Sudah pagi…
Aku masih
menunggu kuda ini selesai mengunyah rumputnya sambil melihat bayangan diriku
sendiri di cermin.
Lihat betapa berantakannya kamu, Kezia, aku
cemberut, kau benar-benar butuh mandi
darurat!
Aku memasukkan
lagi cerminku ke dalam tas saat kulihat bayangan si kuda mendekat.
“Aku akan
berhenti memanggilmu kuda mulai saat ini,” aku beranjak bangkit dan mengelus si
kuda, “nama apa yang kau inginkan?”
Dia hanya
meringkik. Jelas. Bodohnya aku mencoba berbicara dengan seekor kuda.
“Hmm… coba aku
pikir.” Aku mengernyit sebentar, “bagaimana kalau Noir?”
Noir berasal
dari bahasa Perancis. Artinya hitam. Oke, aku memang tidak kreatif saat memberi
nama.
“Tapi
terdengar bagus kan? Bagaimana menurutmu, Noir?” aku mengacak-acak bulu Noir
penuh sayang. Well, aku membenci majikannya, bukan berarti aku harus ikut
membenci kuda cantik ini bukan?
Noir hanya
meringkik. Kuanggap itu iya.
“Oke,” aku
meletakkan tasku lagi di punggung Noir, “kita lanjutkan perjalanan. Aku harus
mencari sungai atau sejenisnya untuk mandi. Nyamuk di sini ganas sekali.”
Kami berjalan
santai menyusuri hutan lebat itu. Sesekali aku menepuk-nepuk lenganku yang
digigit nyamuk. Aku serius soal nyamuk ganas ini! Semakin cepat bertemu sumber
air akan semakin baik.
“Tunggu,
Noir.” Aku menghentikan langkahku dan memejamkan mata. Perlahan aku
‘meleburkan’ diri dengan sekitar. Air, air, aku mencari suaramu…
Dan… yak! Aku
bisa mendengar suara deras air terjun di kejauhan. Benar-benar tidak ada
ruginya mempunyai pacar, eh mantan seorang ksatria!
“Ayo, Noir!”
aku menuntun Noir menuju air terjun.
***
“Double WOW!”
aku melongo saat menemukan air terjun tinggi nan indah di tengah hutan seperti
ini. Karena inilah aku percaya Tuhan itu ada.
Aku juga bisa
melihat kegirangan Noir karena ia langsung menerjunkan diri ke sungai.
“Kau berdosa
tidak menungguku, Noir!” aku tertawa saat cipratan airnya mengenai wajahku.
Tanpa ragu langsung kuterjunkan diri ke aliran air yang tidak begitu deras itu.
“Dingiiiin!”
Aku berteriak-teriak mencoba mengalahkan gemuruh air terjun saat (lagi-lagi)
Noir menapak-napakkan kakinya sehingga air mencipratiku. Lalu aku mendadak
galau.
Coba aku kemari bersama Dhio dan Dania…
Lamunanku
terhenti saat Noir mencipratiku lagi. Mungkin dia tahu aku galau.
“Oke oke,
kumandikan kau. Kemarilah.” Aku membersihkan bulu-bulu halus Noir perlahan.
Entahlah, aku
merasakan seperti ada bunyi cipratan lain. Yang jelas tidak berasal dariku atau
Noir.
***
“Besok kita
main air lagi, Noir. Jangan manja seperti ini.” Aku menghela nafas saat Noir
merajuk-rajuk untuk kembali ke air, “setelah ini akan kukeringkan bulumu.
Diamlah!”
Noir langsung
diam. Aku otomatis merasa bersalah.
“Dengar, aku
tidak bermaksud membentakmu,” perlahan kukeringkan bulu Noir, “kita teman kan?”
Noir tidak
meringkik. Oh, tidak.
“Ayolah. Kau
marah? Aku minta maaf.”
Tidak
berespon.
“Noir—“
Tiba-tiba Noir
langsung berlari. Aku langsung panik dan ikut mengejarnya. Jangan sampai dia
kabur dariku!
“Noir? Kau
marah? Aku minta maaf.” Aku tetap berlari menyusulnya. Namun ia tidak berhenti.
Benar-benar merepotkan.
Aku mulai
kelelahan mengejar kuda itu. Semoga saja dia kembali padaku. Dengan kesal aku
duduk dibawah pohon yang cukup rindang, menanti Noir kembali.
Sepuluh menit
kemudian Noir tidak kembali. Yang kudengar malah ringkikanya.
“Noir?!”
***
“Noir?” aku
menemukannya di jantung hutan… bersama seekor kuda cantik yang sepertinya
betina. Oh sial! Dia meninggalkanku untuk pacaran??
Noir meringkik
lagi, lalu menyingkir pelan dari hadapan sesuatu, eh seseorang.
Ya, seseorang.
Laki-laki. Dan pingsan.
“Astaga!” aku
langsung mendekati lelaki itu, “jadi kau berlari karena ini, Noir?”
Noir
meringkik. Aku segera melonggarkan pakaian lelaki itu dan meletakkan tas
dibawah kakinya. Lalu… apa lagi ya? Sesuatu dengan bau menyengat? Hah, langsung
kubaui dia dengan parfumku. Masa bodoh deh. Yang penting dia sadar.
Benar saja,
beberapa menit kemudian mata pelan-pelan terbuka.
“H, hai,” duh!
Kenapa aku mendadak gugup? “kau baik-baik saja?”
Lelaki itu
mengernyit menatapku. Mungkin kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
“Minum dulu,”
kuangkat pelan kepalanya dan kubantu minum, “sepertinya kau kelelahan. Siapa
kau?”
Kernyitan di
dahi lelaki itu makin jelas, “bukannya aku yang harusnya bertanya padamu? Siapa
kau?”
“Hah? Kau yang
barusan pingsan!” bodoh.
“Dan kau yang
sampai sekarang masih memelukku kan?”
Astaga lelaki
ini! Dengan kasar kujatuhkan kepalanya ke tanah. Benar-benar tak tahu
terimakasih!
“Ouch!” Ia
mengusap kepalanya yang barusan kujatuhkan, “kenapa marah sih? Aku hanya
bertanya!”
“Kata-katamu
membuatku berkesan seperti seorang tante girang yang hobi peluk-peluk lelaki!”
“Bukannya
iya?”
()&^$%#$@@!
***
“Namaku
Deden,” katanya setelah perdebatan yang tidak penting, “dan kudaku itu namanya
Shiro.”
“Aku bertanya
tentang kudamu?” aku berpura-pura cuek.
“Terserah kau
sajalah. Siapa kau?”
“Kezia. Dan
aku tidak akan memberitahu nama kudaku jika kau tak bertanya.”
“Oke, aku
tidak bertanya.”
Hening
sebentar.
“Untuk apa
wanita sepertimu ada di hutan ini sendirian? Dari mana kau?”
“Aku…”
haruskah aku cerita kejadiannya? Cerita padanya bahwa aku ini seorang putri? Ah
tidak. Dia bisa saja melaporkanku ke istana, “aku dari Kerajaan Hoam menuju
utara.”
“Sendirian?
Untuk apa?”
“Bukan
urusanmu.”
“Oh oke. Tapi…
bajumu bagus. Seharusnya kau ini seorang putri atau orang kaya—“
“Orangtuaku
pedagang besar. Semacam itulah.” Potongku cepat.
“Orangtuamu
kaya dan kau kemari tanpa pengawal?”
“Aku…” karang
cerita, Kezia! Gunakan otakmu, “aku diusir dari rumah karena dikira korupsi
uang hasil dagang dalam jumlah besar. Karena itu aku kabur ke utara.”
“Kalau kau
tidak salah mengapa kabur?”
“Aku tidak
punya bukti, bodoh.” Aku jadi kesal sendiri, “dan aku akan mencari buktinya di
utara.”
“Hmm… aku akan
berhenti bertanya.”
Hening
sejenak.
“Kalau kau?
Pakaianmu memang compang-camping, tapi kudamu terlalu bagus untuk rakyat biasa.
Siapa kau?”
“Pengembara.”
Jawabnya datar.
“Pengembara?
Apa yang kau lakukan? Kemana tujuanmu?”
“Aku…” ia
menghela nafas, “aku mencari seseorang. Aku kurang tahu dimana letak pastinya.
Tapi informasi yang kudapat terakhir, ia berada di Kerajaan Hoam.”
“Hmm..” aku
mengangguk, “pasti orang yang sangat penting. Sampai-sampai kau rela jalan
sampai pingsan di tengah hutan seperti ini.”
“Iya,” ia
menerawang menembus pepohonan, auranya tertutup mendung gelap, “ia oksigen
buatku.”
Aku menatapnya
penasaran, tanpa berkedip.
“Jangan-jangan,”
tatapanku menjadi absurd—antara ingin tahu dan ingin tertawa—sehingga menimbulkan
ekspresi yang tidak terbaca.
“Jangan-jangan
apa?”
“Jangan-jangan,”
tawaku pecah, “kamu gagal move on yaaa??”
Ekspresinya
langsung kecut. Kuanggap itu jawaban iya.
“Ayolah,
Deden,” aku masih tertawa, “lupakan saja diaaa.”
“Aku tidak
gagal move on,” Deden mengalihkan pandangan, “aku hanya khawatir karena ia
tidak pernah kembali.”
Tawaku
terhenti. Sepertinya terlalu jahat menertawakan orang ini. Aku menghela nafas
dan menepuk-nepuk pelan pundaknya, tanda ikut bersimpati.
***
“Beberapa
kilometer ke depan tidak akan ada air. Kau harus menampung banyak persediaan. Kalau
pingsan sepertiku bagaimana? Benar-benar tidak berpengalaman!” Deden mengisi
penuh botol-botolku dengan air.
“Iya iyaaa,”
aku menerima botol-botol itu, “terimakasih ya.”
Deden menoleh
lagi padaku, “harusnya aku yang berterimakasih karena kau telah banyak
membantuku. Kalau kau tak memelukku seperti tadi mungkin aku sudah mati.” Ia tertawa
keras. Aku menyodok rusuknya lebih keras dari tawanya.
Setelah semua
beres—ia mencarikanku botol-botol lain untuk diisi air—kami sampai di
persimpangan.
“Jadi… kita
berpisah? Disini?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Semoga
beruntung dengan pencarianmu.” Aku tersenyum pada Deden sambil mengulurkan
tangan.
“Well, kau
juga harus beruntung dengan pelarianmu,” Deden menjabat tanganku. Tangannya
hangat.
Aku memberikan
senyum perpisahan, lalu menuntun Noir untuk melanjutkan perjalanan.
“Kezia!”
panggil Deden, “nama kudamu siapa?”
Ha! Ternyata dia
penasaran, “namanya Noir.”
Aku
melanjutkan perjalanan lagi… sampai kudengar Deden menyerukan namaku lagi.
“Namanya
bagus.” Seru Deden. Suaranya lebih jauh. Aku melanjutkan perjalanan lagi—
“Kezia!” oke,
ini sudah ketiga kalinya.
“Apa lagi sih?”
aku menoleh kesal.
“Kita akan
bertemu lagi kan?”
Aku bisa
merasakan pipiku memanas. Wow.
***
“Well, aku
rasa dia orang baik, Noir.” Kataku, “apa pikiran kita sama?”
Noir meringkik
pelan. Haahaa, daritadi dia lebih diam saat kuajak pulang. Sudah mulai jatuh
cinta dengan kuda putih Deden itu mungkin.
“Ayolah, Noir,”
aku cemberut, “aku janji kau akan bertemu lagi dengan kuda itu. Siapa namanya
tadi? Shiro ya?”
Noir tidak
merespon. Kuanggap aku benar.
“Kau pernah
dengar mitos bahwa semakin pemarah seseorang, dia akan mati lebih cepat?” yang aku
lupa adalah, jelas-jelas Noir tidak termasuk ‘seseorang’, “oh sudah lupakan!”
Aku
melanjutkan perjalanan. Samar-samar aku mendengar sesuatu… aku langsung
menghentikan langkahku.
“Halo? Ada orang?”
aku berseru. Suara bergema dan menyebabkan burung-burung kecil terbang
berhamburan. Namun selebihnya, suasana tetap hening.
Dengan
perasaan tak nyaman, aku kembali berjalan—kali ini lebih cepat. Kalau manusia
sih masih mending, kalau hantu bagaimana?
Tiba-tiba Noir
meringkik keras, mengagetkan.
“Eh? Ada ap—?”
suaraku tertahan ditenggorokan saat ada tangan besar yang menutup mulutku
sepenuh tenaga. Bukan hanya tidak bisa berbicara, aku bahkan tidak bisa
bernafas!
“Coba aku
lihat. Seorang putri kabur dari istana?” suaranya berat sekali. Aku ngeri, “hadiah
apa yang akan diberikan raja jika aku berhasil menemukannya?”
Aku
benar-benar kehabisan nafas. Pandanganku mengabur.
Ralat. Aku lebih
memilih bertemu hantu.
(to be continued)