Wednesday, 28 January 2015

"Padahal Pakai Jilbab, Kok...?"

You won’t understand how bad I want to punch someone who says that.
Oke, guys, aku ingin membicarakan sesuatu yang serius (well, tidak juga sih) kepada kalian.
Jadi sebenarnya, aku sudah lama mendengar unfair judgement seperti ini—dan bukan sekali dua kali kata-kata itu terlempar kepadaku. Asal kalian tahu, meskipun dalam keseharian aku selalu memakai jilbab dan berusaha untuk menutup aurat, bukan berarti aku adalah orang suci yang melakukan segala sesuatu dengan sempurna (ayolah, fangirl mana yang bisa hidup tanpa dosa ketika kesehariannya adalah memandangi foto-foto lelaki tampan sambil misuh-misuh?)
Mungkin dosa dan kesalahanku malah lebih banyak daripada muslimah yang tidak berjilbab. Ku akui, aku memang bukan muslimah idaman setiap pria.
Tetapi pernahkah kalian bertanya mengapa aku memakai jilbab?
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ”Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).
(Wah maaf, jilbab saya biasanya hanya sampai menutup dada).
Oke, jadi intinya, memakai jilbab adalah kewajiban. Jujur saja, kadang-kadang aku agak tidak habis pikir dengan wanita yang tidak berlibab dengan alasan ‘ingin menjilbab-i hati terlebih dulu’. Earth to you, ladies. Yang harus ditutup itu auratmu. Auratmu itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Hatimu tidak termasuk (lagipula tidak ada yang bisa melihat hatimu kecuali Allah, kan?).
No offense.
Andaikan ada muslimah yang kelakuannya masih negatif meskipun telah memakai jilbab, sebenarnya itu…well, tidak ada yang bisa disalahkan, kan? Jilbab bukanlah sin prevention atau sesuatu semacam itu. Sebenarnya, semua kembali ke diri sendiri. Jilbab hanyalah media untuk menutup aurat, bukan alarm maksiat.
Nah, mungkin ada beberapa diantara kalian yang mengernyit dan misuh-misuh ketika membaca ini; mengatakan bahwa ini hanya excuse-ku saja sebagai muslimah yang berkelakuan layaknya binatang belum kawin. Dua poin yang ingin saya luruskan:
1.       Saya memang belum pernah kawin.
2.       Saya sadar diri sepenuhnya bahwa saya jauh, jauh, dari predikat ‘cewek baik-baik’.

Jadi intinya, pikiranmu benar. Ini hanya excuse-ku saja. Mengapa? Karena menurutku menilai orang dari jilbabnya adalah salah satu bentuk rasisme terselubung dan amat halus. Bayangkan saja, apabila ada dua wanita yang hamil di luar nikah, keduanya sama-sama muslimah, si wanita A berjilbab dan B tidak, siapa yang akan dinilai lebih buruk?
Percayalah, pasti si wanita berjilbab yang malang.
Padahal, apa bedanya? Berjilbab atau tidak, zina itu haram. Haram, saudara-saudara!
Oke, apakah aku terlihat sangat menyedihkan sekarang? Ha. Ha.
Aku juga sadar diri bahwa aku tinggal di Indonesia yang notabene bukan negara Islam. Tentu saja penilaian sosial seperti itu harus aku hadapi. Bukan hanya aku, semua wanita berjilbab akan mengalami penilaian sosial yang (menurutku) sedikit tidak adil ini. Tetapi ingin kutekankan pada kalian, ketika ada seorang muslimah berjilbab yang melakukan kesalahan, tolong, tolong, jangan salahkan jilbabnya, jangan salahkan agamanya, tapi salahkan orangnya. Apa yang kami, sebagai muslimah berjilbab, lakukan adalah diluar tanggungjawab jilbab kami ataupun agama kami. Islam, dan semua agama secara umum, mengajarkan penganutnya untuk selalu berbuat baik. Tidak ada yang salah dengan agama kami. Yang salah, tentu saja, kami.
 Nah, sekarang untuk seluruh muslimah berjilbab di luar sana. Meskipun kelakuanku sendiri masih liar, tapi aku ingin berbagi nasehat guru SMP-ku dulu:
"Berjilbab itu kewajiban. Semua wanita muslim wajib berjilbab. Tetapi di lingkungan yang tidak menjadikan jilbab sebagai suatu kebutuhan, kita sebagai muslimah berjilbab harus sadar diri. Dengan menggunakan jilbab, artinya kamu sedang membawa nama agamamu ke lingkungan masyarakat. Jadi, untuk menjaga nama baik agamamu juga, kamu harus bersikap semestinya. Di lingkungan kita, memakai jilbab merupakan suatu tanggungjawab besar."
(Nasehat ini selalu membuatku bergidik ngeri setiap kali aku akan melakukan hal buruk, meskipun ujung-ujungnya aku tetap melakukan hal buruk. Ya, terkadang aku bisa separah itu)
Terakhir, untuk kalian ladies yang masih belum berjilbab:
Berjilbab itu kewajiban, bukan pilihan. Tetapi untuk mematuhi kewajibanpun merupakan suatu pilihan, kan? Kalian yang tentukan sendiri; akhir mana yang kalian pilih.

Kebenaran hanya milik Allah semata.

No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com