Dulu ayahku
selalu bilang, “di dunia ini nggak ada yang namanya sahabat.”
Di dalam hati
aku selalu menyangkalnya meskipun aku tahu itu
benar. Aku cuma tidak mau berhenti percaya bahwa aku punya satu orang
terpercaya di dunia ini, padahal aku sering sekali bermasalah karena
paradigmaku soal sahabat. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah si sahabat itu sendiri sih. Tetapi karena
keegoisanku juga.
Dulu sewaktu SD,
aku punya teman dekat yang sangat baik. Kemana-mana kami selalu bersama. Sampai
akhirnya ada seorang murid baru yang jauh lebih menyenangkan dariku sehingga
teman dekatku itu lebih memilih untuk bermain dengan si anak baru. Aku bete
setengah mati. Sejak saat itu hubungan kami renggang meskipun kami tetap keep in touch sampai sekarang. Tetapi
intinya adalah; misi mencari sahabat gagal total.
Lalu sewaktu
SMP, aku punya Acha. She’s so damn
gorgeous. Berteman dengannya sama dengan mendobel-jelekkan diriku sendiri.
Ia cantik, multi talent, dan menyenangkan bagi siapapun. Sedangkan aku seratus
persen kebalikannya. Satu-satunya hal yang menyatukan kami adalah manga. Selera
manga kami hampir sama. Tetapi dari satu hal itu saja nyatanya mampu membuatku
benar-benar ‘bersama’ dengannya.
Aku merasa
hubunganku dengan Acha lebih dekat daripada dengan teman SD-ku dulu. Kami saling
berbagi rahasia, kami banyak bertengkar kemudian berbaikan lagi, kami sempat
berebut cowok dan akhirnya malah semakin dekat dan semakin saling mengerti.
Tetapi setelah
kami lulus dan beda sekolah nyatanya kami malah hampir berasa dua orang asing.
Guyonan kami tidak sama lagi. Bahkan terkadang aku berharap agar waktu lekas
berlalu saat ia main ke rumahku. Aku terkadang malas mendengar ia dan seluruh
cerita soal sekolah supernya itu sementara aku sendiri tidak punya hal asyik
untuk diceritakan mengenai sekolahku.
Oh well, aku dapat sekolah negeri, kok. SMA
2. Sekolah termiris yang pernah aku masuki. Di kotaku yang super panas, sekolah
tak berpohon ini jelas menjadi secuil neraka bagi para murid. Apalagi di jaman
super canggih ini, sekolahku malah tidak menyediakan fasilitas pendingin
ruangan sama sekali. Ah, sudahlah. Fokus.
Jadi intinya…
aku menimbang-nimbang apakah Acha-lah yang bisa kupanggil sahabat.
Antara ya, dan
tidak.
Di kelas
sepuluh, aku punya teman akrab. Namun ia berubah sejak Negara Api menyerang lolos
audisi anggota OSIS. Dan bahkan ia—tanpa bertanya dulu—pindah duduk ke teman sesame
OSIS-nya! Sejak itu kami tidak akrab lagi.
Dan sejak itu
pula aku tidak percaya lagi embel-embel bernama sahabat.
Dia Atha. Ya,
namanya mirip Acha. Menurutku pribadi dia juga jelmaan dari The Beauty Acha, hanya saja ia versi boyish-nya. Atha adalah anak distro
sejati. Semua koleksi branded-nya
tidak ada yang KW. Baginya, lebih baik tidak berganti baju setahun daripada
membeli barang branded KW. Daripada
cantik, ia malah tampan. Mulai dari
gaya rambut sampai gaya sepatunya benar-benar cowok. Yang menarik, ia memang boyish tanpa dibuat-buat. Ia tidak sok
jantan atau apa, melainkan sikap gentleman-nya
kadang-kadang keluar dengan sendirinya. Bahkan jangan-jangan ia tidak sadar
kalau ia seperti pria karena sikapnya itu terlalu polos—sebelum aku datang dan
mengacaukan otaknya.
Meskipun satu
sekolah, tapi aku pertama kali menyadari kehadiran Atha di hari pertama kelas
sebelas. Seperti biasa, aku selalu kesulitan mendapatkan teman di hari pertama—kan
ada pembagian IPA/IPS, jadi kelasnya ganti lagi. Yang pernah SMA paham, kan?
Sementara aku celingukan mencari bangku karena semua teman kelas sepuluh-ku
sudah punya pasangan duduk, di pojok sendiri ada seorang cewek garang sedang
mengutak-atik ponselnya. Ia duduk sendiri dan sepertinya tidak terganggu dengan
keadaan itu. Aku menghampirinya.
“Permisi, aku
duduk sini boleh?” tanyaku ragu. Dalam hati aku takut bahwa dia sebenarnya
lesbian.
Ia melirikku
sedikit, kemudian tersenyum formal sambil meletakkan ponselnya, “oke.”
Aku duduk di
sebelahnya. Dalam beberapa menit terjadi keheningan janggal.
“Engg… Aku Atha.”
Ia menjulurkan tangannya.
“Oh, Aku El. X-1.”
“Halo, El.”
“Halo, Atha.”
Lalu hening
lagi.
“Udah kenal sama
yang lain?” tanyanya.
“Belum, kecuali
yang pernah sekelas sama aku dulu.” Jawabku, “kamu?”
“Aku cuma tau,
tapi nggak kenal,” sungutnya, “temen sekelasku dulu banyak yang IPS sih.”
“Mending kamu.
Aku nggak tahu sama sekali. Oke, kecuali anak OSIS yang di depan itu. Sama anak
Paskib di sebelahnya.”
“Lho? Kamu nggak
tahu anak yang duduk di tengah itu?”
“Ah?” aku
mengamati gadis Chinesse cantik yang
ditunjuk Atha, “enggak tuh. Memangnya dia siapa? Ikut ekskul apa?”
“Bukan soal itu.
Dia kembar, tau. Kembarannya ada di kelas sebelah. Masa kamu nggak tau?”
“Hah? Serius?
Kembar?”
“Iya. Dia itu—“
dan kemudian Atha bercerita panjang lebar mengenai hampir semua anak di kelas
baruku. Detik itu juga aku tahu kalau pergaulannya cukup luas—tidak sepertiku
yang keluar kelas hanya untuk istirahat, sholat, dan pulang. Dia punya banyak
cerita lucu. Dan dia tidak membuatku menguap saat bercerita.
Aku langsung
tahu bahwa kepribadiannya juga mirip Acha. Lalu aku mendadak takut insidenku
dan Acha akan terulang lagi.
Kali ini aku
tidak boleh percaya tentang omong kosong bernama sahabat.
***
On the way Bali, tiga bulan yang lalu.
“Aduh!” sesuatu
yang keras—kurasa botol minuman—terjatuh mengenai pelipisku dengan keras saat bus
mengerem mendadak. Kepalaku jadi serasa berputar dan sekitar mataku berasa
perih.
“Lho, El?” Atha
yang duduk di sebelahku langsung tanggap mengecek pelipisku, “duh itu siapa sih
yang naruh botol! Kamu nggak pa-pa?”
“Sakit, bego!”
jawabku pura-pura geram. Pertanyaan itu retoris sekali sih.
“Iya iya tau.
Sini aku liat.” Ia membuka tanganku yang menutupi pelipis dan langsung terdiam
sebentar saat melihat mataku basah, “lho, El? Yah, nangis.”
“Dibilangin
sakit juga.” Aku makin menggerutu. Air mataku mengalir deras tanpa bisa
kukendalikan karena perih di sekitar mataku makin menjadi. Kurang lebih seperti
air mata yang mengalir ketika mbak-mbak tukang facial mengeruk sekitaran hidungmu dengan pinset—atau apapun itu
namanya—untuk menghilangkan komedo.
“Oh, kirain
gara-gara Ganes.” Tanggap Atha kalem.
Aku makin sebal.
Ganes itu beda cerita.
“Lho, El?
Bengkak. Bentar deh.” Atha mengeluarkan minyak kayu putih dan mengolesi
sekitaran pelipisku dengan lembut, “nanti botol-botolnya dipindah aja deh biar
nggak jatuh ke kamu lagi.”
Aku tercenung.
Berusaha mengingat kapan Acha sepeduli ini terhadapku. Aku mungkin begitu
pelupa karena aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.
“Udahlah dipake
tidur aja.” Sarannya lagi sambil memindahkan botol-botol minuman itu.
“Dibahumu ya,
Tha?” rajukku sok manja sambil setengah tertawa.
“Ogah! Aku tau
kamu jomblo, tapi please jangan
semenjijikkan itu!” ia melengos sebal. Tawaku makin jadi.
Nyatanya
sepanjang perjalanan aku tertidur di bahu Atha. Dan ia sama sekali tidak
membangunkanku meskipun bahunya kesemutan.
***
“Makanya aku aja
yang nyetir!” Atha menarik kerahku sebal dan setengah berteriak ke telingaku.
“Nggak usah
macem-macem! Aku lagi nyetir!” aku tetap sok fokus ke jalanan Surabaya yang
padat.
“Tapi kita udah
muter-muter daerah ini tiga kali, El! Tiga kali!” ia nyaris muntab—haha, cuek.
Aku tetap pasang
muka keren di balik kemudi. Hari itu aku dan Atha sedang hangout berdua mencari buku pelajaran.
“El, stop!”
“Nggak mau, Tha!
Diem deh, aku nyetir!”
“EEEEEEL!!!”
“THAAAAAA!!!”
Kemudian tanpa
alasan kami tertawa. Tertawa karena keegoisanku, dan tertawa karena emosi Atha
yang meluap. Pokoknya kami tertawa.
Dear, Ayah. Aku belum tahu apakah
sahabat itu ada. Tapi setidaknya aku punya banyak teman yang bisa membuatku
bahagia.
El, anakmu.
No comments:
Post a Comment