Thursday, 31 January 2013

Awalnya, Sekarang


Hari #18, 31 Januari 2013
Dear Bu Fisika,
Jangan tertawa ya kalau ibu baca ini. Ya, ternyata salah satu murid tercerewet ibu malah amat sangat menggemari ibu. Saat saya meihat ibu, yang di pikiran saya adalah suatu hari saya akan seperti ibu.
Emm... bukan. Bukan mengajar pelajaran paling menyebalkan di seluruh dunia itu. Maksud saya, saya ingin berwibawa seperti Ibu. Sosok Ibu begitu hebat; ditakuti, dihormati, sekaligus dicintai. Ibu seakan bisa menempatkan ekspresi wajah ibu pada tempatnya. Ibu tahu kapan bercanda, Ibu tahu kapan serius, dan Ibu tahu kapan harus tegas. Benar-benar hebat cara ibu mengatur semua itu.
Awal pertama saya bertemu Ibu adalah ketika UAS sosiologi. Ibu benar-benar ditakuti semua murid. Saat Ibu menjaga UAS, kelas mendadak hening tanpa pergeseran apapun. Awalnya saya tidak mengerti menganapa sampai Ibu memergoki saya bergerak, dan menarik kursi saya ke belakang. Yaah... saat itu saya merasa tak melakukan kesalahan sehingga otomatis saya membenci Ibu.
Waktu awal saya masuk kelas dan melihat jadwal guru yang mengajar, saya begitu kesal melihat nama Ibu sebagai guru fisika saya. Dulu saya membayangkan saya akan bertemu ibu tiga kali dalam seminggu dan mendadak itu membuat saya gila. Padahal hanya membayangkan lho...
Tetapi ternyata sosok Ibu di kelas begitu menyenangkan. Ibu membuat segala soal terasa mudah sepanjang apapun caranya. Ibu juga ramah. Dan yang paling saya suka, Ibu nyatanya jarang memarahi anak sekelas jika kami berbuat salah. Mungkin hanya memberi sindiran-sindiran. Tetapi meskipun jarang memarahami kami, entah mengapa otak kami menyuruh kami untuk patuh pada ibu; selalu berusaha mengerjakan PR, selalu berusaha untuk tidak terlambat, dan jika terlambatpun tanpa di suruh kami akan berdiri di belakang kelas sampai pelajaran Ibu selesai.
Itu karena ada syaraf di otak kami yang memaksa kami untuk menyisakan sedikit hormat pada Ibu. Ibu tahu? Saya benar-benar kagum atas semua itu.
Yaah... terakhir saya ingin minta maaf karena saya memang susah diam di kelas. Mulut saya memang agak hiperaktif dan frekuensi suara saya memang tinggi. Maaf juga pernah makan di kelas Ibu, tapi saya benar-benar lapar saat itu. Maaf karena saya sangat susah belajar pelajaran yang Ibu bawa, tetapi fisika benar-benar membuat otak saya penuh sebelum waktunya.
Tetapi di luar itu semua, saya selalu ingin menjadi anak kesayangan Ibu—entah kapan hal ini akan terjadi. Tapi biarlah...
Salam cinta,
Murid tercerewet Ibu

Tuesday, 29 January 2013

Dear Sidoarjo!


Hari #16, 29 Januari 2013
Dear Sidoarjo,
Menulis surat untuk kota? Ha!
Entahlah, kadang tinggal di Sidoarjo merupakan hal yang paling kusesali sih. Kadang aku menyesal sekolah di Sidoarjo. Kota ini benar-benar membuatku berantakan karena well...
1.       Jauh dari temen SMP.
2.       Jarang ada mall.
3.       Banyak anak alay.
4.       Tidak ada bioskop.
5.       Tidak ada toko buku.
6.       Tidak ada toko buku.
7.       Tidak ada toko buku.

Ha!
Dulu saat orangtuaku memutuskan untuk ‘membuangku’ ke tempat terpencil nan membosankan, hal yang paling aku sesalkan adalah tidak adanya toko buku seperti di Surabaya—aah, Gramex...
Apalagi waktu melihat sekolahku yang jauh di bawah kriteria sekolah menyenangkan—sekolah macam apa sih yang tidak mengizinkan muridnya membeli kipas angin?? Iya kalau tempatnya dingin bersalju padahal... helloooo??
Tetapi semakin lama toh aku semakin nyaman. Hmm... untungnya Tuhan memberi makhluk-Nya kemampuan beradaptasi. Hal yang sangat aku syukuri sewaktu di sini...
1.       Tempat nongkrong sedikit. Penghematan jatah uang mingguan.
2.       Pergaulannya menengah lah. Paling tidak aku tidak ‘dipaksa’ untuk membeli SLR atau semacamnya kan?
3.       Banyak anak polosnya. Pergaulan sehat. Hmm...
4.       Masih banyak lahan kosong. Bisa hunting foto dengan kamera 2MP dan hasilnya tetap bagus—dengan sedikit editan potosop. So what?
5.       Melatih untuk hidup ‘susah’. Yaah... di sekolah tanpa kipas angin ini paling tidak memberiku gambaran apa yang akan terjadi kalau aku tidak belajar rajin.
6.       Ada petis paling enak di seluruh dunia. Sampai sekarang belum kutemukan petis seenak Sidoarjo.
7.       Ada 02.02. Okelah sekarang aku sedang ‘pindah’, tetapi tidak bisa kupungkiri kalau dia juga salah satu hal yang paling kusukai di Sidoarjo.
8.       Bisa jauh dari orang-orang yang tidak diinginkan. Oke mungkin ini jahat. Tapi... lebih baik ‘menjauh’ daripada dekat lalu menambah dosa kan?
9.       Bisa bertemu bermacam-macam orang dari bermacam-macam kalangan. Disini kita tidak perlu susah susah sms dengan normal karena masih banyak spesies yang sms-nya b3g1n1
10.   Jalanannya mudah dihapal. Sebulan tinggal di sini dan aku sudah bisa menghapal dimana saja spot bakso yang enak.
11.   Apapun jadi murah. Karena disini nyaris semuanya KW. Mau mencari Kick Denim asli? Pergi jauh-jauh gih dari sini.
12.   Sekolahnya tidak full day. Yiiiipppiiiieeee!!!!
13.   Tidak macet. Masuk pukul 6.30 dan berangkat pukul 6.15 tanpa telat? Bisaaa...
14.   Masih banyak gadis-gadis polos unyu yang belum pernah pacaran (mungkin saja ada pria single di luar sana yang membaca ini, aku mohon selamatkan mereka!)
15.   Dan ini yang utama. Banyak jomblonya. Serasa hidup di rumah sendiri begitu.

Hmm... ternyata apapun kalau kita lihat dari sisi positif juga terasa menyenangkan ya? Nah, ini juga sindiran sih ya buat anak-anak Sidoarjo yang sok-sok Surabaya. Kalau kalian terus-terusan memandang sisi negatifnya, selalu menghujat Sidoarjo berlebihan, selalu bermimpi pindah ke Surabaya, apa mau aku bantu untuk menendang kalian satu persatu ke Selat Madura?
At least, entahlah ini bisa disebut surat cinta atau bukan. Tapi Sidoarjo, dengan lumpurnya, dengan kupang yang super enak, dengan petis yang yummy, dengan 02.02 yang masih hidup dengan menyebalkan dan bertengger di kelas sebelah, dengan pentol kharisma yang enak, dengan es tebu yang segar, dengan perumahan-perumahan baru yang berjejer rapi, adalah secuil surga dunia.
Salam cinta,
Nek aku arek Sidoarjo kon kate lapo?

Sunday, 27 January 2013

Surat Dari Makhluk Bumi


Hari #14, 27 Januari 2013
Dear paku kecil yang menghalangi jalan kami,
Ini aku, atas nama seluruh manusia di bumi, berusaha menulis surat cinta untukmu. Menggambarkan betapa bersyukurnya kami atas kehadiranmu. Mungkin aneh, kami selalu berusaha untuk tidak menginjakmu agar tidak merasakan perih. Tetapi ternyata kehadiranmu bukanlah hal yang bisa kami tolak.
Kamu bukan pilihan.
Aku percaya pada Yang Menyebarkanmu. Aku tahu Ia hanya sedikit, sedikiiiit sekali, menusukkanmu pada kaki-kaki kami agar kami tidak terlalu mengangkat kepala saat berjalan. Agar kami tetap berhati-hati; melintasi jalur yang benar saat berjalan. Yang Menyebarkanmu pasti ingin tahu bagaimana tingkah kami saat merasakan perih di kaki kami karenamu. Apa kami akan melupakan-Nya dan menyalahkan-Nya atas kehadiranmu? Atau kami tetap sabar, ikhlas atas semua ‘penusukan’-Nya pada kami?
Aku tahu bahwa Dia menebarkanmu dalam ukuran sekecil-kecilnya. Tak pernah lebih besar daripada diri kami. Tak pernah lebih besar dari yang bisa kami rasakan. Tetapi mungkin kami yang sok lemah. Pada dasarnya ada satu bagian di diri kami yang menginginkan suatu jalur lurus tanpa hambatan. Padahal harusnya kami tahu; tak ada jalan seperti itu. Pasti sekecil-kecilnya ada kamu. Tak terlihat, namun terkadang menyakitkan.
Sampai suatu waktu, saat kaki kami tertusuk tajamnya ujungmu, kami akan merasa malas untuk berdiri lagi dan memilih berhenti berjalan. Mungkin seperti itu.
Padahal Yang Menyebarkanmu telah memberi kami naluri untuk tetap bertahan di suatu jalur—yah, tergantung individunya sih mau jalan mau yang diambil. Yang Menyebarkanmu begitu mencintai kami tanpa banyak cakap. Duduk di singgasananya dan mengawasi kami yang jatuh bangun karena luka darimu. Mengabulkan permintaan kami yang tetap ingin melangkah maju dengan bekas luka-luka itu.
Kalau orang-orang yang berhenti karenamu itu menyadari ini, mereka seharusnya menyesal memilih untuk tidak bangkit lagi. Coba kalau sedikit saja mereka mau membuka mata; mungkin di atas langit masih ada langit, tapi bukankah di bawah tanah masih ada tanah?
Hidup—berjalan pada suatu jalur—sebenarnya simpel kalau kita mau bersyukur. Tapi tahulah mereka, cepat lelah. Seharusnya mereka membeli suatu suplemen yang bisa membuat mereka tetap bangun; iman.
Anyway, terima kasih buatmu, karena telah menampar kami pada suatu kejadian. Terima kasih buatmu, karena telah menuruti perintah-Nya untuk membuat kami sadar. Terima kasih buatmu, karena telah membantu kami untuk lebih kebal rasa sakit.
Terima kasih untukmu, paku kecil yang menghalangi jalan kami; cobaan.
Oh ya, sampaikan juga terima kasih terdalam kami untuk Yang Menyebarkanmu; Tuhan.
Salam cinta,
Kami, makhluk bumi

Saturday, 26 January 2013

Aku, Kamu yang Jatuh, dan Dia


Hari #13, 26 Januari 2013
Dear daun,
Padamu kulabuhkan sesuatu yang kusebut harapan. Menatap sendu kamu yang bergelayut halus pada pohon-pohon yang kini mulai jarang. Mengingatkanku  dua tahun lalu saat aku dan dia melempar topi almamater kami bersamaan.
Itu namanya kenangan.
Adalah dia, yang sering mengamatimu dengan mimik ingin tahu. Adalah dia, yang mengajakku memberimu air setiap sabtu. Adalah dia, yang begitu jatuh cinta padamu.
Saat aku dan dia berdiri di bawah naunganmu siang itu, perlahan kamu meniupkan oksigen untuk pernafasanku. Kamu tahu? Adalah dia, yang dengan gerak-gerik ekspresifnya mengatakan bahwa ia begitu jatuh cinta dengan warnamu.
Adalah dia, yang selalu kuingat setiap melihatmu.
Mungkin yang paling aku sesali adalah waktu—mengendap perlahan lalu menepuk bahuku dan menyadarkan sudah seberapa tuanya aku. Dan seberapa tuanya kamu. Dan seberapa tuanya dia.
Dan seberapa jauh ia melupakan itu semua.
Sesekali aku ingin kamu hidup, berjalan ke rumahnya, mengajak ia mengobrol, kemudian kalian bisa bernostalgia bersama mengingatku. Entahlah, mungkin aku bukan sosok yang pantas untuk diingat. Tapi kok aku bisa mengingat kalian? Mungkin kalian memang dua sosok yang pantas diingat. Mungkin ada satu bagian di otakku yang mencoba bangkit dengan mengingat-ingat memori menyenangkan.
Pertanyaanku; apakah dua tahun begitu lama?
Dua tahun lalu imajinasi menjembatani kami. Menghubungkan satu hati dengan hati yang lain; hati kami. Menatapmu yang berjatuhan tertiup angin dan mengangankan hal yang dulu bagi kita pasti.
“Aku akan jadi arsitek!”
Aku menatapnya yang dengan bangganya menyebutkan cita-citanya. Senyumnya menular padaku.
“Aku akan jadi seniman. Kamu tahu? Membuat novel, menulis lagu, bermain gitar... it will be fun!”
“Well, itu cocok untukmu.”
Kami sama-sama diam. Menatapmu lagi yang mulai goyah karena angin. Kamu arsitek, aku seniman. Ya, it will be really fun.
“Hei, kalau kamu sukses jadi seniman nanti, aku akan merancangkan rumah untukmu.”
“Kalau kamu sukses jadi arsitek nanti, aku akan membuat biografimu.”
Lalu kami tertawa. Saat itu kamu melihat kami? Aku tidak bisa melihat tawaku sendiri, tapi aku tahu dia sangat bahagia.
“Saat kita sukses nanti, ya.”
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Aku mengambil sehelai daun dan menyodorkannya padamu.
“Daun ini kan dengar semuanya. Dia yang membantu Tuhan mencatat janji kita.”
***
Jadi, daun, kamu tahu sekarang mengapa aku menulis ini untukmu?
Asal kamu tahu, tolong jangan laporkan pada Tuhan janji kami itu. Tidak, sepertinya kami tidak bisa memenuhinya. Mendadak kami terpisah di dua jalan yang berbeda. Mendadak semua kosong, hampa.
Mulai detik ini kami harus membedakan mana mimpi, mana cita-cita, mana rencana. Karena waktu mengingatkan kami bahwa kami sudah dewasa; suatu saat kami akan menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Tetaplah hijau dan catat janji-janji lain yang lebih masuk akal. Janji yang kedua belah pihak takkan pernah lupa.
Salam cinta,
Yang selalu duduk dan memandangmu berjatuhan

Thursday, 24 January 2013

Surat Cinta (?)


Hari #11, 24 Januari 2013
Dear pengetuk pintu kamarku,
Aku... pertama kalinya mengirimkan surat kepada ‘sesuatu’ yang bahkan tak bisa kulihat jadi... haruskah aku ucapkan salam?
Oke, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan. Jadi... begini. Aku tidak tahu apa yang menarik dari rumahku, aku tidak tahu apa menariknya kamarku, aku juga tidak tahu apa menariknya aku untukmu. Aku benar-benar ingin tahu sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa harus kamarku? Emm... bukannya bermaksud tidak sopan tapi... kamu tahu semua orang butuh istirahat dan ketukanmu pada kamarku itu benar-benar membuat tidurku kurang nyaman.
Mungkinkah kamu butuh teman? Kalau butuh aku akan menemanimu... di mimpi. Ya, di mimpi saja kita berkenalan. Masuklah ke syarafku atau apalah, lalu kita berkenalan. Dengan cara baik-baik tentunya. Akan lebih baik kalau aku sadar wujudmu itu tidak nyata, ketimbang aku ‘melihat’mu. Aku tidak setegar itu. Imanku tidak setegar itu.
Dan... jujur ya. Aku percaya Tuhan, aku punya agama, tapi bukan berarti aku mempercayai ‘wujudmu’ begitu saja. Asal kau tahu saja aku selalu mencari alasan logis apa yang menyebabkan ketukan di kamarku—dan aku belum menemukannya sampai sekarang! Tapi itu bukan berarti aku langsung men-judge dirimu dengan apapun-yang-mereka-katakan makhluk halus. Aku akan mencari alasannya.
*dalam hati berdoa kalau itu bukan makhluk halus*
Tetapi apapun—atau siapapun, apalah terserah—kamu, aku akan menerimanya selama tidak membahayakanku juga. Aku tahu kamu ‘makhluk’ baik. Sampai sekarang kamu belum menindihku sampai mati, jadi kamu pasti baik. Nah, karena kamu baik, aku rasa kita akan berteman dengan menyenangkan. Dan pertemanan itu akan terjalin kalau kita saling menyamankan diri.
Kenapa kata-kataku makin berbelit-belit sih?
Intinya... salam kenal. Aku tidak akan mengganggumu, jadi aku mohon dengan amat sangat kamu juga tidak melakukan apapun yang bisa disebut mengganggu. Mungkin begini; kalau kamu ingin mengetuk pintu kamarku, bisakah menunggu sampai aku tertidur sangat pulas sehingga tidak akan mendengarnya?
Aku juga tidak bisa menerka-nerka lagi sih apa yang menyebabkanmu suka mengetuk pintu kamar. Tapi kamu tahu? Saat kamu mengentuk pintu kamar, imajinasiku mendadak liar; apakah setelah ini gulingku akan berubah menjadi pocong? Apakah setelah ini selimutku akan berubah menjadi rambut kuntilanak?
Kamu tidak mau kan aku suudzon kepadamu? Well, siapa tahu sebenarnya kamu vampir sekelas Cullen, atau penguasa maut sekelas John Hayden, atau pokoknya makhluk lain yang tampan-tampan?
Amin. Amin. Amin.
Jadi... tunjukkan saja. Tapi di mimpi. Di mimpi, please. Aku ini super penakut. Menginjak gerombolan semut yang lewat saja aku takut. Jadi aku harap kamu mau menemuiku di mimpi. Aku bisa menerima wujud apapun kok di mimpi. Mimpi saja ya? Kumohon.
Sekian surat protes cinta dariku. Aku harap kamu mau membaca—meskipun aku tidak tahu kamu punya koneksi internet atau tidak. Terimakasih. Sekali lagi, terimakasih.
Salam cinta,
Emm... haruskah aku sebut namaku?

Wednesday, 23 January 2013

Penggemarmu (lagi)


Hari #10, 23 Januari 2013
Dear pemilik akun yang selalu aku stalk,
Aku menyayangimu, sesimpel itu. Aku rasa aku tidak punya alasan yang lebih masuk akal lagi ketika mengetik namamu di kotak search-ku. Kenapa aku bisa menyayangimu? Hmm... itu masih misteri. Aku tidak pernah berhasil mengingat kapan kamu baik padaku, atau kapan kamu menunjukkan perhatianmu padaku. Seiring waktu berjalan aku mendadak suka. Begitu.
Aku tahu kamu menegurku secara halus untuk berhenti sayang lagi. Mungkin aku bukan tipemu. Mungkin kamu lebih tertarik pada wanita itu-itu. Mungkin alam memang menyuruh kita untuk saling menjauh. Tapi secara pasti aku tak tahu. Untung saja jejaring sosial belum melarangku untuk berhenti mengintip lamanmu. Untung saja.
Aku juga tidak tahu mengapa aku tetap mengintip lamanmu. Ah, bodoh. Bahkan yang kamu tulis di lamanmu tentang wanita itu-itu-mu. Bagaimana kamu mencintainya, bagaimana kamu mendekatinya, lalu ujungnya bagaimana kamu mendapatkannya. Kamu menulis hal-hal seperti itu; kira-kira kamu tahu tidak kalau ada yang sakit hati saat membacanya? Bahagialah kamu. Kamu punya penggemar setia.
Oh ya. Kamu ingat waktu aku memergokimu mengobrol dengan wanita itu-itu-mu di depan perpustakaan? Waktu itu aku diam saja. Pura-pura tidak kenal. Berusaha untuk berpikiran postif...
Sampai kamu menulis di lamanmu kalau kamu baru saja mendapat kekasih baru. Ah, wanita itu-itu-mu. Ha!
Saat melihat ketikanmu di laman, kamu tahu aku rindu? Ha lagi! Aku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali gaya tulisan itu bertengger di pesan baruku. Hmm... lama sekali. Sekitar sebulan yang lalu. Eh gila. Aku masih bisa bertahan pada pendirianku meskipun kamu buang dan tidak kamu jenguk lagi selama itu! Aku benar-benar wanita perkasa.
Asal kamu tahu saja. Sejauh apapun kamu jatuhkan aku, tidak semudah itu kamu menghentikan pengharapanku. Sejahat apapun kamu, aku selalu berhasil menemukan sisi menarikmu. Bahkan sampai hal terdetil seperti bau sabun yang selalu melekat di tubuhmu. Ha lagi! Gila lagi!
Terakhir... selamat punya pacar baru. Semoga kamu bahagia dengannya. Well, kalau kamu tidak bahagia kamu bisa kembali. Kamu masih tahu kan dimana harus mencariku?
Salam hormat,
Penggemarmu (lagi)

Tuesday, 22 January 2013

Melati Putih 90-an


Hari #9, 22 Januari 2013
Dear Kak Meisy,
Pertama-tama, aku ingin mengajukan satu pertanyaan; Kak Meisy kemana? Seingatku, aku terakhir mendengar lagu Kak Meisy saat masih SD kelas 1. Lalu mendadak aku tak bisa menemukan kakak di sudut televisi manapun. Kakak dimana?
Kak, aku penggemar berat kakak. Lagu favoritku Melati Putih. Aku ingat sekali wakwtu itu aku menyanyikan lagu kakak saat tetanggaku mengadakan pesta ulangtahun. Dengan mic dan teks lirik. Lalu teks itu terjatuh karena angin dan—dengan kepolosan anak TK yang luar biasa—aku mengambil kertas itu dan menganggap tak ada kesalahan apapun yang terjadi. Tetap saja aku menyanyi dengan percaya diri. Padahal peristiwa itu diingat seluruh desa betahun-tahun dengan penuh tawa. Ironis.
Namun kembali pada inti pertama; kemana kakak pergi? Kemana lagu Melati Putih yang dulu menjadi lagu kebangsaan anak TK dan SD? Kemana wajah polos bocah-bocah yang dulu dengan ceria menyanyikan lagu anak-anak itu? Pantaskah anak di bawah umur menyanyikan lagu-lagu bertema cinta dan super galau? Ini dunia musik Indonesia mau merusak mental suci mereka?? Mau jadi apa negara ini nanti??
Kak Meisy,
Sekarang semua penyanyi-penyanyi cilik mulai beranjak dewasa. Bahkan kalau mereka kembali menyanyi pun, yang mereka nyanyikan lagu-lagu cinta yang tidak pantas di dengar anak-anak. Kadang-kadang aku kasihan melihat anak SD yang berjalan pulang ke rumah sambil bersenandung, “Karena separuuuh aaaakuuu dirimuuu” aku bahkan tidak yakin mereka tahu makna lagu itu.
Dan aku membandingkan lagu mereka dengan lagu-lagu yang kudengar waktu kecil. Dulu ayahku melarang aku menyanyikan lagu cinta, melihat sinetron, menonton film India. Ayahku memperkenalkanku pada kakak. Ayah selalu membelikanku kaset-kaset kakak. Setiap aku menyanyikan lagu Melati Putih, aku selalu merentangkan tangan dan berkhayal bahwa aku sedang di taman penuh melati, dengan angin berhembus sepoi-sepoi, dan mengenakan gaun putih polos yang dari kecil aku impi-impikan.
Kakak tahu? Saat ada orang bertanya padaku apa cita-citaku, dengan polos aku menjawab,
“Ingin menjadi Meisy.”
Kakak inspirasiku untuk belajar bernyanyi. Kakak inspirasiku untuk mencintai musik. Jadi kak, dimanapun kakak berada, kalau kakak membaca ini, aku ingin kakak tahu bahwa kakak tidak pernah dilupakan. Kakak adalah salah satu ‘sesi’ku bertumbuh. Mungkin kalau digambarkan, begini susunan hidupku:
Dilahirkan – Bayi – Balita – Kenal Kak Meisy – Cinta Kak Meisy – Tidak melihat Kak Meisy lagi – Remaja – Dewasa.
Bahagia dan normal sekali bukan? Bandingkan dengan susunan hidup anak SD jaman sekarang:
Dilahirkan – Bayi – Kenal K-Pop – Ngefans SUJU – Lihat Dahsyat .
Dan mereka pun remaja sebelum waktunya.
Anyway, aku berharap kakak membaca ini dan kakak akan tahu bahwa kakak berhasil membuat seorang manusia tumbuh sewajarnya tanpa sesi tambahan apapun. Kakak adalah inspirasiku dan inspirasi semua anak 90-an. Semoga kakak selalu sehat dan bahagia, dan yang paling aku inginkan: semoga kakak kembali berkarya!
Salam cinta,
Penggemar berat kakak dengan masa anak-anaknya yang sukses



Monday, 21 January 2013

Nada Sumbang di D Minor


Hari #8, 21 Januari 2013
Dear yangkung,
Yangkung pasti sibuk mengobrol dengan yangti dan malaikat ya sekarang. Yangkung tidak akan sempat membaca surat cinta dariku. Dari dulu aku selalu penasaran loh. Bagaimana sih kehidupan kedua? Yangkung pasti bahagia ya. Yangkung orang baik. Suara yangkung saat menjadi muadzin dulu merdu sekali. Yangkung begitu mencintai aku dan cucu yangkung yang lain. Yangkung tidak pernah berkata ‘tidak’ pada semua permintaan kami. Yangkung berhasil mendidik semua anak yangkung sehingga mereka semua menjadi sukses setelah melalui jalan yang keras. Yangkung benar-benar orang hebat. Aku bangga pernah menjadi salah satu bayi yang pernah yangkung elus dengan tangan yangkung yang penuh kelembutan itu. Aku bangga pernah membuat yangkung bahagia dengan kelahiranku—yah, aku cucu pertama yangkung sih.
Sudah setahun kalian pergi. Aku masih ingat saat jenazah yangti sampai di Magelang, bersiap di kuburkan. Aku takut melihat jenazahnya. Aku takut menerima kenyataan kalau tangan-tangan yang dulu pernah menggendongku kini sudah takkan pernah bisa bergerak lagi. Aku takut menerima kenyataan kalau wajah yang dulu sering tertawa padaku kini takkan pernah menarik senyum lagi. Namun di tengah ketakutanku kulihat wajah yangkung yang sedang membaca yasin. Wajah tegar itu penuh ironi. Aku tahu kalau yangkung sedih. Aku menerka-nerka benang kusut apa yang sedang melilit otak yangkung. Pasti begitu banyak praduga, begitu banyak kenangan, begitu banyak penyesalan. Tetapi wajah yangkung tetap tersenyum. Tetap meladeni setiap cucu-cucu kecil yangkung yang minta digendong. Well, kalau aku jadi yangkung sudah kubuang mereka satu persatu.
Lalu kenyataan pahit datang. Yangti sudah pergi, anak-anak yangkung sudah pulang ke rumahnya masing-masing, itu artinya yangkung tinggal di rumah kecil itu sendirian. Benar-benar sendirian. Tidak ada yangti yang biasanya memasak, mencuci, atau apalah.
Lalu yangkung mendadak nomaden—pindah dari satu rumah anak ke rumah anak yangkung yang lain.
Dan yangkung cukup lama tinggal di rumahku.
Maaf yangkung. Maaaaaaf sekali. Saat itu aku hanya ABG yang sok ingin punya kehidupan sendiri. Dulu aku kesal sekali saat yangkung selalu tidur di kamarku. Apalagi waktu itu aku berpikir kalau yangkung pasti akan tinggal sangat lama. Dulu itu terasa sangat menyebalkan.
Ya Allah, aku jahat sekali...
Yangkung ingat? Setiap sehabis sholat yangkung selalu membaca Qur’an. Setiap pagi dan sore yangkung selalu menyapu pekarangan—mengurangi tugas rumahku. Dan setiap malam, di jam belajarku, yangkung selalu memainkan keyboard murahan milikku.
Keyboard itu sekarang ada di kamarku. Tepat di sebelah kasurku. Membuatku selalu ingat yangkung setiap mau tidur.
Suara keyboard murahan itu tidak terlalu bagus—maaf yangkung. Anak pertamamu nyatanya tidak sekaya anak-anakmu yang lain—dan selalu sumbang di satu nada.
Tapi yangkung tetap memainkannya. Menyanyikan lagu-lagu lama berbahasa Jawa. Oh ya, ada satu lagu berbahasa Indonesia. Sekarang aku suka sekali lagunya:
“Entah dimana kini kau berada. Sudah kucoba untuk mencari. Di malam yang sunyi dan sesepi ini. Ku sendiri...”
Yangkung merasa sendiri kah? Aku minta maaf. Aku bukan cucu yang baik. Padahal waktu kecil aku selalu minta dimanja oleh yangkung. Tapi... aku sayang yangkung. Yangkung menyayangiku dengan kelembutan yang tidak bisa aku dapat dari ayah—padahal kalian sedarah kan?
Kepergian yangkung yang begitu mendadak waktu itu membuatku menyadari sesuatu. Saat mendengar berita itu aku merasa dihujani paku-paku rasa bersalah bertubi-tubi. Aku merasa gagal menjadi seorang cucu. Aku merasa gagal berterimakasih pada orang yang selalu melihatku bertumbuh selama 16 tahun. Aku merasa gagal membalas kebaikan orang yang selalu melakukan apa saja asal tidak berkata ‘tidak’ pada keinginanku. Aku merasa gagal merawat orang yang pernah jauh-jauh datang hanya untuk ikut merawatku yang dirawat di rumah sakit dulu.
Mungkin ini terlambat. Sangat terlambat. Tetapi terimakasih untuk semua kebaikan yangkung. Berbahagialah dengan yangti dan bidadari-bidadari surga yang dijanjikan Allah untuk orang beriman seperti yangkung. Di sini, aku mengirimkan fatihah lembut melalui malaikat yang mendengar doaku. Bergantung pada D minor sumbang yang menjadi harmoni indah setiap aku mengenang waktu-waktuku bersama yangkung.
Salam cinta,
Cucu pertamamu
 

Sunday, 20 January 2013

Surat Cinta Tapi Aku Benci Kamu


Hari #7, 20 Januari 2013
Dear kulitku,
Pertama-tama aku ingin minta maaf. Maaf karena aku benci. Sebenci bencinya benci. Padamu.
Aku benci karena warnamu tidak secerah dan seindah orang lain—nyaris hitam. Aku benci selalu terlihat jelek karenamu. Aku benci ketika aku terlihat kampungan hanya karena kamu—kalau aku kampungan, terus orang-orang yang menulis b3g1n1 namanya apa?—Benci sekali.
Yang paling membuatku benci padamu adalah saat aku berkenalan dengan lelaki lewat jejaring sosial, kami sudah akrab, aku sudah nyaman, namun waktu bertemu langsung ia malah menjauhiku karena kamu.
Lalu waktu aku berfoto dengan teman-teman. Mereka tampak cantik dengan senyumnya masing-masing. Namun aku tampak buruk karena kamu.
Juga waktu aku memakai camera360 untuk berfoto yang memberikan efek putih padamu, lalu menjadikan foto itu sebagai ava twitter—serius! Aku mendadak cantik dengan efek putih itu!—banyak orang menghujat. Ingat sekali aku bagaimana aku mendapat #kode:
“Duh kalo item ya item aja nggak perlu main edit!”
“Ceilah cantik banget. Situ jago potosop ya? J
“Di ava doang cantik. Aslinya bikin ilfil buset”
Oke. Mengingat semua #kode itu membuatku makin membencimu.
Atau saat aku memang sengaja berusaha lebih cantik karena akan bertemu lelaki yang ku suka, lalu seseorang menyeletuk,
“Ya ampuuun! Itu bedaknya udah tebel banget kayak wedges-nya Syahrini.”
Padahal aku bersumpah. Aku bahkan tidak punya bedak di rumah. Emm... mungkin sedikit lightening cream yang sebenarnya tidak memberikan efek berarti padaku. Tapi itu kan beda dengan bedak!
Yang paling sakit itu, keluargaku sendiri juga menghinaku gara-gara kamu. Karena aku tidak bisa secantik ibuk dengan kulitnya yang cerah, bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung seperti orang arab, rambutnya yang bergelombang menggemaskan, dan tingkah laku kalem layaknya ibu-ibu baik hati dalam dongeng. Mungkin semua orang akan berpikir bahwa dukun yang membantuku melahirkan—FYI aja nih, aku lahir di dukun. Benar-benar anak yang kurang beruntung—telah menjual anak asli ibuku yang cantik jelita seperti Cinderella dan menukarnya denganku, spesies terbawah kaum amborigin. Kalau itu benar-benar terjadi, sepertinya bagus juga untuk dijadikan skrip sinetron.
Oke. Fokus.
Aku benci karena kamu susah dibuat cantik. Produk-produk yang menjanjikan kulit putih itu nyatanya cuma omong kosong! Aku sudah memakainya nyaris berlebihan tapi nyatanya tidak ada perubahan. Terkadang tergiur juga dengan cara instan teman-temanku yang bernasib sama namun memiliki uang lebih, dengan injeksi pemutih. Yaah... sayangnya aku tidak dianugerahi uang lebih. Jangankan injeksi pemutih. Uang kas kelas saja jarang kulunasi.
Karena semua ini, aku malah jadi anak durhaka. Aku malah mempertanyakan keadilan Tuhan. Kenapa anak baik-baik dan setia sepertiku malah jelek? Tetapi gadis-gadis yang sukanya mempermainkan hati pria malah diberi kulit bagus dan kecantikan mempesona? Kenapaaa?
Aku tidak habis pikir.
Sampai pada akhirnya suatu hari internet mengenalkanku padanya, Lizzie Velaszquez. Yang katanya gadis terburuk di dunia. Menderita kelainan sehingga tubuhnya tidak bisa menyerap sari-sari makanan. Pernah hampir bunuh diri karena keadaanya. Namun kini ialah inspirasi setiap wanita di dunia. Memotivasi wanita untuk merasa cantik apapun adanya. Ia tetap percaya diri meskipun setiap hari berfoto dengan model-model cantik. Ia tetap percaya diri meskipun mendapat julukan wanita terburuk di dunia. Kepercayaan dirinya itu membuatnya terlihat cantik, apapun kondisinya.
Lalu kuatur lagi cara pandangku dari awal. Tidak ada wanita jelek di dunia ini, selama dia bersugesti bahwa dia cantik. Tidak ada yang cacat dari pemberian Tuhan, selama kita mau mensyukurinya. Yang membuat seorang wanita terlihat cantik adalah hatinya yang bening, senyumnya yang tulus, tuturnya yang anggun.
Kalau kata orang keren itu namanya innerbeauty :)
Jadi boleh dong kalau sekarang kukatakan bahwa aku sayaaang padamu, kulitku? Karena Tuhan telah menciptakanmu tanpa cela. Karena sekarang aku merasa akulah wanita tercantik di dunia :D
Salam cinta,
Pemilikmu yang baru tahu bagaimana cara bersyukur

Saturday, 19 January 2013

Saat Kita Di Persimpangan


Hari #5, 19 Januari 2013
Dear Kezia Christa Freyna Naomi Firstha,
Aku hapal namamu lho. Hahahaha.
Ingat pertama kali kita bertemu delapan tahun yang lalu? Kamu—sebagai anak pindahan—melangkah masuk ke kelas tanpa ragu. Kamu cantik, kamu pintar, suaramu merdu. Dalam seminggu saja kamu sudah menjadi ratu. Semua guru mengelu-elukan namamu.
Tapi tidak denganku. Aku membencimu.
Aku membencimu yang lebih cantik daripadaku. Aku membencimu yang suka sok pintar di depan guru—oke aku tahu kau sebenarnya tidak bermaksud begitu. Aku membencimu yang selalu selangkah lebih maju di depanku. Rasanya aku ingin menendangmu jauh-jauh dari hadapanku.
Well, itu kan dulu.
Lucu ya? Musuh-musuhan aneh kita malah berakhir menjadi pertemanan penuh rasa. Kita suka tertawa keras-keras dimana-mana. Kita suka membicarakan kakak kelas tampan—untungnya kita setipe. Hahaha. Kita juga suka membicarakan anak aneh di sekolah. Akhir-akhir ini aku menjadi berpikir bahwa seharusnya kita harus berkaca. Kita juga aneh, kau tahu? Hihihi.
Kamu, adalah salah satu orang yang membuat masa SMA-ku berwarna. Kamu adalah orang yang mengenalkanku arti perbedaan.
Perbedaan?
 Kej. Kamu ingat waktu aku ke rumahmu? Kita masak sup krim bersama saat itu. Sewaktu aku pulang, ibuku menanyakan aku sudah makan atau belum. Waktu aku bercerita bahwa aku sudah makan di rumahmu, kau tahu reaksi ibuku?
“Kamu makan di rumah Kezia? Yakin nggak najis? Kezia punya anjing kan?  Nanti kalau anjingnya ternyata keliaran di rumah gimana? Alat makannya najis dong? Lain kali jangan makan di sana lagi deh.”
Aku hanya bisa melongo. Tidak paham cara berpikir ibuku. Mendadak aku menyesal pernah bercerita pada ibuk kalau kamu punya Cihua—anjing betinamu yang super galak itu.
Aku tidak pernah punya masalah dengan perbedaan keyakinan kita. Pancasila saja berkata bahwa Tuhan itu Maha Esa. Hanya saja kita menyebut-Nya dengan cara yang berbeda. Kita menyembah-Nya dengan cara yang berbeda. Kita meminta pada-Nya dengan cara yang berbeda.
Saat aku bersujud, kamu menengadah. Padahal detik itu kita meminta hal serupa; bahagia bersama. Suatu saat kita berjalan bersama, lalu terpisah di persimpangan saat adzan memanggilku atau alarm pengingat katekisasimu berbunyi. Padahal niat kita sama; mendekat pada Pencipta.
Kej, tidak pernah ada yang salah dengan keyakinan. Mungkin ini gila, tapi ada fantasi liarku yang berbisik-bisik bahwa selama ini kita hanya bercermin. Memuja satu Tuhan. Sekat-sekat yang memisahkan kita itu sebenarnya hanya kaca-kaca transparan yang lama-lama akan retak, lalu pecah. Lalu tangan kita akan bisa saling menyentuh sepenuhnya.
Kamu ingat waktu dengan iseng kita saling membandingkan?
“Di aku sih Adam dan Hawa. Terus makan buah khuldi.”
“Kalau aku Adam dan Eva. Terus makan apel.”
“Kalau aku Nuh.”
“Noah”
“Yusuf.”
“Joseph.”
“Daud.”
“David.”
“Isa.”
“Jesus.”
Kita saling menatap dalam hening. Lalu tertawa lepas sembari saling menggenggam tangan seperti biasa. Simpel sekali persahabatan kita; Tuhan itu dekat. Lebih dekat dari urat nadi kita. Menatap persahabatan kita yang penuh bahagia.
Salam cinta,
aku

Thursday, 17 January 2013

Yang Selalu Pulang Malam


Hari #4, 17 Januari 2013
Dear ayah,
Ayah apa kabar? Haha. Lucu ya. Kita serumah, tetapi aku malah menanyakan kabar ayah.
Karena ternyata serumah pun kini terasa seperti bermil-mil jauhnya.
Dulu waktu aku kecil, aku sangat lengket pada ayah. Aku tidak bisa tidur tanpa ayah. Aku sama sekali tidak nyaman tidur dengan ibuk. Ayah ingat waktu ayah mendapat giliran jaga di poskamling? Ibuk berusaha menidurkanku, tetapi aku tidak bisa tidur. Aku tidak berani menangis karena takut ibuk marah. Lucu sekali.
Bagiku ayah adalah lampu tidurku.
Dulu waktu kecil, setiap ayah pulang kerja aku akan menyambut ayah minta gendong. Aku mengingat ibuk pernah menceritakan padaku. Saat aku baru saja belajar jalan—masih memakai apolo sih—aku yang melihat ayah baru pulang dari kerja langsung jalan terburu-buru minta gendong dan.... jatuh. Dari ketinggian satu meter.
Oke, jangan garis bawahi kejadian memalukan itu. Tapi garis bawahi usahaku untuk bisa terus memeluk ayah. Aku yang dulu begitu mudahnya merindukan ayah, aku yang dulu akan melakukan apa saja untuk bisa menyentuh ayah. Aku yang dulu begitu gamblang mencintai ayah. Cinta itu berasa nyata. Berbentuk.
Itu dulu. Dua belas tahun yang lalu.
Baru saja tadi aku mendengar pintu pagar di bukan dan suara mobil ayah menderu masuk, dengan suara radio yang begitu kencang khas ayah. Aku melirik jam di handphone-ku. Ini sudah malam, tetapi aku cukup terbiasa dalam situasi ini. Aku tetap diam di kamarku sambil mengutak-atik tugas fisika yang sudak kira-kira seabad yang lalu hanya terbuka semena-mena di depanku. Aku ingin tahu apa yang terjadi.
Suara pintu dibuka.
Suara langkah berat ayah.
Suara ibuk yang mencoba mengajak ngobrol ayah.
Suara langkah berat ayah mendekat.
Dan... sedetik kemudian langkah berat ayah menjauhi kamarku. Itu saja. Setiap malam.
Aku agak heran dengan hubungan kita, yah. Kita mulai berjarak. Kita berdua sama-sama semakin tua. Aku makin tidak bisa mengerti pola pikir ayah dan aku rasa ayah juga tidak mengerti pola pikirku. Kita sama-sama gagal paham. Aku tidak mengerti mengapa ayah selalu masam setiap bertemu dengan lelaki yang aku suka; mungkin waktu itu ayah juga tidak mengerti mengapa aku menyukai lelaki itu. Aku tidak paham mengapa ayah menekan-nekan aku untuk masuk IPA; mungkin waktu itu ayah juga tidak paham mengapa aku sampai menangis-nangis minta masuk IPS.
Kita benar-benar gagal paham.
Ayah tahu, yang membuatku merasa kita sebenarnya sudah tidak serumah? Aku ingat waktu kelas sepuluh, sepagi itu ayah mengantarku menuju sekolah. Di tengah macet lampu merah ayah bertanya tanpa beban:
“Sekolahmu mana?”
Aku shock. Tak bisa menyembunyikan longoanku—meskipun aku rasa ayah tidak mmperhatikan. Aku sampai heran, apakah sekolahku punya kemampuan menyembunyikan diri sampai ayahku lupa tempatnya? Atau sekolahku bisa teleportasi mendadak sesukanya?
Tetapi di tengah akal-akal bodoh lain yang makin lama makin tidak bisa diterima akal sehat, aku menyimpulkan satu hal: ayah tidak pernah lagi peduli padaku.
Aku makin merasa kita berjarak. Ha!
Namun lagi-lagi ada yang mendewasakanku. Saat aku melihat recent updates di BBM-ku, dan melihat ayah mengganti DP dan PM.
Fotoku dan ibuk. Tersenyum. Dan ayah tulis sebagai PM:
“Bidadari-bidadariku.”
Rasanya air mataku mau tumpah saja menggenangi kamar. Lagi-lagi aku menarik kesimpulan yang salah. Mungkin selama ini bukannya ayah tidak memperhatikanku, tetapi aku tidak memperhatikan ayah. Mungkin selama ini bukan kita saling gagal paham, tetapi kita masih dalam proses untuk mengerti satu sama lain.
Yang paling penting; Ayah peduli padaku dengan cara lain. Cara yang lebih manis.
Over all, terimakasih untuk satu sampai tujuh belas tahun ini. Dan kuharap kita masih bisa serumah sehingga aku bisa mengucapkan terimakasih untuk tahun yang lebih panjang lagi.
Salam cinta,
Katanya sih bidadari ayah

Wednesday, 16 January 2013

Kata-Kata Pamungkas


Hari #3, 16 Januari 2013
Dear Ibuk,
Hari ini (seperti biasa) aku pulang sore. Aku melihat ibuk menonton kotak kaca yang monoton, seperti kebiasaannya. Hari ini berbeda, ibuk lebih sibuk memegangi pipinya daripada menonton acaranya. Ah ya, ibuk sedang sakit gigi.
Buk, aku mau jujur. Ibuk memandangku sebagai anak acuh tak acuh yang hanya numpang tidur dan makan di rumah kan? Sepertinya bisa kuhitung dengan jari berapa hari selama aku hidup ibuk tidak memarahiku. Aku rasa aku memang bukan anak yang baik. Aku bukan anak yang mau repot. Yang jelas bukan tipe gadis manis penurut favorit setiap ibu. Aku suka melawan setiap dimarahi. Aku suka berdecak setiap kali disuruh. Jahat? Memang.
Kalau ibuk mau mengutukku menjadi batu sekarang, aku rasa Allah akan mengabulkan.
Aku hapal sekali kata-kata ibuk setiap kali putus asa dalam menasehatiku:
“Kamu nggak kasihan sama ibuk?”
Pertanyaan ini rancu sekali. Agak ambigu. Membuat otakku selalu berputar kencang. Daripada ibuk misuh-misuh di depanku—oke, ibuk memang belum pernah misuh-misuh di depanku. Tetapi setelah ini ya who knows kan?—lima kata itu nyatanya lebih efektif untuk membuatku menangis. Sejahat itukah aku sampai ibuku sendiri meminta belas kasihan kepadaku? Seacuh itukah aku sampai aku makin kekurangan belas kasihan untuk dibagikan kepada ibuku sendiri?
Setelah ibuk membaca ini, aku harap ibuk tidak menggunakan kata-kata pamungkas itu untuk menasehatiku dengan semena-mena. Oke, fokus.
Sudah nyaris 17 tahun kita hidup seatap. Mungkin kita belum sepenuhnya saling mengerti ya, buk. Meskipun di dalam tubuhku ini juga ada darah ibuk—entahlah, ini hanya makna konotasi mungkin. Toh golongan darah kita berbeda—ternyata tidak membuat kita bisa saling membaca pikiran masing-masing. Hmm... mungkin ada beberapa kebiasaan ibuk yang aku hapal. Seperti bermuka masam saat tanggal tua, misalnya. Ibuk juga banyak hapal kebiasaanku kan? Tidak semua. Aku jelas memiliki banyak rahasia yang semestinya ibuk tak tahu. Surat inipun, ibuk takkan tahu. Tapi biarlah...
Ibuk ingat, saat aku masih SD? Ibuk marah besar padaku. Aku mengurung diri di kamar dan menulis di kertas HVS yang inti tulisannya sama semua. Ibuk nggak mau senyum sama aku lagi.
Lalu keesokan harinya ibuk membangunkanku, menyiapkan sekolahku, dan membantuku menyebrang jalan, dan saat jalanan begitu ramai ibuk berkata;
“Gimana mau senyum? Kamu pernah bikin ibuk senyum?”
Untuk ukuran anak SD, itu jleb sekali.
Dulu aku pikir aku punya ibu terjahat di dunia. Dulu aku pikir aku ini anak angkat—wajar aku berpikir seperti itu. Ibuk yang berwajah manis putih bersih sama sekali tidak mirip denganku yang hitam buluk jelaga—dan ibuk adalah sosok ibu tiri seperti yang di Cinderella. Dulu waktu kecil di ingatanku yang terekam hanya ibuk yang sedang marah. Entahlah. Mungkin otakku memang lebih fokus mengingat hal-hal traumatis.
Tetapi lagi-lagi kata-kata itu terngiang di otakku;
“Kamu nggak kasihan sama ibuk?”
Mungkin ini awal aku beranjak dewasa. Aku mulai berpikir bahwa semua pemikiranku tentang ibuk itu egois. Mungkin selama ini aku yang salah, pembangkang, bukan anak sholehah kriteria Al-Qur’an. Mungkin kalau dulu ibuk diizinkan memilih oleh Allah, ibuk akan memilih melahirkan anak lain, bukannya gadis gagal sepertiku. Ya, berbagai kemungkinan itu menyeruak dalam otakku. Memaksaku untuk berkaca. Memaksaku untuk mengenal ibuk lebih dalam lagi, dalam lagi, sedalam-dalamnya aku bisa.
Semoga Allah memberiku waktu lebih lama untuk mengenal Ibuk sedalam-dalamnya, tanpa ada satu lekukpun yang tersisa.
Oh iya. 22 Desember kemarin aku tidak mengucapkan selamat hari ibu ya? Bukannya aku tidak mau. Aku hanya tidak bisa mengungkapkanya. Lebih mudah mendeskripsikan ‘sayang’ ke lawan jenis daripada ke ibuk. Tingkatan ‘cinta’ kurang tinggi untuk menggambarkanya. Maaf ya.
Satu lagi. Ibuk jangan lupa gosok gigi. Sakit gigi itu penyakit yang—bagiku—sama sekali tidak elit. Aneh sekali mendengar ibuk berdesis setiap bicara seperti itu. Jangan sok jago minum kopi dan makanan pedas kalau lambung ibuk tidak kuat. Jangan suka kredit daster kalau ibuk bisa membayar tunai. Jangan marahi ayah kalau ayah membelikan aku dan alif jajan yang banyak. Jangan khawatirkan aku kalau pulangku telat. Atau kalau khawatir, lebih baik ibuk mengijinkan aku membawa handphone ke sekolah mulai besok. Jangan khawatir lagi akan percintaan sial anakmu ini. Aku sedang berusaha pindah kok.
Salam cinta,
Anak gadis gagalmu

Tuesday, 15 January 2013

Untuk Kak @adelladellaide, Pelangi di Tengah Putih


Hari #2, 15 Januari 2013
Dear kak @adelladellaide,
Kakak tahu kan? Dunia ini munafik. Pejabat-pejabat awalnya manis tapi akhirnya juga korup. Lelaki awalnya manis tapi akhirnya juga ke lain hati.
Dunia maya menambah kemunafikan itu. Haha, lucu. Banyak sekali akun-akun bijak yang ‘membujuk’ kita melakukan ini itu—yang menurut mereka sih postif. Inilah, itulah. Harusnya mereka tahu kalo menjadi bijak tidak semudah mengetik kurang dari 140 karakter.
Apalagi sih isi twitter selain itu? Akun galau? Akun yang menutupi kelabilan mereka dengan kata-kata puitis? Meracuni pikiran remaja-menjelang-dewasa agar kembali ke masa ABG?
Bisa-bisa aku terjebak arus. Membaca tulisan-tulisan hipokrit yang makin lama makin tak tahu arah. Lama-lama aku bisa munafik juga. Sesat.
Lalu aku menemukan akun kakak.
Kakak itu jujur. Berani mengutarakan hal-hal tabu dengan cara unik. Dan menyuruh kami jujur kepada diri kami sendiri; “Menurutmu kamu suci?”
 Mungkin ada sebagian orang yang menganggap hasil ketikan kakak itu pamali. Yah, lagi-lagi, munafik. Bilangnya pamali tapi tetap saja stalking. Tetapi yang membuat mereka buta adalah sisi postif dari seluruh ketikan kakak. Seharusnya saat kita menemukan sesuatu yang baru, kita juga harus bisa menemukan sisi postifnya kan? Nah, coba aku urai sisi positif kakak.
Aku suka karakter kakak yang lugas dan nyaris polos—dalam artian tertentu. Kakak menjabarkan galau dengan cara yang unik, yang bukannya menambah intensitas galau namun malah membuat tersenyum sehingga mendadak amnesia tentang perasaan kami. Begitulah seharusnya; orang berduka itu dihibur, bukan malah dibuat semakin terpuruk. Kakak juga berani ‘telanjang’ dan ‘menelanjangi’ orang lain dengan cara yang menyenangkan. Membaca tweet kakak selalu berhasil membuatku bercermin; apa iya aku memang seperti ini?
Kakak menggambarkan dunia yang sedang aku pijak. Mengubah hal-hal asing menjadi sesuatu yang layak dibaca. Berusaha jujur ditengah lautan kebohongan. Cantik dengan diri kakak tanpa ada apapun yang disembunyikan. Bangga pada diri sendiri tanpa takut hujatan.
Terus seperti ini ya, kak. Beranilah menjadi pelangi di tengah putih. Diamkan saja yang mencela, teruskan membuka tirai tabu. Sampai tulisan ini dipajangpun aku masih mengagumi kakak.
Salam hangat,
Penggemarmu

Monday, 14 January 2013

Akhirnya Kita Terbang Sendiri


Hari #1, 14 Januari 2013
Dear 02.02,
Untuk kesekian kalinya, aku menulis untukmu ya. Silakan tertawa. Silakan tertawa ketika kamu tahu bahwa kamu punya penggemar yang begitu setia.
Silakan tertawa di atas gemetarnya jemariku mengetik ini.
Aku ingat pertama kali menyukaimu. Tahun lalu. Aku menemukan buku kecilmu dan membaca untai kata-katamu untuk seorang wanita. Entahlah setelah itu bagaimana, tiba-tiba saja aku berpikir kalau kau mengagumkan.
Lalu kita mulai dekat. Tertawa-tawa bersama di lantai dua sekolah. Atau mungkin hanya aku saja yang tertawa karena lelucon basimu. Mungkin. Tapi... saat bersamamu, semua hal yang aku lihat terasa lucu. Bahkan anak paskib yang disiksa seniorpun menjadi lucu. Bahkan guru kimia super-duper menyebalkan yang berjalan di lorong seberangpun terasa lucu. Bahkan bentu awan yang bergelombangpun terasa lucu. Bahkan ring basket yang tetap bundar seperti semua ring basket di duniapun terasa lucu.
Dan yang paling lucu adalah senyummu.
Aku menyukaimu. Kutulis semua rasaku dimanapun aku mau.
Tetapi... entah sejak kapan kamu berubah. Atau mungkin aku yang berubah? Entahlah. Semua terasa tidak manis lagi. Kamu menjalin kasih dengan wanita lain, yang tidak pernah aku duga. Itu sumber duka lho. Tak tahukah kamu aku menangis di depan anak-anak sekelas saat mengetahui itu? Sangat memalukan. Semua tertawa. Semua berkata bahwa kau dan aku memang tak pernah pantas.
Tapi, sialnya, hatiku kok tetap berharap.
Iya aku memang bodoh. Tertawalah sepuasnya.
Yah... itu semua sudah berlalu. Seseorang mengatakan padaku bahwa aku harus membiarkanmu ‘terbang’ kemanapun kau mau. Seseorang melepaskan kaitan sayap kita, lalu kamu pergi, dan aku juga sedang belajar terbang lagi seperti dulu.
Menjadi aku yang dulu.
Tapi yang ingin aku katakan adalah, terimakasih. Terimakasih untuk beberapa bulan penuh canda ini. Terimakasih telah pernah menerimaku. Terimakasih sekali.
Dan sekarang aku terbang sendiri. Jaga dirimu baik-baik J
Penggemarmu.

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com