Thursday, 13 December 2012

Secangkir Capuccino; Sebelum Kita Pulang


Rintik-rintik air berjatuhan di atas kap mobil lelakiku. Aku hanya memandang tetes-tetesannya jatuh menelusuri kaca jendela di sebelah.
“Dingin ya?” tanyanya sembari menggenggam tanganku.
“Lumayan.” Jawabku jujur, “tapi tidak sedingin winter.”
Lelakiku tertawa, “tentu saja. Mentang-mentang baru pulang dari Amrik, yang kamu bicarakan sedari tadi negara itu melulu. Kurang apa sih Indonesia?”
Aku hanya tertawa kecil tanpa menanggapi. Hari ini otakku berat sekali. Apalagi saat mendengar kata ‘Amerika’, menyeretku ke dalam suatu kenyataan yang tak ingin kuingat. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dadaku. Hari ini aku harus jujur padanya. Harus...
“Eh, sebelum kita pulang mampir cafe ayo. Dulu kita sering ke cafe ini kan?” godanya.
Otakku berputar lagi. yaah... daripada membicarakannya saat ia menyetir dan membuat konsentrasinya buyar, lebih baik aku jujur padanya di suatu tempat. Pokoknya aku harus jujur, harus.
 “Accepted.”
 Lalu dia berbelok ke cafe langganan kami sejak SMA.
***
Ia menarik satu kursi untukku, dengan view jalanan basah yang mulai menggelap. Bisa kulihat bintang-bintang redup mulai menampakkan dirinya menggantikan bintang siang; matahari.
“Nostalgia, eh?” ia duduk di depanku sambil menopang dagu. Aku menoleh dan mengangguk kecil.
“Ingat saat kita kencan pertama, begitu kaku, lalu kau mengajakku memberi nama ngawur pada setiap bintang yang muncul?” Aku mengedipkan sebelah mataku.
Ia terlihat berpikir keras mengingat-ingat—aku rasa itu hanya pura-pura—lalu menunjuk satu bintang dan, “bintang itu kau yang memberi nama; Zeus.”
Aku tertawa, “yang paling besar dan seakan berkuasa. Tentu.” Kini giliranku menunjuk satu bintang, “itu kau yang memberi nama; sesuai namaku.”
“Yang paling biru, paling berpendar, dan yang paling terang dari semuanya. Tentu saja itu kau.” Ia mencolek daguku penuh sayang.
Aku bertanya ragu, “kalau... suatu saat aku berubah merah, berhenti berpendar, dan menjadi yang paling tak bersinar?”
Ia menatapku serius. Mata kecoklatannya memberi sinar lembut menunjukkan ketulusannya, “aku akan menerimamu apa adanya. Bahkan saat tanpa warna, tanpa pendar, dan tanpa cahaya.”
“Kau serius?”
Ia meremas pelan jari-jariku. Hangat, “aku tak pernah seserius ini. Kamu cinta pertama, dan akan aku jamin menjadi cinta terakhirku.”
Aku tersenyum. Namun genggaman tangannya terlepas saat seorang waiter memberikan buku menu pada kami.
“Oh ya.” Ia membuka buku menu, “Sayang, pesan apa?”
“Secangkir capuccino.”
***
Kami mengobrol panjang lebar. Aku mencari celah dalam obrolan kami untuk membicarakan hal itu; jujur padanya. Namun semua ini membuatku candu. Tak ingin aku merusak momen bahagia ini setelah sekian lama tak bertemu karena aku jauh di lain benua selama beberapa bulan.
“Ngomong-ngomong, kamu belum cerita mengapa kamu pergi ke Amerika selama itu kan? Lima bulan. Bisa bayangkan betapa rindunya aku? Apalagi kamu tak pernah mau kuajak webcam di skype.”
Ah ini. Ini saatnya aku jujur, “Ehm, sebenarnya...”
“Permisi.” Seorang waitress membawakan secangkir capuccino untukku, segelas american grande untuk lelakiku, dan dua slice rainbow cake untuk kami berdua.
“Aku tidak pesan rainbow cake.” Aku menatap lelakiku bingung.
“Enak kok. Aku yang memesannya. Coba saja.” Ia mengulum senyum. Aku curiga ada sesuatu di sini.
Dengan was-was kupotong slice-nya menjadi sepotong kecil, lalu kumasukkan dalam mulutku. Perlahan, di balik kelembutan cake itu, kurasakan sesuatu yang keras menghantam gerahamku.
Dammit!” aku segera memuntahkan benda keras itu dan ternyata... yang kugenggam adalah sesuatu yang bundar dan berkilau.
Cincin.
Kudongakkan kepalaku padanya.
“Kita saling mengenal sejak SMP, pacaran sejak SMA, dan kunanti pula kedatanganmu seberapa lama pun kamu pergi.” Lelakiku tersenyum, “aku begitu mencintaimu. Sel-sel dalam tubuhku selalu berusaha menarik tanganku agar mendekapmu. Sudah bertahun-tahun kita pacaran dan yah... aku rasa memang that’s you. No one else. Happiness which we feel till this second make me believe. Nothing can subtitute you on my mind. And I think... you know... it takes too long to realize but now, in this our favourite place, in the name of years we walkin’ together, would you be mine forever after?”
Aku menatapnya tak percaya. Mataku mulai terasa panas, “are you sure? That’s me?”
“No-one-else.”
“Altough... I... I’m not as perfect as you think?”
“I think I’m not as perfect as you think too.”
“Altough...” aku menunjuk bintang dengan namaku, “I’m not like that star? I... I can’t bring your real happiness—“
“You are my truly happiness. Keep on your mind. I have no reason to love you so I have no reason too to stop what I’ve begun first.”
Aku terdiam. Mencari kejujuran dalam matanya. Namun ia balas menatapku seakan menantang; coba temukan bukti bahwa aku berbohong!
“Hei,” ia mengangkat daguku lembut. Lalu ia mengambil cincin di tanganku, membersihkannya dengan tisu, dan memakaikannya di jari manisku.
Cantik sekali. Bias-bias cahayanya seakan menyemburkan tujuh warna terindah; merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Aku buta, aku terlena...
“Bagaimana menurutmu?” ia membolak-balik jemariku, “cantik ya. Seperti kamu.”
Kutarik tanganku pelan dari genggamannya, “kamu yakin mau menerima aku apa adanya?”
“Tentu.”
“Segala kekuranganku? Cacatku?”
“Iya.” Ia menatapku serius. Begitu yakin.
Aku menghela nafas. Ya, ia jujur. Ia takkan menarik kembali ucapannya. Ia benar-benar seorang lelaki, “kalau begitu, aku akan jujur.”
Ia membetulkan posisi duduknya dan menatapku serius.
“Kamu tahu kan aku ke Amrik berbulan-bulan. Aku tidak pernah mengatakan alasannya padamu. Dan sekarang aku akan jujur.” Mulaiku berat, “aku... menderita kanker rahim.”
Hening awalnya. Tiba-tiba ia tertawa keras, “jangan bercanda! Selama ini kau sehat-sehat saja—“
“Dengarkan aku dulu.” Putusku tajam, “aku menderita kanker rahim. Satu-satunya jalan adalah dengan mengangkat rahimku atau aku akan mati. Aku pergi ke Amerika karena berharap di sana, nyawaku bisa selamat tanpa operasi pengangkatan rahim namun...” aku menggeleng. Kurasakan sesuatu yang cair mengalir dari ujung mataku, “mereka juga mengatakan bahwa aku harus mengangkat rahimku.”
Kulihat ekspresinya mulai berubah.
“Aku hidup, namun kini tak punya rahim. Jika kita menikah pun... aku tak bisa memberimu keturunan.” Aku mencoba tertawa kecil, mencairkan suasana, “tapi kita bisa mengadopsi anak kan? Well, anak itu urusan mudah—“
Tiba-tiba ia memanggil waiter, meminta bill.
“Lho, kok... tiba-tiba kita pulang?”
“Aku tidak bisa.” Katanya dingin, “aku tidak bisa menikahi wanita yang bahkan tidak bisa memberiku anak. Aku tidak bisa. Masih banyak wanita normal lain. Lagipula orangtuaku tidak akan setuju kalau tahu hal ini. Aku tidak bisa. Maaf.”
“Tapi... katamu...” aku gelagapan, bingung, merasa dipermalukan, “I’m your truly happiness? Kamu akan menerimaku apa adanya? Tanpa warna, tanpa pendar, bahkan tanpa cahaya?”
“Apa adanya juga punya batasan.” Ia membayar bill dan memakai jaketnya, lalu berdiri  dan berjalan keluar. Membiarkan duduk, terpaku, dan kalah.
Namun beberapa langkah berselang, ia berhenti dan membalik badannya. Memberiku secercah harapan. Apa tadi ia hanya bercanda? Apa ia akan menarik kata-katanya?”
Namun harapanku musnah seketika tergantikan kemarahan amat sangat saat ia mengulurkan tangannya di depanku sembari berkata, “bisa kuminta kembali cincin itu?”

Dibuat setelah membaca buku biologi, dan besoknya saya   merasa cukup sukses di UAS biologi   

Tuesday, 4 December 2012

Dedicated To You, Who Almost Be A Winner


Untuk kamu, yang sedang jenuh, nun jauh di sana.
Jarak membuat kita kesulitan tuk saling menyemangati seperti dua tahun lalu. Nasib membuat hati kita tak sedekat dua tahun lalu. Cuaca membuat senyum kita tak sama dengan dua tahun lalu.
Namun di sini, jauuuuh dari pandangan matamu, jauuuuh dan hanya terhubung oleh sinyal handphone, aku berbisik pada Tuhan tuk selalu mengingatkanmu tuk berusaha dan berserah.
 Mungkin akan susah tuk kupahami kerumitan di hidupmu.
Tetapi bukannya kau juga tak bisa memahami kerumitan hidupku?
Di tengah-tengah benang kusut yang melilit otak kita, di tengah-tengah lalu-lalang masalah yang meredam suara kita,
Di tengah rumus hitungan farmasi yang sedang kamu hadapi,
Di tengan identitas trigonometri yang mencekikku minta dicarikan solusi,
Aku tahu jauh di atas semua itu kita saling mendoakan. Mendoakan dalam diam. Menengadah tangan dan mendekap seperti sepasang merpati yang berkepak untuk saling melindungi. Menatap sendu pada bulan, saling bertanya kabar lewat cahaya, berusaha merasa dekat dengan melihat bulan yang sama, lalu menutup pintu dan kembali memandang kosong kertas berisi tulisan-tulisan yang membosankan.
Aku tidak tahu bagaimana denganmu. Tapi di sini, tanpa bisa kamu lihat, kuiringi tiap titi kecil langkahmu menuju masa depan; menuju lautan kristal.
Dan demi Tuhan, tak semudah itu berjejer-jejer dengan kristal. Sakitmu, jatuhmu, bangkitmu, lelahmu, hidupmu, aku.
Aku yang hanya bisa mengamatimu, mengagumi setiap detil liuk tubuhmu saat berjalan, bersorak dalam diam saat kamu tertawa, menangis tanpa suara saat kamu merenung.
Sesimpel itu caraku mengiringimu.
Lalu kamu?

Monday, 3 December 2012

Good Night :)

Lakukan semua dengan niatan ikhlas. Jangan biarkan mulutmu berucap keluhan barang sekali saja. Dengan begitu Tuhan juga akan mengulurkan tangan-Nya untuk kesulitanmu. Sesungguhnya Tuhan selalu disamping orang ikhlas :)

Secangkir Cappucino; Seakan Pergantian Tahun Tak Berarti


Inspired from mainstream song; Chakra Khan with Harus Terpisah
Aku melihat dengan penuh perhatian. Well, memang tersiar kabar sih kalau cafe ini sangat full of drama. Tapi dihari pertamaku bekerja ini jelas-jelas membuatku agak... kagok.
Pria berperawakan ceking namun terlihat cerdas itu hanya terdiam, berusaha mendinginkan atmosfer kafe yang kini mendadak panas. Rahangnya memang mengeras, tapi gayanya tetap santai tanpa perubahan sistem tubuh apapun; nafas tetap teratur, mata tetap teduh, telapak tangan tetap santai tanpa kepalan, seakan aku bisa mendengar setiap sel dalam tubuhnya diperintah oleh syaraf: Keep calm and stay cool. Just breath... breath...
“Jadi, lelaki ini yang teman satu kelompokmu?” tanya santai—entah memang santai atau berusaha santai , “seems like you don’t do anything that can called a task, do you?”
Wanita yang ia ajak berbicara hanya diam. Sejujurnya wanita itu cukup cantik—oke, sangat malah. Namun mana sudi aku mengakui ada wanita yang lebih cantik daripadaku?—dengan wajah oval, mata kecoklatan yang bulat, hidung yang cukup mancung untuk gen kaukasia, bibir merah mudanya yang berlipgloss cukup tebal dan... oh tidak! Jelas saja tidak akan kulupakan detil baju yang begitu ‘berbelah’ seakan isi di dalamnya bisa tumpah kapan saja.
Khas wanita ibu kota, eh?
Dengan santainya lelaki itu duduk diantara keduanya; si wanita dan...yaah... selingkuhannya. Ia lalu menatap keduanya seakan mereka adalah teman lama, “ada cerita baru? Boleh aku tahu juga?
Pasangan-kepergok-selingkuh itu tetap bergeming. Aku begitu salut dengan ketenangan sang lelaki yang jelas malah berhasil membuat pasangan itu kagok.
“Jadi, sejak kapan kalian pacaran?” tanyanya antusias. Lalu ia menoleh kepada selingkuhan pacarnya dan bertanya, “kamu, kok mau sih jadi yang ke dua? Santet, pelet, atau—“
Kata-kata si lelaki terputus saat mendadak wanitanya menyiram jus jeruk ke kemeja biru keputihannya. Wanita itu mendongak, marah.
“Hey, calm. Aku yang diselingkuhin kenapa kamu yang seenaknya nyiram gini?” si lelaki tetap menjaga nada bicaranya.
“Jangan berbicara seolah aku cewek murah—“
“Kamu nggak murah.” Putus lelaki itu, “Cuma bangsat.”
Dan satu tamparan telak mendarat di pipi sang lelaki. Kusadari tanganku mengepal, entah sejak kapan. Maksudku... siapa yang seli ngkuh, siapa yang ditampar? What the...
“Bloody hell.” Bahkan lelaki itupun tetap kalem saat mengatakan ini sembari mengelus pipi kurusnya. Namun ia dengan berani menatap langsung ke mata gadisnya.
“Kamu bangsat, tahu kenapa?” aku bisa merasakan lelaki nyaris tak sanggup lagi menjaga suaranya tetap kalem, “kalau kamu merasa sudah tidak menyukaiku lagi, katakan langsung di depanku. Bukannya bermain belakang dan menunggu aku tahu dengan sendirinya, lalu mempermalukanku dengan membiarkan orang lain tahu betapa buruknya aku sampai pacar 5 tahunku sendiri selingkuh.”
Wanita itu terdiam.
“Lima tahun. Sebulan lagi tunangan. Cukup menyiksa batin juga.” Lanjutnya, “lima tahun kita bersama, aku bahkan belum pernah menyentuh bibirmu barang sejengkalpun. Nah, dia? Dengan enaknya melahapmu di tengah kerumunan seperti ini. Sekarang kalau kau masih bisa, coba buktikan bahwa kau bukan wanita bangsat.”
“Bagus! Salahkan saja aku terus! Kamu pikir sudah cukup suci sampai mengatakan seperti itu? Pacaran denganmu itu membosankan! Kamu perfeksionis! Garing! Pasangan lain sedang menonton Skyfall dan kamu mengajakku menonton pameran budaya? Pasangan lai n sudah naik kasur berkali-kali dan yang berani kamu lakukan hanya menggenggam tanganku—“
“Tuh kan, bangsat.” Lelaki itu makin kalem. Seakan senang telah tahu kedok asli pasangannya, “mana ada wanita baik-baik yang berharap naik kasur dengan lelaki—“
Wanita itu ingin menampar si lelaki, namun tangan lelaki itu kini lebih sigap untuk mencegahnya.
“Cukup. Aku muak.” Lelaki itu menjatuhkan tangan si wanita kembali, “tanpa berikrarpun kau sudah tahu kan bagaimana kita mengakhiri 5 tahun itu detik ini?”
Lelaki itu berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Tetap terlihat kalem saat pelan-pelan menyeruput capuccinonya kemudian beralih mengutak-atik smartphone keluaran anyarnya.
Aku menghela nafas. They break up. Dan itu benar-benar akhir yang bagus mengingat betapa menyebalkannya wanita itu. Aku melanjutkan membersihkan konter saat tanpa sengaja kuamati detil lelaki itu.
Tangan kanannya gemetar saat mengetik. Tangan kirinya seakan sedang memijat pelipis, namun—well,penglihatanku cukup bagus—aku melihat setetes liquid seperti kristal bening mengalir halus ke pipinya.
Ternyata lelaki itu tak setegar kelihatannya.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com