Wednesday, 15 May 2013

Ibu: "Jangan jadi wanita agresif. Jangan menyukai lelaki lebih dulu. Nanti harga dirimu diinjak injak oleh lelaki itu."
Aku: "Terkadang 'suka' membuat orang melupakan harga dirinya, Bu."

Monday, 13 May 2013

Seperti Salman Al Farisy


Hai, kamu.
Suatu malam, seorang teman mendongengi saya. Tentang seorang sahabat Nabi bernama Salman Al-Farisy. Ia adalah seorang pemuda yang begitu baik budinya.
Dan suatu saat, ia jatuh cinta pada seorang wanita yang cantik paras serta lakunya.
Didorong keyakinan, ia membelikan mahar dan berencana melamar wanita itu dengan mengajak Abu Daud, sepupunya. Kedua pria itu datang ke rumah si wanita dan menyampaikan itikad baik Al Farisy.
Namun, apa yang terjadi?
Wanita itu keluar dari kamarnya, berkenalan dengan dua pria itu, dan pada akhirnya memilih Abu Daud sebagai suaminya.
Ironis.
Dan coba tebak, apa yang Salman Al Farisy lakukan?
Tersenyum, memberikan mahar itu kepada Abu Daud, dan mendoakan agar pasangan sejoli itu bahagia.
***
Saya iri pada Salman Al Farisy; darimana ia mendapatkan ketegaran sekokoh itu? Bagaimana caranya ia bisa tetap tersenyum, padahal baru saja kehilangan wanita idamannya yang diambil sepupunya sendiri? Mengapa saya tida bisa seperti itu?
Coba bandingkan dengan saya sekarang yang malah menyalahkan pihak ‘perebut’—ah, tidak. Tidak ada yang merebut dan direbut. Ini hidup, dan itu cinta mereka. Saya tidak berhak mengatur siapa-menyukai-siapa hanya karena orang itu berstatus ‘teman sejak kecil’ saya. Saya tidak mau mempeributkan nonsense seperti itu.
Saya harus setegar Salman.
Karena, oke, saya menyukaimu. Saya benci melihatmu dengan wanita lain. Tetapi saya tidak punya hak untuk mengatur hidupmu.
Dan kamu tahu? Detik saat kamu menunjukkan senyum terbaik, terbebas, dan terhebatmu di hadapan wanita itu, saya mengaku kalah.
Saya tidak akan bisa memberimu senyum selebar itu, sekuat apapun usaha saya.
Juga ternyata, ada kebahagiaan kecil yang menyelinap di hati saya saat melihatmu sebegitu gembira.
Oh, begini toh rasanya bahagia bila yang kita sayangi bahagia. Aku baru tahu kalau rasanya lumayan juga... meskipun getir yang mendominasi.
Tetapi percayalah. Saat seseorang meninggalkan kita, itu artinya kita tidak cukup baik untuknya.
Atau, dia yang tidak cukup baik untuk kita.
Dan pada akhirnya nanti, layaknya Salman Al Farisy, ada pengganti yang jauh lebih melebarkan tawa di balik bukit; kalau kita tetap berusaha menunggu barang lebih lama lagi.

Wednesday, 8 May 2013

Yang ingin saya pertanyakan satu; untuk apa semua kenangan tercipta jika pada akhirnya harus dilupakan? Saya mendadak merasa bodoh karenamu. Sepertinya kamu adalah sejenis kesalahan... kesalahan termanis yang pernah saya tangisi.

Thursday, 2 May 2013

Acara Lepas Melepas


Halo dunia, hari ini saya resmi membuang semua yang telah menjadi alasan saya untuk berdiri tegak sampai sekarang.
Pertama, saya melepaskan sahabat saya. Sahabat akrab saya. Sahabat dekat saya. Saya merasa sekarang dia sudah menjadi sosok yang tidak bisa saya deteksi lagi. Jadi saya memutuskan untuk membiarkannya terjun bebas ke dunianya yang baru. Dunia yang tidak bisa saya jangkau dengan status saya sekarang. Saya telah mempersiapkan diri untuk hal terburuk;  sendirian.
Kedua, saya membuang diary saya. Tempat dimana saya mencurahkan segala perasaan saat sedang gladi resik untuk melepaskan sahabat saya. Akhirnya perasaan itu berceceran, menghilangkan bekas yang tidak bisa saya halau lagi. Saya telah mempersiapkan diri untuk hal terburuk; otak sesak.
Ketiga, dan ini yang paling membuat saya gila, saya memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada lelaki favorit saya. Saya menjadi penggemar beratnya selama berbulan-bulan—yang rasanya sudah seperti berabad-abad. Tetapi, dari banyak penggemarnya, sayalah yang paling ia coba hindari. Karena saya mulai sadar diri, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari klub penggemarnya, dan menjalani hari-hari saya seperti biasa lagi. Ia tidak terlihat kehilangan apapun, jadi saya rasa ia cukup nyaman tanpa kehadiran saya. Padahal, andai dia tahu, saya masih tetap mengagumi dia, meskipun tidak segerilya sebelumnya (haha). Saya telah mempersiapkan diri untuk hal terburuk; dilupakan.
Semua ini membuat saya sadar kalau hidup saya memang bukan sinetron. Saya hanya seorang gadis biasa, dengan tampang biasa, otak biasa, kehidupan biasa-biasa saja. Saya harus membuat diri saya senyaman mungkin dengan keadaan super biasa ini. Saking biasanya saya, saya merasa ini bukan hidup. Sepertinya saya hanyalah ampas Tuhan saat membuat orang-orang luar biasa di luar sana.
Jadi, saya tidak mengharapkan hidup yang luar biasa. Ketiga hal di atas ternyata membuat segalanya menjadi luar biasa, dan sepertinya itu bukan kodrat saya sebagai ampas. Ketiga hal di atas lambat laun akan meninggalkan saya dan me-luar biasa-kan kehidupan orang lain. Saya hanya bisa berdoa dari kejauhan, agar ketiga hal di atas bisa bahagia—seperti yang susah mereka dapatkan saat ada saya. Maaf dan terimakasih. Kalian luar biasa!
Salam.

PA-RA-DIG-MA


Kadang-kadang saya merasa menjadi yang tertolak di dunia saya sendiri
Hari ini saya duduk di tengah hingar-bingar manusia
Padahal saya sendirian, absolut.
Saya tidak punya jalan kembali, karena tempat saya ‘kembali’ memang tidak pernah saya masuki
Saya hanya berjalan, sendirian, dan tidak ada yang berusaha menghentikan langkah saya
Mau tidak mau saya harus terbiasa bukan?
Mendapatkan rasa sakit yang lebih daripada orang lain, sejujurnya saya tidak berniat begitu
Tapi percayalah, dunia tidak pernah memihak, sayang
Dunia itu buta, percayalah.
Pernah melihat orang yang berusaha keras namun gagal?
Pernah melihat orang yang tanpa banyak kerja namun tetap bergelimang uang?
Itu karena bumi ini tidak tahu mana yang seharusnya gagal dan seharusnya berhasil
Akhirnya semua orang di dunia ini berada pada satu paradigma
Lamat-lamat mereka akan sadar bahwa percuma mereka hidup,
Jika mereka tidak berada di pihak bumi.
Jika mereka tidak disayangi Si Pemilik Bumi.
Ngomong-ngomong, mengapa saya begitu sendirian?
Jangan-jangan Si Pemilik Bumi belum mau menyentuh kehidupan saya
Jangan-jangan Si Pemilik Bumi masih sibuk dengan jutaan manusia lainnya
Saya tidak tersentuh oleh Dia, sungguh...
Kadang-kadang, saya bosan sendirian
Hai, Pemilik Bumi, mau menemani saya jalan-jalan?

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com