“Kezia?”
Seseorang
menarik tanganku lembut. Aku menoleh.
Dharma.
“Kenapa kau
disini?” ia menggenggam tanganku, “dingin sekali tanganmu.”
Refleks aku
melepas genggamannya—entah refleks itu berproses di otakku sebelah mana, “aku
baik-baik saja. Aku sangat lelah. Aku akan pulang sekarang.”
“Pulang? Kemana?”
“Ke
penginapanku tentu.”
“Tidak perlu,”
Dharma tersenyum, “mulai malam ini kau akan tinggal di istana sampai kita
bersama-sama kembali ke kerajaan Hoam dan aku melamarmu.”
Rasanya hal itu
tak menarik lagi.
“Kezia?” Dharma
menatap mataku dalam-dalam, “kau menangis.”
Aku tak
menjawab. Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
“Ada apa? Ada masalah?
Kau sangat aneh tadi. Kau tiba-tiba keluar hall dan—“
“Aku lelah.” Aku
memutus pembicaraan dengan sadis, “kalau kau memberiku tempat istirahat, lebih
baik kau cepat-cepat antarkan aku kesana.”
Dharma hanya
menghela nafas. Dia sudah sadar bahwa moodku sedang anjlok, mungkin, “oke. Akan
kuantarkan.”
***
For your
information, istana Kerajaan Salju ini terlalu sempurna untuk dibilang istana,
namun (mungkin) terlalu kecil untuk dibilang surga. Istana ini mungkin 10 kali
lipat lebih besar dari istana kerajaan Hoam—belum dihitung main hall yang
dipisah dan tetek bengek lain! Dari depan kita sudah disambut dengan
pohon-pohon berbatang beku yang dipahat bermacam-macam. Dan di main yard-nya, sebuah air mancur dengan patung es raksasa
bergambar simbol kerajaan Salju yang mewah sekali.
Envy to the
max.
“Ini kamar
Nona,” dayang itu menunduk sopan, “jika Nona butuh apa-apa, silakan panggil
saya. Nama saya Nadia—“
“Kamu pembawa
acara tadi kan?”
“Betul Nona,”
ia terlihat kurang suka saat aku memutus perkataannya, “jadi, silakan Nona
panggil saya. Saya akan selalu di depan kamar Anda.”
“Oke,” aku akan
masuk saat menyadari sesuatu, “tunggu dulu. Selalu katamu?”
“Benar, Nona.”
“Apa maksudmu?”
nadaku pasti terdengar menuduh, “kau mengawasiku?”
“Tidak, Nona,”
Nadia menggeleng masygul, “saya diperintahkan oleh Pangeran untuk menjaga Anda
selama Anda di sini.”
“Aku bukan anak
kecil. Aku tak perlu dijaga.” Kataku sinis sambil masuk dan menutup pintu kamar
cukup keras.
Tanpa mengganti
gaun, aku langsung merebahkan diri di kasur empuk dan indah itu. Kelebatam kejadian
hari ini seakan terproyeksi dalam langit-langit kamar, membuat rasa marahku
semakin menggila.
Aku marah pada
diriku sendiri.
Mengapa aku
berbohong? Mengapa aku berpura-pura menyakitinya? Tidak, sekarang aku
benar-benar menyakitinya dan itu
membuatku makin terluka. Demi apa sih semua ini? Kerajaan? Kerajaan yang bahkan
tidak mengizinkanku memilih? Tidak. Jika aku bisa mati lalu bereinkarnasi dan
aku boleh memilih. Aku ingin hidup sebagai orang bebas. Bebas hidup, bebas
menentukan pilihan, bebas jatuh cinta...
Bagus! Kelenjar
air mataku bereaksi lagi! Aku menangis sepelan mungkin, tak ingin Nadia—entah masih
‘menjaga’ku atau tidak—mendengar suara tangisku. Cukup begini. Cukup tau.
Tidak, Kezia. Kau
tidak boleh begini. Kau milik seseorang sekarang. Berhenti menjadi lemah
begini!
***
Keesokan
paginya.
Aku terbangun
karena mendengar ketukan di pintu kamarku, “siapa?”
“Saya, Nona.” Suara
Nadia terdengar dari balik pintu, “sarapan?”
“Ya.”
Nadia membuka
pintu dengan sopan sembari membawa beberapa nampan. Ia lalu menatanya dan
menjelaskan, “sarapan hari ini adalah full english breakfast; telur goreng,
sosis, black pudding, jamur, kacang, hash brown, dan tomat. Untuk minumnya,
kami menyiapkan susu sapi hangat yang diambil langsung dari peternakan sapi
kerajaan.”
Aku hanya
mengangguk samar dan mencoba mengumpulkan nyawa. Dengan segera kusadari
perhatian Nadia tertuju pada mataku walah ia berusaha menyembunyikan keingintahuannya.
Tanpa diberitahupun
aku juga paham. Mataku pasti sembab sekali.
“Ada lagi yang
perlu saya siapkan, Nona?” tanya Nadia sopan.
“Tidak ada.” Aku
duduk dan bersiap menyantap sarapanku, “oh tunggu. Siapkan air hangat, tolong.”
“Baik, Nona.”
Nadia membungkuk sopan dan pergi.
Aku menatap
sarapan full-ku dengan tatapan kosong. Rasanya aku cukup kenyang untuk tidak
sarapan hari ini. Aku meninggalkan piringku dan berjalan keluar untuk
melemaskan otot-ototku yang kaku. Lega juga Nadia tidak mengawasiku seperti
tadi malam.
Aku mendengar
seekor kucing mengeong pelan dan mengusap-usap kakiku. Aku mengamatinya. Kucing
itu dekil dan kurus.
“Hei,” aku tersenyum
pada kucing ini, “kau lucu sekali. Mereka memeliharamu?”
Bodohnya aku
berbicara dengan hewan yang hanya bisa bermanja-manja. Lagipula... dilihat dari
penampilannya yang mengenaskan aku rasa ia bukan peliharaan. Eh tunggu dulu. Daripada
Nadia tahu aku tidak memakan sarapanku, lebih baik...
“Aku akan
memberimu makan. Tunggu sebentar.” Aku segera kembali ke kamar dan mengambil
susu dari Nadia tadi, lalu meminumkannya kepada si kucing, “kau pasti haus kan?”
Kucing itu tak
menjawab. Terlalu sibuk dengan susunya. Aku merasa geli sendiri.
“Nona?”
tiba-tiba aku mendengar suara Nadia di belakangku, “apa yang Nona lakukan?”
Ah, sial! Aku segera
berdiri dan menoleh padanya. Gelas susu itu masih ditanganku seakan aku baru
saja meminumnya, “menyelesaikan sarapanku.”
“Oh.” Nadia
menatap gelas susu yang kubawa, lalu pandangannya beralih ke arahku. Aku merasa
sedang dironsen atau semacamnya.
“Ada apa?”
“Tidak, Nona. Saya
sedang melakukan tugas saya untuk menjaga Anda.”
Cih, “dimana
Dharma? Aku belum melihatnya sepagian ini.”
“Ah, anu,”
Nadia terlihat... gugup? “Pangeran sedang mengadakan pertemuan dengan perangkat
penting kerajaan. Tidak bisa diganggu.”
“Aku bertanya
dimana dia. Bukan apa yang ia lakukan.” Mataku menyipit curiga. Nadia tampak
salah tingkah.
Aku merasakan
ada sesuatu di sini.
“Anu, Nona,”
Nadia mencoba memperbaiki kesalahannya, “Pangeran ada di—“
“Aku cari
sendiri.” Tanpa memperdulikan Nadia aku segera berlari mencari Dharma. Tadi malam
Dharma sedikit menceritakan tentang istananya, termasuk letak kamarnya. Untung saja
meskipun aku tidak sepenuhnya mendengarkan, paling tidak aku masih ingat. Aku menuju
kamar Dharma.
Penjagaan di
sekitar kamarnya ketat sekali. Membuatku penasaran.
Aku melihat
seorang pelayan membawakan makanan menuju kamar Dharma. Dengan berpura-pura
akrab, aku langsung menyapanya.
“Hei!” aku
menepuk pundaknya.
Pelayan itu
melirikku sedikit, “siapa kau?”
“Aku pelayan
baru. Mereka bilang dapur kebakaran! Kau harus segera ke sana!”
“Hah?” pelayan
itu menyerngit, “aku tak bekerja di dapur. Dapur bukan urusanku.”
Krikkrik.
“Tapi mereka
menyuruhmu—“
“Sudahlah! Kau pelayan
baru berani sekali bertingkah sok akrab? Aku sibuk!” pelayan itu akan
melanjutkan perjalanan saat aku mencegatnya.
“Memang ada apa
sih di kamar Dhar—maksudku Pangeran? Ramai sekali?”
“Lho? Kau tidak
tahu? Dasar bodoh!” cibirnya, “kerajaan Salju akan menyerang Kerajaan Hoam. Sepertinya
mereka sudah berniat membunuh putri kerajaan Hoam. Entahlah. Aku belum pernah
melihat putri kerajaan Hoam.”
Petir seakan
menyambarmu, “ma, maksudmu apa?” membunuhku
dia bilang?
“Kita akan
mengirim bala tentara kesana secara mendadak, lalu kerajaan Salju akan
menguasai kerajaan Hoam lagi seperti dulu. Kau tidak mendengar orasi Pangeran
Dharma saat diangkat sebagai Putra Mahkota?”
Aku melongo
makin parah. Apa ini? Maksudnya apa?? Tidak! Aku tidak akan percaya sebelum
mendengar sendiri!!!
“Sini kau!” Aku
menarik pelayan itu kasar ke tempat yang tidak menjadi pusat perhatian para
pengawal, lalu dengan mendadak kupukul keras perut pelayan itu.
Pelayan malang
itu sukses pingsan. Maaf deh.
Aku lalu
cepat-cepat mengambil baju dan nampan camilan yang ia bawa—ya, aku
membiarkannya nyaris telanjang. Masa bodoh lah—dan pergi ke balik pohon untuk
menyamar menjadi pelayan.
Lima menit
kemudian, aku sukses menjadi pelayan. Tak lupa kugunakan cadar agak Dharma
tidak mengenaliku.
Semoga ia tidak
mengenaliku.
***
Aku mengetuk
pintu dengan sopan ala pelayan kelas satu. Para pengawal tidak curiga
sepertinya.
“Ya?” kudengar
suara Dharma dari dalam.
Aku berdeham
pelan untuk menyamarkan suara dan, “camilan.”
“Masuk.”
Diiringi lirikan
dari para pengawal, aku masuk ke kamar Dharma.
Dharma sedang
mengobrol serius dengan lima orang lelaki. Sangat serius. Perlahan kudekati
mejanya dan menata camilan.
“...kita bisa
serang secepatnya.” Kata salah satu dari lelaki itu. Ia berperawakan gagah, “Pengawas
sudah memberikan makanan beracun kepada Putri Kezia. Sekitar lima belas menit
setelah memakannya, seharusnya dia mati.”
Jantungku berdetak
lebih keras. Bayangkan saja bagaimana rasanya jika seseorang membicarakan
rencana pembunuhanmu tepat didepanmu.
“Ide bagus. Segera
siapkan pasukan.” Dharma menanggapi (aku nyaris pingsan mendengarnya), “tapi
jangan umumkan pada mereka bahwa Kezia sudah mati. Bilang saja kita
menyanderanya. Dan imbalanya, mereka harus menyerahkan kerajaan Hoam.”
Aku merasakan
tanganku bergetar saat meletakkan sebuah apel segar.
“Berapa pasukan
yang kira-kira dibutuhkan?”
“Hmm,” Dharma
menyangga dagunya untuk berpikir, “kerahkan seluruh pasukan junior. Mereka tidak
ada persiapan, pasti susah. Jika mendesak, baru keluarkan pasukan senior. Tapi kurasa
itu takkan terjadi.”
Mataku mulai
panas. Sekali.
“Hei, kau!”
salah seorang lelaki tamu Dharma membentakku, “lama sekali hanya menyusun buah
seperti itu? Dasar bodoh! Keluar!!”
“Ma, maaf.” Aku
segera menunduk dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Pandanganku mengabur.
Di luar, penjaga yang melihatku setengah berlari menatapku dengan penasaran.
Tidak! Jadi begini??
Dharma dan seluruh istana ini hanya menjebakku? Sebegitu bodohnya aku?? Yang aku
niatkan adalah menyelamatkan negaraku, kerajaanku, tapi yang kuperbuat malah...
Dengan bergegas
aku berlari kembali ke kamarku. Dan di depan pintu kulihat pemandangan itu...
Kucing yang
kuminumkan susu tadi menggelepar, mati, dengan busa di mulutnya. Aku mencium
bekasnya.
Racun sianida. Jadi
mereka memasukkan sianida ke susu untukku sarapan tadi? Mereka benar-benar
berniat membunuhku??
Dengan panik,
aku langsung mencari jalan keluar. Tapi penjagaan sangat ketat, aku takkan bisa
keluar.
Lalu?
Aku berpikir
keras—meskipun pikiranku sedang tidak jernih. Aku terlalu takut untuk berpikir.
Tunggu. Yang paling
penting adalah memperingatkan seluruh kerajaan apa yang terjadi. Surat! Aku harus
mengirim surat!!
Pasti di dala
istana ini ada pos burung dara. Dengan sisa-sisa keberanian yang nyaris dikubur
putus asa, aku segera mencari kandang mereka.
Sekarang pikir.
Di mana istana besar ini membangun kandang untuk burung dara? Di tempat yang
memudahkan mereka terbang keluar.
Tapi dimana? Aku
menoleh kanan kiri untuk mencari tempat strategis seperti itu.
Bingo! Menara! Aku
langsung berlari menuju menara istana super megah kerajaan Salju.
***
Dan butuh waktu
lima belas menit untukku menaiki puncak menara. Itupun kakiku rasanya mati
rasa.
Tidak! Aku harus
berjuang! Kerajaan Hoam tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti
mereka!
Aku mengambil
perkamen dan pena, lalu menuliskan pesan singkat.
“Ragnarok. Loki dari danau beku. Usir!”
Semoga Kania
ingat dongeng-dongen dari Ibunda sewaktu kami kecil. Tentang dewa-dewa mitologi
Eropa Utara itu.
Kania. Cuma dia
yang bisa benar-benar mengerti aku. Aku membutuhkannya saat ini.
Dengan penuh
doa kuikatkan perkamen itu pada kaki salah satu burung dara, mengatakan
tujuanku, dan melepaskannya ke luar.
Tapi bagaimana
kalau ada pemeriksaan? Harus ada surat yang lebih mencolok... ah!
Aku lalu
mengambil perkamen lagi dan menulis surat kedua;
“Ayah, kerajaan Salju akan menyerang
kerajaan kita! Cepat siapkan pas...”
Tulisanku
terhenti saat aku merasakan pukulan keras menyakitkan dari belakang. Keseimbanganku
hilang mendadak, membuatku tersungkur ke lantai. Sesuatu yang hangat mengalir
dari belakang kepalaku.
Darah.
“Kau tahu,
Kezia?” sepasang kaki mendekatiku. Kemudian pemilik kaki itu berjongkok dan
menatapku dengan tatapan mencela, “Orang bisa mati karena terlalu banyak tahu.”
Sialan! Dharma!
Kepalaku makin
terasa berat, berputar, lalu... gelap...
(to be continued)