Saturday, 19 October 2013

High School Diaries #6; Jadi Dewasa



3 minggu tanpa menulis. Hebat aku bisa bertahan hidup selama itu...
Jadi, ada kejadian apa saja 3 minggu ini? Oh, banyak sekali. Yang paling membuatku stress adalah kenyataan kalau Senin besok adalah pekan UTS.
Pekan UTS.
Pekan UTS.
*Ceritanya si ‘Pekan UTS’ ini bergema di otakku*
Entah aku yang memang makin malas, atau aku merasa sudah terlalu pintar, tapi sepertinya kenyataan bahwa dua hari lagi UTS sama sekali tidak merubah gaya belajarku. Aku tetap belajar HANYA kalau ada PR. Seluruh kegiatan belajar kusubtitusikan dengan les. Tidurku makin malam karena sore dan malam termakan kursus, kemudian aku makin gemuk karena...

12 September; Analogi Pagi



12 September 2012
Aku suka pagi sejuk
Dan kemudian aku suka kamu
Lembut menyesap dalam otakku
Dan kemudian aku teringat kamu
Kabut tipis membersihkan pandanganku
Dan kemudian kubayangkan kamu
Bisik halus terdengar di telingaku
Dan kemudian kudengar kamu
Pagi sejuk selalu meretas memoriku tentangmu
Jadi aku suka kamu.
***
12 September 2013
Aku benci pagi sejuk
Dan kemudian aku benci kamu
Dingin menyesap dalam otakku
Dan kemudian bekulah kenanganmu
Kabut tipis menghalangi pandanganku
Dan kemudian kau butakanku
Bisik halus membising telingaku
Dan kemudian kuhindari suaramu
Pagi sejuk mengacaukan fantasiku tentangmu
Jadi aku benci kamu.

Sunday, 6 October 2013

Bukan Barbie

Dulu ketika aku masih kecil, ada bendera kuning berkibar di depan rumahku. Kemudian aku bertanya pada ibuku apa yang terjadi, dan beliau menjawab bahwa ada orang dipanggil Tuhan.
“Kenapa dia dipanggil Tuhan?” tanyaku lagi.
“Karena Tuhan sudah merindukannya.” Jawab beliau, “ia orang baik.”
“Jadi, orang meninggal karena Tuhan merindukannya?”
“Tentu.”
Tapi berpuluh tahun kemudian, aku tahu jawaban ibuku tidak sepenuhnya benar.  Karena suatu hari aku terbangun tanpa raga padahal semalam baru saja kutampar ibuku keras-keras, kudorong wanita tua itu hingga menabrak tembok, lalu kutinggalkan tanpa peduli keadaan dan perasaannya.
Tuhan tidak akan merindukan gadis seperti itu, bukan?
Jadi ketika tanahku terasa lebih sempit dari seharusnya, saat liangku terasa lebih gelap dari pejaman mataku, aku tahu bahwa ini janji Tuhan.
***
Manusia merencanakan banyak hal. Sejak kecil guru TK sudah mengajariku untuk mengenal cita-cita. Guru TK bermuka sok ramah itu pernah menanyaiku apa yang ingin kulakukan saat nanti sudah dewasa.
Dengan bangga kujawab aku ingin menjadi Barbie dan menikah dengan pangeran tampan.
Lalu guruku memberi pengertian bahwa aku tidak bisa menjadi Barbie, karena Barbie tidak nyata. Guruku memberi gambaran tentang banyak hal yang bisa kulakukan saat aku dewasa; menjadi dokter, menjadi presiden, menjadi pramugari, menjadi guru...
Tetapi aku tetap bersikeras menjadi Barbie.
Kemudian di rumah ibuku bertanya aku ingin menjadi apa, dan kujawab aku ingin menjadi Barbie.
Dengan lembut beliau mengusap rambutku dan berkata, “kamu tidak perlu menjadi Barbie. Kamu bahkan lebih cantik daripada Barbie. Barbie-lah yang ingin menjadi kamu.”
“Terus aku harus jadi apa?”
“Terserah kamu. Apa yang kamu sukai?”
“Aku suka lihat Barbie! Mereka cantik-cantik. Aku suka Barbie.”
“Hmm...” ibuku tersenyum welas asih, “Barbie mana yang kamu suka?”
“Yang bisa nyanyi.”
Oke. Hampir semua Barbie bisa bernyanyi. Aku bodoh sekali.
“Kalau begitu...” ibuku sok berpikir, “jadi penyanyi saja!”
“Ah, iya!” aku ikut girang, “saat dewasa nanti, aku mau jadi penyanyi!”
Ibuku hanya tersenyum.
“Kalau ibu? Ibu mau jadi apa?” tanyaku balik.
“Ah? Ibu sudah dewasa. Sudah tidak pantas lagi memikirkan hal itu.”
“Kalau begitu... dulu ibu mau jadi apa?”
“Apa ya? Dulu ibu mau jadi dokter.”
“Tapi kenapa sekarang ibu bukan dokter? Kenapa ibu jadi ibuku? Jadi aku bukan rencana ibu?”
Ibuku menghela nafas, “manusia selalu punya rencana, sayang. Tapi pada akhirnya Tuhan yang menentukan.”
“Apa ibu berencana membuatku ada tanpa ayah?”
Mata ibu melebar sebentar, kemudian dengan hati-hati beliau menjawab, “tentu saja tidak.”
“Kalau begitu... itu keputusan Tuhan?”
Sepertinya aku mengatakan hal yang sangat salah. Karena di detik itu juga air mata ibuku langsung menetes hingga deras
***
Ibuku banyak berbohong.
Ketika aku SD, aku pernah pulang sekolah dan menangis karena teman-teman mengejek rambut keriting dan kulitku yang hitam. Kata mereka aku jelek.
 “Tentu saja tidak. Kamu sangat cantik.” Bela ibuku setelah aku bercerita.
“Tapi mereka bilang aku jelek, tidak seperti Barbie. Mana ada Barbie berkulit hitam dan berambut keriting? Padahal aku ingin jadi Barbie!”
 Ibuku menghela nafas sabar, lalu beranjak pergi. Tak lama kemudian, beliau membawakan gambar Barbie berkulit hitam dan berambut keriting. Barbie itu menggunakan headband dan kalung aneh di lehernya, serta anting besar yang aneh juga.
“Tuh, siapa bilang tidak ada? Ada kok, yang berambut keriting dan berkulit hitam.” Kata ibuku.
“Tapi... kok aku tidak pernah lihat? Kok tidak pernah ada di TV?”
“Soalnya ini Barbie paling mahal di dunia. Ini kan Barbie paling bagus.” Jawab ibuku. Aku hanya mengangguk takjub, kemudian menyeka air mataku.
Yang waktu itu tidak kuketahui adalah, Barbie itu adalah Barbie versi Afrika Selatan. Pantas saja susah mendapatkannya di sini.
Ibuku berbohong.
***
Dan aku ingat, malam itu ibuku juga berbohong.
Ketika beliau menolak keras keinginanku untuk menjadi penyanyi.
“Tapi ibu sendiri yang menyarankanku untuk menjadi penyanyi!” bentakku penuh amarah, “sekarang ibu melarangku? Maksud ibu apa?!”
“Ibu tidak mau kamu berhenti sekolah hanya untuk menjadi penyanyi! Keliling cafe sana sini, padahal belum tentu kamu berhasil? Memang kamu merasa suaramu begitu bagus? Sejak kecil semua orang juga tahu kamu tidak bisa menyanyi!”
“Tapi ibu selalu mengiyakan semua cita-citaku! Ibu bilang aku bisa menjadi penyanyi seperti Barbie!”
“Kamu terlalu lama menjadi anak kecil! Hidup ini bukan dunia Barbie, kapan kamu bisa mengerti?! Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu bukan Bar—“
Entah dorongan darimana, kutampar ibuku dan kudorong hingga jatuh menatap tembok. Tanpa peduli lagi, aku langsung pergi sejauh mungkin meninggalkan rumah. Meninggalkan orang tua yang tak berhasil menjadikanku wanita dewasa.
Lalu tanpa tahu detilnya, tubuhku tertabrak keras oleh sesuatu.
***
Aku bukan Barbie, akhirnya aku tahu.
Tetapi terlambat. Aku tidur sendiri di tanah basah, kesakitan, dan tak berhasil memanggil-manggil ibuku.
Ibu, aku bukan Barbie...
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com