Mimpi buruk itu
dimulai sejak 2 tahun—kurang lebih—yang lalu. Saat aku masih unyu nan lucu,
menjadi murid kelas 9. Sedang galau menanti hasil ujian. Banyak berdoa agar
masuk SMA impian.
Di sore hari
damai nan indah, mendadak telpon rumahku berbunyi nyaring. Aku mengangkatnya
tanpa perasaan curiga sedikitpun. Sampai semenit kemudian aku tahu bahwa sang
penelpon adalah wali kelasku.
“El, ya?”
“Eng… I, iya,
Bu.” Jantungku mulai menyenandungkan lagu horror.
“Hasil ujianmu
sudah keluar,” wali kelasku berhenti sebentar—now playing, Gloomy Sunday—kemudia beliau melanjutkan,” NEM-mu
36,85.”
Aku tercekat
sebentar. Otakku menghitung cepat. 36, 85. Mata pelajaran yang diujikan ada
empat. Artinya rata-rataku di atas 9.
Well, it’s sounds good. Aku menghela
nafas super lega. Paling tidak usahaku sama sekali tidak sia-sia. Ada secuil
kebanggaan pada diriku sendiri. Aku, El, mendapat rata-rata 9 lebih tanpa perlu
bantuan joki—
“Padahal saya
mengharap lebih darimu lho, El.”
Hatiku langsung
mencelos. ‘Mengharap lebih’? Maksudnya apa?
“Nilaimu bahkan
tidak masuk 10 besar kelas.”
Di detik ini,
aku berasa mati.
***
Akhirnya aku
tahu kalau NEM-ku tidak berarti apa-apa. Termasuk rendah, malahan. Wow.
Bayangkan betapa pintarnya anak-anak Indonesia!
Aku masih ingat
jelas waktu itu suaraku menjadi begitu sengau waktu menelpon Acha.
“Cuma 36, Cha.”
“Aku lebih
rendah kok, Calm down, El.”
“Nggak bakal
bisa masuk di sekolah ituuu!”
“Aku malah nggak
mungkin masuk SMA negeri. Calm down, El.”
“Terkutuk deh
semua joki yang ada di dunia!!”
“El, calm down!”
“Kenapa sih di
Indonesia mau jujur aja salah?!”
Waktu itu aku
benar-benar menyesali keputusanku yang mencoba hidup tanpa joki saat ujian. Aku
jadi benci sekolahku. Aku benci teman-temanku yang dapat nilai bagus karena
‘jalan belakang’. Aku bahkan benci pada Acha yang seenaknya bilang ‘calm down’, ‘calm down’. Calm down gundulmu!
Dia mah hidupnya
enteng. Kalaupun gagal masuk negeri, dia bisa masuk sekolah swasta terbaik,
masa depan cerah, punya suami tampan, anak-anak jenius, dan hidup bahagia
selamanya. Maksudku… apa sih yang kurang dari Acha? Cantik, baik, eksis, dan
cukup tajir untuk punya mobil sendiri.
And… what’s about me? Aku tidak secantik
Acha. Aku bahkan sama sekali bukan orang baik—aku pernah nyaris membetot adik
kandungku sendiri dengan gagang pel sampai dia nyaris mati. Lalu kami bertarung
sengit hanya untuk memperebutkan giliran siapa yang memakai modem hari ini. Aku
sama sekali tidak eksis. Coba lihat contact
ponselku. Hanya 18 nomer. Separuh
kelas. Dan aku bahkan tidak tahu nomor-nomor
itu masih aktif atau tidak. Dan tajir? Serius deh. Aku bisa mendapatkan
ponsel berkamera karena ayahku mengorbankan separuh THR-nya tahun lalu demi
berhenti melihatku merengek dan membanting ponsel lamaku.
Maaf deh buat
kalian yang berharap tokoh utama di kisah ini adalah gadis ideal pujaan setiap
pria ala novel-novel teenlit. Hidup
tidak sesimpel itu, gan.
Dan akhir dari
semua ini bisa kutebak. Mimpi masuk SMA favorit tetap menjadi mimpi belaka.
***
“Ayo dong, El.”
“Ogah, Cha.”
“Temenin aku doang.
Ya, El? Masa tega kamu ninggalin aku sendirian?”
“Nggak mau, Cha!
Why don’t you just stay at home like me sih?
Ngapain kudu ikut perpisahan kelas?”
Ya. Perpisahan
kelas. Hal yang paling tidak kunantikan setelah rentetan peristiwa kegagalanku
akhir-akhir ini. Akan diadakan nanti sore. Acha sudah heboh sendiri memilih
pakaian layak untuk ke semi-party
itu. Sedangkan aku seharian ini heboh sendiri memilih mimik wajah yang harus
aku tampilkan saat orang-orang bertanya NEM-ku. Karena tidak berhasil memilih
mimik wajah yang bagus—atau setidaknya yang terlihat ‘normal’—akhirnya aku
memutuskan untuk melewatkan perpisahan kelasku.
“Ini kan
terakhir, El. Salim terakhir sama wali kelas. Say hi terakhir sama temen-temen sekelas. Is that wrong?”
“Aku cuma nggak
mau.” Sedih campur marah itu datang lagi. Aku tidak akan tahan mendengar
nama-nama sepuluh besar yang akan dibacakan nanti. Aku tahu—ya, memang
terdengar sombong—bukan mereka yang seharusnya duduk santai di peringkat atas
dan memasang tampang sok hebat seperti itu.
That should be me.
Hasil dari
pembicaraan ini adalah, aku kalah. Acha selalu berhasil membujukku melakukan
hal bodoh. Dulu aku menurut saja waktu ia menyuruhku mendekati kakak kelas
tampan berpacar. Ujung-ujungnya aku didamprat di depan kantin. Fine. Dan kali
ini kubiarkan ia menang lagi. Aku selalu menang debat soal pentingnya pengadaan
hukuman bagi siswa yang melanggar peraturan dalam rangka memberbaiki moral
penerus bangsa, tetapi kok bisa sih aku kalah debat soal perpisahan kelas?
Dan di sinilah
kami berakhir. Dua pecundang melawan dunia. Oke, maksudku satu. Karena Acha
sedang mengobrol seru dengan beberapa teman sedangkan aku asyik menikmati
coklat yang dijadikan cemilan. Sengaja tidak bergerombol dengan orang lain.
Untuk sementara ini sendirian rasanya adalah pilihan terbaik.
“El! Ngapain
mojok sendirian? Sini!” Acha menarik tanganku untuk bergabung dengan geng
rumpinya. Aku hanya menghela nafas pasrah, mengalah.
Acha dan geng
rumpi itu tetap mengobrol asyik mengenai banyak hal yang tentang kenangan SMP.
Aku jadi ikut berpikir.
Kenangan SMP apa
yang paling berkesan? Oh, pacar pertama dong.
Yak. Jangan tertawa.
Tetapi tampang begini, aku tetap pernah punya pacar. Hmm… sepertinya kosakata ‘pernah’
itu dihapus saja. Kok seakan aku tidak bisa punya pacar lagi sih…
Soal pacarku itu—mantan,
sebenarnya—aku rasa tidak ada yang istimewa dari kami. Kami hanya ‘mencoba’
punya satu komitmen karena aku juga pacar pertamanya. Tapi toh putus begitu
saja tanpa alasan jelas. Aku ingat waktu perpisahan kelas itu kami tak saling
bertegur sapa. Rasanya aneh mendiamkan seseorang yang hampir delapan bulan
menjadi orang pertama yang kamu tunggu pesannya di ponselmu.
Itulah
warna-warni mantan.
Kami, atau lebih
tepatnya mereka mungkin, masih mengobrol asyik sampai akhirnya keluarlah
pertanyaan klimaks.
“El, kamu mau
lanjut SMA mana?” tanya salah seorang temanku.
“Ah… eh… anu…”
bibirku langsung kelu. Aku takut mengatakan tujuanku kalau toh akhirnya aku tidak
diterima di sekolah itu jadi, “belum kepikiran. Lihat aja nanti, hehehe.”
“Oh,” temanku
mengangguk, “kalau kamu, Cha?”
“NEM-ku rendah
sih, jadi nggak coba daftar negeri. Tapi,” Acha mengulum senyum, “aku udah
diterima sekolah kesehatan.”
Aku mendelik
kaget. Sekolah kesehatan? Dia tidak pernah cerita!
“Serius, Cha? Congrats, ya! Enak dong bisa langsung
kerja di RS-nya.” Teman-temanku langsung menjabat tangan Acha.
“Yaa… kalau aku
bisa nothing impossible. Doain aja,
ya.” Acha terlihat sumringah. Yes I know.
She should be proud of herself. But… it is not fair!
“Enak ya kamu.
Udah dapet sekolah. Nggak perlu cari lagi.”
“Aku doain
kalian juga masuk sekolah bagus deh. Ya kan, El?” Acha menoleh kepadaku.
“Terserah.” Aku langsung
pergi meninggalkan Acha dan geng rumpinya, bahkan meninggalkan lokasi
perpisahan—oh bukan—that sucks party.
Di saat-saat seperti ini, rumahku surgaku.
Aku benar-benar
benci semua orang. Aku benci Acha. Aku benci mereka yang santai dengan sekolah
mereka kelask. Aku benci diriku sendiri yang tidak bisa mendapatkan apa yang
mereka dapat. Aku benci aku dilahirkan menjadi El, bukan menjadi Taylor Swift.
Oke, yang Taylor
Swift agak berlebihan.
Tetapi aku benci
keadaan yang seperti ini! Seumur-umur aku tidak pernah keluar dari sepuluh
besar kelas. Sejak TK aku tidak pernah kesulitan dengan nilai. Dan sampai
kemarin tidak pernah ada guru yang komplain soal payahnya aku di suatu
pelajaran—kecuali olahraga dan seni rupa, dua ini bisa ditolerir.
Dan sekarang apa
yang terjadi? Aku terdepak dari sepuluh besar, aku kesulitan mencari sekolah
karena nilaiku, dan guru-guru kecewa dengan NEM-ku. Di lain sisi, malah ada yang sedang bersenang-senang karena
sudah diterima di sekolah bagus dan masa depannya hampir terjamin.
Lalu apa yang bisa
kubanggakan lagi kalau predikat ‘pintar’pun sudah dicopot dariku? Aku tidak
punya hal lain. Kenapa mereka tega sih?
Kalau waktu bisa
diputar, aku akan membeli kunci jawaban ujian langsung dari Pak Menteri
Pendidikan.
***
“Lho, El? Kok
cepet acaranya?” tanya ibuku ketika aku sampai rumah.
“Bete.” Ujarku singkat
sambil masuk kamar dan menguncinya.
Ponselku
bergetar lama. Acha menelpon. Ah, bodo. Aku langsung mematikan ponselku dan
berusaha tidur. Ingin sekali tidur seperti beruang saat hibernasi. It will be fun.
“El?” ibu
mengetuk kamarku, “kenapa sih dateng-dateng marah?”
“Nggak pa-pa. El
udah makan. Nggak usah disisain kalo adek mau makan banyak.”
Agak lama hening
sampai akhirnya ibuku mengetuk lagi, “El?”
“Apa?”
“Acha telepon
pake ponselnya ayah. Katanya ponselmu mati. Cepetan nih angkat.”
“Bilang aja El
tidur.”
“El!”
“Iyaaaa.” Kalau nada
suara ibuku sudah naik satu tingkat seperti itu, judulnya bukan ‘perintah’
lagi. Tetapi ancaman.
Aku membuka
pintu, mengambil ponsel, dan menerima telepon Acha.
“Halo? El?”
suara renyah Acha mulai terdengar.
“Ya.”
“Kok pulang
tiba-tiba sih? Kamu marah ya? Kenapa?”
“Nothing.”
“Nggak usah sok
jaim gitu deh. Salahku apa sih? Nggak usah sok marahan, deh. Nggak asyik.”
“I’m not doing anything that called ‘fun’,
Marsha.” Tegasku, “dan nggak usah bilang ‘sok’ di depanku. Ngaca dulu gih.”
“Apaan sih, El?
Kamu bener-bener bikin bingung tau!”
“Kenapa kamu
nggak ngasih tau aku duluan kalau kamu sekolah di sana sih?” tembakku langsung.”
“Ya ampun. Cuma
masalah itu.” Ia menghela nafas, seperti bosan, “Sori deh, aku juga baru tau
tadi.”
‘Cuma’, katanya?
“Kamu juga nggak cerita kalau ikut tesnya!”
“Masa cuma soal
itu kamu marah sih?”
“Jangan bilang ‘Cuma’!
Aku terus-terusan bingung soal sekolah dan kamu udah melenggang bebas sambil
pamer soal sekolahmu itu?”
“Aku nggak
pamer!”
“Kamu pamer!”
“Kamu egois!”
suaranya naik satu oktaf, “kamu selalu sedih-sedihan soal NEM-mu. Kamu pernah
mikirin kalau aku lebih down karena
NEM-ku jauh lebih rendah daripada kamu? Kamu aja bingung, apalagi aku!”
Aku terdiam.
“Aku udah sadar
sejak awal kalau aku nggak bakal masuk SMA negeri manapun. Jadi aku ikut tes.
Aku pengen cerita ke kamu. Tapi apa? Semua obrolan kita akhir-akhir ini kamu
monopoli. Terus gini ini tetep salah aku? Kenapa nggak kamu aja yang ngaca?!”
“Oke. Aku
ngerti. Maaf kalau selama ini aku egois. This’s
the limit. I’m out.” Langsung kututup telponnya. Cukup begitu.