang dari kamarmu. Lagipula kau pasti shock juga setelah diculik seperti itu. Ada baiknya sedikit bersantai bukan?”
Untung saja dia mengerti aku. Aku mengangguk semangat.
“Kalau begitu perjalanannya kita lanjut besok saja.” Deden menguap, “aku ingin tidur—“
“Deden,” aku memutus kata-katanya, “aku punya sesuatu untukmu.”
“Hmm?”
Aku mengeluarkan boneka yang kubuat tadi dari saku bajuku dan memberikannya pada Deden, “ini. Aku membuatnya sendiri lho! Bagus tidak?”
“Lucu sekaliii!” Deden ikut tertawa, namun tawanya dengan cepat berubah menjadi kesal, “tunggu dulu! Jadi menurutmu selama ini aku mirip Noir?”
“Jadi kau baru sadar?” aku menjitak pelan kepalanya dan tertawa keras. Deden balas menjitak kepalaku. Lalu kami jitak-jitakan.
Aku merasa kembali jadi balita.
“Sudahlah. Sudah malam, aku akan tidur.” Aku menjitak kepalanya untuk terakhir kali, “simpan boneka itu baik-baik. Sudah kumantrai agar selalu melindungimu.” Aku menjulurkan lidah.
Deden mengamati bonekanya, “apa ampuhnya mantra dari wanita yang selalu mendapat kesialan sepertimu?”
Benar juga.
“Jangan banyak komentar!” aku mendelik, lalu berbalik pergi ke kamar—
“Tunggu, Kezia!”
“Apa?”  aku menoleh ke arah Deden lagi.
“Emm… sebenarnya,” Aku melihat tangan Deden menggenggam boneka itu lebih erat, “firasatku tidak enak. Sebaiknya jangan tidur di kamarmu.”
“Hah?” lelucon apa lagi ini? “lalu aku harus tidur di mana?”
“Tidur saja di kamarku.” Deden nyengir.
Krik…
“ENAK SAJA, DASAR CABUUUUUUL!!!!” aku menjitakinya dengan kesal berkali-kali, “mana sudi aku tidur sekamar denganmuuu???!!!!”
“Tapi aku serius! Perasaanku tidak enak!”
“Alasan! Modus! Alibiii!!!”
Tiba-tiba Deden mencengkram tanganku yang tidak berhenti menjitakinya. Aku melihat rahangnya mengeras. Dia marah?
“Baiklah. Kau tidur di kamarku. Aku akan tidur di kamarmu. Puas?”  ia melepas cengkramannya lalu berjalan pergi, memasuki kamarku.
Jadi… dia marah nih??
***
Aku memeluk guling. Sudah berjam-jam aku hanya memeluk guling di kamar Deden ini. Berkali-kali aku mencoba memejamkan mata, tapi gagal. Otakku tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan kalau Deden marah padaku. Duuuh, jadi aku harus bagaimanaa? Minta maaf?
Tapi kan salah dia sendiri mengajakku pindah ke kamarnya.
Tapi dia bilang punya firasat buruk?
Tapi tetap saja dia menyuruhku pindah ke kamarnya.
Tapi dia bilang dia benar-benar punya firasat buruk?
Aaaargh! Kenapa sekarang malah aku meracau di pikiranku sendiri sih??
Aku menghela nafas dan mencoba kembali tidur sambil memeluk guling erat-erat. Seiseng-isengnya Deden, aku tahu dia masih punya batasan. Seharusnya aku memang tidak sekasar itu padanya.
Lagipula Deden itu super baik. Aku tidak ragu soal itu.
Oke, sudah diputuskan. Aku akan minta maaf padanya besok. Dia pasti sudah tidur sekarang.
Aku menghela nafas lega, mencoba tidur, sampai…
Sebuah ledakan memekakkan telinga membuatku nyaris mati jantungan! Itu suara apa?
“Kebakaran!!” aku mendengar orang-orang di luar berteriak panik, “ada kebakaran!!”
APA??
Mati mati mati!! Aku harus bagaimana? Dengan panik aku langsung terbangun dan membuka pintu kamar.
Di sekeliling kamar aku melihat kobaran api tinggi; menutup seluruh jalan keluar. Panikku semakin menjadi.
“KEZIA!! KELUAR, CEPAT!!!”
Aku menoleh dan masuk kembali ke kamar, melongok keluar jendela. Noor terlihat panik juga dan member isyarat untuk menyuruhku… lompat?
“Tapi… tapi…”
“CEPAT LOMPAT, PESEK! KAU BISA MATI DISANA!!!”
Nafasku mulai terasa sesak. Tidak ada pilihan lain. Aku harus lompat.
Aku membuka jendela lebar-lebar. Orang-orang dibawahku melebarkan kain dan mengira-ngira kemana gravitasi membawaku turun.
“LOMPATLAH!” teriak Noor lagi, “kami akan menangkapmu!”
Aku mengangguk. Tuhan, lindungi aku…
Tanpa ancang-ancang berarti, aku melompat. Terombang-ambing sebentar oleh gravitasi dan…
“Kezia?” aku membuka mata, melihat Noor, Laras, dan si Kembar Tiga, “kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk dan berdiri. Sepertinya ada yang kurang dari formasi ini…
“Tunggu dulu!” firasatku tidak enak, “Deden mana?”
Noor bungkam, Laras menggigit bibir, si Kembar Tiga berpandangan salah tingkah.
“Deden mana?” mataku mulai panas, “DEDEN MANA?? JAWAB AKU!!”
Tidak ada yang berani menjawab.
“DEDEEEN??” aku berteriak putus asa, “INI TIDAK LUCU! PERLIHATKAN BATANG HIDUNGMU DI DEPANKU SEKARANG JUGA!!”
“Ke, Kezia,” Ayu menahan tanganku, “dengarkan dulu.”
“Ledakan itu berasal dari kamarmu.” Saput melanjutkan dengan pemilihan kata yang sangat hati-hati, “Kau dan Deden bertukar kamar kan?”
Aku mengangguk, ngeri, tidak siap mendengar lanjutannya.
“Jadi… Jadi Deden lah yang terperangkap di kamar itu.” Ferdi melanjutkan lagi dengan suara lebih kecil, “kami tidak bisa menyelamatkannya. Jadi—“
Pandanganku memburam sebelum Ferdi melanjutkan kata-katanya.

(to be continued)

Friday, 10 August 2012

The Tale of Kerajaan Hoam - 5. Black World


“Itu namanya pemerasan, Deden!” aku terlampau gemas dengan tindakan Deden yang sok gentle tadi; memberikan uang begitu banyak kepada si cewek-muka-telur hanya untuk buah-buahannya yang nyaris busuk.
“Anggap saja amal.” Jawab Deden, kalem.
Ingatkan aku untuk tidak menolong lelaki ini kalau di tengah jalan ia kehabisan uang.
“Oh iya, Kezia. Ini hampir malam. Kita harus menginap.”
“Aku tidak ngantuk.” Gerutuku. Masih menyesali uang-uang yang terbuang percuma itu.
“Tapi Messy-mu sudah berjalan sambil tidur tuh.”
Eh? Dengan penasaran aku melirik kuda yang kutunggangi.
DIA BENAR-BENAR BERJALAN SAMBIL TIDUR????
***
Penginapan Pioneer.
“Selamat malam,” sapa seorang resepsionis manis dengan senyum kawat giginya, “nama saya Laras, malam ini saya resepsionis Anda. Ada yang bisa saya bantu?”
“Dua kamar ya.” Pintaku.
“Dengan connecting door ya.” Sahut Deden.
“ENAK AJA! Tanpa connecting door!” aku menatap Deden ganas. Lagi-lagi dia nyengir Noir.
“Maaf, Nona,” Laras mengecek buku tamunya, “yang tersisa hanya dua kamar dengan connecting door untuk malam ini.”
Krik…
Bagus. Jadi malam ini aku harus tidur dengan bayang-bayang Deden yang bisa masuk kamarku kapan saja… OH NO!!
“Sip!” cengiran Deden makin lebar. Dia benar-benar lelaki otak cabul. Aku harus jaga jarak cepat-cepat dengannya, “kami ambil ya.”
Sabarlah, Kezia. Ini hanya semalam.
 “Baik.” Laras mencatat data kami dan memberikan dua kunci kamar, “silakan menikmati.”
“Ooh… tentu saja,” Deden tertawa, “tentu saja saya akan menikmati malam ini.”
GRRRRRRRRRRRRRR…
Laras cuma tersenyum kecil, lalu menekan bel nyaringnya, “petugas kami akan menunjukkan kamar kalian.”
Aku membalas senyum kawat warna-warninya dan menunggu.
Sudah 10 menit berlalu dan tidak ada yang datang.
“Ma, maaf,” Laras terlihat sungkan. Ia lalu menekan bel lagi.
Tidak ada yang datang.
“Astaga…” Laras menghela nafas panjang dan… “NOOOOOOOOOOR!!!! KAU TULI ATAU BAGAIMANA???!!!! ADA TAMU DISINI, DASAR BODOH!!!!”
Sialan. Suara cemprengnya merusak pendengaranku.
“IYA IYA, DASAR KAU LEBIH BODOH!!!” aku mendengar sahutan suara wanita dari dalam. Hhh… orang-orang disini kenapa sih??
Eh tunggu dulu! Sepertinya aku mengenal suara itu…
Aku mendengar derap kaki kasar di belakangku. Refleks aku menoleh dan…
“Kamu…” aku tidak habis pikir, “kamu wanita wajah telur itu kan???!!!!”
“Oh,” responnya datar, “kau si hidung pesek yang tidak becus menunggang kuda itu kan?”
“KAAAAUUUUUUUUU!!!!!!!”
***
“Sabar, Kezia, sabar…” Deden kelihatan masih ngeri karena melihatku mengamuk tadi. Ia berhasil menyeretku ke kamar sebelum aku membunuh Wanita Telur. Ya, orang yang sudah pernah melihatku mengamuk dipastikan akan mengalami trauma berat yang menyebabkan disfungsi syaraf otak.
Kau tidak tahu maksudku? Entah, aku juga tidak tahu apa yang kubicarakan. Pokoknya-aku-benci-wanita-telur-itu!!!!
“Aku ingin kita pergi dari sini secepatnya, Deden.” Aku mendengar suaraku masih menggeram. Dari semua hinaan, aku paling benci jika ada yang mengataiku pesek. Kenapa aku benci? Karena itu kenyataan.
“Besok sore bagaimana?” tanyanya.
“Sore?” aku menatap Deden dengan longoan, “kenapa tidak sekalian saja kita tinggal di sini?!”
“Bukan begitu maksudku, Kezia,” Deden menghela nafas, “Messy itu sudah tua. Kau mau menyiksanya dengan tidak memberinya istirahat panjang?”
Kuda sialan itu. Aku akan mengorbankannya untuk sesaji jika perjalanan ini berakhir.
“Tapi aku tidak mau bertemu dengan wanita telur itu!”
“Memang kau pikir dia mau bertemu denganmu? Percaya diri sekali kau.” Deden berdiri, “aku lelah. Aku ingin tidur. Semoga mimpi indah, Kezia.”
Aku mengangguk kecil dan membiarkannya beranjak ke kamarnya lewat connecting door. Deden bisa berpura-pura tertawa seperti itu, tapi aku tahu ada siratan kesedihan di matanya. Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dengan Dina?
Apa Deden benar-benar ingin melupakan Dina demi aku?
***
“Layanan kamar!” aku mendengar suara pintu diketuk. Aku mengucek mata dan melihat jendela.
Sudah seterang ini. Sepertinya aku sudah tertidur cukup lama. Dengan ogah-ogahan aku bangun dan memakai mantel, lalu membuka pintu.
Seorang wanita cantik tinggi kurus dengan gigi depan yang patah sedang tersenyum sopan di depanku. Di belakangnya ada dua lelaki tinggi besar.
“Selamat pagi, Nona,” wanita itu memberi salam sopan, “nama saya Ayu, dan hari ini saya akan membersihkan kamar anda.”
‘Oh, iya.” Aku tersenyum kikuk, “dan dua lelaki di belakangmu?”
“Oh,” Ayu menoleh sambil tersenyum makin lebar, “dua orang ini saudara kembar saya. Yang ini Saput, yang ini Ferdi.” Ayu menepuk-nepuk bahu besar saudara kembarnya, “mereka tidak akan berhenti menguntit saya sampai mendapatkan jatah sarapan mereka.”
Aku melongo pada kembar tiga di depanku. Yang laki-laki sih memang mirip. Tapi yang wanita… kasihan sekali nasibnya.
“Ada roti canai di mejaku. Ambil saja untuk saudara kembarmu itu.” Aku tersenyum padanya.
“Oh, terimakasih.” Ayu tertawa, “Saput, Ferdi, kalian bisa sarapan setelah membantuku membersihkan kamar. Siap?”
“Siap, Kakak!” Saput dan Ferdi menyahut sambil hormat. Longoanku makin parah.
Apa tidak ada satu orangpun yang normal disini?!
Si Kembar Tiga mulai membersihkan kamarku. Aku menunggui mereka. Sayup-sayup aku mendengar suara mesin jahit dari loteng atas.
“Siapa yang menjahit?” tanyaku.
“Pasti Noor.” Jawab Saput, “dia sudah merekrut loteng atas sebagai markasnya.”
“Dia jago sekali menjahit baju.” Sambung Ferdi, “seragam pegawai penginapan di sini juga ia yang menjahitnya. Padahal dia hanya mengambil dari baju bekas, tapi hasilnya bisa sebagus ini.”
Aku mengamati baju yang mereka pakai. Model dan jahitannya memang rapi sekali. Tak kusangka wanita telur itu punya keahlian selain menghina orang.
“Aku mau mengintip sebentar.” Kataku, “titip kamarku ya.”
Aku lalu menaiki tangga menuju loteng. Suara mesin jahit itu semakin terdengar. Diam-diam aku mengintip dari lubang kunci. Samar-samar aku memang melihat sepasang tangan sedang memainkan kain dan mesin jahit. Tapi tidak jelas siapa orangnya. Dengan nekat aku buka sedikit pintu loteng.
Loteng itu kecil dan pengap. Ada banyak kain-kain berantakan dan di temboknya banyak baju-baju bergantungan. Lalu di pinggir jendela, kulihat sosok si wanita telur sedang menjahit dan… tersenyum. Ternyata wanita cuek dan dingin seperti dia masih bisa tersenyum? Aku cekikikan melihatnya.
“Siapa itu?” wanita telur menghentikan jahitannya. Oh tidak! Aku balik badan dan berjingkat pelan untuk kabur—
“Pesek?”
Aku menoleh, geram melihat wanita telur itu berdiri tanpa ekspresi di depan pintu loteng, dan, “BERHENTI MEMANGGILKU PESEK!!!!”
***
“Oh, jadi kau memang suka menjahit ya?” aku mengamati baju-baju hasil karyanya yang tergantung di tembok loteng. Untuk sementara ini, ia mengajakku akur. Ya, sementara ini.
“Ya.” Jawabnya singkat. Daritadi setiap kutanya ia hanya menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ atau ‘bukan urusanmu’ tanpa intonasi sama sekali. Bodo amat!
Aku masih mengamati baju-bajunya. Perhatianku teralih ke baju yang ia gantungkan di pojok. Sebuah gaun berwarna semburat merah muda yang simpel namun menunjukkan elegansi khusus.
“Hei, ini bagus sekali.” Pujiku sembari menyentuh gaun itu lembut. Katun.
‘Kau suka? Ambil saja.”
“Eh?? Serius??” aku nyaris melonjak kegirangan.
“Iya,” wanita telur menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, “sudah tidak ada lagi yang memilikinya.”
Aku tercenung, “maksudmu?”
“Gaun itu akan kuberikan pada ibuku saat ulangtahunnya nanti.”
“Ah,” aku salah tingkah, “maaf. Kalau begitu berikan saja pada ibumu. Dia pasti suka—“
“Ibuku menghilang.”
“Ah?”
“Orangtuaku, ah bukan, orangtua kami semua yang tinggal di sini rata-rata menghilang,” nada wanita telur terdengar sedih, “setelah mereka mencoba memberontak pada kerajaan Hoam.”
Aku tersentak pelan. Entah mengapa tiba-tiba aku menggigil.
“Aku benci mereka semua,” geraman wanita telur terdengar jelas sekali, “aku benci penghuni istana dan masyarakat dunia putih yang munafik itu. Aku benci kerajaan Hoam. Harusnya mereka semua mati saja!”

(to be continued)

Tuesday, 7 August 2012

Cupid Jatuh Cinta dan Panah Terakhirnya


Aku cupid, dan ini panah terakhirku.
Aku sudah lama menunggu momen ini; aku bisa melihatmu lebih dekat dan kubuat kau membalas rasaku.
Menjadi cupid membuatku cukup bodoh untuk menutup perasaanku. Lalu aku bertemu denganmu.
Jadi, dengan panah terakhir ini, kubuat kau mencintaiku
Setiap detik terasa berharga…
Aku bersorak-sorak karena tugasku sudah selesai. Aku akan jatuh cinta! Dan ia akan membalas cintaku.
Kugenggam erat panahku ini. Kan kutancapkan di dadamu, lalu kan kuwujudkan ragaku di depan matamu. Ya, kau akan mencintaiku.
Seperti dongeng, cintaku harus berbalas!
Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya; waktuku habis untuk melihat orang lain bahagia karena cinta mereka terbalas. Tapi tak ada satupun orang yang berterimakasih padaku. Sudahlah, yang penting ini giliranku.
Kutunggu momen-momen indah ini bertahun-tahun, tanpa kau sadari aku selalu mengikutimu. Tanpa raga, aku memerhatikanmu. Tanpa raga, aku mencintaimu. Bayang semuku selalu mengikuti jejakmu. Panca inderaku selalu mencari kepastian tentang kamu. Sudah kusingkirkan takdir itu; cintamu tak pernah dibalas orang lain. Mengapa? Karena hanya aku yang pantas untukmu. Bukan orang lain.
Kulihat kau mulai melintasiku; masuk ke area sasaran.
Kutarik busur panahku. Aku harus mengenai tepat di jantungmu, tepat di hatimu, lalu kau akan berdebar saat melihatku. Sempurnanya rencanaku. Akulah si cupid yang jatuh cinta dan tak ada orang yang bisa menghalangiku.
Karena cintaku harus dibalas!
Dengan yakin, kupanah hatimu!
Sasaranku tepat. Namun…
Di detik itu, seseorang melewatinya dan menarik perhatian matanya.
Tidak! Jangan! Jangan melihatnya! Kau seharusnya hanya jatuh cinta padaku!
Namun terlambat, kau telah mencintai wanita lain.
………..
Cintaku bertepuk sebelah tangan.

Monday, 6 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 4. That Girl with That Wanderer... Uuh!


Aku hanya mengamati Deden yang mondar-mandir panik menunggu tabib keluar. Ya, karena Dina. Siapa lagi coba.
Sedangkan aku… cuma lecet-lecet karena gesekan tali dan sedikit memar. Bersyukur sih tapi… oke ini bodoh tapi… aku ingin tahu rasanya dikhawatirkan oleh lelaki susah ditebak seperti Deden. Hhhh… jadi aku benar-benar cemburu? Berarti aku menyukai… OH JANGAN SAMPAI!!
Beberapa lama kemudian tabib tua itu keluar. Deden langsung menghampirinya.
“Bagaimana?” tanya Deden.
“Tidak ada masalah serius seperti tengkorak retak, kelainan syaraf, atau lainnya. Dia akan baik-baik saja.” Jawab tabib itu. Aku mendengar Deden bergumam penuh syukur.
Aku? Ehm… bersyukur tidak ya?
“Apa dia sudah sadar?” tanyanya lagi.
“Belum. Dia masih butuh banyak istirahat.” jawab tabib itu, “saya akan menyiapkan obat untuknya. Saya permisi.” Lalu tabib tua itu pergi.
Hening.
“Den,” aku mulai pembicaraan, “aku minta maaf. Karenaku Dina jadi—“
“Bukan salahmu. Salah penculik itu.” Deden tersenyum hambar.
“Oh, eh, iya.” Salah tingkah deh, “kamu belum makan kan? Biar aku carikan makanan. Kau tunggu di sini ya, jaga Dina.”
Deden bergumam terimakasih pelan. Aku berlalu dari hadapannya. Kesedihan di mata cokelatnya itu membuatku jadi salah tingkah; sedih melihatnya seih, kesal karena dia lebih peduli pada wanita lain. Ya, aku memang jahat. Di saat seperti ini masih juga memikirkan hal seperti itu…
Tapi aku akan mengejar cinta Pangeran Dharma, no-doubt! Kalau aku bersama pengembara yang hidupnya tidak jelas seperti Deden, aku bisa membunuh kerajaanku pelan-pelan. Tuh kan! Jatuh cinta saja banyak aturannya.
***
Keesokan harinya, Dina sadar.
“Ehmm… Dina? Feel better?” aku memasang senyum—entah seperti apa jadinya senyum itu.
Dina mengamatiku dari atas ke bawah, bawah ke atas, kiri ke kanan, kanan ke kiri… mendadak aku merasa menjadi teroris atau semacamnya, “kamu dari dunia putih?”
“Ehm.. maksud?” aku bertanya polos. Well, aku benar-benar tidak mengerti dunia putih.
“Oh. Iya. Kamu dunia putih.” Simpul Dina TANPA menjawab pertanyaanku. Seriuuus. Ini maksudnya apa sih?
“Harus kita apakan dia?” Deden bertanya tanpa ekspresi. APAKAN?? APAKAN KATANYA?? MEMANGNYA AKU MAU DICABULI ATAU BAGAIMANA??
Oke. Calm down.
“Kemana tujuanmu?” tanya Dina lagi.
“Kerajaan Utara.” Jawabku malas. Tiba-tiba saja aku ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini.
“Lewat hutan ya. Jauh juga.” Dina terlihat berpikir, “kapan kamu melanjutkan perjalanan?”
“Menunggu kamu pu—“
“Secepatnya.” Aku memotong jawaban sok tahu Deden dengan ganas, “kalau bisa hari ini juga. Aku tidak punya banyak waktu.”
Deden melongo. Ha~ha~ha~
“Oh,” respon Dina—dia biasa saja kalau kau tanya, “aku punya saran untukmu. Jangan gunakan baju sebagus itu untuk mengembara, jangan menggunakan kuda sehalus itu juga, dan jangan membawa terlalu banyak barang berharga. Lain kali mungkin saja tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Kamu harus bisa bertahan dalam kesusahan—well, meskipun aku tidak tahu tujuanmu.”
Diam-diam aku membenarkan saran Dina. Kalau dilihat-lihat dari penampilanku, jelas saja orang-orang ingin menyekapku dengan kurang ajar seperti kemarin. Maaf saja deh, aku belum pernah keluar istana sebelumnya. Kamu pikir aku Sidharta atau bagaimana???
“Baiklah, aku akan menyamar.” Aku menghela nafas, “tapi… dimana aku bisa mendapatkan kuda?”
“Aku yakin masyarakat sini dengan senang hati menukarkan kuda mereka dengan kudamu yang berkilauan itu.”
“Oke. Aku akan menukar… tunggu dulu!” aku tidak terima, “menukar kuda spesies unggul seperti Noir dengan kuda biasa?? Kau gila!”
“Kan bisa kau ambil lagi lain kali. Kalau kau benar-benar kaya.”
Wanita ini menghinaku atau bagaimana sih??
“Terserah kau sajalah.” Aku melengos.
“Biar aku bantu mengurusi semuanya,” Deden berdiri, “sepertinya kali ini kita akan benar-benar berpisah, Kezia.”
Jleb.
***
“Bye, Noir.” Aku mencium bulunya lembut, “believe me, aku akan mengambilmu kembali.”
Noir meringkik pelan, terdengar sedih, lalu ia mengikuti pemilik barunya pergi. Aku melambai-lambaikan tangan, kemudian melirik ‘kuda baruku’. Jelas beda jauh dengan Noir!
Bulunya sangat tidak terawat. Bau pula. Ya Tuhan, tunjukkan keajaiban-Mu pada kuda inii…
“Oke. Aku akan memberimu nama Messy. Sesuai dengan dirimu.” Dia sangat berantakan.
“Hai Messy!” Deden nyengir. Kulihat-lihat dia mirip dengan Messy. Mungkin karena aku masih kesal padanya, “jaga si cantik baik-baik ya.”
Aku mendengus. Dasar playboy! PHP-ers! Sepikers!
Deden beralih padaku, “kamu juga jaga diri baik-baik ya Kezia.”
“Ya.” Jawabku tanpa niat sembari menaiki Messy. Deden sudah ‘merangkum’ barang-barangku sebelumnya—dia tidak menyentuh ‘pakaian pribadi’ku. Jangan ngaco!
Deden menepuk-nepuk kepala Messy penuh sayang. Jadi… ini benar-benar… perpisahan?
***
Aku melamun saja saat perjalanan. Bodoh! Aku kesal pada Deden tapi… kalau diberi kesempatan melihatnya tersenyum untukku sekali lagi saja, aku tidak keberat—OH TIDAK!!!
Messy meringkik pelan. Mengajak kenalan mungkin.
“Aku Kezia.” Jawabku ngawur, masih setengah melamun. Messy meringkik lagi. Aku diamkan sajalah dia. Tiba-tiba aku merindukan egoisme Noir yang biasanya kusebalkan itu.
Tapi aku lebih rindu… OKE JANGAN DIBAHAS!
Tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik momen galauku. Sesuatu yang melewati rerumputan, sesuatu yang menciptakan berisik dari lidah, sesuatu yang melata, sesuatu yang… MATI! ADA ULAR!!
Aku rasa aku memang ditakdirkan sial seumur hidup atau semacamnya…
“Jangan diam saja, dasar bodoh!”
Suara itu…
Aku menoleh. Untuk kedua kalinya Deden jadi superhero-ku.  Kali ini ia menaiki kuda lain, bukan Shiro. Ia mengusir ular-ular itu dengan tampang galak.
“Kalau tidak diusir, Messy-mu bisa digigit.” Jelas Deden sabar, “oh iya. Kenalkan, ini kuda baruku. Namanya… nanti saja deh kalau kau bertanya.”
“Kau mengikutiku?” aku bertanya tidak percaya—antara girang, kaget, pokoknya tidak percaya!
“Iya.” Deden nyengir lagi. Ralat, dia lebih mirip Noir. Meskipun tetap saja judulnya ‘mirip kuda’, paling tidak Noir spesies unggul kan?
“Kenapa?”
“Well, lelaki gentle manapun tidak akan meninggalkan seorang wanita poor wannabe sepertimu pergi menyusuri hutan sendirian kan? Aku akan terus menemanimu sampai tujuan.”
Aku mendadak melting tapi… “Dina?”
“Lho?” ia mengernyit, “kamu menyuruhku melupakannya? Jadi aku akan melupakannya. Aku rasa esensi move yang paling indah adalah berhasil melupakan  yang seharusnya dilupakan kan?”
Eh? Dia serius? Dia move karenaku? Aku diam, terpaku, bingung.
“Sudahlah, Kezia. Sekarang yang penting kamu dan tujuanmu.” Deden tertawa, “aku sudah menemukan yang kucari, sekarang aku akan membantu. Deal?”
“I, iya.” Aku mengangguk, speechless.
“Sip.” Deden mengacungkan dua jempolnya, “jadi biar kuberitahu. Hutan bisa jauh lebih berbahaya lagi. Sebaiknya kita lewat jalur aman; lewat luar.”
“Luar? Nanti kalau aku ketahuan?”
“Kau sudah menyamar. Tinggal sedikit dipoles akting dan kebohongan-kebohongan kecil saja kan?”
“Tapi…”
“Percaya saja padaku. Aku akan melindungimu. Ya?” Deden tersenyum meyakinkan. Aku luluh. Aku mengangguk. Biar Tuhan nanti yang merancang kejadian setelahnya.
***
Setelah putar balik yang cukup melelahkan…
“Selamat datang,” bisik Deden, “di dunia hitam.”
Aku mengamati sekeliling. Perkampungan kumuh, teriakan-teriakan emosi, anak-anak kecil yang menangis, pengemis mengemis kepada pengemis, pemandangan ironis macam apa ini?
“Dunia hitam? Jelaskan padaku.”
“Oke.” Deden berlagak seperti sejarawan—sama sekali tidak cocok by the way, “secara tidak resmi, Kerajaan Hoam dibagi atas dua wilayah besar; dunia hitam dan dunia putih. Dunia putih berisi kaum-kaum kaya, keluarga-keluarga raja, bangsawan, pedagang sukses, dan lain-lain. Dunia putih ya yang selama ini kamu lihat di sekitar rumahmu; semua di-setting untuk menjadi selaras dengan apa yang diinginkan raja.”
Raja? Ayahku?
“Dunia hitam sebaliknya,” lanjut Deden, “ya seperti yang kamu lihat ini. Aku tidak perlu menjelaskan lagi kan?”
“Apa raja tahu?”  tanyaku hati-hati.
“Kurasa. Lalu beliau pura-pura buta, tuli, dan bisu mengenai fenomena ini. Karena itu kaum dunia hitam selalu berusaha melawan, namun penjaga-penjaga keamanan kaum dunia putih selalu berhasil memukul mundur kekuatan mereka. Seakan kerajaan Hoam bersih dari masalah intern.”
Aku diam, kagok. Jadi begini rupa sebenarnya kerajaanku selama ini? Dan… ayah tahu?
“Menurutmu,” aku bertanya lebih hati-hati lagi, “siapa yang salah?”
“Entah. Tapi aku membenci raja munafik itu sampai sekarang.” Jawab Deden kalem. Tapi… menusuk!
Aku diam lagi, bingung menjawab apa sampai…
“OUCH! HEH, WANITA BODOH! KAU ATAU KUDAMU SIH YANG SEBENARNYA BUTA???”
Aku kaget karena bentakan itu dan langkah Messy yang terhenti. Dengan segera aku turun untuk melihat apa yang terjadi.
Bagus! Messy menabrak seseorang. Seorang wanita berwajah bulat telur yang membawa sekeranjang buah nyaris busuk—dan buah-buah itu kini berpindah ke bawah kaki Messy.
“Maaf.” Aku menunduk berkali-kali, “saya dan kuda ini belum begitu mengenal jadi—“
“Kau pikir aku peduli?” ia berkata sinis, “bayar semua ganti rugi! Kau pikir di sini uang tinggal metik atau bagaimana?”
Aku menahan marah. Semoga aku tidak bertemu lagi dengan wanita seperti ini!!

 (to be continued)

The Tale of Hoam Kingdom - 3. Kidnapped


“Jadi dia memang putri raja?”
Uh, kepalaku pusing sekali.
“Iya. Aku melihat kalung permata dengan tanda kerajaan di lehernya.”
Ini dimana?
“Apa kita rampok dulu barang-barang berharganya? Dimana kudanya?”
“Kuda itu melarikan diri lebih dulu dengan barang-barangnya.”
Oh sial. Jadi Noir meninggalkanku?
“Lalu apa yang bisa kita rampok darinya? Dasar bodoh!”
“Kita bisa jual kalung permatanya. Pasti sangat mahal. Lalu kita peras raja agar memberi kita imbalan lebih. Agar mereka tahu kekuatan kita, kaum dunia hitam.”
Kaum dunia… apa?
Aku membuka mata pelan-pelan. Atap jerami di atasku masih memberikan efek bianglala sepertinya.
“Tuan Putri sudah bangun?” salah seorang lelaki dengan tubuh besar bertanya sok manis.
“Diamlah! Cepat lepaskan aku!” bentakku garang. Percuma juga sih sebenarnya…
“Cantik sih, tapi tidak punya otak ya.” Sergah temannya yang lain. Apa dia bilang? Orang yang mengatakan orang lain tidak punya otak seharusnya menerima konsekuensi; harus memiliki otak!
Aku menatap mereka berdua kesal, marah, tapi… takut juga. Rasa takutnya ini lho membuatku gerah.
“Lagipula, untuk apa seorang putri berkeliaran sendirian di tengah hutan belantara seperti ini? Hanya dengan seekor kuda lagi.” Lanjutnya.
“Bukan urusanmu.”
“Memang bukan urusan kami. Tapi kami kan penasaran. Kami mengikutimu dari air terjun—“
“APA KATAMU???” aku meraung. Ini MIMPI BURUK! Ada dua orang jelek yang mengintipku mandi? Oh, bisakah aku mati?
“Lihat ekspresinya.” Salah satu dari mereka tertawa. Pipiku terasa panas sekali. Panas karena marah.
“Cukup tertawanya.” Kata lelaki kedua. Ia lalu mendekatiku yang benar-benar tidak bisa bergerak—badanku diikat kuat sekali. Aku rasa kulitku mulai lecet—dan menarik sesuatu.
Kalung kerajaanku.
“Kembalikan itu padaku!” mataku memanas. Apa lagi hal buruk yang terjadi setelah ini?
Lelaki kedua menyimpan kalungku di sakunya dan kembali menatapku, “menurutmu harganya lebih mahal mana? Dikembalikan ke raja, dijual sebagai budak, atau dijual organ tubuhnya?”
Oh bagus.
“Jual organ tubuh pasti lebih mahal.” Jawab lelaki pertama.
“Kalau begitu, kita jual saja organ tubuhnya.”  Lelaki besar itu membekapkiu paksa lagi. Kepalaku pening lagi. Kemudian… gelap.
Ya Tuhan. Ini demi apa…
***
“Hei?” aku mendengar suara dalam wanita di sebelahku. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi yang aku rasakan… sepertinya tidak ada apapun yang mengikat tanganku lagi. Dengan susah payah kubuka mata.
Seorang wanita cantik dengan kulit putih bersinarnya sedang membuka tali yang mengekang kakiku. Ia mengenakan baju zirah seperti layaknya ksatria. Aku terus menatap wajahnya—berusaha mengingat kalau-kalau aku pernah melihatnya sebelum ini.
“Kau sadar? Kau baik-baik saja? Bisa mendengarku?” ia menggoyang-goyang telapak tangannya di depan mataku.
“Kau siapa?” tanyaku. Aku kaget suaraku bisa selemas ini.
“Dina.” Jawabnya singkat, tegas, dan… tanpa bertanya balik siapa aku. Fine! Aku diam.
Dina selesai melepas semua ikatan di tubuhku, “kita harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum dua pengemis itu kembali.”
“Pengemis?” ulangku penasaran, “siapa mereka?”
“Mereka pasti gelandangan dari dunia hitam.”
Tuh kan disebut lagi, “dunia apa sih?”
Ia menoleh padaku dengan tatapan meremehkan, “ah. Dilihat dari pakaianmu, kau pasti dari dunia putih. Jelas saja kau tidak mengerti.”
Kernyitan di dahiku semakin dalam.
“Sudahlah. Bukan waktunya membicarakan itu. Ayo pergi!” ia menarikku tergesa-gesa keluar. Aku hanya menurut.
“Jadi,” tanyaku berusaha mengimbangi kecepatannya, “dari mana kau tahu ada aku di sini?”
“Aku menemukan jejak sesuatu yang diseret. Dilihat dari kedalaman tekanan dari tanah, aku memperkirakan kalau benda yang diseret itu pasti tidak ringan, namun juga tidak seberat hewan besar.” Jawabnya, “kesimpulanku, ada manusia yang diseret paksa.”
Selain cantik, otaknya juga berfungsi dengan baik.
“Jadi, kau kenal siapa yang menculikmu?” tanyanya balik.
Aku menggeleng.
“Baiklah. Aku malas main pukul-pukulan hari ini.” Dina mengangkat bahu. Aku melihat sekelabatan orang di belakangnya…. “Lebih baik kita cepat pergi dan—“
“AWAS!!!”
Dengan cekatan, Dina langsung berbalik badan dan menendang dada si penculik yang akan menyergapnya. Akurasinya, teknik menendangnya, kekuatan yang jarang dimiliki gadis lain, dengan segera kusimpulkan bahwa orang ini bukan wanita biasa.
“Kau rupanya?” Dina dengan segera membentuk kuda-kuda yang kuat, “Mamat, perampok yang menjadi buronan itu kan?”
“Oh. Aku setenar itu?”
“Tenar moyangmu!” Dina memicingkan mata, “lihat saja! Akan kuserahkan kau ke keamanan kerajaan!”
“Lakukan saja kalau kau masih bisa hidup setelah ini, dasar bocah sok jago!” si penculik itu juga memasang kuda-kuda yang tidak kalah kuat. Sialan, ini acara wrestling pro atau bagaimana?!
Dina melakukan serangan lebih dulu. Ia berusaha mengecoh perhatian lawannya untuk mendapatkan tumpuan badan lawan. Namun sia-sia, lawannya sepertinya juga pejudo hebat. Dina masih berusaha mencari celah. Aku terkagum kagum melihat kecepatannya sekaligus sentuhan seni pada tiap gerakannya; seakan ia sedang menari, bukan mencari cara untuk membanting lawannya.
Dan sampai akhirnya… Dina benar-benar membanting lawannya.
“Bocah sok jago katamu?” Dina berucap dingin sambil menginjak (dan menggesek-gesekkan sepatu boot besarnya) ke dada si penculik, “katakan itu sepuluh tahun lagi, dasar bodoh!”
Aku menutup mulut—antara kagum dan ingin tertawa.
“Well, aku serius saat mengatakan kau memang sok jago.” Si pencullik berkata sinis. Tiba-tiba saja—entahlah. Terjadi terlalu cepat—seseorang memukul keras kepala Dina dengan batangan besi. Darah segar mengalir dari keningnya. Serasa badanku ikut beku. Aku baru ingat kalau penculiknya ada dua. Bodohnya akuu!
Dina jatuh pingsan. Aku melihat bibirnya membiru, pucat. Oh tidak! Apakah dia sudah…
“Kau juga, Tuan Putri.” Ia mengarahkan tongkat besi itu tepat di depan mataku. Mataku mulai panas, “jangan macam-macam dengan kami—“
“Kau yang jangan macam-macam terhadap mereka, payah!”
Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar di telingaku. Suara yang—jujur saja—tiba-tiba kurindukan di saat segenting ini.
Benar saja. Deden. Ia menghampiriku dan menutup kedua mataku dengan sehelai kain.
“Menghabisi wanita dengan senjata merupakan tindakan yang sama sekali tidak gentleman, kalian tahu?” aku mendengar gesekan suatu benda. Kurasa pedang, “lawan kalian aku.”
Dan yang aku dengan setelah itu hanyalah dentingan keras dua logam, plus jejeritan kedua penculik itu.
Beberapa lama kemudian, mendadak hening…
“Kezia?” suara halus Deden kembali lagi, lalu ia membuka penutup mataku, “kau baik-baik saja?”
Apa wajah ketakutan ini terlihat baik-baik saja? Namun ada sesuatu—entah apa itu—di mata tajam lelaki di depanku ini yang membuatku mengangguk.
Deden mengelus lembut rambutku, “maafkan aku datang terlalu lama—“
“Dina,” aku bergumam pelan, “selamatkan dia.”
“Dina?” mimik muka Deden berubah secara cepat. Ia lalu menoleh dan mendapati sosok Dina pingsan penuh darah, “DINA!!”
Perasaanku saja atau… Deden lebih panik karena Dina, bukan karena aku?
Dengan cepat—dan panik berlebihnya itu! Padahal mereka kan belum saling kenal?! Eh, atau aku salah?—Deden membopong Dina dan menaiki kudanya. Di sebelah kuda Deden aku melihat kuda lain yang sangat aku kenal.
“Noir!” aku girang, yang langsung kusembunyikan.
“Nanti saja reuninya. Ayo kita pergi!” Deden memacu kudanya begitu cepat. Aku mengambil kalungku diam-diam dari saku si penculik, menaiki Noir, dan kupacu Noir agar mengikuti Shiro.”
“Deden?” panggilku setengah berteriak, “mengapa kau sepanik itu? Kau… kau mengenal Dina?”
“Kenal.” Jawabnya singkat tanpa menurunkan kecepatan kudanya.
“Siapa dia?”
“Kau bilang aku gagal move on kan?” suara Deden terdengar getir, “karena wanita inilah aku gagal move on.”
Aku terdiam. Lalu… perasaan apa ini? Sepahit… patah hati?

(to be continued)



Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com