Monday, 24 June 2013

Drama Kecil Nisfu Sya'ban

Ayah: "Mbak tau apa itu nisfu sya'ban?"
Aku: "Mmm...." (berpikir sebentar) "seingatku sih, Allah akan menutup buku amal kita, mengganti dengan yang baru, juga menulis nasib kita selama setahun."
Ayah: "Kalo adek tau?"
Alif: (geleng-geleng bego)
Ayah: "Yaa... bener sih kata Mbak Alfi tadi." (tertawa saat aku melengos) "Allah akan menulis nasib kita selama setahun. Berlaku mulai lailatul qadr."
Aku + Alif: (angguk-angguk sok paham)
Ayah: "Apa nasib bisa diubah?"
Alif: "Nggak bisa. Kan sudah ditulis Allah."
Ayah: "Salah. Bisa dong! Manusia bisa menguban nasibnya asal dia...?"
Alif: "Ikhtiar!"
Ayah: "Meskipun begitu, sesudah ikhtiar sekeras mungkin, namun hasilnya kurang memuaskan, itu artinya dia harus.....?"
Alif: "Tawakkal!"
Ayah: "Ah, adek pinter."
Aku: (nada sindir) "Teorinya mudah ya. Penerapannya?"
Ayah: (tersenyum, tanpa merespon)

Sunday, 23 June 2013

Racauan Malam Malam

Ditinggalkan, meninggalkan. Kalau boleh memilih, saya lebih suka meninggalkan.
Kelihatannya enteng sekali. Hanya membawa koper besar, mengepak baju, dan pergi. Tidak berbalik ke belakang untuk melihat keadaan orang yang ditinggalkan. Lagipula toh, belum tentu juga ada yang merasa saya tinggalkan. Saya bukan orang jahat yang pantas mendapat air liur di makam saya nanti sih (pede sekali), tetapi saya rasa saya bukan orang yang sangat baik sehingga ada sekelompok manusia yang akan meraung-raung berharap saya dengan datang kembali.
Daripada ditinggalkan? Oh, percayalah. Dengan muka kejam seperti ini pun saya sanggup menyayangi banyak orang (di luar keluarga saya tentunya) lebih dari yang bisa hati saya tampung. Dan... saya tidak siap ditinggalkan—tidak akan pernah siap sih. Saya tidak mau ditinggalkan dan saya tidak suka ada orang yang mengerjakan sesuatu lebih dulu ketimbang saya. Termasuk pergi jauh dan tak kembali.
Tetapi pertanyaannya, apakah ‘ditinggalkan’ butuh persiapan?
Entahlah, hanya saja... guru biologi saya pernah bilang bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan manusia tanpa belajar adalah menyusu ke ibunya.
Itu artinya, beradaptasi setelah kehilangan pun juga perlu belajar.
Dan artinya, semakin banyak kita ditinggalkan, semakin banyak kita kehilangan, semakin terlatihlah mental kita.
Karena pada dasarnya, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan bukan?
Jadi, sebenarnya saya menginginkan satu hal; kalau toh nanti memang sayalah yang ditinggalkan, bisakah siapapun-si-tukang-tinggal itu mengucapkan selamat tinggal? Memberikan kekuatan untuk saya bahwa—meskipun ditinggalkan—sebenarnya saya masih dianggap ada?
Sebenarnya saya masih dilihat?
Sebenarnya saya tidak menyayangi sendirian seperti orang bodoh mendongak inginkan bulan?
Setiap orang ingin menjadi kuat di atas kerapuhan mereka. Tetapi kamu tahu? Saya rasa yang membuat seseorang menjadi kuat adalah... beban sakit yang harus mereka panggul sendirian.
Saya ingin menjadi kuat, tetapi saya tidak mau sendirian. Kalau bisa sih, saya menjadi kuat bersama orang lain, ketika kami berusaha menahan beban yang sama.

Duh, sudah malam. Saya mulai meracau. Oke, bye.

Wednesday, 19 June 2013

Yang Pergi, Terbang Saat Datang Kembali

Aku menyodorkan ponselku pada lelaki di depanku.
“Ini, maksudnya apa?”
Ia tidak menerima ponselku—bahkan tidak menatapnya. Mungkin ia tahu ‘ini’ yang kumaksud.
“Ini maksudnya apa?” ulangku lagi.
Dia menghela nafas panjang, “kamu memintaku datang ke cafe ini, menawariku secangkir kopi, menjanjikan akan membayariku, hanya untuk meminta penjelasan ‘ini’?”
Aku memang konyol tapi, “ya.”
Ia menghirup oksigen banyak-banyak entah mengapa—maksudku, apa susahnya memberikan suatu penjelasan? Oh, mungkin susah karena dia belum melupakan kenyataan bahwa pernah ada kami diantara aku dan dia.
Paling tidak ada satu hal bagus yang aku tangkap disini; dia belum lupa.
Dan hal yang paling buruk adalah; semuanya juga berawal dari sini.
***
Iya, di sini. Di bangku yang sama. Dengan menu yang sama; dua cangkir cappuccino dengan beberapa slice brownies berlumur keju leleh. Tetapi bedanya waktu itu pipiku terasa begitu panas sehingga tidak akan mengejutkan jika ada telur yang di tempelkan ke pipiku, telur itu akan matang.
“Jadi?” ia menundukkan wajahnya untuk menatapku. Damn! Bisa tidak ia berhenti memberiku tatapan seperti itu?!
“Hmm?”
“Kamu mau jadi pacarku?”
Oh, pertanyaan itu. Diulangi lagi. Sudah dua kali. Mungkin kalau ia mengajukan pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya, aku harus memberinya piring.
“Tetapi kenapa?” dua kata! Aku menanggapinya dengan dua kata. Ini kemajuan sejak pertanyaan pertama tadi.
“Kamu lucu. Tentu saja karena aku menyukaimu. Menyayangimu. Apa itu kurang jelas—maksudku, kamu tidak sadar aku sedang berusaha mendapatkanmu atau semacamnya belakangan ini?”
Tentu saja aku sadar.
“Jadi?”
Untuk ‘jadi’ yang kali ini, aku berhasil menatap matanya. Mencari bukti bahwa ini bukan bercanda atau apa.
Tetapi mata itu begitu jernih. Alisnya bertaut ingin tahu. Kepolosan itu... siapa sih yang akan mengira ini hanya lelucon?
“Oke,” putusku kemudian, dan mengangguk untuk meyakinkannya.
“Serius?” ia melongo sejenak, lalu memperlihatkan cengiran lebarnya, “aku sayang kamu.”
Seperti aku tidak saja.
***
Satu tahun kemudian.
Entahlah. Ini hanya perasaanku saja atau... tidak ada yang terasa berbeda? Oke, selain status hubungan di facebook-ku yang kini bertuliskan in relationship. Tetapi siapa sih yang hanya butuh sekedar status?
Bahkan karena status inilah kami malah terasa berjarak.
Aku sedang melihat sepasang adik kelas yang sedang menertawakan sesuatu. Kuhela nafasku sembari mengaduk es teh yang seharusnya sih tidak perlu diaduk lagi. Kapan yang terakhir aku dan dia—oh oke, pacarku—seperti itu? Sepertinya hanya beberapa bulan pertama kami semanis sepasang-adik-kelas-jatuh-cinta. Dan itu... lama sekali. Astaga! Aku sudah mempertahankan hubungan ini selama hampir setahun. Yah... dua puluh satu hari lagi kami merayakan 1st anniversary. Tidak terasa sekali (haha).
Tetapi aku mulai berpikir dua kali apakah itu pantas dirayakan? Well, sudah dua hari kami tidak berpesan-pesan ria tanpa alasan. Dan sebelum dua hari itu... sepertinya ponselku hanya menerima pertanyaan ‘sedang apa’ darinya, dan akhir percakapan pesan kami hanya ‘oh’.
Tragis.
Sepasang-adik-kelas-jatuh-cinta itu sudah pergi. Kelihatannya sudah lima belas menit aku diam layaknya orang bodoh di kantin ini. Lagi-lagi kulirik ponselku. Sip! Tidak ada pesan satupun darinya!
***
“Dua hari?” teman sebangkuku melongo waktu aku menceritakan short-lost-contact kami. Oke, mungkin hanya aku yang beranggapan dua hari itu termasuk waktu yang pendek karena reaksi temanku begitu berlebihan.
“Ya.”
“Sapa duluan kek!”
“Mm.” Jawabku malas sambil menggelengkan kepala.
“Gengsi?”
Kuangkat bahuku, “kalau dia sampai tidak mengirim pesan satupun, itu artinya dia tidak mau berbicara padaku, kan?”
Lihat kan? Aku pengertian.
“Tidak peka!” sergah temanku, “kalau dia sebenarnya hanya mengujimu? Maksudmu... mungkin dia ingin tahu seberapa perhatian kamu padanya.”
“Astaga. Kamu terlalu sering membaca teenlit dan menonton reality show tanpa mutu. Memang dia terlihat seantusias itu, ah tidak, sebodoh itu? Kurang perhatian apa sih aku selama ini?”
Kini giliran dia yang mengangkat bahu. Aku menghela nafas.
***
Malam harinya, dia mengirimkan pesan terstandar di dunia; sedang apa. Berani taruhan, percakapan ini hanya akan berakhir ‘oh’.
Kujawab pesannya seadanya dan beberapa menit kemudian dia membalas:
Oh.
Nah lho! Kulemparkan ponselku ke bantal dan lanjut belajar.
Lima menit kemudian ponselku bergetar lagi. Kubuka pesannya:
Dua hari ini apa kabar?
Aku mengernyit, dan kujawab ‘baik. Kamu?’ dan kukirimkan padanya. Beberapa menit kemudian dia membalas:
Baik sekali. Lebih baik lagi tanpa pesan apapun dariku kan?
What the—! Kubalas:
Kamu juga, lebih baik lagi karena sama sekali tidak memberiku kabar kan?
Ia membalas:
Jadi menurutmu, harus selalu aku yang memberimu kabar? Menanyai kabarmu? Mendapat jawaban paling singkat di dunia, dan membalasnya hanya dengan dua huruf?
Aku mulai tidak habis pikir. Kubalas:
Maksudmu apa sih?
Agak lama. Sekitar setengah jam, ponselku baru bergetar. Ia hanya mengetik:
Lupakan.
Rasanya aku ingin menangis. Entah untuk apa.
***
Temanku mendengarkan semua ceritaku. Ekspresinya tidak seheboh kemarin. Wow, kemajuan.
“Ini mulai berantakan.” Ia menghela nafas, “dengarkan. Aku harus jujur.”
“Jujur?”
“Ya.” Ia menghembuskan nafas pelan-pelan dan berkata, “dia ingin putus denganmu.”
Aku tidak bereaksi.
“Dia mengatakannya padaku. Dia... bosan. Kamu tahu? Dia selalu berpikir kamu cuek dan blablabla. Dia juga mulai berpikir kalian... tidak cocok lagi. Dia—“
“Cukup!” ada cairan hangat yang kini mengalir ke pipiku. Aku menangisi apa? Ini cinta macam apa?
Dan malamnya, dua puluh hari sebelum hubungan kami setahun, aku dan dia... benar-benar putus.
***
Aneh bagaimana bumi berputar—dalam konotatif berputar. Seorang direktur kaya raya yang tiba-tiba bangkrut dan jatuh miskin, orang yang sehat wal afiat dan di pagi hari masih sempat olahraga nyatanya meninggal siangnya, dan gejala aneh lainnya.
Oh ya, salah satunya adalah aku. Dan dia. Iya, dia, mantanku.
Semua terasa aneh. Beberapa bulan setelah putus, kami malah dekat lagi. Akrab lagi. aku mendadak ingat sejuta alasan aku menyukainya. Dan alasan-alasan itu berhasil membuat aku menyukainya... lagi. Berbalik 180 derajat; perasaanku saja, atau dia memang jauh... jauh... JAUH lebih menyenangkan sekarang?
Tuh kan, suka lagi.
Dan dia juga.
Seminggu sebelum ujianku, di cafe biasa, dia mengatakan padaku bahwa ia masih ada rasa. Dan mungkin kami bisa lebih baik kalau mengulangnya sekali lagi.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya, “kita banyak kesalahan setahun itu. Bukannya tidak salah kalau kita coba perbaiki?”
Aku tersenyum kecil. Apa boleh buat? Aku juga menyukainya. Tetapi...
“Seminggu lagi aku ujian,” kataku jujur, “aku ingin fokus. Dan well, aku tidak mau semuanya berakhir hanya karena aku mengabaikanmu. Seperti dulu.”
Hening merayap sejenak. Kami sama-sama sibuk dengan pikiran-pikiran yang bermunculan di benak kami. Sampai akhirnya ia tersenyum lagi.
“Hanya dua minggu? Aku mau menunggu. Kan hanya dua minggu. Pokoknya, aku menyukaimu. Masih menyayangimu.”
Hati kecilku bersorak girang. Hanya dua minggu.
***
Dua minggu kemudian.
Aku masih menyodorkan ponselku di hadapannya. Ambil kalau berani! Ambil!
Tetapi dia tetap bergeming diam.
“Kamu bilang mau menunggu! Apa katamu dulu... ah ya! ‘Hanya dua minggu’. Ya, benar. Hanya dua minggu yang kamu butuhkan untuk memberiku ini!”
“Kamu tidak mengerti—“
“Bagian mana yang menurutmu kurang jelas bagiku?!” gawat. Aku menangis, “Kamu... jahat!”
“Kamu tidak mengerti!” sergahnya penuh emosi, “apa benar kita bisa memperbaiki semuanya?”
“Mana tahu kalau belum dicoba?” rasanya aku merana, “kamu memutuskan seenaknya, mengataiku seenaknya, meninggalkanmu seenaknya, maksudmu apa?!”
Hening lagi.
“Tapi ini cukup jelas sekarang,” kupertahankan benteng harga diri terakhirku—aku berdiri, mengambil tasku, “aku sudah cukup menangkap penjelasan darimu. Terima kasih.”
Dan aku pergi. Layar ponselku masih belum kumatikan.
Layar ponselku, menampilkan laman facebook-nya, yang menjelaskan bahwa dia sudah berganti status hubungan menjadi in relationship.
Dengan seorang gadis.
Dan yang jelas, nama gadis yang tercantum disana bukan milikku.


Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com