Sunday, 1 September 2013

High School Diaries #3: Arti Sahabat

Dulu ayahku selalu bilang, “di dunia ini nggak ada yang namanya sahabat.”
Di dalam hati aku selalu menyangkalnya meskipun aku tahu itu benar. Aku cuma tidak mau berhenti percaya bahwa aku punya satu orang terpercaya di dunia ini, padahal aku sering sekali bermasalah karena paradigmaku soal sahabat. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah si sahabat itu sendiri sih. Tetapi karena keegoisanku juga.
Dulu sewaktu SD, aku punya teman dekat yang sangat baik. Kemana-mana kami selalu bersama. Sampai akhirnya ada seorang murid baru yang jauh lebih menyenangkan dariku sehingga teman dekatku itu lebih memilih untuk bermain dengan si anak baru. Aku bete setengah mati. Sejak saat itu hubungan kami renggang meskipun kami tetap keep in touch sampai sekarang. Tetapi intinya adalah; misi mencari sahabat gagal total.
Lalu sewaktu SMP, aku punya Acha. She’s so damn gorgeous. Berteman dengannya sama dengan mendobel-jelekkan diriku sendiri. Ia cantik, multi talent, dan menyenangkan bagi siapapun. Sedangkan aku seratus persen kebalikannya. Satu-satunya hal yang menyatukan kami adalah manga. Selera manga kami hampir sama. Tetapi dari satu hal itu saja nyatanya mampu membuatku benar-benar ‘bersama’ dengannya.
Aku merasa hubunganku dengan Acha lebih dekat daripada dengan teman SD-ku dulu. Kami saling berbagi rahasia, kami banyak bertengkar kemudian berbaikan lagi, kami sempat berebut cowok dan akhirnya malah semakin dekat dan semakin saling mengerti.
Tetapi setelah kami lulus dan beda sekolah nyatanya kami malah hampir berasa dua orang asing. Guyonan kami tidak sama lagi. Bahkan terkadang aku berharap agar waktu lekas berlalu saat ia main ke rumahku. Aku terkadang malas mendengar ia dan seluruh cerita soal sekolah supernya itu sementara aku sendiri tidak punya hal asyik untuk diceritakan mengenai sekolahku.
Oh well, aku dapat sekolah negeri, kok. SMA 2. Sekolah termiris yang pernah aku masuki. Di kotaku yang super panas, sekolah tak berpohon ini jelas menjadi secuil neraka bagi para murid. Apalagi di jaman super canggih ini, sekolahku malah tidak menyediakan fasilitas pendingin ruangan sama sekali. Ah, sudahlah. Fokus.
Jadi intinya… aku menimbang-nimbang apakah Acha-lah yang bisa kupanggil sahabat.
Antara ya, dan tidak.
Di kelas sepuluh, aku punya teman akrab. Namun ia berubah sejak Negara Api menyerang lolos audisi anggota OSIS. Dan bahkan ia—tanpa bertanya dulu—pindah duduk ke teman sesame OSIS-nya! Sejak itu kami tidak akrab lagi.
Dan sejak itu pula aku tidak percaya lagi embel-embel bernama sahabat.
***
Dia Atha. Ya, namanya mirip Acha. Menurutku pribadi dia juga jelmaan dari The Beauty Acha, hanya saja ia versi boyish-nya. Atha adalah anak distro sejati. Semua koleksi branded-nya tidak ada yang KW. Baginya, lebih baik tidak berganti baju setahun daripada membeli barang branded KW. Daripada cantik, ia malah tampan. Mulai dari gaya rambut sampai gaya sepatunya benar-benar cowok. Yang menarik, ia memang boyish tanpa dibuat-buat. Ia tidak sok jantan atau apa, melainkan sikap gentleman-nya kadang-kadang keluar dengan sendirinya. Bahkan jangan-jangan ia tidak sadar kalau ia seperti pria karena sikapnya itu terlalu polos—sebelum aku datang dan mengacaukan otaknya.
Meskipun satu sekolah, tapi aku pertama kali menyadari kehadiran Atha di hari pertama kelas sebelas. Seperti biasa, aku selalu kesulitan mendapatkan teman di hari pertama—kan ada pembagian IPA/IPS, jadi kelasnya ganti lagi. Yang pernah SMA paham, kan? Sementara aku celingukan mencari bangku karena semua teman kelas sepuluh-ku sudah punya pasangan duduk, di pojok sendiri ada seorang cewek garang sedang mengutak-atik ponselnya. Ia duduk sendiri dan sepertinya tidak terganggu dengan keadaan itu. Aku menghampirinya.
“Permisi, aku duduk sini boleh?” tanyaku ragu. Dalam hati aku takut bahwa dia sebenarnya lesbian.
Ia melirikku sedikit, kemudian tersenyum formal sambil meletakkan ponselnya, “oke.”
Aku duduk di sebelahnya. Dalam beberapa menit terjadi keheningan janggal.
“Engg… Aku Atha.” Ia menjulurkan tangannya.
 “Oh, Aku El. X-1.”
“Halo, El.”
“Halo, Atha.”
Lalu hening lagi.
“Udah kenal sama yang lain?” tanyanya.
“Belum, kecuali yang pernah sekelas sama aku dulu.” Jawabku, “kamu?”
“Aku cuma tau, tapi nggak kenal,” sungutnya, “temen sekelasku dulu banyak yang IPS sih.”
“Mending kamu. Aku nggak tahu sama sekali. Oke, kecuali anak OSIS yang di depan itu. Sama anak Paskib di sebelahnya.”
“Lho? Kamu nggak tahu anak yang duduk di tengah itu?”
“Ah?” aku mengamati gadis Chinesse cantik yang ditunjuk Atha, “enggak tuh. Memangnya dia siapa? Ikut ekskul apa?”
“Bukan soal itu. Dia kembar, tau. Kembarannya ada di kelas sebelah. Masa kamu nggak tau?”
“Hah? Serius? Kembar?”
“Iya. Dia itu—“ dan kemudian Atha bercerita panjang lebar mengenai hampir semua anak di kelas baruku. Detik itu juga aku tahu kalau pergaulannya cukup luas—tidak sepertiku yang keluar kelas hanya untuk istirahat, sholat, dan pulang. Dia punya banyak cerita lucu. Dan dia tidak membuatku menguap saat bercerita.
Aku langsung tahu bahwa kepribadiannya juga mirip Acha. Lalu aku mendadak takut insidenku dan Acha akan terulang lagi.
Kali ini aku tidak boleh percaya tentang omong kosong bernama sahabat.
***
On the way Bali, tiga bulan yang lalu.
“Aduh!” sesuatu yang keras—kurasa botol minuman—terjatuh mengenai pelipisku dengan keras saat bus mengerem mendadak. Kepalaku jadi serasa berputar dan sekitar mataku berasa perih.
“Lho, El?” Atha yang duduk di sebelahku langsung tanggap mengecek pelipisku, “duh itu siapa sih yang naruh botol! Kamu nggak pa-pa?”
“Sakit, bego!” jawabku pura-pura geram. Pertanyaan itu retoris sekali sih.
“Iya iya tau. Sini aku liat.” Ia membuka tanganku yang menutupi pelipis dan langsung terdiam sebentar saat melihat mataku basah, “lho, El? Yah, nangis.”
“Dibilangin sakit juga.” Aku makin menggerutu. Air mataku mengalir deras tanpa bisa kukendalikan karena perih di sekitar mataku makin menjadi. Kurang lebih seperti air mata yang mengalir ketika mbak-mbak tukang facial mengeruk sekitaran hidungmu dengan pinset—atau apapun itu namanya—untuk menghilangkan komedo.
“Oh, kirain gara-gara Ganes.” Tanggap Atha kalem.
Aku makin sebal. Ganes itu beda cerita.
“Lho, El? Bengkak. Bentar deh.” Atha mengeluarkan minyak kayu putih dan mengolesi sekitaran pelipisku dengan lembut, “nanti botol-botolnya dipindah aja deh biar nggak jatuh ke kamu lagi.”
Aku tercenung. Berusaha mengingat kapan Acha sepeduli ini terhadapku. Aku mungkin begitu pelupa karena aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.
“Udahlah dipake tidur aja.” Sarannya lagi sambil memindahkan botol-botol minuman itu.
“Dibahumu ya, Tha?” rajukku sok manja sambil setengah tertawa.
“Ogah! Aku tau kamu jomblo, tapi please jangan semenjijikkan itu!” ia melengos sebal. Tawaku makin jadi.
Nyatanya sepanjang perjalanan aku tertidur di bahu Atha. Dan ia sama sekali tidak membangunkanku meskipun bahunya kesemutan.
***
“Makanya aku aja yang nyetir!” Atha menarik kerahku sebal dan setengah berteriak ke telingaku.
“Nggak usah macem-macem! Aku lagi nyetir!” aku tetap sok fokus ke jalanan Surabaya yang padat.
“Tapi kita udah muter-muter daerah ini tiga kali, El! Tiga kali!” ia nyaris muntab—haha, cuek.
Aku tetap pasang muka keren di balik kemudi. Hari itu aku dan Atha sedang hangout­ berdua mencari buku pelajaran.
“El, stop!”
“Nggak mau, Tha! Diem deh, aku nyetir!”
“EEEEEEL!!!”
“THAAAAAA!!!”
Kemudian tanpa alasan kami tertawa. Tertawa karena keegoisanku, dan tertawa karena emosi Atha yang meluap. Pokoknya kami tertawa.
Dear, Ayah. Aku belum tahu apakah sahabat itu ada. Tapi setidaknya aku punya banyak teman yang bisa membuatku bahagia.

El, anakmu.

No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com