Tuesday, 30 October 2012
Wednesday, 24 October 2012
Obsesi
Dia melirik jam
dinding di tangannya. Lima menit lagi, pikirnya, lima menit lagi kulepas rinduku padamu,
Tuan Putri.
Sudah sepuluh
tahun ia seperti itu. Dua kali sehari; pagi pukul tujuh saat Tuan Putri
berangkat sekolah, pukul tiga sore saat Tuan Putri pulang sekolah. Juga di hari
senin, rabu, dan jumat, pukul tujuh malam saat Tuan Putri kursus bahasa
Inggris. Lelaki empat puluh tahun itu selalu memandangi Tuan Putri-nya dari
jauh. Jauh, tanpa tersentuh. Ia cukup sadar diri. Lelaki kepala empat normal
macam apa yang tidak menikah selama sepuluh tahun hanya karena jatuh cinta pada
seorang gadis yang jarak umurnya 25 tahun dengannya?
Tetapi satu hal
yang lelaki itu pahami; ia jatuh cinta setengah mati.
Gadis itu
begitu memiliki pikat sihir yang kuat. Dengan rambut bergelombang sebahunya
yang indah, badan mungil nyaris rata namun menggugah adrenalin setiap pria,
wajah imut yang selalu menyunggingkan senyum berlesung pipit, bulu mata lentik
yang menimbulkan rasa penasaran itu...
Lelaki ini
jatuh cinta.
Umur? Oh, tidak
masalah. Cinta itu buta kok. Tidak ada masalah. Karena selama ini ia hanya
bercumbu maya. Tidak, Tuan Putri bahkan tidak mengenalinya. Ia tidak pernah
menampakkan bayangannya.
Ia ingin
melihat Tuan Putri tumbuh dewasa... menunggu sinar kecantikan yang akan
ditampilkannya. Menunggu senyum kekanakan itu menjadi senyum penuh wibawa.
Dia jatuh cinta
setengah mati padanya, Tuan Putri itu. Dan sepuluh tahun bukan waktu yang
sebentar untuk bertahan dengan cinta miris; cinta bertepuk sebelah tangan.
Lagi-lagi
lelaki itu melirik jam dindingnya. Ah, empat menit lagi. Lelaki itu dengan segera
menaiki tangga menuju atap rumahnya. Dengan tidak sabar ia menghitung setiap
detik demi detik yang berlalu. Tanpa letih sama sekali.
Toh ini telah
ia lakukan selama sepuluh tahun.
Terkadang ia
bertanya pada dirinya. Sia-siakah sepuluh tahunnya ini? Sia-siakah energi yang
ia habiskan untuk menaiki tangga setiap hari hanya untuk melihatnya lewat—itupun
tidak sampai sepuluh detik?
Tapi cinta
telah membuatnya kebal dengan semua jalan pikiran itu. Cinta selalu benar. Hati
tak pernah salah.
Dan suatu hari
nanti, lelaki itu telah berjanji dalam hati akan memperkenalkan dirinya kepada
Tuan Putri.
Omong-omong,
tiga menit lagi.
Tanpa Tuan
Putri sadari, sebenarnya lelaki itu telah melakukan berbagai cara untuk
mendekatinya—atau paling tidak membuat Tuan Putri tetap sendiri sampai saatnya
lelaki itu memperkenalkan dirinya.
Pernah suatu
ketika ada seorang bocah ingusan—bukan bocah ingusan juga sih. Umurnya lebih
tua setahun dari Tuan Putri—yang mencoba mendekati Tuan Putri. Dalam catatan misinya,
lelaki itu memanggil si bocah ingusan dengan sebutan ‘Bunga’—mengapa Bunga? Mungkin
saking lumpuhnya logika lelaki itu sampai tidak bisa lagi membedakan antara
pria dan wanita.
Awalnya ia
biarkan Bunga mendekati Tuan Putri. Dua kali Bunga ke rumah Tuan Putri. Namun tidak
ada kata tiga kali.
Sebulan lalu,
di malam Minggu, Bunga melewati rumah si lelaki untuk pergi ke rumah Tuan
Putri. Ya, rumah si lelaki merupakan satu-satunya jalan menuju rumah Tuan
Putri. Begitupun sebaliknya.
Hmm... maaf
memutus cerita. Tapi tanpa kita sadari bersama, dua menit lagi Tuan Putri akan
lewat.
Nah, sebulan
lalu lelaki itu menebarkan paku di jalan depan rumahnya. Menunggu Bunga datang.
Otomatis ban sepeda motor matic Bunga pun bocor seketika.
Lelaki itu
tertawa dalam hati begitu tahu betapa bodohnya Bunga.
Dengan akting
yang patut mendapatkan piala Oscar, lelaki itu menawarkan bantuan pada Bunga.
Bunga pun memperayainya. Dituntunlah Bunga ke dalam garasi rumah lelaki itu.
Dan dibunuh. Dengan
pisau yang biasa ia gunakan untuk mencincang daging.
Bunga yang
malang pun tersungkur dengan pisau yang menancap di perutnya. Lalu mati.
Dan hilanglah
satu kutu yang akan mengganggu rencana lelaki itu.
Oke, ini dia.
Tuan Putri akan lewat. Ini saatnya.
Lima.
Empat.
Tiga.
Dua.
Satu.
Lewatlah Tuan
Putri yang baru pulang dari sekolahnya. Dengan baju olahraga yang basah dan
wajah yang bercucuran keringat.
Manis sekali.
Namun...
tunggu! Ada yang berbeda. Bunga tidak pulang sendirian. Ia pulang dengan...
bocah ingusan lain. Tangan mungil Tuan Putri melingkar di pinggang bocah
ingusan itu. Lalu mereka tertawa bersama dengan nada mesra.
Nada mesra yang
memuakkan.
Oke, sang
lelaki kini harus menyingkirkan kutu itu. Ia membuka catatan kecilnya dan
menulis:
Misi kedua: bunuh Mawar.
Saturday, 20 October 2012
Secangkir Cappuccino; Kamu Empat Minggu yang Lalu
Malam minggu.
Tepatnya, malam minggu pertama setelah kamu pergi.
Kuseruput cappuccino di depanku, kuketik rindu di
notebookku.
R.i.n.d.u.
Aku baru tahu bisa sesakit ini. Dahulu lima huruf itu bisa
kuketik dengan senyum. Sekarang?
Senyum kok. Senyum getir.
Karena memang kenangan manis yang kau torehkan di memoriku
berakhir miris.
Dan karena aku terlalu sakit untuk berpindah hati.
Dan karena pasak yang kau tancapkan sudah menusuk terlalu
dalam, membuatku terpatut dalam asa untuk tetap memperjuangkanmu.
Perjuangan yang sia-sia pastinya, semut yang melintas pun
tahu itu.
***
Empat minggu lalu, di lorong-lorong sekolah.
“Kamu lucu.” Waktu itu kau berkata seperti ini.
“Lucu bagaimana?” dan aku balik bertanya seperti ini.
“Lucu membuatku nyaman hanya dengan duduk bersebelahan
selama tiga hari.”
Aku mengernyit, “nyaman?”
“Aku nyaman denganmu.”
Aku girang, namun mulutku menutupinya, “bohong.”
“Kok bohong?”
“Kamu kan player.”
“Player apanya?” kamu merengut, lucu, “ponselku hanya berisi
pesanmu. Suumpah!”
Tentu saja aku tahu. Diam-diam aku selalu mengambil ponselmu
kok.
***
Tiga minggu yang lalu, di tempat yang sama.
“Aku rasa aku menyukaimu.”
Aku melongo. Kehabisan kata-kata. Namun kamu terdiam. Kulirik
kamu dari sudut mataku. Dan ternyata kamu sedang menatap jauh ke melewati
lapangan. Aku jadi ragu kau mengatakan hal itu.
“Kok diam?” kau tetap menghindari tatapanku—seakan aku
sanggup menatap matamu saja!
“Aku bingung.”
“Bingung?”
“Karena tadi kamu masih bilang ‘aku rasa’, itu artinya kamu
belum yakin, kan?”
Kini kau menoleh padaku—oh oke, hentikan saja detak jantung
sialan yang malah berdebar lebih kencang!—dan aku menatapmu juga, takut-takut.
“Mungkin iya. Aku masih ragu.”
Aku menunduk dalam.
“Aku akan mendapatkan jawaban atas perasaanku secepatnya. Mau
menunggu?”
Pasti, batinku saat itu, asal aku mendapat hasil yang
memuaskan.
***
Dua minggu sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku belum juga mendapat kepastian.
***
Satu minggu
sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku melihatmu tertawa lebar dengan wanita lain. Pipiku memanas,
sampai menjalar ke mata. Harus bagaimana ini saat melewatimu? Harus tetap
memasang tampang biasa atau melabrak seperti orang kesetanan atau...
Pilihan pertama lebih baik.
Jadi, aku melewatimu. Kulirik lagi kamu dari sudut mataku. Dan
kamu sama sekali tak memberi respon. Rasanya ingin segera sampai rumah,
menyalakan shower, dan galau semalaman.
Setelah meninggalkan sekolah, aku mengirimimu pesan.
Kau menyukainya? :D
Emoticon yang hipokrit sekali. Beberapa menit kemudian, kamu
membalas
Iya.
Sesingkat itu. Tanpa penjelasan apapun Sabar... kuatkan
hati... hadapi lagi...
Wow! Semoga berhasil
ya. Ganbatte! :D
Dan balasanmu lumayan mengejutkanku,
Kau baik-baik saja?
Dasar idiot.
Sunday, 14 October 2012
The Tale of Hoam Kingdom -13. Back to Black World
Aku menatap Dina tanpa percaya.
“Mengapa diam saja? LARI!”
Bodoh. Mana bisa aku meninggalkan
dia sendirian?
Tiba-tiba pengawal yang disekap
Dina menyentak begitu keras melebihi tenaga Dina untuk menahan. Otomatis ia
nyaris terjengkang jauh. Lalu kedua pengawal itu segera menyekapku lagi dan
Bibi Shab. Kekuatanku sudah terlalu sedikit untuk melawan.
“Mundur, kalau tidak ingin dua
orang ini kami lukai!” aku merasakah sentuhan ujung tajam pisau yang dingin
nyaris menembus kulit leherku. Kini menelan ludah pun aku tak sanggup.
“Apa sih yang kalian inginkan dari
dia?” Dina bertanya seakan pengawal-pengawal brengsek ini adalah teman lamanya,
“kalian bisa mendapatkan yang lebih banyak darinya tanpa perlu bekerja keras
menjaga penjara lagi kalau kalian mau. Hanya dengan sedikit mengancamnya kan?
Dia terlalu lemah untuk melawan.”
Aku diam saja dihina seperti itu.
Kedua pengawal itu berpandangan.
“Apa sih yang bisa kalian dapatkan
dari kerajaan Salju? Hanya emas dan perak sedikit, dan pekerjaan kalian nyaris
24 jam. Setimpalkah? Gunakan otak kalian!”
Hening lagi.
“Kezia, kalau mereka membebaskanmu,
kau sanggup kan membayar mereka seumur hidup?” Dina bertanya santai. Untung aku
tidak terlalu bodoh sehingga sanggup mengikuti alur mainnya.
“Te, tentu.” Jika kerajaanku bisa
bertahan, tentunya.
“Dengar kan? Sekarang gunakan otak
kalian. Solidaritas? Bisakah kalian makan hanya dengan solidaritas? Pikir!”
Aku merasakah sentuhan ujung pisau
itu lebih longgar. Ah... ia lengah.
“SEKARANG!”
Wednesday, 10 October 2012
Kamu, Aku Merindu
Hai kamu. Ya, kamu. Apa kabarmu? Oh, tentu saja baik. Aku
tahu kamu mungkin lebih dari siapapun di dunia ini. Tentu saja aku tahu, aku
memata-mataimu setiap hari tanpa kamu ketahui. Aku seperti orang bodoh yang
melongok ke jendela lima menit sekali hanya untuk melihatmu sosokmu yang
berbicara dan tertawa dari balik tembok, dengan orang lain.
Rasanya sudah seabad ya semenjak kejadian itu. Kejadian
miris yang membuat kita berhenti bermain kucing-kucingan dan menghadapi
kenyataan; kamu punya orang lain dan aku sendirian. Semenjak itu aku tak bisa
melupakanmu, kau tahu? Meskipun setiap hari kuteriakkan pada dunia bahwa kau
munafik, pembohong, dan lainnya. Tapi hati kecilku berkata lain. Hati kecilku
berkata aku masih bisa memilikimu.
Entah dari dasar apa, akupun tak tahu. Namun kebohongan publik yang
kuumbar-umbar malah berbalik menyerangku dan membuatku selalu sakit hati.
Sampai sekarang aku masih sakit hati. Tapi aku tak tahu
siapa yang salah. Aku kah yang salah karena mengharapkanmu berlebihan? Kamu kah
yang salah karena memperhatikanku berlebihan?
Apa iya harus kutanyakan pada rumput yang bergoyang?
Namun aku menyalahkan diriku sendiri. Entah aku bodoh atau
aku benar. Tapi aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya dari awal aku
berpikir, “masa iya kamu menyukaimu? Dari sejarah semua wanita yang pernah kamu
suka, kamu malah menyukaiku? Turun sekali derajatmu!”
Pikiran itu lagi-lagi kembali menerjangku. Pikiran yang
selama ini selalu ku halau. Pikiran bahwa aku... begitu buruk.
Aku berusaha berbaik sangka lho pada Tuhan. Tetapi
kelakuanmu membuat semua jadi berantakan. Aku bisa mati. Aku bisa gila!
Demi langit dan bumi, aku merindu. Kamu.
Rindu yang dilarang. Rindu yang tanpa alasan. Rindu yang
menyesakkan.
Subscribe to:
Comments (Atom)

