Saturday, 1 May 2021

Sepeda Nur

Semua ini diawali dari sebuah tekad bulat.

“Saya nggak mau tau,” tiba-tiba Nur mematikan televisi yang sedang menayangkan keputusan pemerintah untuk melarang mudk tahun ini dan berdiri di atas kursi, “saya harus mudik tahun ini.”

“Kamu nggak bisa baca?” salah satu teman kosnya memutar mata, “itu pemerintah barusan ngelarang kita mudik.”

“Nggak peduli,” Nur turun dari kursi dan menatap satu per satu teman rantaunya itu, “pokoknya tahun ini saya akan cari cara untuk mudik.”

Lalu Nur meninggalkan ruang tamu. Sayup-sayup ia bisa mendengar temannya berbisik, “mabok cincau itu anak.”

 ***

Nur membuka ponselnya, mengetik di situs pencarian dengan berbagai macam kata kunci yang bisa terpikirkan olehnya; dari jenis transportasi untuk mudik hingga yang paling ekstrim: rute Surabaya-Jakarta lewat gorong-gorong saluran air.

Sampai akhirnya ia menemukan artikel Pria ber-KTP Jakarta Gowes Keliling Indonesia Pakai Sepeda di sebuah situs beritaNaik sepeda terlihat lebih masuk akal daripada lewat gorong-gorong saluran air. Ia membuka jendela kamarnya sedikit untuk menemukan sepeda bekas yang ia beli ketika tahun pertamanya bekerja; masih terlihat kokoh meskipun sudah tua. Lalu Nur membuka aplikasi peta dan mengecek jarak antara kosnya dengan Surabaya: 733 kilometer.

Kalau di fisika, ada rumus jarak sama dengan kecepatan dikali waktu.

Misalnya dia naik sepeda dengan kecepatan 10 kilometer per jam, maka waktu yang dibutuhkan untuk menuju tempat tujuannya adalah sekitar sekitar tiga hari. Bila ditambah waktu istirahat, katakanlah menjadi sekitar empat hari. Kalau Nur meminta cuti lima hari, ditambah libur lebaran tiga hari maka ia bisa temu kangen dengan keluarganya selama empat hari. Dan ketika waktunya pulang, larangan mudik sudah selesai sehingga ia bisa pulang dengan tenang naik kereta dengan damai. Mancing mania, mantap!

Tugasnya sekarang adalah mempersiapkan jiwa, raga, dan biaya untuk perjalanan panjang penuh kayuhan ini.

***

“Ngapain, Nur?” tanya seorang teman kosnya yang akan berangkat ke masjid ketika melihat Nur sedang sibuk mencuci sepeda tengah malam. Ia memang biasa bermalam di masjid—sekalian dapat sahur gratis, katanya. Namanya juga anak kos dengan gaji pokok dibawah UMR.

“Ngerjain UTBK,” Nur mendengus, “ya udah keliatan cuci sepeda gini lho. Masa masih ditanya juga?”

“Iya maksudnya kamu ngapain cuci sepeda jam segini?” seloroh temannya gemas, “udah tahajud belum kamu?”

“Saya mah belum tidur, mana boleh tahajud?”

“Banyak shalat malam selain tahajud kali, Nur.”

“Iyadeh,” Nur masih sibuk menggosok sepedanya agar kinclong, “nanti.”

Tetapi Nur tetap sibuk mengecek kondisi kelayakan sepedanya hingga adzan subuh hampir berkumandang. Untung dia masih sempat mencuri Sosis Kanzler rasa keju milik teman kosnya di kulkas untuk makan sahur.

***

Sesuai kesepakatan, setiap hari minggu Nur dan teman-temannya mengadakan kerja bakti untuk membersihkan kos hingga ke sudut tak terlihat. Namun teman-temannya heran karena setelah subuh Nur langsung memulai pekerjaannya hingga selesai sebelum pukul 8 pagi. Ia kemudian bersiap-siap pergi membawa sepedanya.

“Mau kemana?” tanya salah seorang temannya, “sibuk banget kayak DPR.”

“Mau ke bengkel sepeda.”

“Rusak?”

“Mau servis aja.”

“Halah, biasanya mau nambal ban aja nunggu kita dulu biar dibayarin,” gerutu temannya, “udah shalat dhuha kamu?”

Nur terhenti sebentar untuk melihat jam. Ia takut bengkel langganannya antri, “nanti.”

Tetapi antrian bengkel sepeda sudah terlalu panjang hingga Nur tidak sempat lagi shalat dhuha.

***

Assalamualaykum warahmatullah,” Nur yang dapat piket menjadi imam shalat Isya hari itu mengakhiri shalatnya. Ia lalu berdoa sebentar dan langsung melipat sajadahnya.

“Lho, Nur, mau kemana?” temannya menahan, “nggak dilanjut tarawih?”

“Tarawihnya ganti imam aja ya,” Nur nyengir, “saya mau gowes.”

Teman kosnya saling berpandangan. Salah satunya mencoba membujuk, “habis tarawih lah.”

“Takut kemalaman,” Nur tetap beranjak pergi, “nitip gantiin jadi imam ya. Nanti saya beliin odading.”

“Terus Nur nggak tarawih?”

Nur mengambil botol air minumnya dan keluar, “nanti.”

Tetapi Nur baru pulang ketika dini hari. Karena lelah, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan tidur.

***

Teman-temannya sedang sibuk memasak untuk berbuka sambil menonton televisi ketika Nur baru pulang dari kantor dengan sepedanya. Ia bisa mendengar pembawa berita sedang menceritakan keadaan Tsunami COVID di India.

“Ah, pemerintah mah goreng berita mulu biar orang makin panik,” celetuk Nur, “biar makin nggak mau mudik. Dikata penyebab mati orang cuma Corona?” Lalu ia masuk ke kamarnya.

Teman-temannya saling berpandangan . Akhir-akhir ini mereka merasa Nur agak aneh. Ia sudah jarang lagi ikut shalat dengan teman-temannya, lantunan Quran juga tidak lagi terdengar dari kamarnya, bahkan keluar untuk wudhu shalat malam juga tidak pernah. Sekarang kegiatannya hanya sahur-kerja-buka puasa-gowes-tidur-ulangi. Padahal mereka kenal Nur sebagai orang yang paling rajin mengajak berjamaah, suara yang paling merdu ketika mengaji, dan bersujud paling lama tiap shalat malam. Ini sudah malam ketujuhbelas Ramadhan dan mereka sepakat jika Nur masih meninggalkan tarawihnya, mereka akan membawanya ke persidangan meja bundar.

Dan benar saja, malam itu Nur langsung kabur dengan sepedanya setelah salam kedua shalat Isya.

***

“Kamu tuh kenapa sih?”

Pukul setengah empat pagi Nur dibangunkan oleh ketukan teman-temannya dengan modus sahur bersama di ruang tamu. Nur awalnya tidak curiga, sampai salah satu temannya membuka percakapan.

“Kenapa apanya?” tanya Nur tak mengerti.

“Akhir-akhir ini jadi aneh kamu itu,” adu temannya, “Shalat tarawih enggak, ngaji enggak, shalat malam enggak, saya bahkan yakin kamu cuma shalat wajib aja selama ini. Kamu tuh biasanya nggak gini loh.”

“Saya sibuk.”

“Sibuk apaan?” temannya mendengus, “orang kerjaan kamu tuh cuma gowes.”

“Nah itu tau,” Nur menjentikkan jarinya, “saya sibuk gowes.”

“Ya masa sampe skip ibadah sih, Nur?” temannya yang lain menyerngit tak suka.

Nur memainkan ujung bajunya gugup, “kalian jangan ketawa, ya.”

Temannya mengangkat alis skeptis, “Oke?”

“Jadi saya itu,” Nur mengambil nafas panjang sebelum menjatuhkan bom, “mau mudik naik sepeda.”

Teman-temannya langsung tersedak ludah sendiri.

“Jakarta-Surabaya, Nur?”

“Iya.”

“720 kilometer, Nur?”

“733 kilometer, tepatnya.”

“Makin jauh dong?!”

“Pokoknya saya mau mudik!” Nur berseru kesal.

Teman Nur berusaha menenangkan, “kamu nggak suka lebaran bareng kita di sini?”

“Bukan gitu,” elak Nur, “saya tuh… takut menyesal kayak tahun lalu.”

Teman-temannya hanya diam, menunggu penjelasan Nur.

“Tahun lalu saya nggak mudik, tapi saya santai karena ada kalian. Mana ada pikiran kalau itu lebaran terakhir bapak? Nggak ada!”

Teman-teman Nur ingat dua minggu setelah lebaran tahun lalu ia memang pulang kampung karena bapaknya meninggal.

“Kita dilarang mudik biar nggak kena Corona, katanya. Tapi Bapak saya meninggal juga bukan karena Corona tuh,” suara Nur menjadi parau, “beliau meninggal serangan jantung. Terus apa yang saya lindungi? Apa hasil dari ikhtiar saya? Bapak saya tetep nggak ada! Malah saya makin sedih, karena saat terakhir liat wajah bapak masih hidup tuh lebaran tahun sebelumnya.”

“Nur,” temannya yang lain menggenggam tangannya, “ini ceritanya kamu tuh mempertanyakan Allah nggak sih?”

Nur terdiam. Mungkin ia memang sedikit marah dengan takdir. Mungkin ia memang mempertanyakan Allah. Untuk apa seluruh usahanya hingga tidak pulang ke rumah dan menyimpan rindu sendiri jika akhirnya orangtuanya tetap sakit? Untuk apa usahanya mengumpulkan pundi-pundi jika pada akhirnya rumah sakit terbaik pun tidak bisa membuat orangtuanya sehat kembali? Untuk apa ia berusaha mati-matian tetapi alasannya berusaha malah mati lebih dulu?

“Nur, kamu inget Al-Baqarah ayat 216 nggak?” temannya memulai lagi.

Oh, Nur hafal ayat itu karena ketika ia menangis karena tidak diterima di kampus impiannya, bapaknya pernah menasehatinya dengan:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

“Kita tuh, apa ya Nur? Disuruh ini, protes. Dilarang itu, protes. Terus juga selalu ngerasa kalo apa yang kita minta di setiap doa itu yang terbaik. Iya nggak?” setelah Nur mengangguk, temannya melanjutkan, “tapi kita nih siapa sih? Apalah kita ini kalo dibandingin sama Allah Yang Maha Tahu?

“Mati itu kan pasti, wallahu a’lam. Terus nih misalkan, kita semua ngotot buat mudik taun lalu. Bapak kamu yang memang udah saatnya dipanggil Allah waktu itu malah meninggalnya karena virus yang kamu bawa. Apa kamu nggak lebih makin sedih?”

“Tapi saya cuma pengen lihat muka ibu saya. Pengen peluk, cium tangan minta maaf. Pengen shalat Ied bareng. Karena saya juga nggak tau kapan bakal dipisah lagi,” sanggah Nur di tengah isaknya, “lagipula banyak orang yang di rumah aja juga tetep sakit, kan?”

“Kan menghindari keramaian mudik juga termasuk ikhtiar buat jagain ibu kamu,” kata temannya lagi, “kita nih manusia ya emang batas ikhtiarnya cuma segini; berusaha menghindari, jaga protokol kesehatan, ikut vaksin. Terus kalo udah ikhtiar kayak gitu dan masih sakit apa berarti kurang? Ya nggak juga. Mungkin emang lagi dikasih cobaan sama Allah buat ngehapus dosa. Yang penting kita ikhtiar dulu, niatnya buat jaga badan kita sendiri yang lagi dikasih sehat sama Allah. Soal berhasil enggaknya, Allah lebih tau mana yang baik buat kita. Husnudzon sama Allah, Nur.”

“Lagipula,” lanjut temannya yang lain, “emang kamu yakin kalau Ramadhan ini bukan Ramadhan terakhir kamu? Yang bisa sewaktu-waktu dipanggil Allah bukan cuma ibu kamu lho. Kamu juga.”

Nur langsung merasa tertampar. Ia tidak pernah berpikir sampai sana. Selama ini yang menjadi ketakutannya adalah bagaimana jika ibunya juga dipanggil Tuhan. Namun ia lupa bahwa ia juga bisa saja pergi duluan. Nur mengevaluasi ibadahnya tahun ini. Di hatinya kini terasa malu sekali; malu pada dirinya tahun lalu, malu pada bapak ibunya, dan juga malu pada pada Allah.

“Bulan ini fokus ibadah dulu,” saran temannya yang lain, “doain bapak kamu biar husnul khotimah, doain ibu kamu juga biar sehat terus jadi bisa ketemu kamu tahun ini. Masa demi mudik aja kamu sampai ninggalin esensi Ramadhan sebenarnya sih, Nur? Kan ibadah juga demi bahagiain orangtua kamu lewat doa. Banyak kok cara lain buat nyambung tali silaturrahim.”

“Besok telepon ibu ya, Nur? Tanya kabar. Minta doa,” temannya menepuk pundaknya memberi kekuatan, “habis itu kamu pikir lagi enaknya gimana. Oke?”

“Oke,” Nur tersenyum pada teman-temannya, “makasih ya.”

Seisi kosnya tersenyum dan memeluk Nur. Dari balik pelukan, Nur memandang sepedanya lewat jendela sambil tersenyum. Sepertinya ia memang harus merelakan rencana yang kalau sekarang diingat-ingat lagi memang terasa ngawur.

***

“Eh tau nggak, Nur? Ada hikmah lain lho dari kamu nggak mudik.”

“Apa?”

“Nggak ditanya sama keluarga soal kapan nikah.”

“…iyasih.”

Wednesday, 30 August 2017

Sebuah pemikiran;
Seharusnya lagu Balonku memiliki sekuel, tentang bagaimana reaksinya saat empat balon yang telah ia pegang erat-erat juga mulai mengempis satu persatu.
Tentang bagaimana perasaannya saat tahu bahwa—sebesar apapun usahanya—ia takkan pernah bisa mengalahkan waktu.
Tentang hukum alam.
Tentang takdir.
Tentang semua yang harus pergi.
Tentang ketidakabadian.
Tentang fana.
Apakah ketika ia pernah kehilangan satu hal, ia akan belajar tentang apa itu rela.
Atau yang ia pelajari hanya bagaimana untuk belajar dari kesalahan.
Padahal, ada beberapa suratan-suratan yang takkan bisa ia cegah.
Seperti lubang kecil yang mengeluarkan udara secara perlahan pada balon-balonnya.
Karena nanti ia akan berpikir, “menyimpannya saja tidak cukup.
Aku harusnya melapisinya dengan lebih banyak perekat.”
Tidak.
Bahkan jika telah banyak perekat yang menyumbat jalan udara pun,
Selalu ada cara untuk mengakhiri balon-balon itu.
Bukan begitu cara kerja hidup.
Bukan begitu alasan bumi berputar.
Bahkan yang sebesar matahari pun sebenarnya sedang terkikis,
Dan bintang-bintang di luar galaksi meledak satu per satu.
Bagaimana ia hanya mempertahankan beberapa balon?
Bagaimana cara ia menghadapi sebuah kehilangan,
Dengan berpikir bahwa kehilangan itu memang kehilangan,
Agar supaya ia tahu,

Dan ikhlas melepas,

Saturday, 11 March 2017

Secangkir Cappuccino; Terbakar Kenangan

Wanita yang sedang kau pandang dengan secangkir cappuccino panas di antara jari-jari gemuknya itu pernah jatuh cinta, meskipun ia tak pernah mengakuinya. Hanya cinta monyet, katanya.
Cinta monyet? Kau mengernyit, seperti apa?
Hanya rasa suka yang datang sementara, wanita itu mengangkat bahu, suatu hari aku datang ke sekolah dan menemukan ada seorang lelaki yang luar biasa menarik sedang menatap jauh di balkon lantai dua. Sosoknya terasa sendu dan sendirian. Aku selalu sendirian sepanjang hidupku, kau tahu—bukan berarti aku tidak menghargai kehadiran teman-teman dekatku. Tetapi aku tahu rasanya ketika masih ada celah kosong di hatimu yang meronta minta di isi; padahal kau sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mengisinya. Ia terlihat seperti itu. Ia terlihat… terlihat begitu jauh dan aku memiliki keinginan aneh untuk datang dan menepuk pundaknya lalu menanyakan kabarnya. Bodoh, kan? Aku tidak tahu namanya.
Tampankah ia? Kau menggodanya, tetapi dalam hati kau langsung menyesali perbuatan itu karena pipi wanita itu langsung memerah. Kau tidak menyukai kenyataan bahwa wanita itu tersipu bukan untukmu. Wanita itu tersipu karena suatu kenangan bukan tentangmu. Tetapi kau hanya diam dan tersenyum jahil. Akan ada saatnya, kau berbisik pada diri sendiri.
Mungkin? Ya… entahlah, ia buru-buru menyesap kopinya dan kau berdoa dalam hati semoga saja kopi itu tidak membakar lidahnya; seperti cemburu yang mulai merayap ke dadamu, ia menarik. Aku tidak pernah bisa mengatakan tampan atau tidaknya seorang lelaki, oke? Aku bahkan tidak punya tipe idaman. Hidupku sesimpel itu. Apa yang aku dapatkan adalah apa yang pantas aku dapatkan.
Ah, kau mengangguk berpura-pura mengerti karena pada dasarnya kau tidak akan pernah mengerti bagaimana cara kerja otak wanita, lalu bagaimana kau bisa berkenalan dengannya?
Apa ya? Mungkin takdir? Wanita itu menjawab sekenanya, hanya kami bertatap mata beberapa menit kemudian ia datang dan menyapaku  halo dengan manis lalu semuanya terasa manis sejak saat itu. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku harapkan dari semua itu. Kami berjalan beriringan, menceritakan cita-cita, menyusun angan-angan, semua semanis red velvet ini, ia menyedok sedikit keju di ujung kuenya, bagai mimpi.
Lalu?
Lalu berakhir, tiba-tiba ekspresi wanita itu berubah, aku tetap menyukainya namun kemudian dia pergi begitu saja tanpa kabar. Tetapi aku menyukainya. Akan terus menyukainya, kurasa. Mungkin karena dia yang pertama. Mungkin karena setiap aku melihat fotonya—bahkan dengan kekasih barunya—air mataku mengalir begitu saja walaupun aku harus mengakui mereka terlihat cocok; seperti pasangan yang akan kau dukung ceritanya di drama. Aku sakit hati, tetapi aku juga ingin mendoakan agar dia bahagia. Gila kan? Kau tahu mengapa?
Lelaki itu menggeleng.
Karena ia telah memberiku kebahagiaan, walaupun singkat. Itu cukup. Ia memberikanku satu lagi cerita untuk kukenang sampai mati; betapa menyenangkannya untuk merajut angan dengan lelaki yang ingin kau berikan bagian di masa depanmu. Mungkin kami tidak akan bisa lagi memikul beban satu sama lain. Mungkin semua kata-katanya palsu. Mungkin ia tidak pantas untuk aku tangisi lagi. Tetapi aku ingin ia bahagia. Aku tidak masalah jika hancur sendirian. Aku pantas hancur. Ia pantas tertawa. Begitulah hidup. Dan hidupku bukan drama.
Kau juga bisa bahagia—

Lagipula aku benci akhir yang bahagia, ia menghabiskan kopinya, itu terlalu tidak nyata.

Wednesday, 28 January 2015

"Padahal Pakai Jilbab, Kok...?"

You won’t understand how bad I want to punch someone who says that.
Oke, guys, aku ingin membicarakan sesuatu yang serius (well, tidak juga sih) kepada kalian.
Jadi sebenarnya, aku sudah lama mendengar unfair judgement seperti ini—dan bukan sekali dua kali kata-kata itu terlempar kepadaku. Asal kalian tahu, meskipun dalam keseharian aku selalu memakai jilbab dan berusaha untuk menutup aurat, bukan berarti aku adalah orang suci yang melakukan segala sesuatu dengan sempurna (ayolah, fangirl mana yang bisa hidup tanpa dosa ketika kesehariannya adalah memandangi foto-foto lelaki tampan sambil misuh-misuh?)
Mungkin dosa dan kesalahanku malah lebih banyak daripada muslimah yang tidak berjilbab. Ku akui, aku memang bukan muslimah idaman setiap pria.
Tetapi pernahkah kalian bertanya mengapa aku memakai jilbab?
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ”Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).
(Wah maaf, jilbab saya biasanya hanya sampai menutup dada).
Oke, jadi intinya, memakai jilbab adalah kewajiban. Jujur saja, kadang-kadang aku agak tidak habis pikir dengan wanita yang tidak berlibab dengan alasan ‘ingin menjilbab-i hati terlebih dulu’. Earth to you, ladies. Yang harus ditutup itu auratmu. Auratmu itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Hatimu tidak termasuk (lagipula tidak ada yang bisa melihat hatimu kecuali Allah, kan?).
No offense.
Andaikan ada muslimah yang kelakuannya masih negatif meskipun telah memakai jilbab, sebenarnya itu…well, tidak ada yang bisa disalahkan, kan? Jilbab bukanlah sin prevention atau sesuatu semacam itu. Sebenarnya, semua kembali ke diri sendiri. Jilbab hanyalah media untuk menutup aurat, bukan alarm maksiat.
Nah, mungkin ada beberapa diantara kalian yang mengernyit dan misuh-misuh ketika membaca ini; mengatakan bahwa ini hanya excuse-ku saja sebagai muslimah yang berkelakuan layaknya binatang belum kawin. Dua poin yang ingin saya luruskan:
1.       Saya memang belum pernah kawin.
2.       Saya sadar diri sepenuhnya bahwa saya jauh, jauh, dari predikat ‘cewek baik-baik’.

Jadi intinya, pikiranmu benar. Ini hanya excuse-ku saja. Mengapa? Karena menurutku menilai orang dari jilbabnya adalah salah satu bentuk rasisme terselubung dan amat halus. Bayangkan saja, apabila ada dua wanita yang hamil di luar nikah, keduanya sama-sama muslimah, si wanita A berjilbab dan B tidak, siapa yang akan dinilai lebih buruk?
Percayalah, pasti si wanita berjilbab yang malang.
Padahal, apa bedanya? Berjilbab atau tidak, zina itu haram. Haram, saudara-saudara!
Oke, apakah aku terlihat sangat menyedihkan sekarang? Ha. Ha.
Aku juga sadar diri bahwa aku tinggal di Indonesia yang notabene bukan negara Islam. Tentu saja penilaian sosial seperti itu harus aku hadapi. Bukan hanya aku, semua wanita berjilbab akan mengalami penilaian sosial yang (menurutku) sedikit tidak adil ini. Tetapi ingin kutekankan pada kalian, ketika ada seorang muslimah berjilbab yang melakukan kesalahan, tolong, tolong, jangan salahkan jilbabnya, jangan salahkan agamanya, tapi salahkan orangnya. Apa yang kami, sebagai muslimah berjilbab, lakukan adalah diluar tanggungjawab jilbab kami ataupun agama kami. Islam, dan semua agama secara umum, mengajarkan penganutnya untuk selalu berbuat baik. Tidak ada yang salah dengan agama kami. Yang salah, tentu saja, kami.
 Nah, sekarang untuk seluruh muslimah berjilbab di luar sana. Meskipun kelakuanku sendiri masih liar, tapi aku ingin berbagi nasehat guru SMP-ku dulu:
"Berjilbab itu kewajiban. Semua wanita muslim wajib berjilbab. Tetapi di lingkungan yang tidak menjadikan jilbab sebagai suatu kebutuhan, kita sebagai muslimah berjilbab harus sadar diri. Dengan menggunakan jilbab, artinya kamu sedang membawa nama agamamu ke lingkungan masyarakat. Jadi, untuk menjaga nama baik agamamu juga, kamu harus bersikap semestinya. Di lingkungan kita, memakai jilbab merupakan suatu tanggungjawab besar."
(Nasehat ini selalu membuatku bergidik ngeri setiap kali aku akan melakukan hal buruk, meskipun ujung-ujungnya aku tetap melakukan hal buruk. Ya, terkadang aku bisa separah itu)
Terakhir, untuk kalian ladies yang masih belum berjilbab:
Berjilbab itu kewajiban, bukan pilihan. Tetapi untuk mematuhi kewajibanpun merupakan suatu pilihan, kan? Kalian yang tentukan sendiri; akhir mana yang kalian pilih.

Kebenaran hanya milik Allah semata.

Thursday, 11 December 2014

Takut

Have you ever felt this way?
Ada suatu titik dimana kamu takut jatuh karena kamu udah naik sejauh ini.
Aku lagi ngerasain hal itu.
The pressure is too fucking big.
Ibaratnya nih, kamu udah naik gunung tinggiiiii banget.
Kemudian kamu harus ngelewatin satu jembatan setipis benang buat sampe ke tempat yang lebih tinggi lagi.
Mau stop? Nggak mungkin. Kamu udah nggak bisa balik turun saking tingginya kamu.
Jadi, kamu mau nggak mau harus ngelewatin jembatan benang kampret itu.
Dan kamu cuma punya dua kemungkinan; jatuh atau terus.
Sedangkan kemampuanmu sendiri nggak bisa buat sampe ke ujung jembatan benang itu.
Kamu tau dimana posisiku?
Di tengah-tengah jembatan benang, dan jembatan benangnya makin turun karena aku kegemukan (?) yah, semacam itu.
Aku takut jatuh, karena di jembatan benang inilah banyak yang aku perjuangin.
Sedangkan aku nggak tau apa kemampuanku bisa nyelesain jembatan benang ini.

Tapi aku pengen terus berjuang di jembatan benang ini.
Fucking four years, I should be here for fucking four years.

And I'm in this point dimana aku udah nggak peduli seberapa aku dinilai sama orang.
Yang penting aku lulus dari tempat ini, penempatan, dan daradatdatdatdatdatdat baby don't worry.
4 taun aja. Please, 4 taun aja.

I'm fucking scared I don't know how to enjoy all of this shit anymore.

Thursday, 4 December 2014

Secangkir Cappuccino; Kemelut

Ketika lulus sekolah, saya mati-matian agar bisa masuk perguruan tinggi.
Ketika lulus kuliah, saya mati-matian agar bisa mendapat pekerjaan.
Ketika bekerja, saya mati-matian agar bisa menikah tepat waktu.
Ketika menikah, saya mati-matian agar bisa mempunyai anak.
Ketika mempunyai anak, saya mati-matian menyekolahkannya sampai tinggi.
Saya selalu mati-matian,
Hingga saya lupa untuk hidup.
***
“Saya ingin bunuh diri.”
Kolega saya yang sedang menghirup Cappuccino-nya langsung terbatuk dan menatap saya dengan pandangan aneh, “apa?”
Ada sekitar jeda lima detik di antara kami. Kemelut di otak saya merangkai sejuta jawaban untuk pertanyaan singkat itu. Tetapi—seperti biasa—ada janggalan di kerongkongan saya untuk mengucapkan kata-kata rapi yang telah otak saya susun. Saya yakin kolega saya akan menilai saya gila setelah saya menjawabnya. Sejujurnya saya tidak peduli pada penilaian orang tentang saya di tahap ini. Saya tidak peduli apa yang akan dia pikirkan tentang saya. Empat puluh tahun saya hidup dan hidup dan saya sudah cukup banyak mendengar gosip—entah miring atau lurus—tentang saya. Dianggap gila tidaklah seberapa.
Tetapi lebih baik saya tahan karena satu jam lagi orang inilah yang akan menentukan deal atau tidaknya proyek yang perusahaan saya tawarkan sejak sebulan lalu.
***
Saya memejamkan mata dan merasakan sentuhan lembut asing dari wanita manis dengan gaun hitam belah rendahnya di depan saya. Otak saya berkabut, mungkin efek bir yang saya tenggak barusan. Biasanya saya kuat menenggak hingga lima gelas lebih. Tetapi ini baru gelas kedua dan mata saya sudah begitu berat.
Wanita itu membisikkan kata-kata manis di telinga saya—suaranya sedikit keras, berusaha mengalahkan dentum musik dari DJ yang tampangnya tidak pernah saya lihat  di podium. Telinga saya sepertinya tidak sanggup menyalurkan informasi detil dari wanita ini ke otak saya, tetapi—mungkin ini refleks, entahlah—saya langsung mengulum bibir berbau alkoholnya.
Hambar.
“Saya ingin bunuh diri.”
Wanita itu terhenti ketika mendengar bisikan saya ditengah ciuman kami. Ia mengernyit, tetapi tubuhnya tetap menempel padaku seperti cicak. Dengan suara datar dia bertanya, “apa?”
Seperti biasa, otak saya sudah bersiap dengan sejuta jawaban. Saya ingin sekali memutus ribuan benang kusut di otak ini, menjernihkan kembali pikiran saya yang biasanya hanya saya cuci dengan sebotol dua botol alkohol kadar sedang. Well, sebenarnya botol-botol itu sanggup menyapu kabut di pikiran saya. Tetapi efeknya hanya berlangsung semalaman. Esok harinya benang-benang itu akan terputar-putar lagi dan membelut saya, sesak rasanya. Hanya saja ketika saya ingin menjawab pertanyaan simple ‘apa’ itu, bibir wanita ini perlahan menyapu kembali bibir saya. Lagi-lagi jawaban saya terhenti di kerongkongan.
Akhirnya saya mencengkram erat pergelangan tangannya, mendorongnya ke dinding kelab yang dingin, dan membiarkan intuisi lelaki saya bekerja sendiri.
***
Kali ini saya duduk berhadapan dengan wanita yang lain; yang telah saya gauli sepuluh tahun terakhir. Setiap pagi kami akan duduk berhadapan dan menikmati sarapan kami dalam diam. Kami terasa begitu jauh; terhalangi oleh meja makan dan rasa-rasa bosan tak tersampaikan. Saya tak keberatan sama sekali sebenarnya.
“Mas?”
Saya mendongak ketika ia memanggil saya dengan suara kecilnya. Tanpa suara memberinya isyarat untuk lanjut bicara.
Ia terlihat ragu; bibir tipisnya terlipat ke dalam. Saya terus memandanginya, memberikan tanda bahwa saya memperhatikan. Detik itu saya sadar bahwa wanita ini semakin kurus. Tulang pipinya menonjol dan rahangnya terlihat lebih kaku. Saya mencoba mengingat-ingat apakah saya pernah memberinya uang kurang, tetapi hasilnya tidak pernah. Dengan uang yang saya berikan, seharusnya ia menjadi lebih subur.
Saya tahu saya lelaki brengsek; mabuk sana-sini, tidur sana-sini. Tetapi saya tetap merasa bahwa wanita ini seharusnya tetap saya rawat dengan baik—paling tidak dengan uang yang saya miliki.
Wanita di depan saya tiba-tiba menggeleng, “tidak. Lupakan.”
Saya langsung menunduk, memandangi roti selai nanas saya seakan itu adalah hal yang paling menarik di dunia, “saya ingin bunuh diri.”
“Mas?”
Saya memberanikan diri untuk mendongak sekali lagi. Potret wajah kagetnya begitu dramatis, seakan-akan saya sedang mengumumkan tanggal pasti kiamat atau semacamnya. Detik itu saya baru menyadari bahwa saya telah menikahi wanita yang cantik sekali. Mata bulatnya menatap saya dalam-dalam, tidak percaya. Bibir mungilnya setengah terbuka, seakan berusaha mengeluarkan respon yang pantas. Ternyata wajah kagetnya lucu juga. Kapan terakhir kali saya melihat secuil ekspresi dari muka datarnya? Saya lupa.
Tiba-tiba keheningan asing itu dipecahkan oleh suara pintu kamar yang terbuka dari lantai dua. Kami sama-sama menoleh untuk menyambut anak tujuh tahun kami yang sudah terlihat tampan dengan seragam sekolahnya. Bocah kecil itu tersenyum menggemaskan sambil merajuk pada perawatnya ketika turun tangga dan menyebutkan makanan yang ia inginkan untuk sarapan pagi ini.
Wah, saya lupa anak saya sudah SD sekarang.
***
“Selamat atas deal suksesnya, Pak!”
Saya hanya tersenyum hambar kepada atasan saya dan menyambut jabat tangannya tanpa minat. Ia tersenyum puas dan mempersilahkan saya duduk, sambil menanyakan minuman apa yang saya inginkan.
Saya tersenyum sopan dan meminta air putih.
“Saya benar-benar bangga mempunyai Anda,” bos saya tertawa bangga, “dedikasi Anda kepada perusahaan ini benar-benar tidak diragukan lagi. Proyek ini nilainya besar sekali! Sepertinya saya harus memberi Anda hadiah yang pantas,” ia terhenti sebentar ketika sekretarisnya masuk dan memberikan air putih kepada kami berdua, “apa yang Anda inginkan?”
Saya menatap botol kaca transparan di depan saya. Entah mengapa saya merasa bisa mendengar suara air bergemuruh dari botol itu—apakah menolak untuk saya minum? Entahlah. Atau mungkin itu hanya suara otak saya yang lagi-lagi menolak masukan sana-sini. Saya mengambil gelas itu perlahan dan menyeruput isinya dalam diam. Kerongkongan saya tetap kering; air ini terasa tak memberikan efek apapun kepada tubuh saya.
Atau mungkin tubuh saya telah lupa bagaimana cara bereaksi? Entahlah.
Sambil tetap menggenggam gelas yang sudah separuh kosong itu, saya mendongak dan tersenyum kepada atasan saya, “saya ingin bunuh diri.”
Atasan saya yang sedang minum langsung tersedak menumpahkan seluruh isi gelasnya. Ia menatap saya dengan mata berair sambil terbatuk-batuk. Saya tidak mempunyai niat untuk menolongnya, sayangnya.
“Apa?”
Lagi-lagi pertanyaan itu. Bibir saya terkatup dan saya merasakan gelas yang saya cengkram sedikit retak. Saya tidak tahu lagi berapa beban yang dibawa oleh hati saya; begitu inginnya saya menumpahkan semua perasaan, pikiran, kelelahan, jawaban-jawaban yang semakin lama mengendap semakin kacau. Saya tidak tahu darimana saya harus memulai dan kemana perkataan saya akan berujung. Mengapa mengungkapkan alasan begitu menekan? Saya sendiri bingung.
Jadi saya hanya menarik nafas panjang dan tersenyum, “bercanda. Saya hanya ingin cuti sehari. Bisa?”
***
Saya hidup, tetapi saya tak sanggup bernafas.
Jam yang terus berdetak, klakson yang memekakkan telinga, sosok apatis yang lalu lalang.
Pasti tak pastinya yang akan datang.
Kehidupan sempurna yang hanya terlihat dari depan.
Perasaan gelap campur aduk dari dalam.
Harta, tahta, wanita.
Bukankah itu terlihat sempurna?
Apakah saya bahagia?
Saya lupa apa itu bahagia.

Monday, 24 November 2014

Kau berhenti mencariku sejak lama, sayang.
Tetapi pernahkah kau melihatku berhenti menanti?
Aku tetap di sini. Mungkin waktu berjalan cepat tapi tak kuikuti.
Aku punya sejuta alasan untuk meninggalkanmu, sayang.
Tetapi hatiku ingin bertahan.

Ranjang ini terasa luas tanpamu, sayang.
Aku tetap mengenakan parfum favoritmu, berharap engkau pulang.
Menghirupku seperti biasa yang kau lakukan setiap malam
Membuatku merasa spesial
Tak ada yang lebih hangat dibanding tubuh kita yang beradu, sayang
Namun kini ku dengar jam yang berdetak ringan, sendirian, kedinginan.

Masa depan kita tak pernah terang, sayang.
Tetapi kau berkata kita kan menerjang gelap itu bersama
Hitam putih serasa pelangi ketika kita saling menggenggam tangan
Jari-jariku terasa kurang ketika tiap selanya tak kau isi hangat
Seperti sekarang
Aku hanya menatap ke depan, kosong tanpa harapan
Karena aku tidak ingin masa depan jika itu bukan denganmu, sayang

Kau remukkan setiap sel logika dalam otakku
Lalu pergi tanpa ingatkan ku kapan pulang
Sayang,
Kau berkata kita kan berjalan bersama
Lalu kau biarkanku berjalan sendirian
Kau berkata kita kan bernafas bersama
Lalu kau biarkanku mengisi udara sendirian
Kau berkata apa yang kulihat akan kau lihat
Tahukah kau apa yang kulihat sekarang?
Tidak ada.
Aku memilih untuk tidak melihat apa-apa.
Karena ku ingin yang kita lihat sama.

#nowplaying The Heart Wants What It Wants - Selena Gomez
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com