Saturday, 21 July 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 1. The Betrayal




“Tuan Putri diminta menghadap ke Paduka sekarang juga.”


Aku dan Kania menoleh bersamaan, “baiklah. Terimakasih.”
Dayang tua itu segera berlalu dari hadapan kami.
“Ada apa ya?” Kania membantu mengikat baju.
“Entahlah. Kau tahu kan ayah itu susah diduga… eh! Itu terlalu kencang!!” aku menepuk-nepuk punggungku yang ia ikat sampai nyaris menghancurkan tulang belakangku.
“Oh, maaf.” Kania nyengir penuh sesal sembari melonggarkan lagi ikatannya dan mengikatnya kembali, “sip. Selesai.”
“Terimakasih, Kania.” Aku tersenyum pada saudara kembarku itu. Ya, kami kembar. Ia lahir lima menit lebih awal dariku.
“Oh, jangan pikirkan.” Ia tertawa kecil, “ayo!”
Kami bersama-sama menuju ruang ayah—ah, Paduka maksudku. Entahlah. Aturan kerajaan membuatku memanggil ‘ayah’ serasa begitu tabu.
“Daulat, Paduka.” Kami sedikit membungkuk saat menghadap Paduka.
“Kezia, Kania, kemarilah.” Paduka member isyarat untuk mendekat, “ada yang harus ayah bicarakan pada kalian.”
Aku dan Kania saling berpandangan, lalu mendekat. Sontak perasaanku menjadi tidak enak.
“Ada apa, ayah?” tanya Kania lebih dulu.
“Begini,” kelihatannya beliau sedang mencari kata-kata yang tepat—astaga! Perasaanku semakin tidak enak, “kalian tahu, ayah ini sudah tua. Dan kalian juga tahu, ayah tidak punya anak laki-laki untuk menjadi raja penerus.”
Aku dan Kania saling berpandangan.
“Karena itu… ayah ingin menjodohkan salah satu dari kalian dengan Pangeran Ghinan.”
“APAAAA???” Oke, ini alay.
“Ayah, siapapun deh. Asal jangan Pangeran Ghinan. Kania mohooon!”
“Kezia juga mohoooon!” kali ini aku ikut merengek. Satu mimpi buruk mulai jadi kenyataan. Okelah, dijodohkannya sih boleh. Tapi pasangannya itu lhoo. The most unwanted boy in the world!!! Iya sih, kerajaan Pangeran Ghinan cukup besar. Tetapi tetap saja bukan hanya tampangnya yang… uhm… buruk. Tapi sifatnya juga. Jadi apa anakku kalau sampai mendapatkan ayah seperti dia? Itu namanya perusakan keturunan!
“Dengarkan ayah dulu,” Ayah melanjutkan, “yang ayah jodohkan dengan Pangeran Ghinan adalah salah satu dari kalian yang belum punya kekasih. Siapa diantara kalian yang belum punya kekasih?”
Aku menghela nafas lega. Untung sejuta untung, aku sudah punya pacar. Yep, pacar! Dari 11 bulan yang lalu—aku rahasiakan dari ayah dan Kania karena menunggu saat yang tepat. Dan sepertinya inilah saat yang tepat bukan?
“Kania sudah punya pacar, ayah.” Dania menduluiku. Ia tersenyum lega.
“Kezia juga.” Aku ikut tersenyum, “itu artinya kami tidak perlu dijodohkan dengan pangeran hoam itu kan?”
Ayah melongo—sumpah! Aku ingin tertawa!—dan menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal, “baiklah. Kalau begitu, nanti sore kenalkan pacar kalian kepada ayah. Di sini. Jika salah satu dari kalian berbohong, ayah akan langsung menjodohkan kalian dengan Pangeran Ghinan.”
“Baik, ayah.” Aku dan Kania menjawab serempak. Setelah itu, ayah mengijinkan kami pergi.
“Jadi, kau sudah punya pacar?” aku berpura-pura cemberut saat bertanyan pada Kania, “dan tidak menceritakannya padaku?”
“Omong kosong! Kau juga tidak cerita padaku!” Kania tertawa sambil menghantam pelan bahuku. Aku ikut tertawa.
Omong-omong, aku sudah bilang kalau aku menyayangi saudara kembarku yang satu ini?
***
Aku pelan-pelan memasuki kandang kuda para ksatria kerajaan dan mengendap-endap mendekati seorang lelaki yang sedang sibuk dengan kuda hitamnya.
“DOR!” aku menepuk bahunya keras lalu tertawa, “serius sekali, Tuan Ksatria?”
“Ah, Kezia. Hai, Cantik.” Ia tersenyum aneh. Aku berusaha menafsirkan senyumnya. Itu senyum kaget?
Atau senyum gugup?
“Dhio, dengar. Aku ingin menceritakan sesuatu.” Aku merapikan poni-poni halus yang jatuh di keningnya—kening pacarku itu, “ini saatnya kita menceritakan tentang hubungan kita. Kau tahu? 11 bulan sudah terlalu lama.”
“Ah? Iyakah?” responnya. Tapi menurutku ia tidak begitu terkejut.
Aku lalu menceritakan semuanya. Tentang pertemuanku dengan ayah dan tentang penjodohan itu. Dan berkali-kali kutekankan padanya bahwa aku tidak ingin dijodohkan.
Sama sekali tidak ingin dijodohkan maksudku.
“Jadi bagaimana?” tanyaku lagi, “sebelas bulan itu lama, Dhio.”
Dhio masih terlihat gugup. Perasaan ganjil mulai muncul disini.
“Ada apa? Ada yang salah?” selidikku.
“Bu, bukan. Hanya…” Dhio menghela nafas, “aku tidak bisa, Kezia. Maafkan aku.”
“Tidak bisa?” percaya diriku rontok satu-satu, “kenapa? Kalau kau tidak bisa memberiku alasan yang logis—“
“Karena… karena aku, Kezia. Maaf.” Aku mendengar jawaban itu bukan muncul dari mulut Dhio. Muncul dari suara wanita, yang sangat aku kenal. Dengan sisa-sisa kesabaran yang masih ada aku menoleh.
Dan kutemukan sosok Kania di sana.
“Ini… ini maksudnya apa?” aku bisa mendengar suara parauku sendiri, “ini maksudnya apa?”
“Kami…” Kania menghela nafas panjang, “kami pacaran.”
Oke, cukup sudah. Mimpi buruk apa lagi yang harus aku terima?
“Kalian pacaran?” aku menoleh lagi pada Dhio, “dengarkan! Ini sama sekali tidak lucu!”
Dhio hanya diam. Dia diam? Oh, pengecut.
“Jadi begini?” aku bisa merasakan mataku mulai panas, “jadi hanya begini? Oh, terimakasih Dhio. Kau benar-benar lelaki yang hebat.”
Dhio diam. Dobel kecut.
“Dan kau!” aku menoleh pada Kania, “menusukku?”
“Menusuk?” ia mengulangi kata-kataku, ‘aku bahkan tidak tahu kalau kau sedang berpacaran dengannya! Ah, demi Tuhan, Kezia—“
“Lalu sekarang kau tahu, iya kan?” aku memotong kata-katanya dengan sadis, “dan sekarang apa yang akan kau lakukan? Putus dengannya?”
Kania diam. Bagus. Diam saja semua!
“Kalau sudah begini judulnya tetap sama; kau menusukku dari belakang kan?” dan yak! Tetes-tetes air mata berhasil menggoyahkanku. Aku tidak berusaha menyekanya. Biarkan saja ini mengalir. Aku menunggu kalau air mata itu member efek lebih baik pada perasaanku.
Sial. Tidak berefek sama sekali.
Dania dan Dhio tetap diam bagai patung. Aku kini bingung menentukan mana yang lebih sakit; dikhianati pacar atau dikhianati saudara sendiri.
Sudahlah! Dua-duanya sama-sama sakit.
“Maafkan aku, Kezia.” Kania angkat bicara. Suaranya parau. Aku mulai mengira-ngira; jika ia menangis nanti, itu air mata sungguhan atau air mata buaya? “aku tidak bisa melepaskannya. Aku menyayanginya dan… perjodohan itu—“
“KAU MENGORBANKANKU UNTUK PERJODOHAN ITU??” aku berasa menjadi kambing qurban, sungguh.
“Aku tidak mengorbankanmu, Kezia. Bukankah… bukankah malah bagus kalau kau jadi penerus tahta? Menjadi ratu? Aku menolongmu!”
“Terima kasih atas pertolonganmu yang sebenarnya sama sekali tidak aku butuhkan, Kania.” Jawabku sengit, “sayangnya aku lebih memilih bahagia dengan caraku daripada menjadi ratu.”
Oke, Kezia. Ayo cari mana sisa kewibawaanmu sebagai seorang putri. Aku melangkah keluar tempat itu dengan hati koyak.
***
I'm still alive but I'm barely breathing
Just prayin' to a god that I don't believe in
Cos I got time while she got freedom
Cos when a heart breaks no it don't break even

Her best days will be some of my worst
She finally met a man that's gonna put her first
While I'm wide awake she's no trouble sleeping
Cos when a heart breaks no it don't breakeven... even... no
What am I supposed to do when the best part of me was always you, 

And what am I supposed to say when I'm all choked up that you're ok
I'm falling to pieces, yeah, 

I'm falling to pieces
(The Script – Breakeven)

***

“Jadi kau tidak lagi punya kekasih, Putri Kezia?” tanya ayah

Aku mengangguk, mengalah.

“Itu artinya, kau yang akan dijodohkan dengan Pangeran Ghinan.” Titah beliau.

Lagi-lagi aku mengangguk, mengalah.

“Besok Pangeran Ghinan akan kemari. Bersiaplah.”

Angguk saja cukup.

“Maafkan ayah, Kezia. Aku tahu ini bukan keinginanmu. Ayah tahu ayah egois.”

Aku menghela nafas, dan mencoba tersenyum walau kaku, “ini demi kerajaan juga kan, Ayah?”

Cukup! Tunjukkan padaku bagaimana cara menghentikan kebohongan sakit ini!

***

Aku berdiri di balkon, merasakan sepoi-sepoi angin malam. Berdoa pada Tuhan semoga besok tidak pernah datang. Atau apa saja deh! Pokoknya aku tidak ingin menemui pangeran itu! Apalagi menikah.

“Tuan Putri?” seseorang mengetuk pelan pintu kamarku.

“Masuk.”

Aku mendengar pintu terbukan, “hamba, Tuan Putri.”

Aku menoleh. Ternyata Latul, penasehat kerajaan, “Ada apa?”

“Maaf bila lancang. Saya mendengar, anda akan dijodohkan?”

Oh iya. Aku baru ingat kalo penasehat yang satu ini terlalu ingin tahu, “lalu? Apa urusannya denganmu?”

“Anda menyukai calon yang diajukan Paduka Raja?”

“TIDAK!” eh, “maksudku… apa urusanmu?! Malam-malam begini menggangguku!”

“Hamba minta maaf, Tuan Putri. Hanya saja,” ia menggigit bibir, “saya tadi melewati kandang dan tidak sengaja mendengar percakapan Anda dengan Putri Kania dan Ksatria Dhio. Tentang… ehm… cerita sebenarnya.”

Deg! Jantungku berpacu lebih cepat, “kau akan melaporkannya kepada Paduka? Dengarkan aku, apapun yang kau katakan tidak akan membantu sama sekali!”

“Tentu saja tidak, Tuan Putri.” Ia tetap memasang wajah masygul, “Namun, saya ingin memberi informasi untuk Anda.”

“Informasi?” aku mengangkat alis. Awas saja kalau informasinya sama sekali tidak membantuku!

“Di bagian utara, ada sebuah Kerajaan Salju—“

“Aku sudah tahu hal itu. Hanya itu yang ingin kau bicarakan? Pergilah!” bagus. Mood-ku hancur berantakan.

“—dan kerajaan itu memiliki seorang pangeran tampan bernama Pangeran Dharma.”

Aku mengernyit. Ini mulai menarik perhatian sepertinya, “lanjutkan.”

“Pangeran tersebut akan mengadakan pesta dansa sekaligus untuk mencari seorang putri yang akan ia nikahi,” lanjut Sang Penasehat, “pesta itu diadakan satu bulan lagi, jadi undangannya belum tersebar ke penjuru dunia.”

“Dan hubungannya denganku?”

“Bagaimana kalau Anda mengambil hati Pangeran Dharma? Yang jelas dia dikenal sebagai pangeran tertampan. Jika Anda berhasil, Anda tidak akan dinikahkan dengan Pangeran Ghinan sekaligus Anda bisa menyelamatkan kerajaan.”

Aku berpikir pelan-pelan. Ide bagus!

“Jadi, dimana Kerajaan Utara itu?” tanyaku.

“Permisi, Tuan Putri,” ia mengambil sebuah peta—sepertinya itu salah satu peta dari perpustakaan istana—dan membukanya di hadapanku. Aku mengamatinya.

“Ini ya?” aku menunjuk Istana Kerajaan Utara.

‘Benar, Tuan Putri,” jawab Sang Penasehat, “sebenarnya, jika lewat luar hanya membutuhkan waktu 5 hari dengan kuda. Namun, jika Anda melewati jalan luar, resiko ditangkap pengawal istana akan lebih besar.”

“Lalu?”

“Saya sarankan anda lewat jalan ini,” ia menunjuk sebuah hutan, “namun membutuhkan waktu kira-kira 2-3 minggu dengan kuda. Bagaimana?”

Aku menatap peta dan penasehat dengan bergantian, “kau tahu, jika aku menjadi ratu nanti, akan kunaikkan gajimu.”

***

Ini pasti tengah malam.

“Terimakasih sudah menyiapkan semuanya.” aku melirik tas besar penuh kebutuhanku selama dua minggu yang dibawakan Sang Penasehat, “sungguh, aku berhutang banyak padamu.”

“Tidak usah dipikirkan, Tuan Putri,” jawabnya, “saya benci lelaki pengecut.”

Oh, aku akan bersahabat baik dengan wanita ini.

“Jadi, kendaraan apa yang bisa kupakai?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku memang bisa menaiki kuda, tapi sampai sekarang ayah belum mengizinkanku memiliki kuda sendiri.

“Tuan Putri tahu, apa itu balas dendam?”

“Balas dendam?”

Sang Penasehat masuk sebentar ke dalam kandang kuda, dan begitu keluar ia menyeret kuda yang sangat aku kenal.

Kuda hitam milik Dhio.

“Ini baru namanya balas dendam.” Penasehat tersenyum lucu. Aku sangat menyukai wanita ini!

“Terimakasih lagi,” aku menaiki kuda hitam itu—untungnya kuda ini sudah kenal baik denganku, “aku sungguh-sungguh berjanji akan membalas semua jasamu.”

“Sudah saya bilang, tidak perlu dipikirkan.” Penasehat mengedipkan sebelah matanya dengan jahil, “pergilah, Tuan Putri. Kembalilah dengan kabar baik.”

Aku mengangguk dan memerintahkan kuda Dhio—sekarang resmi menjadi kudaku!—untuk jalan. Penasehat sudah memberikan obat bius untuk pengawal penjaga gerbang sebelumnya.

Entahlah apa yang terjadi setelah ini. Yang jelas, aku sangat ingin tahu raut wajah ayah saat melihatku tak ada di kamar.

Dan tentu saja raut wajah Dhio saat kuda favoritnya ini hilang.


(to be continued)



No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com