…
“Jadi dia
memang putri raja?”
Uh, kepalaku
pusing sekali.
“Iya. Aku
melihat kalung permata dengan tanda kerajaan di lehernya.”
Ini dimana?
“Apa kita
rampok dulu barang-barang berharganya? Dimana kudanya?”
“Kuda itu
melarikan diri lebih dulu dengan barang-barangnya.”
Oh sial. Jadi
Noir meninggalkanku?
“Lalu apa yang
bisa kita rampok darinya? Dasar bodoh!”
“Kita bisa
jual kalung permatanya. Pasti sangat mahal. Lalu kita peras raja agar memberi
kita imbalan lebih. Agar mereka tahu kekuatan kita, kaum dunia hitam.”
Kaum dunia… apa?
Aku membuka
mata pelan-pelan. Atap jerami di atasku masih memberikan efek bianglala
sepertinya.
“Tuan Putri
sudah bangun?” salah seorang lelaki dengan tubuh besar bertanya sok manis.
“Diamlah!
Cepat lepaskan aku!” bentakku garang. Percuma juga sih sebenarnya…
“Cantik sih,
tapi tidak punya otak ya.” Sergah temannya yang lain. Apa dia bilang? Orang
yang mengatakan orang lain tidak punya otak seharusnya menerima konsekuensi;
harus memiliki otak!
Aku menatap
mereka berdua kesal, marah, tapi… takut juga. Rasa takutnya ini lho membuatku
gerah.
“Lagipula,
untuk apa seorang putri berkeliaran sendirian di tengah hutan belantara seperti
ini? Hanya dengan seekor kuda lagi.” Lanjutnya.
“Bukan
urusanmu.”
“Memang bukan
urusan kami. Tapi kami kan penasaran. Kami mengikutimu dari air terjun—“
“APA
KATAMU???” aku meraung. Ini MIMPI BURUK! Ada dua orang jelek yang mengintipku
mandi? Oh, bisakah aku mati?
“Lihat
ekspresinya.” Salah satu dari mereka tertawa. Pipiku terasa panas sekali. Panas
karena marah.
“Cukup
tertawanya.” Kata lelaki kedua. Ia lalu mendekatiku yang benar-benar tidak bisa
bergerak—badanku diikat kuat sekali. Aku rasa kulitku mulai lecet—dan menarik
sesuatu.
Kalung
kerajaanku.
“Kembalikan
itu padaku!” mataku memanas. Apa lagi hal buruk yang terjadi setelah ini?
Lelaki kedua
menyimpan kalungku di sakunya dan kembali menatapku, “menurutmu harganya lebih
mahal mana? Dikembalikan ke raja, dijual sebagai budak, atau dijual organ
tubuhnya?”
Oh bagus.
“Jual organ
tubuh pasti lebih mahal.” Jawab lelaki pertama.
“Kalau begitu,
kita jual saja organ tubuhnya.” Lelaki
besar itu membekapkiu paksa lagi. Kepalaku pening lagi. Kemudian… gelap.
Ya Tuhan. Ini
demi apa…
***
“Hei?” aku
mendengar suara dalam wanita di sebelahku. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi
yang aku rasakan… sepertinya tidak ada apapun yang mengikat tanganku lagi.
Dengan susah payah kubuka mata.
Seorang wanita
cantik dengan kulit putih bersinarnya sedang membuka tali yang mengekang
kakiku. Ia mengenakan baju zirah seperti layaknya ksatria. Aku terus menatap
wajahnya—berusaha mengingat kalau-kalau aku pernah melihatnya sebelum ini.
“Kau sadar?
Kau baik-baik saja? Bisa mendengarku?” ia menggoyang-goyang telapak tangannya
di depan mataku.
“Kau siapa?”
tanyaku. Aku kaget suaraku bisa selemas ini.
“Dina.”
Jawabnya singkat, tegas, dan… tanpa bertanya balik siapa aku. Fine! Aku diam.
Dina selesai
melepas semua ikatan di tubuhku, “kita harus cepat-cepat keluar dari sini
sebelum dua pengemis itu kembali.”
“Pengemis?”
ulangku penasaran, “siapa mereka?”
“Mereka pasti
gelandangan dari dunia hitam.”
Tuh kan
disebut lagi, “dunia apa sih?”
Ia menoleh
padaku dengan tatapan meremehkan, “ah. Dilihat dari pakaianmu, kau pasti dari
dunia putih. Jelas saja kau tidak mengerti.”
Kernyitan di
dahiku semakin dalam.
“Sudahlah.
Bukan waktunya membicarakan itu. Ayo pergi!” ia menarikku tergesa-gesa keluar.
Aku hanya menurut.
“Jadi,”
tanyaku berusaha mengimbangi kecepatannya, “dari mana kau tahu ada aku di
sini?”
“Aku menemukan
jejak sesuatu yang diseret. Dilihat dari kedalaman tekanan dari tanah, aku
memperkirakan kalau benda yang diseret itu pasti tidak ringan, namun juga tidak
seberat hewan besar.” Jawabnya, “kesimpulanku, ada manusia yang diseret paksa.”
Selain cantik,
otaknya juga berfungsi dengan baik.
“Jadi, kau
kenal siapa yang menculikmu?” tanyanya balik.
Aku
menggeleng.
“Baiklah. Aku
malas main pukul-pukulan hari ini.” Dina mengangkat bahu. Aku melihat
sekelabatan orang di belakangnya…. “Lebih baik kita cepat pergi dan—“
“AWAS!!!”
Dengan
cekatan, Dina langsung berbalik badan dan menendang dada si penculik yang akan
menyergapnya. Akurasinya, teknik menendangnya, kekuatan yang jarang dimiliki
gadis lain, dengan segera kusimpulkan bahwa orang ini bukan wanita biasa.
“Kau rupanya?”
Dina dengan segera membentuk kuda-kuda yang kuat, “Mamat, perampok yang menjadi
buronan itu kan?”
“Oh. Aku
setenar itu?”
“Tenar
moyangmu!” Dina memicingkan mata, “lihat saja! Akan kuserahkan kau ke keamanan
kerajaan!”
“Lakukan saja
kalau kau masih bisa hidup setelah ini, dasar bocah sok jago!” si penculik itu
juga memasang kuda-kuda yang tidak kalah kuat. Sialan, ini acara wrestling pro
atau bagaimana?!
Dina melakukan
serangan lebih dulu. Ia berusaha mengecoh perhatian lawannya untuk mendapatkan
tumpuan badan lawan. Namun sia-sia, lawannya sepertinya juga pejudo hebat. Dina
masih berusaha mencari celah. Aku terkagum kagum melihat kecepatannya sekaligus
sentuhan seni pada tiap gerakannya; seakan ia sedang menari, bukan mencari cara
untuk membanting lawannya.
Dan sampai
akhirnya… Dina benar-benar membanting lawannya.
“Bocah sok
jago katamu?” Dina berucap dingin sambil menginjak (dan menggesek-gesekkan
sepatu boot besarnya) ke dada si penculik, “katakan itu sepuluh tahun lagi,
dasar bodoh!”
Aku menutup
mulut—antara kagum dan ingin tertawa.
“Well, aku
serius saat mengatakan kau memang sok jago.” Si pencullik berkata sinis.
Tiba-tiba saja—entahlah. Terjadi terlalu cepat—seseorang memukul keras kepala
Dina dengan batangan besi. Darah segar mengalir dari keningnya. Serasa badanku
ikut beku. Aku baru ingat kalau penculiknya ada dua. Bodohnya akuu!
Dina jatuh
pingsan. Aku melihat bibirnya membiru, pucat. Oh tidak! Apakah dia sudah…
“Kau juga,
Tuan Putri.” Ia mengarahkan tongkat besi itu tepat di depan mataku. Mataku
mulai panas, “jangan macam-macam dengan kami—“
“Kau yang
jangan macam-macam terhadap mereka, payah!”
Aku menoleh
saat mendengar suara yang familiar di telingaku. Suara yang—jujur
saja—tiba-tiba kurindukan di saat segenting ini.
Benar saja.
Deden. Ia menghampiriku dan menutup kedua mataku dengan sehelai kain.
“Menghabisi
wanita dengan senjata merupakan tindakan yang sama sekali tidak gentleman,
kalian tahu?” aku mendengar gesekan suatu benda. Kurasa pedang, “lawan kalian
aku.”
Dan yang aku
dengan setelah itu hanyalah dentingan keras dua logam, plus jejeritan kedua
penculik itu.
Beberapa lama
kemudian, mendadak hening…
“Kezia?” suara
halus Deden kembali lagi, lalu ia membuka penutup mataku, “kau baik-baik saja?”
Apa wajah
ketakutan ini terlihat baik-baik saja? Namun ada sesuatu—entah apa itu—di mata
tajam lelaki di depanku ini yang membuatku mengangguk.
Deden mengelus
lembut rambutku, “maafkan aku datang terlalu lama—“
“Dina,” aku
bergumam pelan, “selamatkan dia.”
“Dina?” mimik
muka Deden berubah secara cepat. Ia lalu menoleh dan mendapati sosok Dina
pingsan penuh darah, “DINA!!”
Perasaanku
saja atau… Deden lebih panik karena Dina, bukan karena aku?
Dengan cepat—dan
panik berlebihnya itu! Padahal mereka kan belum saling kenal?! Eh, atau aku
salah?—Deden membopong Dina dan menaiki kudanya. Di sebelah kuda Deden aku
melihat kuda lain yang sangat aku kenal.
“Noir!” aku
girang, yang langsung kusembunyikan.
“Nanti saja
reuninya. Ayo kita pergi!” Deden memacu kudanya begitu cepat. Aku mengambil
kalungku diam-diam dari saku si penculik, menaiki Noir, dan kupacu Noir agar
mengikuti Shiro.”
“Deden?”
panggilku setengah berteriak, “mengapa kau sepanik itu? Kau… kau mengenal Dina?”
“Kenal.” Jawabnya
singkat tanpa menurunkan kecepatan kudanya.
“Siapa dia?”
“Kau bilang
aku gagal move on kan?” suara Deden terdengar getir, “karena wanita inilah aku
gagal move on.”
Aku terdiam. Lalu…
perasaan apa ini? Sepahit… patah hati?
(to be continued)
(to be continued)
No comments:
Post a Comment