Dulu saya pernah bertanya kepada
ustadzah saya di TPQ, mengapa Qur’an menggunakan bahasa Arab? Mengapa bukan
bahasa Indonesia saja agar saya mengerti artinya?
Ustadzah saya kelabakan sebentar
lalu menjawab, “jangan terlalu kritis, nanti kamu atheis.”
Buktinya saya tetap mempertanyakan
itu dan sampai detik ini saya masih mengakui Islam sebagai tiang hidup saya.
Oke, bukan itu.
Saya menulis ini bukan karena saya
atheis. Saya menulis ini bukan untuk membela suatu kaum. Saya menulis ini
diawali bismillahirrohmanirrohim.
Akhir-akhir ini beranda jejaring
sosial agak mengganggu otak saya. Saya mempunyai teman yang terlalu menghakimi
agama lain dalam rangka jihad. Mereka menulis—maaf—semacam Yesus bukan Tuhan
atau begitulah—sungguh sungguh maaf, tidak mempunyai niat jahat kok.
Mereka mengatasnamakan jihad.
(katanya) mereka ingin agar pemeluk Islam makin banyak. Ini benar-benar
menggelitik hati saya. Emm... bukan. Bukan karena saya percaya Tuhan lain
selain Allah. Allah jelas satu-satunya Tuhan untuk saya dan muslim di seluruh
dunia.
Yang sebenarnya ingin saya
tanyakan, apakah itu termasuk jihad? Bukan, ini juga bukan penghakiman. Saya
sungguh-sungguh bertanya. Karena dengar informasi-informasi yang lewat di
telinga saya, pengertian jihad jadi semakin rancu di pemikiran saya yang
(menurut saya) sempit.
Begini lho. Posting mereka yang
mengatakan ‘Yesus bukan Tuhan’ atau semacamnya—maaf—itu kan sejenis dengan umat
nasrani yang mengatakan ‘Muhammad bukan Rasul’—astaghfirullah, tentu saya
Muhammad itu Rasulullah. Bayangkan, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya jika
Rasul kita dihina-hina seperti itu? Sakit hati, bukan?
Hal-hal seperti inilah yang
menyebabkan kerenggangan hubungan antara penganut agama yang satu dengan agama
yang lain. Okelah, mungkin
posting-posting begitu bisa berdampak cukup baik bagi negara-negara Islam
seperti Arab, Mesir, dll, dll. Tapi... Indonesia? Dengan lima agama yang
diakui? Bayangkan bila posting-posting seperti ini semakin parah dan
menimbulkan perang antara umat Islam dengan umat Kristiani? Naudzubillah,
jangan sampai itu terjadi. 350 tahun waktu yang Indonesia butuhkan untuk
mencapai perdamaian ini tidak akan hancur hanya karena posting di jejaring
sosial kan?
Kebenaran itu relatif dan agak
kabur. Seperti kata-kata Dee di novelnya. Emm, saya lupa detilnya, tetapi
kira-kira begini:
“Kalau kamu berganti agama, itu hanya seperti yang dulu nerakamu
menjadi surgamu, dan yang dulu surgamu menjadi nerakamu.”
Keyakinan itu agaknya terasa cukup
tabu. Tetapi saya rasa, Rasulullah pun saat mengajak umatnya memeluk agama
Islam tidak perlu menghina keyakinan lain. Beliau memang penuh wibawa.
Dan mungkin bukan cuma itu. Hidayah
Allah-lah faktor terpenting untuk seseorang mengucapkan kalimat syahadat. Tidak
ada artinya bujukan sana-sini, ceramah panjang lebar, jika pintu hatinya belum
diketuk oleh Allah. Jangankan agama lain, ada juga muslim kaya yang tidak mau
berhaji karena belum dipanggil Allah, bukan?
Allah lah yang sanggup
membolak-balikkan hati manusia.
Karena itu, saya rasa toleransi
itu sangat penting—khususnya untuk negara seperti Indonesia ini. Jagalah hati
orang lain dimanapun. Bukankah itu dosa, jika kita melukai hati orang lain?
Bukankah Allah tidak akan memaafkan dosa kita, jika orang lain belum memaafkan
kita?
Itu sih kata LKS Agama Islam saya.
Sekian. Aneh ya, saya menulis hal
seperti ini. Tetapi itu bukan karena saya atheis. Beribu maaf jika banyak kata
yang menyinggung. Anda harus tahu, pikiran saya sempit sekali. Saya bahkan
belum cukup umur untuk memiliki KTP. Karena itu saya minta tolong agar saya
diberi pencerahan jika kata-kata saya ada yang salah.
Terakhir, saya benar-benar ingin
tahu makna jihad sesungguhnya.