Monday, 6 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 3. Kidnapped


“Jadi dia memang putri raja?”
Uh, kepalaku pusing sekali.
“Iya. Aku melihat kalung permata dengan tanda kerajaan di lehernya.”
Ini dimana?
“Apa kita rampok dulu barang-barang berharganya? Dimana kudanya?”
“Kuda itu melarikan diri lebih dulu dengan barang-barangnya.”
Oh sial. Jadi Noir meninggalkanku?
“Lalu apa yang bisa kita rampok darinya? Dasar bodoh!”
“Kita bisa jual kalung permatanya. Pasti sangat mahal. Lalu kita peras raja agar memberi kita imbalan lebih. Agar mereka tahu kekuatan kita, kaum dunia hitam.”
Kaum dunia… apa?
Aku membuka mata pelan-pelan. Atap jerami di atasku masih memberikan efek bianglala sepertinya.
“Tuan Putri sudah bangun?” salah seorang lelaki dengan tubuh besar bertanya sok manis.
“Diamlah! Cepat lepaskan aku!” bentakku garang. Percuma juga sih sebenarnya…
“Cantik sih, tapi tidak punya otak ya.” Sergah temannya yang lain. Apa dia bilang? Orang yang mengatakan orang lain tidak punya otak seharusnya menerima konsekuensi; harus memiliki otak!
Aku menatap mereka berdua kesal, marah, tapi… takut juga. Rasa takutnya ini lho membuatku gerah.
“Lagipula, untuk apa seorang putri berkeliaran sendirian di tengah hutan belantara seperti ini? Hanya dengan seekor kuda lagi.” Lanjutnya.
“Bukan urusanmu.”
“Memang bukan urusan kami. Tapi kami kan penasaran. Kami mengikutimu dari air terjun—“
“APA KATAMU???” aku meraung. Ini MIMPI BURUK! Ada dua orang jelek yang mengintipku mandi? Oh, bisakah aku mati?
“Lihat ekspresinya.” Salah satu dari mereka tertawa. Pipiku terasa panas sekali. Panas karena marah.
“Cukup tertawanya.” Kata lelaki kedua. Ia lalu mendekatiku yang benar-benar tidak bisa bergerak—badanku diikat kuat sekali. Aku rasa kulitku mulai lecet—dan menarik sesuatu.
Kalung kerajaanku.
“Kembalikan itu padaku!” mataku memanas. Apa lagi hal buruk yang terjadi setelah ini?
Lelaki kedua menyimpan kalungku di sakunya dan kembali menatapku, “menurutmu harganya lebih mahal mana? Dikembalikan ke raja, dijual sebagai budak, atau dijual organ tubuhnya?”
Oh bagus.
“Jual organ tubuh pasti lebih mahal.” Jawab lelaki pertama.
“Kalau begitu, kita jual saja organ tubuhnya.”  Lelaki besar itu membekapkiu paksa lagi. Kepalaku pening lagi. Kemudian… gelap.
Ya Tuhan. Ini demi apa…
***
“Hei?” aku mendengar suara dalam wanita di sebelahku. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi yang aku rasakan… sepertinya tidak ada apapun yang mengikat tanganku lagi. Dengan susah payah kubuka mata.
Seorang wanita cantik dengan kulit putih bersinarnya sedang membuka tali yang mengekang kakiku. Ia mengenakan baju zirah seperti layaknya ksatria. Aku terus menatap wajahnya—berusaha mengingat kalau-kalau aku pernah melihatnya sebelum ini.
“Kau sadar? Kau baik-baik saja? Bisa mendengarku?” ia menggoyang-goyang telapak tangannya di depan mataku.
“Kau siapa?” tanyaku. Aku kaget suaraku bisa selemas ini.
“Dina.” Jawabnya singkat, tegas, dan… tanpa bertanya balik siapa aku. Fine! Aku diam.
Dina selesai melepas semua ikatan di tubuhku, “kita harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum dua pengemis itu kembali.”
“Pengemis?” ulangku penasaran, “siapa mereka?”
“Mereka pasti gelandangan dari dunia hitam.”
Tuh kan disebut lagi, “dunia apa sih?”
Ia menoleh padaku dengan tatapan meremehkan, “ah. Dilihat dari pakaianmu, kau pasti dari dunia putih. Jelas saja kau tidak mengerti.”
Kernyitan di dahiku semakin dalam.
“Sudahlah. Bukan waktunya membicarakan itu. Ayo pergi!” ia menarikku tergesa-gesa keluar. Aku hanya menurut.
“Jadi,” tanyaku berusaha mengimbangi kecepatannya, “dari mana kau tahu ada aku di sini?”
“Aku menemukan jejak sesuatu yang diseret. Dilihat dari kedalaman tekanan dari tanah, aku memperkirakan kalau benda yang diseret itu pasti tidak ringan, namun juga tidak seberat hewan besar.” Jawabnya, “kesimpulanku, ada manusia yang diseret paksa.”
Selain cantik, otaknya juga berfungsi dengan baik.
“Jadi, kau kenal siapa yang menculikmu?” tanyanya balik.
Aku menggeleng.
“Baiklah. Aku malas main pukul-pukulan hari ini.” Dina mengangkat bahu. Aku melihat sekelabatan orang di belakangnya…. “Lebih baik kita cepat pergi dan—“
“AWAS!!!”
Dengan cekatan, Dina langsung berbalik badan dan menendang dada si penculik yang akan menyergapnya. Akurasinya, teknik menendangnya, kekuatan yang jarang dimiliki gadis lain, dengan segera kusimpulkan bahwa orang ini bukan wanita biasa.
“Kau rupanya?” Dina dengan segera membentuk kuda-kuda yang kuat, “Mamat, perampok yang menjadi buronan itu kan?”
“Oh. Aku setenar itu?”
“Tenar moyangmu!” Dina memicingkan mata, “lihat saja! Akan kuserahkan kau ke keamanan kerajaan!”
“Lakukan saja kalau kau masih bisa hidup setelah ini, dasar bocah sok jago!” si penculik itu juga memasang kuda-kuda yang tidak kalah kuat. Sialan, ini acara wrestling pro atau bagaimana?!
Dina melakukan serangan lebih dulu. Ia berusaha mengecoh perhatian lawannya untuk mendapatkan tumpuan badan lawan. Namun sia-sia, lawannya sepertinya juga pejudo hebat. Dina masih berusaha mencari celah. Aku terkagum kagum melihat kecepatannya sekaligus sentuhan seni pada tiap gerakannya; seakan ia sedang menari, bukan mencari cara untuk membanting lawannya.
Dan sampai akhirnya… Dina benar-benar membanting lawannya.
“Bocah sok jago katamu?” Dina berucap dingin sambil menginjak (dan menggesek-gesekkan sepatu boot besarnya) ke dada si penculik, “katakan itu sepuluh tahun lagi, dasar bodoh!”
Aku menutup mulut—antara kagum dan ingin tertawa.
“Well, aku serius saat mengatakan kau memang sok jago.” Si pencullik berkata sinis. Tiba-tiba saja—entahlah. Terjadi terlalu cepat—seseorang memukul keras kepala Dina dengan batangan besi. Darah segar mengalir dari keningnya. Serasa badanku ikut beku. Aku baru ingat kalau penculiknya ada dua. Bodohnya akuu!
Dina jatuh pingsan. Aku melihat bibirnya membiru, pucat. Oh tidak! Apakah dia sudah…
“Kau juga, Tuan Putri.” Ia mengarahkan tongkat besi itu tepat di depan mataku. Mataku mulai panas, “jangan macam-macam dengan kami—“
“Kau yang jangan macam-macam terhadap mereka, payah!”
Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar di telingaku. Suara yang—jujur saja—tiba-tiba kurindukan di saat segenting ini.
Benar saja. Deden. Ia menghampiriku dan menutup kedua mataku dengan sehelai kain.
“Menghabisi wanita dengan senjata merupakan tindakan yang sama sekali tidak gentleman, kalian tahu?” aku mendengar gesekan suatu benda. Kurasa pedang, “lawan kalian aku.”
Dan yang aku dengan setelah itu hanyalah dentingan keras dua logam, plus jejeritan kedua penculik itu.
Beberapa lama kemudian, mendadak hening…
“Kezia?” suara halus Deden kembali lagi, lalu ia membuka penutup mataku, “kau baik-baik saja?”
Apa wajah ketakutan ini terlihat baik-baik saja? Namun ada sesuatu—entah apa itu—di mata tajam lelaki di depanku ini yang membuatku mengangguk.
Deden mengelus lembut rambutku, “maafkan aku datang terlalu lama—“
“Dina,” aku bergumam pelan, “selamatkan dia.”
“Dina?” mimik muka Deden berubah secara cepat. Ia lalu menoleh dan mendapati sosok Dina pingsan penuh darah, “DINA!!”
Perasaanku saja atau… Deden lebih panik karena Dina, bukan karena aku?
Dengan cepat—dan panik berlebihnya itu! Padahal mereka kan belum saling kenal?! Eh, atau aku salah?—Deden membopong Dina dan menaiki kudanya. Di sebelah kuda Deden aku melihat kuda lain yang sangat aku kenal.
“Noir!” aku girang, yang langsung kusembunyikan.
“Nanti saja reuninya. Ayo kita pergi!” Deden memacu kudanya begitu cepat. Aku mengambil kalungku diam-diam dari saku si penculik, menaiki Noir, dan kupacu Noir agar mengikuti Shiro.”
“Deden?” panggilku setengah berteriak, “mengapa kau sepanik itu? Kau… kau mengenal Dina?”
“Kenal.” Jawabnya singkat tanpa menurunkan kecepatan kudanya.
“Siapa dia?”
“Kau bilang aku gagal move on kan?” suara Deden terdengar getir, “karena wanita inilah aku gagal move on.”
Aku terdiam. Lalu… perasaan apa ini? Sepahit… patah hati?

(to be continued)



No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com