Aku dan Kania menoleh
bersamaan, “baiklah. Terimakasih.”
Dayang tua itu segera
berlalu dari hadapan kami.
“Ada apa ya?” Kania
membantu mengikat baju.
“Entahlah. Kau tahu
kan ayah itu susah diduga… eh! Itu terlalu kencang!!” aku menepuk-nepuk
punggungku yang ia ikat sampai nyaris menghancurkan tulang belakangku.
“Oh, maaf.” Kania
nyengir penuh sesal sembari melonggarkan lagi ikatannya dan mengikatnya kembali,
“sip. Selesai.”
“Terimakasih, Kania.”
Aku tersenyum pada saudara kembarku itu. Ya, kami kembar. Ia lahir lima menit
lebih awal dariku.
“Oh, jangan pikirkan.”
Ia tertawa kecil, “ayo!”
Kami bersama-sama
menuju ruang ayah—ah, Paduka maksudku. Entahlah. Aturan kerajaan membuatku
memanggil ‘ayah’ serasa begitu tabu.
“Daulat, Paduka.” Kami
sedikit membungkuk saat menghadap Paduka.
“Kezia, Kania,
kemarilah.” Paduka member isyarat untuk mendekat, “ada yang harus ayah
bicarakan pada kalian.”
Aku dan Kania saling
berpandangan, lalu mendekat. Sontak perasaanku menjadi tidak enak.
“Ada apa, ayah?” tanya
Kania lebih dulu.
“Begini,” kelihatannya
beliau sedang mencari kata-kata yang tepat—astaga! Perasaanku semakin tidak
enak, “kalian tahu, ayah ini sudah tua. Dan kalian juga tahu, ayah tidak punya
anak laki-laki untuk menjadi raja penerus.”
Aku dan Kania saling
berpandangan.
“Karena itu… ayah
ingin menjodohkan salah satu dari kalian dengan Pangeran Ghinan.”
“APAAAA???” Oke, ini
alay.
“Ayah, siapapun deh.
Asal jangan Pangeran Ghinan. Kania mohooon!”
“Kezia juga mohoooon!”
kali ini aku ikut merengek. Satu mimpi buruk mulai jadi kenyataan. Okelah,
dijodohkannya sih boleh. Tapi pasangannya itu lhoo. The most unwanted boy in
the world!!! Iya sih, kerajaan Pangeran Ghinan cukup besar. Tetapi tetap saja
bukan hanya tampangnya yang… uhm… buruk. Tapi sifatnya juga. Jadi apa anakku
kalau sampai mendapatkan ayah seperti dia? Itu namanya perusakan keturunan!
“Dengarkan ayah dulu,”
Ayah melanjutkan, “yang ayah jodohkan dengan Pangeran Ghinan adalah salah satu
dari kalian yang belum punya kekasih. Siapa diantara kalian yang belum punya
kekasih?”
Aku menghela nafas
lega. Untung sejuta untung, aku sudah punya pacar. Yep, pacar! Dari 11 bulan
yang lalu—aku rahasiakan dari ayah dan Kania karena menunggu saat yang tepat.
Dan sepertinya inilah saat yang tepat bukan?
“Kania sudah punya
pacar, ayah.” Dania menduluiku. Ia tersenyum lega.
“Kezia juga.” Aku ikut
tersenyum, “itu artinya kami tidak perlu dijodohkan dengan pangeran hoam itu
kan?”
Ayah melongo—sumpah!
Aku ingin tertawa!—dan menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal,
“baiklah. Kalau begitu, nanti sore kenalkan pacar kalian kepada ayah. Di sini.
Jika salah satu dari kalian berbohong, ayah akan langsung menjodohkan kalian
dengan Pangeran Ghinan.”
“Baik, ayah.” Aku dan
Kania menjawab serempak. Setelah itu, ayah mengijinkan kami pergi.
“Jadi, kau sudah punya
pacar?” aku berpura-pura cemberut saat bertanyan pada Kania, “dan tidak
menceritakannya padaku?”
“Omong kosong! Kau
juga tidak cerita padaku!” Kania tertawa sambil menghantam pelan bahuku. Aku
ikut tertawa.
Omong-omong, aku sudah
bilang kalau aku menyayangi saudara kembarku yang satu ini?
Aku pelan-pelan
memasuki kandang kuda para ksatria kerajaan dan mengendap-endap mendekati
seorang lelaki yang sedang sibuk dengan kuda hitamnya.
“DOR!” aku menepuk
bahunya keras lalu tertawa, “serius sekali, Tuan Ksatria?”
“Ah, Kezia. Hai,
Cantik.” Ia tersenyum aneh. Aku berusaha menafsirkan senyumnya. Itu senyum
kaget?
Atau senyum gugup?
“Dhio, dengar. Aku
ingin menceritakan sesuatu.” Aku merapikan poni-poni halus yang jatuh di
keningnya—kening pacarku itu, “ini saatnya kita menceritakan tentang hubungan
kita. Kau tahu? 11 bulan sudah terlalu lama.”
“Ah? Iyakah?”
responnya. Tapi menurutku ia tidak begitu terkejut.
Aku lalu menceritakan
semuanya. Tentang pertemuanku dengan ayah dan tentang penjodohan itu. Dan
berkali-kali kutekankan padanya bahwa aku tidak ingin dijodohkan.
Sama sekali tidak
ingin dijodohkan maksudku.
“Jadi bagaimana?” tanyaku
lagi, “sebelas bulan itu lama, Dhio.”
Dhio masih terlihat
gugup. Perasaan ganjil mulai muncul disini.
“Ada apa? Ada yang
salah?” selidikku.
“Bu, bukan. Hanya…”
Dhio menghela nafas, “aku tidak bisa, Kezia. Maafkan aku.”
“Tidak bisa?” percaya
diriku rontok satu-satu, “kenapa? Kalau kau tidak bisa memberiku alasan yang
logis—“
“Karena… karena aku,
Kezia. Maaf.” Aku mendengar jawaban itu bukan muncul dari mulut Dhio. Muncul
dari suara wanita, yang sangat aku kenal. Dengan sisa-sisa kesabaran yang masih
ada aku menoleh.
Dan kutemukan sosok Kania
di sana.
“Ini… ini maksudnya
apa?” aku bisa mendengar suara parauku sendiri, “ini maksudnya apa?”
“Kami…” Kania menghela
nafas panjang, “kami pacaran.”
Oke, cukup sudah.
Mimpi buruk apa lagi yang harus aku terima?
“Kalian pacaran?” aku
menoleh lagi pada Dhio, “dengarkan! Ini sama sekali tidak lucu!”
Dhio hanya diam. Dia
diam? Oh, pengecut.
“Jadi begini?” aku
bisa merasakan mataku mulai panas, “jadi hanya begini? Oh, terimakasih Dhio.
Kau benar-benar lelaki yang hebat.”
Dhio diam. Dobel
kecut.
“Dan kau!” aku menoleh
pada Kania, “menusukku?”
“Menusuk?” ia
mengulangi kata-kataku, ‘aku bahkan tidak tahu kalau kau sedang berpacaran
dengannya! Ah, demi Tuhan, Kezia—“
“Lalu sekarang kau
tahu, iya kan?” aku memotong kata-katanya dengan sadis, “dan sekarang apa yang
akan kau lakukan? Putus dengannya?”
Kania diam. Bagus.
Diam saja semua!
“Kalau sudah begini
judulnya tetap sama; kau menusukku dari belakang kan?” dan yak! Tetes-tetes air
mata berhasil menggoyahkanku. Aku tidak berusaha menyekanya. Biarkan saja ini
mengalir. Aku menunggu kalau air mata itu member efek lebih baik pada perasaanku.
Sial. Tidak berefek
sama sekali.
Dania dan Dhio tetap
diam bagai patung. Aku kini bingung menentukan mana yang lebih sakit;
dikhianati pacar atau dikhianati saudara sendiri.
Sudahlah! Dua-duanya
sama-sama sakit.
“Maafkan aku, Kezia.”
Kania angkat bicara. Suaranya parau. Aku mulai mengira-ngira; jika ia menangis
nanti, itu air mata sungguhan atau air mata buaya? “aku tidak bisa
melepaskannya. Aku menyayanginya dan… perjodohan itu—“
“KAU MENGORBANKANKU
UNTUK PERJODOHAN ITU??” aku berasa menjadi kambing qurban, sungguh.
“Aku tidak
mengorbankanmu, Kezia. Bukankah… bukankah malah bagus kalau kau jadi penerus
tahta? Menjadi ratu? Aku menolongmu!”
“Terima kasih atas
pertolonganmu yang sebenarnya sama sekali tidak aku butuhkan, Kania.” Jawabku
sengit, “sayangnya aku lebih memilih bahagia dengan caraku daripada menjadi
ratu.”
Oke, Kezia. Ayo cari
mana sisa kewibawaanmu sebagai seorang putri. Aku melangkah keluar tempat itu
dengan hati koyak.
***
I'm still alive but
I'm barely breathing
Just prayin' to a god
that I don't believe in
Cos I got time while
she got freedom
Cos when a heart
breaks no it don't break even
Her best days will be
some of my worst
She finally met a man
that's gonna put her first
While I'm wide awake
she's no trouble sleeping
Cos when a heart
breaks no it don't breakeven... even... no
What am I supposed to
do when the best part of me was always you,
And what am I supposed
to say when I'm all choked up that you're ok
I'm falling to pieces,
yeah,
I'm falling to pieces
(The Script –
Breakeven)
***
“Jadi kau tidak lagi
punya kekasih, Putri Kezia?” tanya ayah
Aku mengangguk,
mengalah.
“Itu artinya, kau yang
akan dijodohkan dengan Pangeran Ghinan.” Titah beliau.
Lagi-lagi aku
mengangguk, mengalah.
“Besok Pangeran Ghinan
akan kemari. Bersiaplah.”
Angguk saja cukup.
“Maafkan ayah, Kezia.
Aku tahu ini bukan keinginanmu. Ayah tahu ayah egois.”
Aku menghela nafas,
dan mencoba tersenyum walau kaku, “ini demi kerajaan juga kan, Ayah?”
Cukup! Tunjukkan padaku
bagaimana cara menghentikan kebohongan sakit ini!
***
Aku berdiri di balkon,
merasakan sepoi-sepoi angin malam. Berdoa pada Tuhan semoga besok tidak pernah
datang. Atau apa saja deh! Pokoknya aku tidak ingin menemui pangeran itu!
Apalagi menikah.
“Tuan Putri?”
seseorang mengetuk pelan pintu kamarku.
“Masuk.”
Aku mendengar pintu
terbukan, “hamba, Tuan Putri.”
Aku menoleh. Ternyata
Latul, penasehat kerajaan, “Ada apa?”
“Maaf bila lancang.
Saya mendengar, anda akan dijodohkan?”
Oh iya. Aku baru ingat
kalo penasehat yang satu ini terlalu ingin tahu, “lalu? Apa urusannya denganmu?”
“Anda menyukai calon
yang diajukan Paduka Raja?”
“TIDAK!” eh,
“maksudku… apa urusanmu?! Malam-malam begini menggangguku!”
“Hamba minta maaf,
Tuan Putri. Hanya saja,” ia menggigit bibir, “saya tadi melewati kandang dan
tidak sengaja mendengar percakapan Anda dengan Putri Kania dan Ksatria Dhio.
Tentang… ehm… cerita sebenarnya.”
Deg! Jantungku berpacu
lebih cepat, “kau akan melaporkannya kepada Paduka? Dengarkan aku, apapun yang
kau katakan tidak akan membantu sama sekali!”
“Tentu saja tidak,
Tuan Putri.” Ia tetap memasang wajah masygul, “Namun, saya ingin memberi
informasi untuk Anda.”
“Informasi?” aku
mengangkat alis. Awas saja kalau informasinya sama sekali tidak membantuku!
“Di bagian utara, ada
sebuah Kerajaan Salju—“
“Aku sudah tahu hal
itu. Hanya itu yang ingin kau bicarakan? Pergilah!” bagus. Mood-ku hancur
berantakan.
“—dan kerajaan itu
memiliki seorang pangeran tampan bernama Pangeran Dharma.”
Aku mengernyit. Ini
mulai menarik perhatian sepertinya, “lanjutkan.”
“Pangeran tersebut
akan mengadakan pesta dansa sekaligus untuk mencari seorang putri yang akan ia
nikahi,” lanjut Sang Penasehat, “pesta itu diadakan satu bulan lagi, jadi
undangannya belum tersebar ke penjuru dunia.”
“Dan hubungannya
denganku?”
“Bagaimana kalau Anda
mengambil hati Pangeran Dharma? Yang jelas dia dikenal sebagai pangeran
tertampan. Jika Anda berhasil, Anda tidak akan dinikahkan dengan Pangeran
Ghinan sekaligus Anda bisa menyelamatkan kerajaan.”
Aku berpikir
pelan-pelan. Ide bagus!
“Jadi, dimana Kerajaan
Utara itu?” tanyaku.
“Permisi, Tuan Putri,”
ia mengambil sebuah peta—sepertinya itu salah satu peta dari perpustakaan
istana—dan membukanya di hadapanku. Aku mengamatinya.
“Ini ya?” aku menunjuk
Istana Kerajaan Utara.
‘Benar, Tuan Putri,”
jawab Sang Penasehat, “sebenarnya, jika lewat luar hanya membutuhkan waktu 5
hari dengan kuda. Namun, jika Anda melewati jalan luar, resiko ditangkap
pengawal istana akan lebih besar.”
“Lalu?”
“Saya sarankan anda lewat
jalan ini,” ia menunjuk sebuah hutan, “namun membutuhkan waktu kira-kira 2-3
minggu dengan kuda. Bagaimana?”
Aku menatap peta dan
penasehat dengan bergantian, “kau tahu, jika aku menjadi ratu nanti, akan
kunaikkan gajimu.”
***
Ini pasti tengah malam.
“Terimakasih sudah
menyiapkan semuanya.” aku melirik tas besar penuh kebutuhanku selama dua minggu
yang dibawakan Sang Penasehat, “sungguh, aku berhutang banyak padamu.”
“Tidak usah
dipikirkan, Tuan Putri,” jawabnya, “saya benci lelaki pengecut.”
Oh, aku akan
bersahabat baik dengan wanita ini.
“Jadi, kendaraan apa
yang bisa kupakai?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku memang bisa
menaiki kuda, tapi sampai sekarang ayah belum mengizinkanku memiliki kuda
sendiri.
“Tuan Putri tahu, apa
itu balas dendam?”
“Balas dendam?”
Sang Penasehat masuk
sebentar ke dalam kandang kuda, dan begitu keluar ia menyeret kuda yang sangat
aku kenal.
Kuda hitam milik Dhio.
“Ini baru namanya
balas dendam.” Penasehat tersenyum lucu. Aku sangat menyukai wanita ini!
“Terimakasih lagi,”
aku menaiki kuda hitam itu—untungnya kuda ini sudah kenal baik denganku, “aku
sungguh-sungguh berjanji akan membalas semua jasamu.”
“Sudah saya bilang,
tidak perlu dipikirkan.” Penasehat mengedipkan sebelah matanya dengan jahil,
“pergilah, Tuan Putri. Kembalilah dengan kabar baik.”
Aku mengangguk dan
memerintahkan kuda Dhio—sekarang resmi menjadi kudaku!—untuk jalan. Penasehat
sudah memberikan obat bius untuk pengawal penjaga gerbang sebelumnya.
Entahlah apa yang
terjadi setelah ini. Yang jelas, aku sangat ingin tahu raut wajah ayah saat
melihatku tak ada di kamar.
Dan tentu saja raut
wajah Dhio saat kuda favoritnya ini hilang.
(to be continued)
No comments:
Post a Comment