Tuesday, 16 April 2013

Saya sedang berusaha mengejar mimpi, seperti ribuan orang lainnya yang bermimpi sama seperti saya.
Saya sedang takut gagal, seperti ribuan orang lainnya yang memiliki ketakutan seperti saya.
Tetapi di atas itu semua, saya yakin; Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk orang yang berusaha dengan tulus.

Saturday, 6 April 2013

Secangkir Cappuccino; (Bukan) Cinta Tapi Beda


“Permisi.”
Mendadak pandanganku kembali fokus ke buku menu.
“Jadi, Anda mau pesan apa?” nada pelayan itu tidak sabar. Sepertinya aku terlalu lama meninggalkannya dalam lamunanku.
Choco topping donut. Minumnya...” aku membalik buku menu itu, “cappuccino, not bad.”
Pelayan itu mencatat pesananku, lalu pergi. Aku hampir beranjak menuju alam bawah sadar lagi. Well, sejak kejadian dini hari itu, aku merasa tempat ternyaman adalah otakku sendiri. Aku tidak mau kehilangan ‘alam’ ini. Aku tidak mau pergi terlalu lama. Aku lebih suka hidup di bawah imajinasi.
Imajinasi egois; seandainya kami tak seberbeda ini.
Iya, kami. Aku, yang pergi ke gereja setiap minggu, dan ia, yang pergi ke mushola setiap jam istirahat kedua.
Nyatanya semua ini tak berjalan sedramatis dengan antiklimaks semanis ‘Cinta Tapi Beda’. Iya, oke. Kami berbeda. Tetapi pada awalnya aku tidak pernah merasa perbedaan itu suatu masalah.
Sampai pada akhirnya, masing-masing kami merasa memang ada sesuatu yang salah.
***
Kepingan kenangan itu masih ada kalau kau mau mengintip sedikit saja apa yang sedang kulamunkan...
 “Kita jalan, kamu mau?” tanyanya tiba-tiba waktu itu.
Aku melongo.
“Emm... jangan begitu dulu, dong.” Ia nyengir, “aku punya nadzar. Kalau aku menang pertandingan flag football minggu ini, aku akan mengajakmu jalan. Nonton tidak buruk-buruk amat, kan?”
Aku mengernyit, “nadzar itu apa?”
“Nadzar itu janji yang kita ucapkan kalau kita punya suatu keinginan. Kalau aku mendapat ini, aku akan begini. Semacam itu lah.”
“Ooh..”
“Mau ya?”
“Kamu yang traktir?”
“Kamu pikir aku lelaki tanpa tanggungjawab?”
“Deal!” aku tersenyum penuh gratisan. Jangan-jangan uang bahkan bisa mendinginkan neraka sekalipun...
“Aku jemput kamu.” Ia tersenyum, “malam minggu. Oke kan?”
“Oke.”
Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya aku sama sekali tidak terpikir bahwa itu ajakan kencan.
***
Malam minggu itu aku tidak merasa ada yang aneh. Semua berjalan normal. Aku dan dia menonton film komedi bersama, tertawa (paling keras se bioskop) bersama, makan di foodcourt bersama, membicarakan film itu bersama—dan tertawa lagi. Sekarang itu terdengar konyol—sampai mendadak ia membawa aura serius lewat mukanya.
“Ada apa?” tanyaku setelah menyadari perubahan itu.
“Aku mau jujur.”
“Hah?”
“Emm... yah... sebenarnya aku mengajakmu bukan Cuma sekedar nadzar sih?”
“Hah?”
“Aku menjadikanmu nadzar karena kamu spesial. Paham? Emm... jadi...”
“Ya?”
“Aku boleh suka kamu?”
Hening. Dengan dia memang terlalu banyak adegan hening.
”Te, tentu saja boleh.” Aku tertawa garing, kagok, “tidak ada yang bisa melarang orang untuk suka dengan orang. Feel never goes wrong.”
“Kalau begitu,” ia mendekatkan wajahnya padaku, seakan ingin mengatakan hal sangat-sangat rahasia, “mulai sekarang aku akan berusaha mendapatkanmu. Hati-hati ya.”
Pipiku terasa panas. Waktu itu benar-benar memalukan.
***
Klimaks manis: satu bulan kemudian,
“Kamu tahu aku suka kamu, kan? Aku tidak suka memberi harapan palsu, aku bukan lelaki brengsek.” Ia tertawa gugup, “jadi pacarku, ya?”
Waktu itu rasanya aku terbang. Kecanduan. Aku kecanduan dia. Rayuan-rayuan murahan yang terasa lebih jujur daripada gombalan sejuta dollar, hidung mancungnya yang membuatku iri setengah mati, senyum porno-tapi-polos-nya yang membuat mudah rindu itu—mungkin orang ini memang narkotika jenis baru.
Aku mengangguk, kehabisan kata. Tapi ada benang-benang kusut di logikaku yang waktu itu tidak bisa ku interpretasikan menjadi sesuatu. Dan aku memang naif, kubiarkan saja ganjalan itu mengendap. Waktu itu, aku berpikir bahwa tidak ada yang salah. Feels never goes wrong.
But... isn’t it?
***
Semuanya terasa manis. Kami cukup sering mempertengkarkan hal tidak penting, lalu tertawa bersama seperti itu hanya adegan opera sabun murahan. Kepribadian gandanya—ia bisa sopan dengan mengagumkan di depan orang yang lebih tua. Sepertinya ia tipe lady killer or something else—membuat keluargaku juga menyukainya. Sampai-sampai mamaku percaya saja dengannya saat ia mengajakku menonton konser dan baru pulang lewat tengah malam. Ha!
Saat itu, aku merasa ini akan bertahan lama. Aku tahu ia lelaki baik dan aku juga tidak suka mempermainkan orang. Aku rasa, yes he is! Dia yang benar. Dia yang seharusnya ada sejak dulu, bukan dua lelaki brengsek yang memutuskanku karena alasan tidak jelas dan seminggu kemudian malah pacaran dengan wanita lain.
Dan ternyata... coba ku ingat... empat bulan kemudian, kalau tidak salah. Malam hari yang tenang. Tanpa firasat buruk apapun. Ponselku bergetar, tanda pesan singkatnya masuk.
Boleh aku jujur?
Aku mengenyit. Tidak biasanya dia serius begini.
Apa?
Beberapa menit kemudian ia membalas.
Sepertinya empat bulan sudah cukup lama. Dulu aku pikir aku tidak akan masuk sedalam ini, tetapi okelah ini memang salahku. Seharusnya dari awal aku hindari hal-hal mustahil seperti ini. Aku sudah mulai terlalu menyayangimu dan ini tidak bagus. Aku takut semakin lama kita bersama, semakin tidak rela aku kehilanganmu, padahal tidak ada alasan yang membuat kita jadi satu... kamu paham?
Aku membaca perlahan, melumat dalam otakku yang sedetik, dua detik, seakan kehilangan cara kerjanya. Kulihat salib yang terpatri di tembok kamarku tetapi... tidak. Aku tidak mau. Jangan, ku mohon...
Aku tidak mau membicarakan ini lagi. Titik.
***
Sejak itu aku mulai menghindarinya. Percakapan langsung dengannya. Iya, memang bodoh. Nilaiku cukup bagus di kimia tetapi masalah seperti ini nyatanya bukan bidangku. Aku masih kecanduan! Dan kata-katanya di pesan itu membuatku merasa terbuang, seakan ada anggota BNN yang menangkapku sedang pesta shabu kemudian memaksaku untu rehab tanpa persetujuan keluargaku... oh ya, ini sih cerita artis itu.
Jangan tertawa, karena aku berduka. Aku kehilangan sesuatu yang bisa disebut pijakan. Aku terluka—apa ia tahu ia telah membuatkan terluka? Semua ini mulai terasa tidak sehat. Aku tidak tahu kelanjutannya. Aku tetap memasang namanya di bioku, begitupun ia. Seakan-akan tidak pernah ada yang terjadi tetapi.... nyatanya ada! Ini mulai mengganggu. Aku mulai tidak terima atas perlakuan hatiku. Apanya yang feels never goes wrong? Ini jelas dosa... tetapi dosa termanis yang pernah kubuat.
Tetapi judulnya tetap dosa, kan? Apa Tuhan akan marah?
***
Pada kenyataanya, Tuhan marah, ya?
Kulirik jam di ponselku. Sudah lewat tengah malam. Besok aku dibaptis, dan benang-kusut-sialan itu mulai terurai sendiri-sendiri, membuatku sadar dan takut.
Aku takut ini adalah gejala-gejala aku mulai mencintainya dan aku tidak bisa melepaskan diri dari jerat seperti itu. Cinta pada manusia tidak boleh lebih dari cinta pada Tuhan... tetapi bagaimana kalau aku melanggar batas itu? Bagaimana kalau ia melanggar batas itu? Kami sama-sama terkukung oleh hukum—akibat dari kepercayaan kami. Aku takut... salah satu dari kami akan ‘merangkak keluar’ dari kukungan itu.
Mataku panas. Aku merasa ini memang salah. Tetapi aku tidak mau... aku tidak bisa... aku harus bisa...
Hei, ketikku di ponsel, aku rasa kamu benar.
Tidak ada alasan untuk kita menjadi satu.
***
“Permisi.”
Mendadak pandanganku fokus. Ah, apa-apaan ini? Mataku terasa perih, basah.
Sialan. Aku menangis lagi.
“Ini pesanan Anda.” Pelayan yang sama dengan tadi memberiku donat dan secangkir cappuccino hangat dengan uap menyebarkan bau harum kopi yang memanjakan pikiran.
“Terimakasih.” Aku tersenyum kecil. Setelah pelayan itu pergi, kuseruput isi cangkir itu dalam diam—sebelum tiba-tiba,
“Hoi!” seseorang menggebrak mejaku. Aku kembali lagi pada kenyataan.
“Ka, kamu?” aku mengernyit. Iya, penggebrak meja menyebalkan ini narkotika-ku.
“Halo.” Ia tertawa, “duduk ya?”
Aku mengangguk, “sebahagiamu deh.”
Ia nyengir dan duduk—lalu dengan kurang ajar mencuil donatku dan memakannya.
“Pesan sendiri!” dengan sewot kurebut piring donat itu. Ia tertawa lagi.
Ada suatu kelegaan luar biasa muncul dari dadaku. Tawanya yang membuatku sakau itu nyatanya kini masih bisa kupandang dari jarak sedekat ini...
“Kamu... menangis?”
Ah bodoh! Dengan tergesa-gesa kuseka air mataku, “disini banyak debu.”
“Debu? Di ruang AC begini?”
Oke, aku bodoh. Bodoh. Bodoh.
Namun auranya berubah lagi. Ia memberiku tatapan intens, diam, dalam.
“Hampir seminggu, ya?” ia menghela nafas, “aku agak merasa kehilangan.”
Ia jujur, aku tahu. Dengan menggigit bibir aku ikut mengiyakan.
“Aku duduk di sini, mau minta maaf.”
“Untuk?” tanyaku dengan suara nyaris mencicit.
“Untuk semua kemustahilan yang sempat aku tawarkan ke kamu.” Mukanya begitu penuh penyesalan, “aku tidak punya niat untuk menyakiti siapa-siapa. Tetapi dalam kasus ini, aku lebih sakit hati daripada yang bisa kamu bayangkan.”
“Begitu juga denganku.” Suaraku serak. Gawat, aku ingin menangis lagi.
“Manusia punya batas yang tidak bisa mereka capai hanya dengan cinta rupanya.” Ia setengah melamun.
“Tidak ada apapun yang bisa dicapai hanya dengan cinta.” Aku tertawa getir.
“Cinta bukan jalan keluar.”
Feels never goes wrong is such a bulshit.”
Hening lagi.
“Perasaan bukan omong kosong,” ia meyakinkanku, “perasaan tidak pernah salah—“
“Tapi perasaan kita salah!” aku pasti terdengar parau, “perasaan sialan itu sekarang membuatku seperti orang gila!”
Feels never goes wrong,” ia tetap teguh pada prinsipnya, “the wrong one is if we are controlled by feels. Kita tidak bisa menuhankan perasaan. Perasaan bukan hal yang bisa kita bawa mati.”
Aku Cuma menunduk. Tahan, tahan... jangan di sini. Jangan mempermalukan dirimu sendiri...
“Aku tidak mau kehilangan kamu.” Ia ikut menunduk, mengejar mataku, “aku harap kita bisa seperti sebelum semua ini terjadi. Kamu benar-benar orang baik—teman baik.”
“Aku butuh waktu.” Akhirnya aku mendongak, menghadapi matanya, “ini tidak semudah itu. Aku butuh waktu.”
Ia seakan mencari sesuatu dari pandanganku.
“Jika waktunya sudah habis, aku janji akan lebih berani menghadapimu. Seperti sebelum semua ini terjadi.”

Tuesday, 2 April 2013

Secangkir Cappuccino - Setahun, Sebulan, Atau Kacaunya Distorsi Waktu


“Mungkin aku yang terlalu egois,” ia menghela nafas panjang, “sepertinya lebih baik... aku melepasmu.”
Aku melongo. Kehabisan kata-kata untuk menanggapi acara ‘lepas-melepas’ yang begitu mendadak ini. Kutelusuri raut wajahnya, berharap ia hanya bercanda. Tapi—ingin kutusuk mataku dengan garpu terdekat karena telah berani mencoba—tidak ada tanda-tanda bahwa ia tidak serius.
“Tapi... kenapa?” jelas aku terlihat begitu bodoh. Dengan piciknya kutunjukkan wajah melas-berharapku di depan seorang gadis yang kini sedang mencoba membuangku. Pasti terlihat bodoh—tapi nyatanya aku memang bodoh...
“Aku... aku terlalu egois, bukankah sudah ku bilang? Aku begitu menyukaimu. Aku selalu berharap setiap detik yang diputarkan jam tanganmu itu hanya untukku. Tetapi nyatanya tidak kan? Aku juga ingin si A, yang setiap hari duduk di samping bangkumu. Aku ingin seperti si B, yang selalu bisa mendapatkan waktumu. Aku ingin seperti si C, yang setiap hari pulang sekolah denganmu—“
Lanjutan kata-katanya tidak begitu kutanggapi serius. Dia hanya menyebutkan satu persatu temanku sejak SMP dan secara tersirat menyatakan iri pada mereka. Aneh, bukankah ia adalah yang paling penting? Harusnya ia sadar bahwa ialah yang paling penting! Harusnya ia sadar...
Karena aku telah berjuang setahun untuk mendapatkannya.
***
Setahun lalu...
“Bangku ini kosong?”
Aku mengernyit memandang seorang gadis separuh-cina yang dengan sengaja mendekatkan wajah langsatnya ke wajahku demi mendapatkan perhatian.  Ah, ia cantik. Tampilannya yang boyish tapi apa adanya. Senyumnya yang begitu akrab seakan-akan aku seharusnya mengenalnya. Gawat! Apaan ini? Jantungku hilang kendali...
“Um, kosong.” Jawabku seacuh mungkin. Well, ini aneh. Aku tidak pernah peduli bagaimana seharusnya aku bersikap. Apalagi di depan seorang wanita; makhluk asing yang menghuni bumi dan menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk mencari mall atau salon saja.
Tetapi dalam sekali lihat, aku tahu ia bukan wanita. Ia lebih dari sekedar itu. Ia makhluk asing, jelas. Makhluk asing yang bisa mengancam perdaban karena bisa mengacaukan distorsi waktu. Uh, distorsi waktuku sih.
Ah, gawat. Gugup di hari pertama SMA jelas mengacaukan pikiranku.
Makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu itu duduk di sebelahku dengan santai. Ia meletakkan tas merah muda yang entah sudah berapa tahun tidak dicuci. Dari sudut mata kulihat sneakersnya bergerak-gerak tak sabar di bawah meja.
“Menunggu seseorang?”
“Emm... teman satu SMP-ku seharusnya juga masuk kelas yang sama. Seharusnya aku duduk dengannya pagi ini,” rutuknya kesal, “tapi biarlah. Kalau ia tidak telat, aku tidak bisa mendapat teman baru kan?”
Aku mengangkat alis.
“Maksudku,” ia menunjukku dengan telunjuk lentiknya, “kamu.”
Deg!
Hening sesaat...
“Emm... kita belum berkenalan, kan?” aku mencairkan suasana dengan menjulurkan tanganku di depannya sembari menyebutkan namaku. Ia tersenyum, dan ikut menyebutkan namanya.
***
Masih setahun lalu, malam harinya...
Aku harus berani! Hanya sms... hanya sms... lelaki macam apa yang tidak berani mengirim satu saja sms ke wanita? Apalagi dia hanya makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu.
Oke, kalem. Atur nafas, kendalikan diri—jantung terutama, dan fokus. Fo-kus.
Seakan ada cheerleader yang memberiku semangat di otak, kuketik:
Hai. Aku yang tadi duduk bersamamu di sekolah. Remember?
Dengan cepat aku mengirimnya. Oke, itu kampungan sekali. Tapi... aku tidak tahu harus bagaimana lagiii!
Beberapa menit kemudian ponselku bergetar. Kubuka pesan baru itu:
Oh, kamu. Hai :D
Bibirku mengulum senyum. Firasatku baik. Pasti ini akan berjalan lancar.
Pasti.
***
Beberapa bulan kemudian...
Ponselku bergetar panjang. Telepon, dari teman akrab sekelas. Oke, anggap saja si A.
“Halo?”
“Cek facebook.” Katanya cepat tanpa menjawab sapaan ramahku.
“Hah?”
“Cek facebook. Sebelum hilang. Cepaaat!”
Penasaran, akhirnya kubuka laptop 10 inch-ku dan menyambung ke jejaring sosial itu. Tetapi nyatanya tulisan teratas di berandaku mengacaukan distorsi waktuku lagi—untuk alasan yang berbeda.
“Dia,” aku berbisik pelan, “punya pacar?”
Lalu bulan-bulan manis ini selama ini apa?
***
Berbulan-bulan berikutnya, setiap malam...
Aku memutar-mutar ponselku dengan jari. Sudah tiga kali berganti ponsel sejak ia pindah ke lain hati—tanpa aku ketahui. Tetapi tetap saja, pesan yang aku baca selalu sama.
Pesan-pesan darinya.
Oke, aku memang bodoh. Aku sudah naik kelas sebelas. Sudah tidak satu ruangan setiap hari. Tetapi nyatanya tetap kacau; ada yang kurang. Ada yang hilang. Dia jelas sudah mengambil satu-satunya pertahan terakhirku sebagai orang yang bahagia. Tetapi, demi Tuhan apa ini! Aku tidak bisa melupakannya. Aku... aku yakin masih ada satu harapan. Aku yakin, dia hanya untukku.
Firasatku saat malam pertama kali saling mengirim pesan itu pasti benar. Pasti ini akan berjalan lancar. Sedikit saja kerikil, tetapi tidak masalah. Semua akan berjalan lancar.
Pasti.
***
Sebulan yang lalu,
Mereka putus.
Sudah kuduga ini semua akan berjalan lancar.
***
Masih sebulan yang lalu,
Dengan secangkir cappuccino yang mengepulkan uap di depan wajahku.
“Aku menunggumu, setahun.” Aku nyaris terbata-bata. Ini aneh. Ini kesempatan yang kutunggu-tunggu sejak setahun yang lalu. Tetapi aku malah segugup ini...
“Aku juga baru menyadari... butuh waktu setahun,” ia seakan melanjutkan kata-kataku.
“Yah... kamu tahu, semua orang juga tahu...”
“Well, mungkin kamu tahu kemana arah bicaraku...”
Kamu sama-sama menghela nafas—a neh. Kekacauan distorsi waktu itu terulang kembali. Kami seakan-akan hanya berdua di cafe padat pengunjung itu. Tetapi semua seakan kabur. Hanya makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu inilah yang ada di depan mataku.
“Aku suka kamu.”
Aku melongo.
Ia melongo.
Kami mengatakannya nyaris pada timing bersamaan.
Lalu kami sama-sama tersenyum malu.
Sudah kuduga, semua ini akan berjalan lancar.
***
Hari ini, detik ini, atau entahlah. Distorsi waktuku kacau lagi...
“... jadi sepertinya, aku membatasimu dengan teman-temanmu dan... aku akan belajar melepasmu.” Ia terdiam sebentar, “aku tidak akan menangis lagi. Aku tidak mau menangis lagi
Aku hanya mematung. Berusaha mencerna kata-katanya yang terasa aneh di telingaku.
“Kamu tahu maksudku kan? Kita... putus saja ya?”
“Dari awal,” akhirnya aku bisa angkat bicara, “kamu tidak pernah terpikir untuk meminta pendapatku soal ini. Kamu tidak memberiku banyak pilihan.”
“Aku tidak punya pilihan—“
“Kamu punya pilihan! Hidup ini pilihan, kamu tahu? Semua yang terjadi di sini pilihan! Aku mendengarkanmu, ini pilihan. Kamu duduk di situ, itu pilihan. Semua kata-katamu tadi, itu pilihan!”
“Kalau begitu kamu juga punya pilihan!” suaranya bergetar nyaris parau.
“Beri aku pilihan.” Jawabku datar.
“Aku,” ia menunjuk dirinya sendiri, “atau mereka.” Kemudian menunjuk wallpaper ponselku yang bergambar fotoku dengan semua teman-temanku. Si A, B, C, sampai Z.
“Oke.” Aku menjaga nada suaraku agar tetap terkontrol, “demi setahun aku menunggumu, demi sebulan permainan jahatmu, aku memilih ini.”
Ku tunjukkan ponselku di depannya.
“Itu... pilihan.” Ia menggigit bibir.
“Ini pilihan. Aku telah paham di jalur mana aku bisa bahagia.”
Dan setahun di tambah sebulan ini telah menunjukkanku, bahwa ia bukanlah jalur itu.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com