Sebuah pemikiran;
Seharusnya lagu Balonku
memiliki sekuel, tentang bagaimana reaksinya
saat empat balon yang telah ia pegang erat-erat juga mulai mengempis satu
persatu.
Tentang bagaimana perasaannya saat tahu bahwa—sebesar apapun
usahanya—ia takkan pernah bisa
mengalahkan waktu.
Tentang hukum alam.
Tentang takdir.
Tentang semua yang harus pergi.
Tentang ketidakabadian.
Tentang fana.
Apakah ketika ia pernah
kehilangan satu hal, ia akan belajar
tentang apa itu rela.
Atau yang ia
pelajari hanya bagaimana untuk belajar dari kesalahan.
Padahal, ada beberapa suratan-suratan yang takkan bisa ia cegah.
Seperti lubang kecil yang mengeluarkan udara secara perlahan
pada balon-balonnya.
Karena nanti ia
akan berpikir, “menyimpannya saja tidak cukup.
Aku harusnya melapisinya dengan lebih banyak perekat.”
Tidak.
Bahkan jika telah banyak perekat yang menyumbat jalan udara
pun,
Selalu ada cara untuk mengakhiri balon-balon itu.
Bukan begitu cara kerja hidup.
Bukan begitu alasan bumi berputar.
Bahkan yang sebesar matahari pun sebenarnya sedang terkikis,
Dan bintang-bintang di luar galaksi meledak satu per satu.
Bagaimana ia hanya
mempertahankan beberapa balon?
Bagaimana cara ia menghadapi
sebuah kehilangan,
Dengan berpikir bahwa kehilangan itu memang kehilangan,
Agar supaya ia tahu,
Dan ikhlas melepas,