Wanita yang sedang kau pandang dengan secangkir cappuccino panas
di antara jari-jari gemuknya itu pernah jatuh cinta, meskipun ia tak pernah
mengakuinya. Hanya cinta monyet,
katanya.
Cinta monyet? Kau mengernyit,
seperti apa?
Hanya rasa suka yang
datang sementara, wanita itu mengangkat bahu, suatu hari aku datang ke sekolah dan menemukan ada seorang lelaki yang
luar biasa menarik sedang menatap jauh di balkon lantai dua. Sosoknya terasa
sendu dan sendirian. Aku selalu sendirian sepanjang hidupku, kau tahu—bukan berarti
aku tidak menghargai kehadiran teman-teman dekatku. Tetapi aku tahu rasanya
ketika masih ada celah kosong di hatimu yang meronta minta di isi; padahal kau
sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mengisinya. Ia terlihat seperti itu. Ia terlihat…
terlihat begitu jauh dan aku memiliki
keinginan aneh untuk datang dan menepuk pundaknya lalu menanyakan kabarnya. Bodoh,
kan? Aku tidak tahu namanya.
Tampankah ia? Kau menggodanya,
tetapi dalam hati kau langsung menyesali perbuatan itu karena pipi wanita itu
langsung memerah. Kau tidak menyukai kenyataan bahwa wanita itu tersipu bukan
untukmu. Wanita itu tersipu karena suatu kenangan bukan tentangmu. Tetapi kau
hanya diam dan tersenyum jahil. Akan ada saatnya, kau berbisik pada diri
sendiri.
Mungkin? Ya… entahlah,
ia buru-buru menyesap kopinya dan kau berdoa dalam hati semoga saja kopi itu
tidak membakar lidahnya; seperti cemburu yang mulai merayap ke dadamu, ia menarik. Aku tidak pernah bisa mengatakan
tampan atau tidaknya seorang lelaki, oke? Aku bahkan tidak punya tipe idaman. Hidupku
sesimpel itu. Apa yang aku dapatkan adalah apa yang pantas aku dapatkan.
Ah, kau mengangguk
berpura-pura mengerti karena pada dasarnya kau tidak akan pernah mengerti bagaimana
cara kerja otak wanita, lalu bagaimana
kau bisa berkenalan dengannya?
Apa ya? Mungkin
takdir? Wanita itu menjawab sekenanya, hanya
kami bertatap mata beberapa menit kemudian ia datang dan menyapaku halo
dengan manis lalu semuanya terasa manis sejak saat itu. Aku bahkan tidak tahu
apa yang aku harapkan dari semua itu. Kami berjalan beriringan, menceritakan
cita-cita, menyusun angan-angan, semua semanis red velvet ini, ia menyedok sedikit keju di ujung
kuenya, bagai mimpi.
Lalu?
Lalu berakhir, tiba-tiba
ekspresi wanita itu berubah, aku tetap
menyukainya namun kemudian dia pergi begitu saja tanpa kabar. Tetapi aku
menyukainya. Akan terus menyukainya, kurasa. Mungkin karena dia yang pertama. Mungkin
karena setiap aku melihat fotonya—bahkan dengan kekasih barunya—air mataku mengalir
begitu saja walaupun aku harus mengakui mereka terlihat cocok; seperti pasangan
yang akan kau dukung ceritanya di drama. Aku sakit hati, tetapi aku juga ingin
mendoakan agar dia bahagia. Gila kan? Kau tahu mengapa?
Lelaki itu menggeleng.
Karena ia telah
memberiku kebahagiaan, walaupun singkat. Itu cukup. Ia memberikanku satu lagi
cerita untuk kukenang sampai mati; betapa menyenangkannya untuk merajut angan
dengan lelaki yang ingin kau berikan bagian di masa depanmu. Mungkin kami tidak
akan bisa lagi memikul beban satu sama lain. Mungkin semua kata-katanya palsu. Mungkin
ia tidak pantas untuk aku tangisi lagi. Tetapi aku ingin ia bahagia. Aku tidak
masalah jika hancur sendirian. Aku pantas hancur. Ia pantas tertawa. Begitulah hidup.
Dan hidupku bukan drama.
Kau juga bisa bahagia—
Lagipula aku benci
akhir yang bahagia, ia menghabiskan kopinya, itu terlalu tidak nyata.