Wednesday, 30 August 2017

Sebuah pemikiran;
Seharusnya lagu Balonku memiliki sekuel, tentang bagaimana reaksinya saat empat balon yang telah ia pegang erat-erat juga mulai mengempis satu persatu.
Tentang bagaimana perasaannya saat tahu bahwa—sebesar apapun usahanya—ia takkan pernah bisa mengalahkan waktu.
Tentang hukum alam.
Tentang takdir.
Tentang semua yang harus pergi.
Tentang ketidakabadian.
Tentang fana.
Apakah ketika ia pernah kehilangan satu hal, ia akan belajar tentang apa itu rela.
Atau yang ia pelajari hanya bagaimana untuk belajar dari kesalahan.
Padahal, ada beberapa suratan-suratan yang takkan bisa ia cegah.
Seperti lubang kecil yang mengeluarkan udara secara perlahan pada balon-balonnya.
Karena nanti ia akan berpikir, “menyimpannya saja tidak cukup.
Aku harusnya melapisinya dengan lebih banyak perekat.”
Tidak.
Bahkan jika telah banyak perekat yang menyumbat jalan udara pun,
Selalu ada cara untuk mengakhiri balon-balon itu.
Bukan begitu cara kerja hidup.
Bukan begitu alasan bumi berputar.
Bahkan yang sebesar matahari pun sebenarnya sedang terkikis,
Dan bintang-bintang di luar galaksi meledak satu per satu.
Bagaimana ia hanya mempertahankan beberapa balon?
Bagaimana cara ia menghadapi sebuah kehilangan,
Dengan berpikir bahwa kehilangan itu memang kehilangan,
Agar supaya ia tahu,

Dan ikhlas melepas,

No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com