Semua ini diawali dari sebuah tekad bulat.
“Saya nggak mau tau,” tiba-tiba Nur mematikan
televisi yang sedang menayangkan keputusan pemerintah untuk melarang mudk tahun
ini dan berdiri di atas kursi, “saya harus mudik tahun ini.”
“Kamu nggak bisa baca?” salah satu teman kosnya
memutar mata, “itu pemerintah barusan ngelarang kita mudik.”
“Nggak peduli,” Nur turun dari kursi dan
menatap satu per satu teman rantaunya itu, “pokoknya tahun ini saya akan cari
cara untuk mudik.”
Lalu Nur meninggalkan ruang tamu. Sayup-sayup
ia bisa mendengar temannya berbisik, “mabok cincau itu anak.”
***
Nur membuka ponselnya, mengetik di situs
pencarian dengan berbagai macam kata kunci yang bisa terpikirkan olehnya; dari
jenis transportasi untuk mudik hingga yang paling ekstrim: rute
Surabaya-Jakarta lewat gorong-gorong saluran air.
Sampai akhirnya ia menemukan artikel Pria ber-KTP
Jakarta Gowes Keliling Indonesia Pakai Sepeda di sebuah situs beritaNaik
sepeda terlihat lebih masuk akal daripada lewat gorong-gorong saluran air. Ia
membuka jendela kamarnya sedikit untuk menemukan sepeda bekas yang ia beli ketika
tahun pertamanya bekerja; masih terlihat kokoh meskipun sudah tua. Lalu Nur
membuka aplikasi peta dan mengecek jarak antara kosnya dengan Surabaya: 733
kilometer.
Kalau di fisika, ada rumus jarak sama dengan
kecepatan dikali waktu.
Misalnya dia naik sepeda dengan kecepatan 10 kilometer
per jam, maka waktu yang dibutuhkan untuk menuju tempat tujuannya adalah sekitar
sekitar tiga hari. Bila ditambah waktu istirahat, katakanlah menjadi sekitar
empat hari. Kalau Nur meminta cuti lima hari, ditambah libur lebaran tiga hari maka
ia bisa temu kangen dengan keluarganya selama empat hari. Dan ketika waktunya
pulang, larangan mudik sudah selesai sehingga ia bisa pulang dengan tenang naik
kereta dengan damai. Mancing mania, mantap!
Tugasnya sekarang adalah mempersiapkan jiwa,
raga, dan biaya untuk perjalanan panjang penuh kayuhan ini.
***
“Ngapain, Nur?” tanya seorang teman kosnya yang
akan berangkat ke masjid ketika melihat Nur sedang sibuk mencuci sepeda tengah
malam. Ia memang biasa bermalam di masjid—sekalian dapat sahur gratis, katanya.
Namanya juga anak kos dengan gaji pokok dibawah UMR.
“Ngerjain UTBK,” Nur mendengus, “ya udah
keliatan cuci sepeda gini lho. Masa masih ditanya juga?”
“Iya maksudnya kamu ngapain cuci sepeda jam segini?”
seloroh temannya gemas, “udah tahajud belum kamu?”
“Saya mah belum tidur, mana boleh tahajud?”
“Banyak shalat malam selain tahajud kali, Nur.”
“Iyadeh,” Nur masih sibuk menggosok sepedanya
agar kinclong, “nanti.”
Tetapi Nur tetap sibuk mengecek kondisi
kelayakan sepedanya hingga adzan subuh hampir berkumandang. Untung dia masih
sempat mencuri Sosis Kanzler rasa keju milik teman kosnya di kulkas untuk makan
sahur.
***
Sesuai kesepakatan, setiap hari minggu Nur dan
teman-temannya mengadakan kerja bakti untuk membersihkan kos hingga ke sudut
tak terlihat. Namun teman-temannya heran karena setelah subuh Nur langsung memulai
pekerjaannya hingga selesai sebelum pukul 8 pagi. Ia kemudian bersiap-siap
pergi membawa sepedanya.
“Mau kemana?” tanya salah seorang temannya, “sibuk
banget kayak DPR.”
“Mau ke bengkel sepeda.”
“Rusak?”
“Mau servis aja.”
“Halah, biasanya mau nambal ban aja nunggu kita
dulu biar dibayarin,” gerutu temannya, “udah shalat dhuha kamu?”
Nur terhenti sebentar untuk melihat jam. Ia takut
bengkel langganannya antri, “nanti.”
Tetapi antrian bengkel sepeda sudah terlalu
panjang hingga Nur tidak sempat lagi shalat dhuha.
***
“Assalamualaykum warahmatullah,” Nur
yang dapat piket menjadi imam shalat Isya hari itu mengakhiri shalatnya. Ia
lalu berdoa sebentar dan langsung melipat sajadahnya.
“Lho, Nur, mau kemana?” temannya menahan, “nggak
dilanjut tarawih?”
“Tarawihnya ganti imam aja ya,” Nur nyengir, “saya
mau gowes.”
Teman kosnya saling berpandangan. Salah satunya
mencoba membujuk, “habis tarawih lah.”
“Takut kemalaman,” Nur tetap beranjak pergi, “nitip
gantiin jadi imam ya. Nanti saya beliin odading.”
“Terus Nur nggak tarawih?”
Nur mengambil botol air minumnya dan keluar, “nanti.”
Tetapi Nur baru pulang ketika dini hari. Karena
lelah, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan tidur.
***
Teman-temannya sedang sibuk memasak untuk
berbuka sambil menonton televisi ketika Nur baru pulang dari kantor dengan sepedanya.
Ia bisa mendengar pembawa berita sedang menceritakan keadaan Tsunami COVID di
India.
“Ah, pemerintah mah goreng berita mulu biar
orang makin panik,” celetuk Nur, “biar makin nggak mau mudik. Dikata penyebab
mati orang cuma Corona?” Lalu ia masuk ke kamarnya.
Teman-temannya saling berpandangan . Akhir-akhir
ini mereka merasa Nur agak aneh. Ia sudah jarang lagi ikut shalat dengan teman-temannya,
lantunan Quran juga tidak lagi terdengar dari kamarnya, bahkan keluar untuk wudhu
shalat malam juga tidak pernah. Sekarang kegiatannya hanya sahur-kerja-buka
puasa-gowes-tidur-ulangi. Padahal mereka kenal Nur sebagai orang yang paling
rajin mengajak berjamaah, suara yang paling merdu ketika mengaji, dan bersujud
paling lama tiap shalat malam. Ini sudah malam ketujuhbelas Ramadhan dan mereka
sepakat jika Nur masih meninggalkan tarawihnya, mereka akan membawanya ke persidangan
meja bundar.
Dan benar saja, malam itu Nur langsung kabur
dengan sepedanya setelah salam kedua shalat Isya.
***
“Kamu tuh kenapa sih?”
Pukul setengah empat pagi Nur dibangunkan oleh
ketukan teman-temannya dengan modus sahur bersama di ruang tamu. Nur awalnya
tidak curiga, sampai salah satu temannya membuka percakapan.
“Kenapa apanya?” tanya Nur tak mengerti.
“Akhir-akhir ini jadi aneh kamu itu,” adu
temannya, “Shalat tarawih enggak, ngaji enggak, shalat malam enggak, saya
bahkan yakin kamu cuma shalat wajib aja selama ini. Kamu tuh biasanya nggak
gini loh.”
“Saya sibuk.”
“Sibuk apaan?” temannya mendengus, “orang
kerjaan kamu tuh cuma gowes.”
“Nah itu tau,” Nur menjentikkan jarinya, “saya
sibuk gowes.”
“Ya masa sampe skip ibadah sih, Nur?”
temannya yang lain menyerngit tak suka.
Nur memainkan ujung bajunya gugup, “kalian
jangan ketawa, ya.”
Temannya mengangkat alis skeptis, “Oke?”
“Jadi saya itu,” Nur mengambil nafas panjang sebelum
menjatuhkan bom, “mau mudik naik sepeda.”
Teman-temannya langsung tersedak ludah sendiri.
“Jakarta-Surabaya, Nur?”
“Iya.”
“720 kilometer, Nur?”
“733 kilometer, tepatnya.”
“Makin jauh dong?!”
“Pokoknya saya mau mudik!” Nur berseru kesal.
Teman Nur berusaha menenangkan, “kamu nggak
suka lebaran bareng kita di sini?”
“Bukan gitu,” elak Nur, “saya tuh… takut
menyesal kayak tahun lalu.”
Teman-temannya hanya diam, menunggu penjelasan
Nur.
“Tahun lalu saya nggak mudik, tapi saya santai
karena ada kalian. Mana ada pikiran kalau itu lebaran terakhir bapak? Nggak ada!”
Teman-teman Nur ingat dua minggu setelah
lebaran tahun lalu ia memang pulang kampung karena bapaknya meninggal.
“Kita dilarang mudik biar nggak kena Corona, katanya.
Tapi Bapak saya meninggal juga bukan karena Corona tuh,” suara Nur menjadi parau,
“beliau meninggal serangan jantung. Terus apa yang saya lindungi? Apa hasil dari
ikhtiar saya? Bapak saya tetep nggak ada! Malah saya makin sedih, karena saat
terakhir liat wajah bapak masih hidup tuh lebaran tahun sebelumnya.”
“Nur,” temannya yang lain menggenggam
tangannya, “ini ceritanya kamu tuh mempertanyakan Allah nggak sih?”
Nur terdiam. Mungkin ia memang sedikit marah
dengan takdir. Mungkin ia memang mempertanyakan Allah. Untuk apa seluruh
usahanya hingga tidak pulang ke rumah dan menyimpan rindu sendiri jika akhirnya
orangtuanya tetap sakit? Untuk apa usahanya mengumpulkan pundi-pundi jika pada
akhirnya rumah sakit terbaik pun tidak bisa membuat orangtuanya sehat kembali?
Untuk apa ia berusaha mati-matian tetapi alasannya berusaha malah mati lebih
dulu?
“Nur, kamu inget Al-Baqarah ayat 216 nggak?” temannya
memulai lagi.
Oh, Nur hafal ayat itu karena ketika ia
menangis karena tidak diterima di kampus impiannya, bapaknya pernah menasehatinya
dengan:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang
itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal
ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
“Kita tuh, apa ya Nur? Disuruh ini, protes.
Dilarang itu, protes. Terus juga selalu ngerasa kalo apa yang kita minta di
setiap doa itu yang terbaik. Iya nggak?” setelah Nur mengangguk, temannya
melanjutkan, “tapi kita nih siapa sih? Apalah kita ini kalo dibandingin sama
Allah Yang Maha Tahu?
“Mati itu kan pasti, wallahu a’lam. Terus
nih misalkan, kita semua ngotot buat mudik taun lalu. Bapak kamu yang memang
udah saatnya dipanggil Allah waktu itu malah meninggalnya karena virus yang kamu
bawa. Apa kamu nggak lebih makin sedih?”
“Tapi saya cuma pengen lihat muka ibu saya.
Pengen peluk, cium tangan minta maaf. Pengen shalat Ied bareng. Karena saya
juga nggak tau kapan bakal dipisah lagi,” sanggah Nur di tengah isaknya, “lagipula
banyak orang yang di rumah aja juga tetep sakit, kan?”
“Kan menghindari keramaian mudik juga termasuk ikhtiar
buat jagain ibu kamu,” kata temannya lagi, “kita nih manusia ya emang batas
ikhtiarnya cuma segini; berusaha menghindari, jaga protokol kesehatan, ikut
vaksin. Terus kalo udah ikhtiar kayak gitu dan masih sakit apa berarti kurang? Ya
nggak juga. Mungkin emang lagi dikasih cobaan sama Allah buat ngehapus
dosa. Yang penting kita ikhtiar dulu, niatnya buat jaga badan kita sendiri yang
lagi dikasih sehat sama Allah. Soal berhasil enggaknya, Allah lebih tau mana
yang baik buat kita. Husnudzon sama Allah, Nur.”
“Lagipula,” lanjut temannya yang lain, “emang kamu
yakin kalau Ramadhan ini bukan Ramadhan terakhir kamu? Yang bisa
sewaktu-waktu dipanggil Allah bukan cuma ibu kamu lho. Kamu juga.”
Nur langsung merasa tertampar. Ia tidak pernah
berpikir sampai sana. Selama ini yang menjadi ketakutannya adalah bagaimana
jika ibunya juga dipanggil Tuhan. Namun ia lupa bahwa ia juga bisa saja pergi
duluan. Nur mengevaluasi ibadahnya tahun ini. Di hatinya kini terasa malu
sekali; malu pada dirinya tahun lalu, malu pada bapak ibunya, dan juga malu
pada pada Allah.
“Bulan ini fokus ibadah dulu,” saran temannya
yang lain, “doain bapak kamu biar husnul khotimah, doain ibu kamu juga biar sehat
terus jadi bisa ketemu kamu tahun ini. Masa demi mudik aja kamu sampai
ninggalin esensi Ramadhan sebenarnya sih, Nur? Kan ibadah juga demi bahagiain
orangtua kamu lewat doa. Banyak kok cara lain buat nyambung tali silaturrahim.”
“Besok telepon ibu ya, Nur? Tanya kabar. Minta
doa,” temannya menepuk pundaknya memberi kekuatan, “habis itu kamu pikir lagi
enaknya gimana. Oke?”
“Oke,” Nur tersenyum pada teman-temannya, “makasih
ya.”
Seisi kosnya tersenyum dan memeluk Nur. Dari
balik pelukan, Nur memandang sepedanya lewat jendela sambil
tersenyum. Sepertinya ia memang harus merelakan rencana yang kalau sekarang
diingat-ingat lagi memang terasa ngawur.
***
“Eh tau nggak, Nur? Ada hikmah lain lho dari kamu
nggak mudik.”
“Apa?”
“Nggak ditanya sama keluarga soal kapan nikah.”
“…iyasih.”