You won’t understand how bad I want to punch
someone who says that.
Oke, guys, aku
ingin membicarakan sesuatu yang serius (well,
tidak juga sih) kepada kalian.
Jadi
sebenarnya, aku sudah lama mendengar unfair
judgement seperti ini—dan bukan sekali dua kali kata-kata itu terlempar
kepadaku. Asal kalian tahu, meskipun dalam keseharian aku selalu memakai jilbab
dan berusaha untuk menutup aurat, bukan berarti aku adalah orang suci yang
melakukan segala sesuatu dengan sempurna (ayolah, fangirl mana yang bisa hidup tanpa dosa ketika kesehariannya adalah
memandangi foto-foto lelaki tampan sambil misuh-misuh?)
Mungkin dosa
dan kesalahanku malah lebih banyak daripada muslimah yang tidak berjilbab. Ku
akui, aku memang bukan muslimah idaman setiap pria.
Tetapi
pernahkah kalian bertanya mengapa aku
memakai jilbab?
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ”Hendaklah mereka
menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha
penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).
(Wah maaf,
jilbab saya biasanya hanya sampai menutup dada).
Oke, jadi
intinya, memakai jilbab adalah kewajiban.
Jujur saja, kadang-kadang aku agak tidak habis pikir dengan wanita yang tidak
berlibab dengan alasan ‘ingin menjilbab-i hati terlebih dulu’. Earth to you, ladies. Yang harus ditutup
itu auratmu. Auratmu itu seluruh
tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Hatimu tidak termasuk (lagipula tidak
ada yang bisa melihat hatimu kecuali Allah, kan?).
No offense.
Andaikan
ada muslimah yang kelakuannya masih negatif meskipun telah memakai jilbab,
sebenarnya itu…well, tidak ada yang
bisa disalahkan, kan? Jilbab bukanlah sin
prevention atau sesuatu semacam itu. Sebenarnya, semua kembali ke diri
sendiri. Jilbab hanyalah media untuk menutup aurat, bukan alarm maksiat.
Nah,
mungkin ada beberapa diantara kalian yang mengernyit dan misuh-misuh ketika membaca ini; mengatakan bahwa ini hanya excuse-ku saja sebagai muslimah yang
berkelakuan layaknya binatang belum kawin. Dua poin yang ingin saya luruskan:
1.
Saya memang belum pernah kawin.
2.
Saya sadar diri sepenuhnya bahwa saya jauh, jauh, dari predikat ‘cewek baik-baik’.
Jadi
intinya, pikiranmu benar. Ini hanya excuse-ku
saja. Mengapa? Karena menurutku menilai orang dari jilbabnya adalah salah satu
bentuk rasisme terselubung dan amat halus. Bayangkan saja, apabila ada dua
wanita yang hamil di luar nikah, keduanya sama-sama muslimah, si wanita A berjilbab
dan B tidak, siapa yang akan dinilai lebih
buruk?
Percayalah,
pasti si wanita berjilbab yang malang.
Padahal,
apa bedanya? Berjilbab atau tidak, zina itu haram. Haram, saudara-saudara!
Oke,
apakah aku terlihat sangat menyedihkan sekarang? Ha. Ha.
Aku juga
sadar diri bahwa aku tinggal di Indonesia yang notabene bukan negara Islam.
Tentu saja penilaian sosial seperti itu harus aku hadapi. Bukan hanya aku,
semua wanita berjilbab akan mengalami penilaian sosial yang (menurutku) sedikit
tidak adil ini. Tetapi ingin kutekankan pada kalian, ketika ada seorang muslimah berjilbab yang melakukan kesalahan,
tolong, tolong, jangan salahkan
jilbabnya, jangan salahkan agamanya, tapi salahkan orangnya. Apa yang kami, sebagai muslimah berjilbab,
lakukan adalah diluar tanggungjawab jilbab kami ataupun agama kami. Islam, dan semua agama secara umum,
mengajarkan penganutnya untuk selalu berbuat baik. Tidak ada yang salah
dengan agama kami. Yang salah, tentu saja, kami.
Nah,
sekarang untuk seluruh muslimah berjilbab di luar sana. Meskipun kelakuanku
sendiri masih liar, tapi aku ingin berbagi nasehat guru SMP-ku dulu:
"Berjilbab itu kewajiban. Semua wanita muslim wajib
berjilbab. Tetapi di lingkungan yang tidak
menjadikan jilbab sebagai suatu kebutuhan, kita sebagai muslimah berjilbab
harus sadar diri. Dengan menggunakan jilbab, artinya kamu sedang membawa nama
agamamu ke lingkungan masyarakat. Jadi, untuk menjaga nama baik agamamu juga,
kamu harus bersikap semestinya. Di lingkungan
kita, memakai jilbab merupakan suatu tanggungjawab besar."
(Nasehat
ini selalu membuatku bergidik ngeri setiap kali aku akan melakukan hal buruk,
meskipun ujung-ujungnya aku tetap melakukan hal buruk. Ya, terkadang aku bisa
separah itu)
Terakhir,
untuk kalian ladies yang masih belum
berjilbab:
Berjilbab itu kewajiban, bukan pilihan. Tetapi
untuk mematuhi kewajibanpun merupakan suatu pilihan, kan? Kalian yang tentukan
sendiri; akhir mana yang kalian
pilih.
Kebenaran hanya milik Allah semata.