Ketika lulus sekolah, saya mati-matian agar
bisa masuk perguruan tinggi.
Ketika lulus kuliah, saya mati-matian agar
bisa mendapat pekerjaan.
Ketika bekerja, saya mati-matian agar bisa
menikah tepat waktu.
Ketika menikah, saya mati-matian agar bisa mempunyai
anak.
Ketika mempunyai anak, saya mati-matian
menyekolahkannya sampai tinggi.
Saya selalu mati-matian,
Hingga saya lupa untuk hidup.
***
“Saya ingin
bunuh diri.”
Kolega saya
yang sedang menghirup Cappuccino-nya
langsung terbatuk dan menatap saya dengan pandangan aneh, “apa?”
Ada sekitar
jeda lima detik di antara kami. Kemelut di otak saya merangkai sejuta jawaban
untuk pertanyaan singkat itu. Tetapi—seperti biasa—ada janggalan di
kerongkongan saya untuk mengucapkan kata-kata rapi yang telah otak saya susun.
Saya yakin kolega saya akan menilai saya gila setelah saya menjawabnya.
Sejujurnya saya tidak peduli pada penilaian orang tentang saya di tahap ini.
Saya tidak peduli apa yang akan dia pikirkan tentang saya. Empat puluh tahun
saya hidup dan hidup dan saya sudah cukup banyak mendengar gosip—entah miring
atau lurus—tentang saya. Dianggap gila tidaklah seberapa.
Tetapi lebih
baik saya tahan karena satu jam lagi orang inilah
yang akan menentukan deal atau
tidaknya proyek yang perusahaan saya tawarkan sejak sebulan lalu.
***
Saya memejamkan
mata dan merasakan sentuhan lembut asing dari wanita manis dengan gaun hitam
belah rendahnya di depan saya. Otak saya berkabut, mungkin efek bir yang saya
tenggak barusan. Biasanya saya kuat menenggak hingga lima gelas lebih. Tetapi
ini baru gelas kedua dan mata saya sudah begitu berat.
Wanita itu
membisikkan kata-kata manis di telinga saya—suaranya sedikit keras, berusaha
mengalahkan dentum musik dari DJ yang tampangnya tidak pernah saya lihat di podium. Telinga saya sepertinya tidak
sanggup menyalurkan informasi detil
dari wanita ini ke otak saya, tetapi—mungkin ini refleks, entahlah—saya
langsung mengulum bibir berbau alkoholnya.
Hambar.
“Saya ingin
bunuh diri.”
Wanita itu
terhenti ketika mendengar bisikan saya ditengah ciuman kami. Ia mengernyit,
tetapi tubuhnya tetap menempel padaku seperti cicak. Dengan suara datar dia
bertanya, “apa?”
Seperti biasa,
otak saya sudah bersiap dengan sejuta jawaban. Saya ingin sekali memutus ribuan
benang kusut di otak ini, menjernihkan kembali pikiran saya yang biasanya hanya
saya cuci dengan sebotol dua botol alkohol kadar sedang. Well, sebenarnya botol-botol itu sanggup menyapu kabut di pikiran
saya. Tetapi efeknya hanya berlangsung semalaman. Esok harinya benang-benang
itu akan terputar-putar lagi dan membelut saya, sesak rasanya. Hanya saja
ketika saya ingin menjawab pertanyaan simple ‘apa’ itu, bibir wanita ini
perlahan menyapu kembali bibir saya. Lagi-lagi jawaban saya terhenti di
kerongkongan.
Akhirnya saya
mencengkram erat pergelangan tangannya, mendorongnya ke dinding kelab yang
dingin, dan membiarkan intuisi lelaki saya bekerja sendiri.
***
Kali ini saya
duduk berhadapan dengan wanita yang lain; yang telah saya gauli sepuluh tahun
terakhir. Setiap pagi kami akan duduk berhadapan dan menikmati sarapan kami
dalam diam. Kami terasa begitu jauh; terhalangi oleh meja makan dan rasa-rasa
bosan tak tersampaikan. Saya tak keberatan sama sekali sebenarnya.
“Mas?”
Saya mendongak
ketika ia memanggil saya dengan suara kecilnya. Tanpa suara memberinya isyarat
untuk lanjut bicara.
Ia terlihat
ragu; bibir tipisnya terlipat ke dalam. Saya terus memandanginya, memberikan
tanda bahwa saya memperhatikan. Detik itu saya sadar bahwa wanita ini semakin
kurus. Tulang pipinya menonjol dan rahangnya terlihat lebih kaku. Saya mencoba
mengingat-ingat apakah saya pernah memberinya uang kurang, tetapi hasilnya
tidak pernah. Dengan uang yang saya berikan, seharusnya ia menjadi lebih subur.
Saya tahu saya
lelaki brengsek; mabuk sana-sini, tidur sana-sini. Tetapi saya tetap merasa
bahwa wanita ini seharusnya tetap saya rawat dengan baik—paling tidak dengan
uang yang saya miliki.
Wanita di depan
saya tiba-tiba menggeleng, “tidak. Lupakan.”
Saya langsung
menunduk, memandangi roti selai nanas saya seakan itu adalah hal yang paling
menarik di dunia, “saya ingin bunuh diri.”
“Mas?”
Saya
memberanikan diri untuk mendongak sekali lagi. Potret wajah kagetnya begitu
dramatis, seakan-akan saya sedang mengumumkan tanggal pasti kiamat atau
semacamnya. Detik itu saya baru menyadari bahwa saya telah menikahi wanita yang
cantik sekali. Mata bulatnya menatap saya dalam-dalam, tidak percaya. Bibir
mungilnya setengah terbuka, seakan berusaha mengeluarkan respon yang pantas.
Ternyata wajah kagetnya lucu juga. Kapan terakhir kali saya melihat secuil
ekspresi dari muka datarnya? Saya lupa.
Tiba-tiba
keheningan asing itu dipecahkan oleh suara pintu kamar yang terbuka dari lantai
dua. Kami sama-sama menoleh untuk menyambut anak tujuh tahun kami yang sudah
terlihat tampan dengan seragam sekolahnya. Bocah kecil itu tersenyum
menggemaskan sambil merajuk pada perawatnya ketika turun tangga dan menyebutkan
makanan yang ia inginkan untuk sarapan pagi ini.
Wah, saya lupa
anak saya sudah SD sekarang.
***
“Selamat atas deal suksesnya, Pak!”
Saya hanya
tersenyum hambar kepada atasan saya dan menyambut jabat tangannya tanpa minat.
Ia tersenyum puas dan mempersilahkan saya duduk, sambil menanyakan minuman apa
yang saya inginkan.
Saya tersenyum
sopan dan meminta air putih.
“Saya
benar-benar bangga mempunyai Anda,” bos saya tertawa bangga, “dedikasi Anda
kepada perusahaan ini benar-benar tidak diragukan lagi. Proyek ini nilainya
besar sekali! Sepertinya saya harus memberi Anda hadiah yang pantas,” ia
terhenti sebentar ketika sekretarisnya masuk dan memberikan air putih kepada
kami berdua, “apa yang Anda inginkan?”
Saya menatap
botol kaca transparan di depan saya. Entah mengapa saya merasa bisa mendengar
suara air bergemuruh dari botol itu—apakah menolak untuk saya minum? Entahlah.
Atau mungkin itu hanya suara otak saya yang lagi-lagi menolak masukan
sana-sini. Saya mengambil gelas itu perlahan dan menyeruput isinya dalam diam.
Kerongkongan saya tetap kering; air ini terasa tak memberikan efek apapun
kepada tubuh saya.
Atau mungkin
tubuh saya telah lupa bagaimana cara bereaksi? Entahlah.
Sambil tetap
menggenggam gelas yang sudah separuh kosong itu, saya mendongak dan tersenyum
kepada atasan saya, “saya ingin bunuh diri.”
Atasan saya
yang sedang minum langsung tersedak menumpahkan seluruh isi gelasnya. Ia
menatap saya dengan mata berair sambil terbatuk-batuk. Saya tidak mempunyai
niat untuk menolongnya, sayangnya.
“Apa?”
Lagi-lagi
pertanyaan itu. Bibir saya terkatup dan saya merasakan gelas yang saya cengkram
sedikit retak. Saya tidak tahu lagi berapa beban yang dibawa oleh hati saya;
begitu inginnya saya menumpahkan semua perasaan, pikiran, kelelahan,
jawaban-jawaban yang semakin lama mengendap semakin kacau. Saya tidak tahu
darimana saya harus memulai dan kemana perkataan saya akan berujung. Mengapa mengungkapkan
alasan begitu menekan? Saya sendiri bingung.
Jadi saya hanya
menarik nafas panjang dan tersenyum, “bercanda. Saya hanya ingin cuti sehari.
Bisa?”
***
Saya hidup, tetapi saya tak sanggup
bernafas.
Jam yang terus berdetak, klakson yang
memekakkan telinga, sosok apatis yang lalu lalang.
Pasti tak pastinya yang akan datang.
Kehidupan sempurna yang hanya terlihat dari
depan.
Perasaan gelap campur aduk dari dalam.
Harta, tahta, wanita.
Bukankah itu terlihat sempurna?
Apakah saya bahagia?
Saya lupa apa itu bahagia.