Selamat hari
ibuk! Dan selamat untuk kalian yang telah lolos semester I! We made it, guys!
Lama sekali aku
tidak menyentuh blog ini. I’m as busy as
hell, but what can I do? I’m in my 12th grade right now!
By the way...
Karena hari ini
hari ibuk, aku akan bahas ibukku. Little
bit mainstream, LOL. Tetapi aku menyimpan banyak hal tentang emak yang ibukku
sendiri (?) tidak akan mengerti.
1. Bahasa Asing Ibuk
Iya, emakku punya bahasa asing sendiri yang hanya bisa anaknya pahami setelah sekian
tahun tinggal bersama. Contohnya, ketika aku selesai makan ibuku akan
berkata “Mbak, habis makan piringmu dicuci ya.” Aku yang dulu belum paham
bahasa ibuk hanya akan mencuci piring
bekas makanku. Lalu kemudian ibuk mengecek wastafel—atau apa sih, tempat cuci
piring itu?—kemudian berseru, “Mbaak!” aku dipanggil ‘mbak’ karena anak tertua,
“Piring yang lain dicuci sekaliaaan!”
Jadi kesimpulannya, ketika ibuk berkata ‘habis makan
cuci piringmu’ itu bukan ‘cuci piring bekas makan’, tetapi cuci semua alat
makan kotor yang ada di rumah.
2. Lebih suka gorengan 600 rupiah daripada
Solaria, bahkan jika itu gratis
Awalnya aku mengira, ibuk tidak suka makan di restoran
karena mahal. Tetapi suatu hari ayahku mendapat voucher makan dari kantornya sebesar hampir 500 ribu, tetapi ibuk
malah bilang, “beli gorengan aja.”
Lidah ibuk alergi terhadap makanan enak.
3. Sering nonton sinetron meskipun ayah
melarang
Sejak kecil, ayahku selalu mendoktrinku untuk tidak
menonton sinetron dan film India. Kata ayahku ada efek ketagihan di sana. Demi
menjalankan peraturan ini, itu artinya seisi rumah tidak boleh menonton
sinetron. Nah, sifat ini terbawa hingga aku sebesar sekarang. Aku lebih memilih
mematikan televisi jika di semua saluran hanya ada sinetron.
Tapi tidak dengan ibuk. Kurasa sejak kecil ibuk sudah
terbiasa menonton sesuatu yang berseri. Jadi, ketika sore hari ibuk akan
menunda bersih-bersih rumah untuk menonton drama korea. Lalu malamnya ibuk akan
menonton sinetron-pak-haji-yang-judul-dan-jalan-cerita-sudah-tidak-sinkron-lagi.
Bukannya sombong ya, ini hanya untuk kepentingan jalan
cerita. Jadi, di rumahku ada 3 televisi; di kamar adikku, ibuk dan ayah, dan di
ruang tengah. Sialnya, hanya kamarku yang tidak bertelevisi. Ketika ayah pulang
kerja dan masuk kamar kemudian sadar ibuk sedang menonton sinetron, ayah
langsung keluar dan menggangguku yang sedang menonton acara musik di ruang
tengah. Kemudian aku dan ayah akan berebut remote TV. Ibuk datang melerai dan
menyuruh ayah untuk mengalah. Tetapi ibuk sendiri tidak mau mengalah soal
sinetronnya. Poor you, ayah.
4. Kadang-kadang, terlalu polos
Jadi suatu malam, di jam belajar, aku membaca komik online berbahasa Inggris—biasanya sih Kuroshitsuji karya Yana Toboso. Ibuk
datang dan bertanya, “ngapain, Mbak?”
Dengan polos kujawab, “belajar bahasa Inggris.”
“Oh.” Respon beliau, kemudian pergi. Mudah sekali.
5. Semua hal yang ada kaitannya dengan ponsel
selalu dikatakan ‘sms-an’
Kurasa ini tidak hanya terjadi pada ibuk saja.
Orangtua kalian juga, kan? Contohnya:
a.
Aku sedang tweeting
dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”
b.
Aku sedang googling
jawaban PR-ku, dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan
sms-an!”
c.
Aku sedang menggunakan kalkulator di ponsel
untuk jawaban PR kimia, dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak,
jangan sms-an!”
d.
Aku sedang menghapalkan pelajaran sejarah untuk
ulangan, dan ponselku kuletakkan di lemari agar tidak mengganggu konsentrasi.
Tanpa tahu apa-apa tiba-tiba ponselku—yang lupa kujadikan mode getar—berbunyi
nyaring. Dan ibuku langsung menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan
sms-an!”
6. Suka fangirling
Iya, sifat fangirl-ku
jelas menurun dari ibuk. Ibuk sangat menyukai Pasha ‘Ungu’ dan setiap aku
menyetel acara musik dan intro lagu-lagu ‘Ungu’ dimulai, secepat kilat ibuk
keluar dari dapur dan duduk manis di depan televisi.
Sebenarnya ini sama sekali tidak masalah jika ibuk
tidak lupa mematikan kompor. Hanya saja itu tidak terlalu sering terjadi.
7. Mudah bangga
Kurasa kata itu lebih sopan dibandingkan sombong,
kurasa. Karena ibuk tidak sombong. Hanya mudah bangga dengan hal-hal kecil.
Dan baru-baru ini hal kecil yang beliau banggakan
adalah, “aku bisa menyalakan laptop, membuka browser, dan mematikan laptop
tanpa minta bantuan.”
Sebenarnya itu tidak masalah jika... jika tidak ada
kenyataan bahwa teman-teman ibuk yang lain sudah punya facebook sendiri-sendiri dan online
setiap saat.
8. Mood tergantung tanggal
Kurasa ini tidak hanya terjadi pada ibuk, tetapi pada
hampir semua ibu rumah tangga. Tanggal 31 muka ibuk sangat ceria. Di atas tanggal
25, jangan berani cari gara-gara!
Sebenarnya masih banyak sih, Ibuk’s fact
yang lain. Tetapi jika kutulis semua setahun takkan cukup.
***
Di balik semua fakta-fakta itu, ibuk
benar-benar wanita hebat. Ada beberapa saat dimana ibuk dan ayah memiliki
masalah, dan ibuk lah yang selalu mengalah. Ibuk juga pendengar yang
baik—meskipun tidak semua masalahku kutumpahkan pada ibuk. Ibuk juga sangat
pengertian. Dan ibuk selalu baik pada segala jenis temanku. Bahkan meskipun aku
banyak bercerita soal... uhm... hal-hal yang tidak kusukai soal temanku itu,
ibuk selalu bersikap fair dan tidak
pernah membeda-bedakan temanku.
Ibuk juga fair soal masalah anak-anaknya. Jadi misalnya, ketika suatu hari
adikku bertengkar dengan temannya, ibuk tidak semerta-merta membela adikku dan
melabrak temannya seperti orangtua kebanyakan. Bukan, bukan karena ibuk tidak
sayang dengan adikku. Tetapi karena ibuk sadar bahwa kami—anak-anaknya—tidak
selamanya benar. Ketika kami ada masalah, pertama-tama kami dituntut untuk
menyelesaikan sendiri kemudian beliau memberi saran. Beliau tidak suka
mengadili orang lain selama belum tahu perkara jelasnya. Aku benar-benar kagum
pada sifat ibuk yang satu ini.
Dan ibukku juga orangtua gaul. Ibuk
mengijinkan kami pacaran, asal kami tahu batas. Ibuk tahu trend jaman sekarang, ibuk tahu banyak soal pakaian mana yang
kusuka dan tidak kusuka. Ibuk tahu tongkrongan makan yang bagus—dan murah,
pastinya. Selama ada modal, ibuk pasti mengajakku mencoba warung bakso baru,
atau belanja baju bersama, atau membeli es krim family pack rasa cokelat yang sangat aku dan adikku suka.
Banyak hal bagus lain tentang ibuk yang
tidak akan selesai kuceritakan di sini.
***
Dear,
Ibuk
Aku
bukan anak baik, kan? Aku susah dibangunkan, aku sering pulang terlambat tanpa
bilang, aku juga malas belajar.
Ini
perasaanku saja, atau kita semakin jarang berbicara berdua?
Ini
semua karena televisi menyebalkan di kamar ibuk, sehingga ibuk jarang keluar
kamar.
Dan...
well, aku juga jarang di rumah sih.
Maaf,
ya.
Aku
terlalu sibuk menjadi dewasa, hingga aku lupa ibuk juga bertambah tua.
Aku
terlalu sibuk mengejar cita-cita, hingga kadang aku lupa rumah.
Tetapi
percaya, deh, aku akan berusaha keras membuat ibuk bangga.
Aku
akan bayar semua uang yang sudah ibuk keluarkan untukku—tapi bayarnya nyicil,
oke?
Aku
akan membangun musholla kecil di rumah kita, seperti yang ibuk mau.
Aku
akan membantu ibuk dan ayah menyicil untuk naik haji.
Dan
aku akan bawa ibuk naik pesawat ke luar negeri. Ayah tidak usah ikut. Salah
sendiri ke luar negeri dan tidak pernah mengajak kita. Ya, kan? Biarkan saja
ayah jaga rumah. Sekali-sekali ayah perlu merasakan apa yang terjadi jika dua
tukang bersih-bersih rumah—ibuk dan aku—tidak ada.
Aku
yang sekarang belum bisa apa-apa, tapi aku akan berusaha menjadi anak yang bisa
ibuk banggakan. Suatu hari ibuk akan membanggakanku, bukan membanggakan
bisa-menyalakan-laptop.
Ibuk,
Maaf
ya, aku memang susah diatur. Maaf kalau aku egois. Maaf kalau aku membuat
tagihan Wifi di rumah jadi bengkak. Maaf kalau aku selalu menunda-nunda
melaksanakan apa yang ibuk suruh. Maaf kalau aku punya dunia sendiri. Maaf
kalau aku susah senyum di rumah. Maaf kalau aku jarang mengisi bensin motor.
Maaf kalau aku suka mengeluh soal uang jajan yang kurang.
Di
balik itu semua, aku sayang ibuk. Agak canggung ketika ingin berkata ini
langsung, jadi aku hanya akan mengatakannya di blog. Aku tahu ibuk tidak akan
membaca blogku. Tapi Allah tahu. Ibuk akan tahu. Tanpa kata-kata, ibuk dan aku
sama-sama tahu kan?
Kita
saling menyayangi.
Terimakasih
untuk 17 tahunnya, semoga ada puluhan tahun lagi untuk kita berempat—ibuk,
ayah, aku, dan si nakal yang mulai punya pacar di kamar sebelah itu.
Terimakasih
karena telah menyayangiku tanpa batas. Terimakasih atas semuanya.
Dari anakmu yang paling cantik—karena memang satu-satunya anak
perempuanmu
El