Wednesday, 30 August 2017

Sebuah pemikiran;
Seharusnya lagu Balonku memiliki sekuel, tentang bagaimana reaksinya saat empat balon yang telah ia pegang erat-erat juga mulai mengempis satu persatu.
Tentang bagaimana perasaannya saat tahu bahwa—sebesar apapun usahanya—ia takkan pernah bisa mengalahkan waktu.
Tentang hukum alam.
Tentang takdir.
Tentang semua yang harus pergi.
Tentang ketidakabadian.
Tentang fana.
Apakah ketika ia pernah kehilangan satu hal, ia akan belajar tentang apa itu rela.
Atau yang ia pelajari hanya bagaimana untuk belajar dari kesalahan.
Padahal, ada beberapa suratan-suratan yang takkan bisa ia cegah.
Seperti lubang kecil yang mengeluarkan udara secara perlahan pada balon-balonnya.
Karena nanti ia akan berpikir, “menyimpannya saja tidak cukup.
Aku harusnya melapisinya dengan lebih banyak perekat.”
Tidak.
Bahkan jika telah banyak perekat yang menyumbat jalan udara pun,
Selalu ada cara untuk mengakhiri balon-balon itu.
Bukan begitu cara kerja hidup.
Bukan begitu alasan bumi berputar.
Bahkan yang sebesar matahari pun sebenarnya sedang terkikis,
Dan bintang-bintang di luar galaksi meledak satu per satu.
Bagaimana ia hanya mempertahankan beberapa balon?
Bagaimana cara ia menghadapi sebuah kehilangan,
Dengan berpikir bahwa kehilangan itu memang kehilangan,
Agar supaya ia tahu,

Dan ikhlas melepas,

Saturday, 11 March 2017

Secangkir Cappuccino; Terbakar Kenangan

Wanita yang sedang kau pandang dengan secangkir cappuccino panas di antara jari-jari gemuknya itu pernah jatuh cinta, meskipun ia tak pernah mengakuinya. Hanya cinta monyet, katanya.
Cinta monyet? Kau mengernyit, seperti apa?
Hanya rasa suka yang datang sementara, wanita itu mengangkat bahu, suatu hari aku datang ke sekolah dan menemukan ada seorang lelaki yang luar biasa menarik sedang menatap jauh di balkon lantai dua. Sosoknya terasa sendu dan sendirian. Aku selalu sendirian sepanjang hidupku, kau tahu—bukan berarti aku tidak menghargai kehadiran teman-teman dekatku. Tetapi aku tahu rasanya ketika masih ada celah kosong di hatimu yang meronta minta di isi; padahal kau sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mengisinya. Ia terlihat seperti itu. Ia terlihat… terlihat begitu jauh dan aku memiliki keinginan aneh untuk datang dan menepuk pundaknya lalu menanyakan kabarnya. Bodoh, kan? Aku tidak tahu namanya.
Tampankah ia? Kau menggodanya, tetapi dalam hati kau langsung menyesali perbuatan itu karena pipi wanita itu langsung memerah. Kau tidak menyukai kenyataan bahwa wanita itu tersipu bukan untukmu. Wanita itu tersipu karena suatu kenangan bukan tentangmu. Tetapi kau hanya diam dan tersenyum jahil. Akan ada saatnya, kau berbisik pada diri sendiri.
Mungkin? Ya… entahlah, ia buru-buru menyesap kopinya dan kau berdoa dalam hati semoga saja kopi itu tidak membakar lidahnya; seperti cemburu yang mulai merayap ke dadamu, ia menarik. Aku tidak pernah bisa mengatakan tampan atau tidaknya seorang lelaki, oke? Aku bahkan tidak punya tipe idaman. Hidupku sesimpel itu. Apa yang aku dapatkan adalah apa yang pantas aku dapatkan.
Ah, kau mengangguk berpura-pura mengerti karena pada dasarnya kau tidak akan pernah mengerti bagaimana cara kerja otak wanita, lalu bagaimana kau bisa berkenalan dengannya?
Apa ya? Mungkin takdir? Wanita itu menjawab sekenanya, hanya kami bertatap mata beberapa menit kemudian ia datang dan menyapaku  halo dengan manis lalu semuanya terasa manis sejak saat itu. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku harapkan dari semua itu. Kami berjalan beriringan, menceritakan cita-cita, menyusun angan-angan, semua semanis red velvet ini, ia menyedok sedikit keju di ujung kuenya, bagai mimpi.
Lalu?
Lalu berakhir, tiba-tiba ekspresi wanita itu berubah, aku tetap menyukainya namun kemudian dia pergi begitu saja tanpa kabar. Tetapi aku menyukainya. Akan terus menyukainya, kurasa. Mungkin karena dia yang pertama. Mungkin karena setiap aku melihat fotonya—bahkan dengan kekasih barunya—air mataku mengalir begitu saja walaupun aku harus mengakui mereka terlihat cocok; seperti pasangan yang akan kau dukung ceritanya di drama. Aku sakit hati, tetapi aku juga ingin mendoakan agar dia bahagia. Gila kan? Kau tahu mengapa?
Lelaki itu menggeleng.
Karena ia telah memberiku kebahagiaan, walaupun singkat. Itu cukup. Ia memberikanku satu lagi cerita untuk kukenang sampai mati; betapa menyenangkannya untuk merajut angan dengan lelaki yang ingin kau berikan bagian di masa depanmu. Mungkin kami tidak akan bisa lagi memikul beban satu sama lain. Mungkin semua kata-katanya palsu. Mungkin ia tidak pantas untuk aku tangisi lagi. Tetapi aku ingin ia bahagia. Aku tidak masalah jika hancur sendirian. Aku pantas hancur. Ia pantas tertawa. Begitulah hidup. Dan hidupku bukan drama.
Kau juga bisa bahagia—

Lagipula aku benci akhir yang bahagia, ia menghabiskan kopinya, itu terlalu tidak nyata.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com