Tuesday, 12 February 2013

Ini Bingung Judulnya Apa


Hari #30, 12 Januari 2013
Dear kakak,
Iya, kakak yang selalu mem-favourite surat-suratku, kakak yang selalu memberi komentar di setiap tweetku, kakak yang sudah banyak membantuku.
Pertama-tama aku ingin berterimakasih. Terimakasih telah menyalurkan surat-suratku. Terimakasih telah memberi komentar yang membuatku semakin terpacu untuk menulis. Terimakasih telah membangkitkan semangatku—dan semangat orang lain juga—untuk teratur menghiasi blog-blog kami.
Oh ya, khusus aku. Terimakasih telah membuatku berani mengatakan selamat ulangtahun secara langsung. Awalnya aku serius soal membiarkannya bertambah umur tanpa ucapan dariku—yaah, biarkan hujan berkata. Haha—tetapi kalau dipikir-pikir... hanya mengucapkan ulangtahun bukan berarti berharap dibalas—haha lagi.
Satu lagi; The Vuje bagus! Kalau di sekolahku diijinkan mengundang guest star aku akan merekomendasikannya. Sayangnya tidak boleh ada guest star. Well, kepala sekolahku memang baru keluar dari goa. Maklum ya, maklum.
Apalagi ya? Pokoknya banyak. Sebulan kita berhubungan—agak ambigu ya? Maksudnya berhubungan di dunia maya begitu—dan aku jadi mengenal kakak. Kakak tipe yang menyenangkan kok. Kakak pasti tidak bisa membayangkan betapa senangnya aku waktu melihat kakak mengomentari postingku di blog. Padahal kakak juga mengomentari posting lain. Kok aku jadi merasa spesial? Iya aku memang over pede.
Cukup sampai sini ya. Kata orang semakin banyak kita menggombal itu artinya kita semakin tidak tulus. Dan karena semua kata-kataku ini tulus, aku menyingkatnya saja.
Semoga meskipun event #30HariMenulisSuratCinta ini selesai kita tetap bisa berhubungan baik ya kak :D
Salam cinta,
Kakak tahulah aku siapa....

Sunday, 10 February 2013

Salam, Penemu Favorit


Hari #28, 10 Februari 2013
Dear Les Paul Gibson,
Seharusnya saya menulis ini dengan Bahasa Inggris ya? Tetapi Inggris saya pas-pasan. Jadi saya harap ada malaikat yang mau menerjemahkan ini untuk Anda.
Hai, Tuan Gibson. Saya penggemar Anda dan sedang menabung untuk membeli barang yang Anda temukan pertama kali. Ya, saya ingin sekali punya gitar listrik.
Dari kecil saya mendengarkan ayah saya memainkan benda bersenar itu dan lama kelamaan saya jatuh cinta. Jika saya mendengar suatu lagu yang menurut saya bagus, saya akan berlarian ke rumah, mengunduh lagunya, dan mengubahnya sesuai yang saya mau dengan gitar butut saya—umurnya sudah 11 tahun—atau lebih, saya tidak tahu berapa lama ia mendekam di toko gitar—dan suaranya tetap oke kok. Dari situ saya percaya diri soal musik. Yaaah... bukannya permainan saya bagus. Saya memang orang yang over pede.
Tetapi orangtua saya tidak mengizinkan saya untuk bermain musik secara serius. Mereka selalu berkata, “Anggap saja itu hobi.” Begitulah. Tetapi saya bangga bisa bermain gitar meskipun hanya sekedar hobi. Mengapa? Karena dari jutaan remaja yang memiliki hobi buruk, saya bukan salah satunya. Saya bangga jika ada yang ‘menganggap’ saya hanya karena saya bisa—sekedar bisa—bermain gitar.
Bagi saya, gitar itu pacar paling setia. Disaat semua lelaki bermain kata untuk mendapatkan wanita, gitar saya yang usianya sudah 11 tahun tetap bernada sama tanpa harus memperindah diri agar dilirik gitaris yang lebih jago. Ia tetap di sini bersama saya, meskipun saya sering kali menjadikannya objek pembantingan saat kesal. Malah sekarang saya yang tidak setia; sedang berusaha menabung untuk mencari gitar yang lebih bagus.
Bagi saya juga, musik itu seperempat jiwa dunia. Musik berhasil mengenalkan Indonesia di mata dunia, dan mengenalkan dunia luar ke Indonesia. Musik bisa menyatukan segala etnis tanpa pandang bulu. Musik seakan suatu aliran magis yang membuat siapapun menjadi satu.
Karena itulah saya mencintai musik, mencintai gitar, dan mencintai Anda. Terimakasih telah membuat hari-hari saya berarti. Semoga Anda bahagia di alam sana karena doa penggemar selalu menyertai Anda.
Salam cinta,
(Semoga menjadi) gitaris

Wednesday, 6 February 2013

Surat Hormat untuk Terdakwa


Hari #23, 6 Januari 2013
Dear Rasyid Rajasa,
Saya turut berduka dengan kejadian yang menimpa Anda sekarang. Tentu berat sekali cobaan Anda; harus berhenti kuliah, diancam hukuman penjara, dll, dll.
Sebelumnya saya ingin menegaskan, saya tidak membenci Anda. Tidak samasekali.
Saya bukan orang-orang di luar sana yang sembarangan mengadili Anda. Saya tidak pernah beranggapan negatif terhadap Anda. Saya tahu, kecelakaan itu ya salah satu bencana. Kematian ya garis Tuhan. Sebanyak apapun uang yang seseorang miliki mana bisa ia melawan garis Tuhan? Tidak, Anda tidak sepenuhnya salah.
Saya heran melihat orang-orang yang mulai menghakimi Anda dengan pendapat macam-macam. Saya sedih melihat pendeknya pemikiran orang-orang tentang hukum, jabatan, dan takdir. Saya bingung bagaimana meyakinkan orang-orang—termasuk Ibu saya sendiri—bahwa Anda tidak sepenuhnya salah.
Saya mungkin malah mengagumi Anda. Saya mendengar rekaman pembicaraan Anda di televisi dan mendengar suara Anda yang panik dan berkata,
“Gue tanggungjawab. Gue tanggungjawab.”
Waktu itu saya tergugah. Saya tahu Anda orang baik. Apalagi saat saya mendengar di televisi bahwa Anda juga mengalami luka dan guncangan batin. Di saat begitu Anda sempat menjanjikan suatu tanggungjawab? Super sekali.
Melalui surat ini saya berkata bahwa saya mendukung Anda sepenuhnya—mendukung Anda tanpa menyalahi hukum, tentu saja. Saya selalu berdoa agar masalah Anda cepat selesai dengan solusi seadil-adilnya; adil untuk Anda, adil untuk korban, dan adil untuk masyarakat luas.
Jadi, saya harap Anda tetap semangat. Coba tutup telinga soal komentar-komentar negatif yang ada di sekitar Anda. Lakukanlah hal yang menurut hukum benar, maka hukum pun akan berpihak pada Anda.
Salam hormat,
Saya

Monday, 4 February 2013

Hujan, Tolong


Hari #22, 4 Januari 2013
Dear hujan,
Aku menulis surat ini untuk meminta tolong padamu. Aku tahu aku takkan bisa melakukan hal ini. Aku tahu aku terlalu pengecut. Aku terlalu takut. Aku gelisah setiap melihat handphone-ku berganti-ganti tanggal. Sebulan yang lalu aku sangat menantikan esok. Tetapi sekarang? Aku bingung.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat hari itu jatuh. Aku bingung aku harus bersikap bagaimana. Berbulan-bulan aku bersikap agresif padanya dan ternyata aku malah merasa menyampahkan diriku sendiri. Mungkin sekarang ia hanya menganggapku angin lalu—tidak ada yang pernah terjadi di antara kami. Jadi sekarang aku begitu bingung. Apa yang harus aku lakukan untuknya besok?
Sebulanan ini aku berusaha tidak peduli. Bersikap biasa dihadapannya. Logikaku berkata; “ia bisa hanya menganggapmu angin lalu, kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama?”
Tapi—sial sekali—logikaku tidak berhasil memerintahkan hatiku untuk tunduk. Meskipun aku berusaha berpura-pura semuanya baik-baik saja, nyatanya semuanya takkan pernah baik-baik saja. Meskipun aku selalu berpura-pura bodoh saat ia lewat, nyatanya sebagian tubuhku meronta-ronta memintaku untuk menyapanya. Bodoh! Mana mau aku menjatuhkan harga diri yang pelan-pelan kubangun lagi demi mendapat seulas senyum paling tak ikhlas darinya? Tidak, tidak. Aku lelah bangun lagi setelah ia jatuhkan berkali-kali.
Aku sudah berusaha keras bangun dari tumpukan kenangan. Aku sudah berusaha keras meng-amnesia-kan diriku dari potret-potret lawas gambaran tawanya. Aku mencuci otakku sendiri, menggantikan semua hal baik-baik tentangnya menjadi kenangan suram beberapa bulan ini; sms terakhir saat  ia mencampakkanku, raut wajah datarnya saat mencampakkanku, langkah kaki kakunya melewatiku saat mencampakkanku, semua detil-detil kelakukannya saat mencampakkanku, kini kupaksakan terngiang-ngiang. Aku-harus-berhenti-memikirkannya!
Tapi manipulasi otak itu tak berhasil menghapus jejak satu hal; hari esok. Semengerikan apapun tampangnya yang kubayangkan di otakku, sejahat apapun kata-katanya yang terngiang—dengan pemaksaan—di telingaku, nyatanya belum cukup membuatku lupa satu hal; hari esok.
Jadi intinya, aku bingung. Aku tidak mau menimbun asa lagi. Aku tidak mau membasahi bantalku dengan air mata lagi malam ini. Karena itu lebih baik kuserahkan tugas ini padamu. Aku benar-benar berharap kamu mau membantu. Sebentar saja, tidak sulit kok. Aku hanya berusaha meminimalisir kenangan-kenangan tak diinginkan meloncat lagi dari tempat sampah—andai bisa kulihat kaki kenangan-kenangan itu, aku sangat ingin memutilasinya, memutus syaraf-syarafnya, membekukan otot-otonya, agar tetap duduk manis di tempat sampah!—sehingga aku tidak terluka. Aku tidak mau menjadi bodoh dengan ‘menyengajakan’ jantungku jatuh ke tangan penjagal.
Yaah... oke. Begini. Melalui surat ini aku mau minta tolong padamu. Bagimu pasti takkan sulit. Tapi bagiku berat sekali...
Bisakah kamu turun ke bumi tepat pukul 12 malam nanti? Bangunkan ia dengan sentuh-sentuh dinginmu, lalu bisikkan di telinganya; selamat ulangtahun, bocah 17 tahun. Ada seorang wanita bodoh di luar sana yang sedang berdoa agar kamu bahagia selalu.
Salam cinta,
Aku

Sunday, 3 February 2013

Hai, Following


Hari #21, 3 Januari 2013
Dear orang-orang yang twitternya aku follow,
Selamat ya! Kalian mendapat surat cinta dari seorang stalker setia. Yah, hobiku memang mengamati gerak-gerik kalian di twitter lalu memberi pertanda ‘samar’ tentang TL kalian. Atau jika aku mulai merasa ada yang tidak beres, aku akan ‘menyapa’ kalian dengan ‘ramah’.
Oke, sebelumnya aku ingin menggolongkan kalian dalam 3 kelompok:
1.       Aku follow sebagai teman. Kalau sudah masuk sini, aku pasti kenal orangnya.
2.       Aku follow sebagai imbas ‘followback ya qaqa’. Biasanya orang-orang tidak dikenal.
3.       Aku follow sebagai dambaan hati. Contoh: Kak Adel.

Nah, sebagai stalker, pastinya aku sering #nomention atau #kode kalian. Dalam hati sebenarnya aku berharap paling tidak kalian merasa, atau semacam itulah. 
Eh ternyata, orang yang aku #nomention atau #kode pun dibagi menjadi beberapa kelompok:
1.       Peka, merasa, dan memberi respon positif. Tipe-tipe model seperti ini jarang sekali aku temui di TL.
2.       Peka, merasa, dan memberi respon negatif. Tipe-tipe beginilah pemicu twitwar. Alhamdulillah aku jarang mendapat tipe-tipe seperti ini.
3.       Peka, cuek. Tipe ini biasanya mengagung-agungkan ‘kalau nggak suka unfol aja’. Kalau sudah begini biasanya aku langsung dilema.
4.       Tidak peka, cuek. Disindir tidak disindir tetap saja nge-tweet aneh.
5.       Tidak peka dan saking tidak pekanya sampai membuatku ingin membelikannya cermin raksasa. Tipe ini paling konyol—paling bikin geregetan juga sih. Biasanya sih tipe orang seperti ini malah meng-qoute tweet kode yang ditujukan untuknya dengan pernyataan, “hih siapa tuh? Nyebelin banget orangnya! Unfol aja.”
Following­-ku memang aneh-aneh.
Mungkin saat kalian membaca ini kalian akan beranggapan “hih stalker! Pengecut banget pake nomention sama kode segala! Kalo emang nggak suka ngomong langsung kek!”
Well, aku pernah mencoba hal itu tetapi tidak memberikan efek bagus.
Jadi begini, sebenarnya yang aku ingin tekankan adalah:
Twitter adalah social media. Jangan terlalu mengumbar-umbar masalahmu di dalamnya. Ingat, privasi juga ada batasannya.
“Be yourself” memang konsep bagus sih. Tetapi juga ada batasannya. Kalau personality-mu mengganggu orang lain ya seharusnya diminimalisir. Ingat, kita ini makhluk sosial. Punya twitter juga merupakan salah satu usaha kita untuk meningkatkan interaksi sosial kita dengan individu lain. Jadi seharusnya kita harus bisa membawa diri agar dihormati orang lain.
Terakhir, aku ingin menekankan bahwa ini benar-benar surat cinta. Surat cinta kok. Selama aku belum meng-klik tomblo unfollow, artinya aku masih menunggu-nunggu tweet kalian muncul di TL-ku. Tenang saja, aku mencintai kalian.
Yang paling terakhir, tolong jangan suruh saya unfollow kalian. Nanti saya dilema...
Salam cinta,
Followers

Saturday, 2 February 2013

Keluhan Tukang Utang


Hari #20, 2 Februari 2013
Dear mbak-mbak konter pulsa,
Tadi malam saatnya pembagian uang bulanan. Aku meminta uang lebih pada ibuku agar bisa membayar hutang pulsaku padamu. Jadi kamu harus sadar, awal bulan ini kamu sudah membuat susah ibuku.
Tapi kalau dipikir-pikir, sejak naik kelas 11 ini kita jarang bertemu ya? Paling hanya bertemu jika aku ingin hutang pulsa. Lalu pertemuan-pertemuan berikutnya hanya kamu yang berteriak mengatakan, “Heeei bayar pulsaaaaa!”
Dan jika hutangku lunas ya sudah. Tidak ada percakapan lagi.
Rasanya kalau sudah begini aku merasa kalau setahun lalu itu kita memang tidak pernah ada apa-apa. Rasanya es tebu yang pernah kita minum bersama, tahu sumedang yang pernah kita bagi bersama, kertas-kertas contekan yang pernah kita gunakan bersama, itu hanya mimpi satu malam.  Aku jadi merasa kalau kita tidak pernah saling kenal.
Padahal waktu kelas satu kan kita akrab—atau ini juga ilusi? Entahlah. Dari berlima, lalu berempat, lalu bertiga... dan akhirnya kita menjadi semacam sel-sel yang mulai membelah diri dan memisah satu sama lain. Hmm... jangan-jangan zona nyamanmu adalah ketika berpisah denganku.
Aku tahu aku bukan teman yang baik. Teman baik macam apa sih yang hobinya bicara kasar? Teman baik macam apa sih yang sukanya menghina-hina? Teman baik macam apa sih yang begitu egois, begitu sok benar, begitu sok menguasai segalanya? Teman baik macam apa coba aku ini?
Tetapi di sisi lain aku juga takut sih kehilangan kamu. Layaknya daun yang takut kekurangan air. Layaknya bintang yang takut sendirian. Aku takut suatu saat harus menerima keadaan untuk mencari konter pulsa yang baru, mencari rentenir yang baru,
Mencari teman dekat yang baru.
Oke, aku mungkin tidak pernah menunjukkannya. Mungkin kita sibuk di kelas masing-masing. Mungkin aku yang salah, atau kamu yang salah, atau rumput bergoyang yang salah, entahlah. Aku belum menemukan belokan mana yang bisa membawa kita bertemu lagi. Aku belum menemukan di persimpangan mana kita akan saling menyapa lagi. Aku belum menemukan frekuensi yang pas untuk menghubungkan kehidupan kita lagi. padahal kita begitu dekat. Terlalu dekat sampai suaramu yang berteriak di lapang olahraga sampai di pendengaranku. Lalu aku bertanya, kapan terakhir kali kamu tertawa seperti itu di depanku?
Mbak-mbak konter pulsa,
Aku tahu sedetikmu kini begitu berharga. Aku tahu setiap kata-kata yang kamu keluarkan kini bermakna. Tapi maukah kamu memberi otakmu sedikit saja kesenangan lagi bersamaku—seperti kelas 1 dulu? Maukah kamu menukar zona nyamanmu demi seplastik es tebu yang kamu minum denganku? Sekali saja, biarkan ilalang-ilalang tinggi yang menyekati kita layu tanpa hujan. Lalu kita langkahi bersama-sama dan tertawa keras-keras seperti yang biasa kita lakukan—tanpa ketakutan akan nilai, peringkat, dan peluang jalur undangan.
Oke, cukup ini ya. Btw, setelah kamu membaca ini tolong kirim pulsa 5000 di nomorku. Aku bayar bulan depan. Terimakasih.
Salam cinta,
Tukang ngutang


Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com